
DI RUMAH DEVANO.
Waktu menunjukkan pukul 07:00 Malam.
Terlihat Devano dan Alana yang baru saja sampai dan masuk ke dalam rumahnya.
"Akhirnyaaa, kita sampai di rumah juga sayang, kamu capek banget yah hah.?" Kata Devano pelan sambil mengusap-usap rambut Alana yang sekarang ini sedang berdiri tepat di sampingnya.
"Iya capeeek.? Adik kecilnya kakak ini pengin digendong sama kakaknya sampai ke kamaaaar.?" Kata Alana dengan sangat manjanya, sambil mengulurkan kedua tangannya kepada Devano, sepertinya sekarang ini ia sudah semakin berani menunjukkan sifat manjanya itu kepada Devano, setelah ia tau kalau Devano itu ternyata adalah kakak-kakak yang dulu pernah menolongnya.
Melihat tingkah laku Alana yang ternyata sangat manja, Devano pun tersenyum.
"Ternyata semua perempuan itu sama yah.? Semandiri-mandirinya mereka, mereka semua pengin dimengerti dan dimanja-manja." Kata Devano dalam hati, sambil terus tersenyum melihat tingkah laku Alana yang sangat manja itu.
"Iiiiiiihhhhh kok mas diem siiiih.? Gendoooong.!" Kata Alana merengek manja, sambil terus mengulurkan kedua tangannya kepada Devano.
"Uuuuuuhhh adik kecil kakak ini pengin digendong sama kakaknyaaa.? Pinter nih adik kecil kakak ngerayu kakaknya nih.?" Kata Devano sambil terus tersenyum dan mengusap-usap rambut Alana.
"Biariiiin.! Kan adik kecilnya kakak ini juga pengin digendong lagi sama kakaknyaaa.? Kayak dulu maaas.?" Kata Alana lagi-lagi merengek, ia mencoba untuk mengingatkan Devano, tentang kejadian dulu saat dirinya dikejar-kejar para preman dan kemudian langsung di gendong olehnya.
"Ya udaaaah, Iya, iyaaa.! Mas gendong lagi nih kayak dulu, yaaah.? Biar adik kecil kakak ini enggak bawel lagi." Kata Devano sambil tersenyum menggoda Alana, kemudian ia pun langsung mencoba untuk mengangkat dan menggendongnya menuju kamar.
"Eemmmm Alana sayang sama maaas.?" Kata Alana yang sekarang ini sudah berada di gendongan Devano, sambil memandangi wajah tampan Devano suaminya itu.
"Yang bener niiiih.? Sayang sama mas, apa sayang sama Kakaaak.?" Kata Devano sambil tersenyum dan terus berjalan menuju kamarnya.
"Sayang sama mas.!" Kata Alana mencoba untuk menjawab pertanyaan Devano suaminya itu.
"Katanya tadi di taman, sayangnya sama kakaaaak, enggak sayang sama maaas.? Kok sekarang tiba-tiba bisa sayang sama mas sih.? Pengin di perkosa lagi yah sama mas nya kayak semalam, hah.?" Kata Devano sambil tersenyum menggoda Alana.
"Iiiiiiihhhhh mas apaan sih.! Bukan kayak gitu maaas.? Alana sekarang sayang sama mas, karena sekarang kan, kakak-kakaknya udah jadi mas, iya kan.?" Kata Alana manja, ia mencoba untuk menjawab pertanyaan dari Devano suaminya itu.
Mendengar jawaban dari Alana, Devano pun langsung tersenyum.
"Eeeeemmmm pinter banget sih istri mas ini jawabannya.?" Kata Devano pelan, sambil tersenyum dan terus menggedongnya menuju kamar.
"E, e, ehhh udah mas, udah.! Stop sampai disini aja.! Jangan gendong Alana Samapi ke kasur, soalnya kan badan Alana nya kotooor.? Alananya mau ke kamar mandi dulu." Kata Alana, ia menyuruh Devano menurunkannya di tempat tersebut dan tidak mau sampai di atas ranjang, karena seperti yang kita tau ia adalah perempuan yang sangat menjaga kebersihan.
"Loh.! Kok kamu mau ke kamar mandi sih sayang.? Emang kamu mau mandi.? Kan sekarang kamu lagi sakit sayaaaang.?" Kata Devano panik, ia mencoba untuk mengingatkan Alana akan kondisinya sekarang ini.
"Enggak maaaas, Alana enggak mandiiii.? Alana cuma mau cuci muka sama ganti baju doaaang.? Terus sekalian Alana pengin pipis maaas.?" Kata Alana serius, ia mencoba untuk menjelaskan kepada Devano suaminya itu.
"Oooh, ya udah.! Sekarang adik kecil kakak yang sekarang udah gede ini niiiiih.? Turun dulu yaaaah, dari gendongan kakaknyaaa.? Entar adik kecil kakak ini keburu pipis lagi digendong kakaknya.! Entar kakaknya basah lagi, becek, kena pipis adik kecil kakak ini.? Mending kalau beceknya kayak semalam tuh.! Enak.?" Kata Devano sambil tersenyum menggodanya, sepertinya permainannya bersama Alana semalam masih terus terngiang-ngiang di kepalanya.
"Iiiiiiihhhhh maaaas.?" Kata Alana merengek manja dengan raut wajah merah karena malu, karena ia pun ingat betul dengan keadaan bagian bawahnya semalam, yang sangat becek dan licin saat Devano suaminya itu mainin.
Melihat raut wajah Alana seperti itu, Devano pun langsung tersenyum.
"Iya enggak sayang, enggaaaak.?" Kata Devano pelan sambil terus tersenyum.
"Tapi mas jangan ngomong kayak gitu lagiiii.?!" Kata Alana merengek sambil cemberut.
"Kenapa emaaang.? Malu yah sama mas.! Semalam ini nya basah nih.! Sama mas dimainin, hah.?" Kata Devano sambil tersenyum dan terus menggodanya.
"Iiiiiiihhhhh maaas.?" Kata Alana lagi-lagi merengek, dengan raut wajah yang semakin merah.
"Semalam aja kamu kayak gini nih sayang.? Awww mas, jangan maaas.! Alana sakit maaas.? Jangaaan.!" Kata Devano mencoba untuk menirukan suara rintihan manja dari Alana semalam.
"Eeehhh tau-taunya keenakan nih istri mas.! Ini nya smapai basah, becek lag,,,,,,,,,,," Seketika ucapan Devano itu terpotong.
"Iiiiiiihhhhh mas udaaaah.! Jangan dilanjutin lagi ngomongnyaaa.?! Jangan dilanjutin lagi maaas.?!!" Kata Alana merengek kesal, sambil mencoba untuk membekap bibir Devano, agar tidak berbicara seperti itu lagi, karena sekarang ini ia benar-benar sangat malu.
Melihat Alana membekap bibirnya seperti itu, alih-alih berhenti berbicara, Devano malah justru terus melanjutkan ucapannya itu.
"Kayak gini nih sayang nih.? Aw aw aw aw.! Mas Deeeev,,, sakit maaaas.? Aw aw aw aw sakiiiiiit.?" Kata Devano sambil terus menirukan suara rintihan dan desahan manja dari Alana semalam.
"Enak yah sayang, hah.?" Kata Devano lagi, sambil terus tersenyum menatap wajah cantik Alana
"Tau ah.!!!" Kata Alana ketus sambil cemberut, karena ia kesal kepada Devano yang tak henti-hentinya menirukan suara rintihan dan desahannya itu semalam.
"Kenapaaa.? Kok kamu cemberut siiih.?" Kata Devano pura-pura bodoh, sambil terus menatap wajah cantik Alana yang sekarang ini masih berada digendongannya itu.
"Tau.!!! Udah lah turunin Alana sekarang.!!" Kata Alana masih ketus, sambil terus cemberut, ia meminta Devano untuk cepat-cepat menurunkannya dari gendongan Devano suaminya itu.
"Kenapa emaaang.? Kamu maraaah.? Kan mas ini cuma bercan,,,,,,,,,_ Seketika ucapan Devano itu terpotong.
"Iiiiiiihhhhh Alana pengin pipis maaas.? Cepetan turunin Alana sekaraaang.!!" Kata Alana sambil merengek, karena sekarang ini ia benar-benar sudah kebelet pengin buang air kecil.
"Ya udah, ya udah.! Sekarang mas turunin yaaah.?" Kata Devano pelan, sambil buru-buru menurunkan Alana dari gendongannya.
"Ya udah.! Alana mau pipis dulu.!" Kata Alana masih ketus, sambil buru-buru melangkah masuk menuju kamar mandi, dan meninggalkan Devano yang masih berdiri itu hanya sendiri.
"Heeemmm kasihan kamu, pasti malu yah sama mas.?" Kata Devano sambil tersenyum, kemudian ia pun mencoba untuk melangkah menuju ranjang, namun baru saja ia melangkah, tiba-tiba langkahnya sudah terhenti.
"Awwwwwwwww.!! Mas Devano sakit mas.? Aw, aduh, aduh.!! Periiiih.? Mas Devano kesini maaas.?" Teriak Alana kesakitan dari dalam kamar mandi, sambil memanggil-manggil Devano agar datang menolongnya.
Mendengar Alana teriak seperti itu, Seketika Devano pun langsung buru-buru melangkah masuk menuju kamar mandi dan berdiri tepat dihadapannya.
"Sayang kamu kenapa sayang.? Ada apa sayang.?" Kata Devano tergesa-gesa dan panik, sambil menatap kearah Alana yang sekarang ini masih duduk di atas kloset.
"Hiks,, hiks,, mas Devanooo.? Hiks,, hiks,, pipis Alana sakiiiiit.? Hiks,, hiks,, perih maaas.?" Kata Alana sambil menangis, karena ia benar-benar merasakan sakit dan perih di bagian bawahnya saat ia hendak buang air kecil.
"Pipis kamu sakiiiit.? Perih sayaaaang, hah.?" Kata Devano pelan sambil mengusap-usap rambut Alana.
"Hiks,, hiks,, iya pipis Alana sakiiiiit.? Hiks,, hiks,, periiih.? Hiks,,, hiks,,, tapi Alana pengin pipis maaas.?" Kata Alana sambil terus menangis dengan sangat manjanya.
"Eeemmmm ya udah, ya udah.! Sekarang kamu peluk pinggang mas yaaah.? Terus kamu keluarin air pipisnya pelan-pelan.!" Kata Devano penuh perhatian, ia menyuruh Alana untuk memeluk pinggangnya, karena seperti yang kita tau, posisinya sekarang ini sedang berdiri tepat di hadapan Alana yang sekarang ini masih duduk di atas kloset.
Mendengar Devano menyuruhnya seperti itu, Alana pun mencoba untuk menurutinya.
"Hiks,, hiks,, iya mas.!" Kata Alana, perlahan ia pun mencoba untuk memeluk pinggangnya.
Melihat Alana mau mengikuti perintahnya, Devano pun tersenyum.
__ADS_1
"Ya udah, sekarang kamu keluarin air pipisnya pelan-pelan sayang.!" Kata Devano penuh perhatian.
"Hiks,, hiks,, tapi sakit maaas.?" Kata Alana merengek ketakutan.
"Iyaaa, mas juga tau sakiiiit.? Tapi kamu harus keluarin air pipisnyaaa.! Enggak boleh ditahan-tahan sayang, nanti tambah sakiiit.?" Kata Devano pelan, ia mencoba untuk menasehati Alana istrinya itu.
"Sekarang kamu keluarin air pipisnya yaaah.?" Kata Devano dengan sangat sabar.
Mendengar kata-kata dari Devano, Alana pun langsung menganggukkan kepalanya, perlahan ia pun mencoba untuk menurutinya.
"Aw.! Sssttt sakit maaas.? Hiks,, hiks,, periiih.?" Kata Alana terus menangis kesakitan sambil mengeratkan pelukannya ke pinggang Devano.
"Ssssssttttt.! Iya, iyaaa, mas juga tau sakiiiit.? Ayo sekarang keluarin lagi air pipisnya pelan-pelan." Kata Devano pelan sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Alana.
"Hiks,, hiks,, iya mas.!" Kata Alana, perlahan ia pun mencoba untuk melanjutkan lagi, hingga akhirnya ia pun selesai membuang semua air kecilnya itu.
"Hiks,, hiks,, mas Devano udah selesai pipisnyaaa.?" Kata Alana manja, sambil tersenyum menatap wajah tampan Devano yang masih terus mengusap-usap rambutnya itu.
Mendengar kata-kata dari Alana, Devano pun langsung tersenyum.
"Nah, itu kamu bisa sayang pipisnya." Kata Devano sambil terus tersenyum menatap wajah cantik Alana yang sekarang ini masih terus memeluknya.
"Iya mas, Alana udah bisa pipis." Kata Alana manja, sambil tersenyum karena senang akhirnya ia sudah berhasil buang air kecil.
Melihat Alana tersenyum seperti itu, Devano pun ikut tersenyum.
"Ya udah.! Sekarang mas keluar lagi yah.?" Kata Devano pelan, sambil terus mengusap-usap rambut Alana.
"Iya mas.!" Kata Alana sambil tersenyum.
Mendengar kata-kata dari Alana, Devano pun langsung keluar dari dalam kamar mandi dan meninggalkan Alana hanya sendiri.
15 Menit berlalu,,,,,
Terlihat Alana yang sudah keluar dari dalam kamar mandi, dan berjalan menghampiri Devano yang sedang berbaring di atas ranjang, yang seperti sedang asyik menonton sebuah film di laptopnya.
"Mas Devano, mas Devano.! Mas Devano lagi nonton apa.? Alana pengin ikutan nonton dong mas.?" Kata Alana tergesa-gesa dan penasaran, sambil buru-buru melangkah menghampirinya.
"Kenapa sayaaang.? Kamu pengin ikutan nontooon.?" Kata Devano pelan, sambil buru-buru meng skip filmnya terlebih dahulu, kemudian ia pun langsung menatap ke arah Alana.
"Iya mas Devano, Alana pengin ikutan nontooon.?? Emang mas Devano lagi nonton film apaan sih mas.??"
Kata Alana yang masih terus berjalan menghampiri Devano suaminya itu, kemudian ia pun langsung duduk tepat di sampingnya, karena sepertinya sekarang ini ia benar-benar sangat penasaran dengan film apa yang sebenarnya sedang Devano suaminya itu tonton.
"Udaaaah, siniiii.! Enggak usah banyak tanya.? Nanti juga adik kecilnya kakak ini tau." Kata Devano sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung buru-buru menarik tangan Alana.
"Aw, aduh, aduh.!!! Jangan ditarik kenceng-kenceng, tangan Alananya sakit maaas.?" Kata Alana merengek kesakitan.
"Eeemmmm kasihaaan, sakit yah.?" Kata Devano pelan, sambil mengusap-usap tangan Alana yang kesakitan itu.
Melihat tingkah laku Alana yang semakin manja, Devano pun lagi-lagi tersenyum.
"Gw bener-bener enggak nyangka, perempuan bawel dan mandiri kayak kamu.? Ternyata manja banget." Kata Devano dalam hati, sambil terus tersenyum karena heran melihat perempuan yang semandiri dan sebawel Alana ternyata sangat lah manja.
"Ya udah.! Mas minta maaf yaaah.? Sini bobo di samping mas, biar kita nonton filmnya bareng-bareng.?" Kata Devano pelan, ia menyuruh Alana untuk berbaring di sampingnya.
Mendengar perintah dari Devano, dengan segera Alana pun langsung berbaring tepat disamping Devano suaminya itu.
"Udah mas.! Mana filmnya.? Cepetan maaas, Alana pengin cepet-cepet nontooon.??" Kata Alana merengek karena ia benar-benar sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menonton film tersebut bersama dengan Devano.
"Sabar dong sayaaaang.! Nih mas mulai lagi filmnya yaaah.??" Kata Devano sambil mencoba untuk melanjutkan menonton film tersebut.
"Iya cepetan.! Alana udah enggak sabar pengin cepet-cepet non,,,,,,,,,," Seketika ucapan Alana itu terpotong, karena ia kaget dan syok melihat film apa yang ternyata sedang Devano suaminya itu tonton.
"Iiiiiiihhhhh mas itu film apaaan.? Iiiihhh enggak mau ah mas.! Enggak mau.! Iiiihhh Alana enggak mau nonton film kayak gitu, geli maaas.?." Kata Alana tergesa-gesa sambil buru-buru menutup kedua matanya menggunakan tangannya, karena ia tidak mau lagi menonton film tersebut, namun entah apa sebenarnya film yang sedang Devano tonton itu.
Melihat tingkah laku Alana seperti itu, Devano pun langsung tersenyum.
"Kenapa sayaaaang.? Katanya tadi pengin cepat-cepat nonton film banreng sama mas, kok matanya malah ditutupin sih.??" Kata Devano pura-pura bodoh, sambil terus tersenyum melihat tingkah laku Alana seperti itu.
"Iiiiiiihhhhh enggak mau ah mas.! Enggak mau.! Alana geli maaas.?" Kata Alana merengek sambil terus menutupi kedua matanya, karena ia benar-benar sangat geli melihat film dewasa, iya,,, film dewasa yang sekarang ini sedang di tonton oleh Devano suaminya itu, karena ternyata dari tadi ia sedang asyik menonton film tersebut di laptopnya.
"Kenapa geliiiiii.?? Nanti juga kamu suka kok.! Kan nontonnya bareng sama mas.? Udah ayo cepetan buka matanya.!" Kata Devano pelan, sambil mencoba untuk membuka mata Alana yang masih terus ditutupi oleh tangannya itu.
"Iiiihhh enggak mau mas.! Jangan maaas.! Iiiiihhh Geliiiiii.?" Kata Alana lagi-lagi merengek, karena ia memang belum pernah menonton film seperti itu sebelumnya.
"Sebentaaaar aja sayang, buka yah matanya.!" Kata Devano memohon kepada Alana untuk membuka matanya yang terpejam itu.
"Enggak mau maaas.?" Kata Alana mencoba untuk menolaknya.
"Sayaaaang,,, mas mohon, buka yah matanya.! Sebentar aja sayaaang, yaaah.?" Kata Devano pelan dan sedikit memaksa, sambil mencoba untuk mengangkat tangan Alana yang masih terus menutupi kedua matanya itu.
"M, m, mas,,, t, t, tapi Alana takuuuut.?" Kata Alana gugup dan sedikit ketakutan.
"Kenapa harus takut sayaaang.? Kan nontonnya sama mas, nanti kalau kamu takuuuuut, kamu bisa peluk mas, yaah.?" Kata Devano pelan sambil mencoba untuk merayu Alana.
"T, t, tapi sebentar ajaaa.?!" Kata Alana gugup dan masih ketakutan.
"Iyaaa,,, sebentar aja.!" Kata Devano pelan.
"Y, y, ya udah.! Sekarang Alana buka mata nih." Kata Alana pelan, perlahan ia pun mencoba untuk membukakan matanya, kemudian ia pun mencoba untuk memberanikan diri menonton film yang sekarang ini sedang Devano suaminya itu tonton.
"Iiiiiiihhhhh mas geliii, itunya gede bangeeet.?" Kata Alana sambil memeluk tubuh Devano dengan begitu eratnya, karena ia memang benar-benar geli melihat film seperti itu.
Mendengar kata-kata dari Alana, Devano pun langsung tersenyum.
"Kenapa geliiiiii.?? Punya mas juga kayak gitu kan semalam, gede.??" Kata Devano sambil tersenyum menggodanya.
"Iiiiiiihhhhh mas apaan sih.??" Kata Alana manja, dengan raut wajah merah karena malu.
__ADS_1
"Nih mas gedein yah volumenya, biar adik kecil kakak ini denger suaranya." Kata Devano sambil tersenyum dan mencoba untuk mengencangkan volume film tersebut.
"Aw, aw, aw, aw, aw.!!" Suara desahan dari seorang perempuan didalam film tersebut, yang terdengar jelas di telinga Alana.
"M, m, mas Deeeev.?" Kata Alana gugup sambil menatap dalam wajah Devano yang sekarang ini masih terus asyik menonton film tersebut.
Melihat Alana gugup seperti itu, Devano pun lagi-lagi tersenyum.
"Iya sayaaaang, kenapaaa.? Sekarang kita nonton bareng-bareng yaaah.?" Kata Devano pelan sambil mengusap-usap rambut Alana.
Mendengar kata-kata dari Devano, Alana pun langsung menganggukkan kepalanya.
"I, i, iya mas.!" Kata Alana masih gugup, kemudian ia pun mencoba untuk menonton film tersebut bersama dengan Devano.
"Aw, aw, aw, aw, aw, aw.!!"
Suara desahan dan rintihan dari film tersebut, yang sekarang ini sedang Devano dan Alana tonton di laptopnya.
"M, m, mas Deeeev.?" Kata Alana manja, sambil menatap dalam wajah Devano suaminya itu, sepertinya sekarang ini ia sudah mulai meresapi dan terangsang oleh film tersebut.
"Kenapaaa.? Adik kecil kakak ini suka kan nonton film kayak gini sama mas, hah.?" Kata Devano pelan, sambil tersenyum dan mencubit manja hidung Alana istrinya itu.
Mendengar kata-kata dari Devano, Alana pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya mas, Alana suka.?" Kata Alana sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung kembali menonton film tersebut bersama dengan Devano dan mereka berdua pun terlihat sangat asyik menonton film tersebut.
"Iiiiiiihhhhh mas.! Itu kok suaminya kayak dede bayi sih mas.? Kayak mas semalam maaas.?" Kata Alana manja, sambil terus asyik menonton film tersebut.
"Kayak dede bayi, kayak mas semalaaam.? Maksudnya.?" Kata Devano bingung mendengar ucapan dari Alana itu.
"Iya maaas, kayak mas semalaaam.? Kan semalam juga mas kayak laki-laki itu, tuh.! Mas kayak Dede bayi." Kata Alana sambil menunjuk pria yang berada di dalam film dewasa yang sedang ia dan Devano tonton itu.
"Maksudnya sayang.?" Kata Devano masih bingung.
"Iyaaa, mas kayak dede bayi semalaaam.? Semalam kan mas nen di Alana, iya kan mas.?" Kata Alana dengan polosnya, ia mencoba untuk menjelaskan kepada Devano suaminya dengan apa maksud dari ucapannya itu.
Mendengar ucapan dari Alana, Devano pun langsung tersenyum.
"Iya sayaaaang, semalam mas kayak Dede bayi.! Kenapa emang.? Adik kecil kakak ini pengin di kaya gituin lagi yah, kayak semal,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"E, e, ehh mas, lihat deh mas.! Itu kok perempuannya yang mainin diatas sih mas.? Itu perempuannya yang bobo di atas suaminya maaaas.?" Kata Alana dengan suara tinggi karena heran, sambil terus menonton film tersebut, ia bisa seheran itu melihat perempuan seperti itu, karena ia benar-benar belum tau bagaimana cara bermain-main di atas ranjang itu seperti apa, karena saat ia dipaksa oleh Devano semalam, ia hanya terdiam dan mencoba untuk pasrah dengan segala permainan dari Devano suaminya itu.
"Iiiiiiihhhhh lucu banget, itu perempuannya yang mainiiiin.?" Kata Alana lagi, sambil tersenyum dan terus menonton film tersebut dengan begitu asyiknya.
Melihat Alana yang sangat asyik melihat film tersebut, Devano pun tersenyum.
"Heeemmm, dasar anak kecil.! Tadi aja enggak mau nonton film kayak ginian.? Giliran sekarang aja seneng banget." Kata Devano dalam hati, sambil terus tersenyum menatap kearah Alana yang masih terus menonton film tersebut.
"Kamu suka banget yah sayang, nonton film kayak ginian, hah.?" Kata Devano pelan sambil mengusap-usap rambut Alana.
"Iya suka." Kata Alana manja, sambil terus tersenyum.
"Kalau sama mas di kayak giniin, suka enggak.?" Kata Devano serius, sambil menunjuk adegan ranjang di dalam film dewasa yang sedang ia dan Alana itu tonton.
"Iiiiiiihhhhh maas.! Alana enggak mauuuu, masih sakiiiiit.?" Kata Alana merengek, karena memang benar seluruh bagian sensitifnya itu masih terasa perih dan sangat sakit.
"Tapi mas nya mau, gimana dong sayang, hah.?" Kata Devano penuh dengan nafsu, sambil menatap dalam wajah cantik Alana yang masih terbaring diperlukannya itu.
"T, t, tapi ini Alana masih sak,,,,,,," Tiba-tiba ucapan Alana terpotong.
"Aw.! Sssttt maaaas..?" Seketika Alana mendesah kenikmatan sambil menatap dalam wajah Devano, karena tiba-tiba Devano suaminya itu menjilati telinganya dengan sangat lembut.
"Kenapaaa, hah.?" Kata Devano pelan, sambil terus tersenyum dan terus menatap dalam wajah cantik Alana istrinya itu.
"J, j, jangan sekarang.! Ini Alana masih sak,,,,,,,," Lagi-lagi ucapan Alana itu terpotong.
"Aw, awwwww, maaas.?" Lagi-lagi Alana mendesah kenikmatan karena Devano mencoba menjilati telinganya kembali, karena sepertinya sekarang ini ia sedang memancing-mancing nafsu Alana agar terangsang oleh sentuhan darinya.
Mendengar Alana mendesah seperti itu, nafsu Devano pun semakin menggila, dengan segera ia pun langsung mencoba untuk membuka pakaian yang sedang Alana istrinya itu kenakan.
"J, j, jangan mas.! Jangan.!! Ini Alana masih sakit mas.? Alana takuuuut.?" Kata Alana merengek ketakutan.
"Sebentar aja sayang.! Mas janji, mas mainnya pelan-pelan enggak kayak semalam, yaaah.?" Kata Devano penuh dengan nafsu dan suara nafas yang terdengar sangat ngos-ngosan.
"Tapi beneraan pelan-pelan mas.? Alana takuuuutt.?" Kata Alana smabil terus merengek ketakutan, karena permainan kasar Devano semalam itu masih teringat jelas olehnya.
"Iya sayang mas janji.! Mas pasti pelan-pelan, yaaah.?" Kata Devano dengan suara nafas yang terdengar masih sangat ngos-ngosan, ia mencoba untuk merayu Alana.
"I, i, iya mas.!" Kata Alana gugup dan pasrah, meskipun sesungguhnya sekarang ini ia masih sangat ketakutan.
Melihat Alana pasrah seperti itu, dengan segera Devano pun langsung menciumi habis wajah dan telinga Alana tanpa henti-hentinya.
"Awwwwww maaas.??"
Suara Alana mendesah kenikmatan karena merasakan nikmat dari ciuman Devano suaminya itu.
Mendengar suara Alana mendesah seperti itu, nafsu Devano pun semakin tak tertahan, dengan segera ia pun langsung memulai permainan itu bersama dengan Alana malam ini juga.
"Aw, aw, aw, aw, aw, maaas, sakit maaas.?? Aw, aw, aw, aw, aw, pelan-pelan maaaas.?? Awww.! Sakit maaaas.?? Aw, aw, aw, aw, aw, Aaaawwwwww.!!"
Suara Alana merintih kesakitan sekaligus mendesah kenikmatan, karena merasakan nikmat yang luar biasa dari permainan Devano suaminya itu.
#########
Hay guys.!!!
Maaf banget yah, kalau Author telat Up.?
Karena ternyata Author baru ada waktu hari ini 🙏🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa like coment dan vote.!!!