
Sedangkan Erik yang melihat Dinda tersenyum seperti itu pun, ikut tersenyum. kemudian ia pun langsung menghampirinya dan berdiri tepat di sampingnya.
"Mas Erik kok jam segini udah pulaaang.? Emang mas Erik enggak lembuuuur.?" Kata Dinda sambil terus tersenyum.
"Kenapa emaaang, hah.? Istri mas ini enggak seneeeng, lihat mas nya pulang cepeeet, hah.?" Kata Erik sambil tersenyum dan mencubit manja hidung Dinda.
"Eeeeeeeemmm mas Eriiiiik, Dinda seneng kalau mas pulang cepeeet." Kata Dinda dengan sangat manjanya sambil memeluk pinggang Erik dengan erat, seakan ia lupa jika di hadapannya ada Sania yang sedang memperhatikan dirinya dan Erik.
"Iiiiiihhh.! Sengaja banget sih Dinda mesra-mesraan didepan gw.? Mana manja banget lagi sama Erik.! Lagian ngapain coba itu Dinda pakek peluk-peluk Erik segala didepan gw.? Bukanya kenalin gw sama Erik.! Iiiihhh ngeselin banget sih Dinda." Kata Sania dalam hati sambil menatap sinis kearah Dinda dan Erik.
"Kayaknya gw memang harus cepat-cepat cari cara untuk bisa menyingkirkan Dinda dari kehidupan Erik.! Iya bener, gw harus cepat-cepet cari cara.! Supaya gw bisa dengan mudah dapatin hati Erik dan juga kekayaannya." Kata Sania lagi dalam hati, sepertinya ia memang benar-benar sangat iri melihat kebahagiaan Dinda dengan Erik, dan sepertinya juga tekadnya memang sudah bulat, untuk menyingkirkan Dinda dari kehidupan Erik secepatnya.
"Hem, lihat aja.! Secepatnya loh pasti akan menderita." Kata Sania dalam hati sambil tersenyum sinis menatap kearah Dinda dan Erik yang masih terus asyik bermesraan dihadapannya.
"Eeemmm, istri ndut mas ini manja banget siiiih, hah.?" Kata Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda yang masih terus memeluk pinggangnya dengan penuh kasih sayang, seakan-akan ia sengaja ingin membuat hati Sania semakin panas, meskipun sebenarnya ia sama sekali tidak berniat untuk seperti itu, jangankan membuat hatinya panas, tau juga tidak kalau Sania mempunyai rasa kepadanya.
"Enggak papa manja jugaaa, kan manjanya sama maaas.! Kan mas suami Dindaa.?" Kata Dinda merengek manja.
Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik pun tersenyum.
"Iyaaa, ya udah peluknya ihhh.! Mas belum mandi loh, emang enggak kecium nih.! Badan mas bau asem.?" Kata Erik.
"Eeemmmm enggak mau.! Badan mas enggak bau aseeeem, badan mas wangiiii." Kata Dinda yang justru mengeratkan pelukannya kepinggang Erik, sehingga Sania yang dari tadi sedang memperhatikannya pun semakin panas.
"Sekarang loh peluk-peluk aja terus suami loh itu didepan gw.! Dan anggap aja gw enggak ada.! Tapi asal loh tau ya Din, gw enggak akan pernah tinggal diam, gw jamin besok loh enggak akan bisa peluk-peluk Erik lagi dihadapan gw." Kata Sania dalam hati kesal, entah apa rencana yang akan ia lakukan kepada Dinda, sehingga ia sangat yakin dan bisa menjamin kalau besok Dinda sudah tidak akan bisa memeluk manja Erik lagi seperti sekarang.
"Iya, gw jamin besok loh enggak bakalan bisa peluk-peluk suami loh lag,,,,,,," Seketika ucapan Sania terpotong.
"Maaf non Dinda, kamar sepupu non sudah selesai bibi bereskan." Kata Bi Ijah yang baru saja selesai membereskan kamar yang akan Sania tinggali.
Mendengar kata-kata dari BI Ijah, Dinda pun kaget.
"Oh iya mas Erik, Dinda lupa.! Dinda belum kenalin mas sama kak Sania." Kata Dinda dengan suara sedikit tinggi, karena sepertinya ia baru sadar keberadaan Sania, kemudian ia langsung buru-buru mengenalkannya kepada Erik.
"Mas Erik kenalin.! Ini kak Sania sepupu Dinda yang dari Surabaya." Kata Dinda sambil menunjuk kearah Sania.
"Oh iya kak Sania, kenalin.! Ini mas Erik suami Dinda." Kata Dinda lagi, sambil tersenyum menatap kearah Erik.
"Sania." Kata Sania mengulurkan tangannya sambil tersenyum centil, berharap Erik akan tergoda kepadanya.
"Erik." Kata Erik dingin, tanpa membalas senyuman dari Sania, karena seperti yang kita tau, sikapnya memang seperti itu, ia tidak bisa tersenyum ke sembarang orang, apalagi kepada Sania orang yang baru ia kenal, ia bisa tersenyum hanya dengan orang-orang tertentu saja.
Melihat Erik sedingin itu kepada dirinya, Sania pun kesel.
__ADS_1
"Gila yah, sok jual mahal banget Erik ke gw.! Ngeselin banget sih.! Kita lihat aja.! Mau sampai kapan loh sok jual mahal kayak gini ke gw.? Gw yakin, loh enggak akan bisa sok jual mahal terlalu lama ke gw, karena sebentar lagi loh itu akan menjadi milik gw.! Loh itu akan menjadi milik gw." Kata Sania dalam hati sambil tersenyum dengan percaya dirinya.
Melihat Erik dan Sania berkenalan, Dinda pun tersenyum.
"Ya udah, mas Erik sama kak Sania kan udah pada kenal nih.? Lebih baik, sekarang kita makan yuk.! Tuh makannya udah bi Ijah siap-siapin." Kata Dinda mengajak Erik dan Sania untuk makan, hingga akhirnya mereka pun makan bersama.
MASIH DI RUMAH ERIK.
Waktu menunjukkan pukul 09:00 malam.
Terlihat bi Ijah yang sedang sibuk membuatkan Dinda segelas susu, karena semenjak Dinda hamil, bi Ijah ditugaskan oleh Erik untuk membuatkannya susu setiap malam selama Erik lembur dan sedang tidak berada didalam rumah, karena kalau Erik berada di rumah, ia selalu membuatkan susu sendiri untuk Dinda istri tersayangnya.
"Emmmm selesai juga ini bikin susu, tinggal saya antar ke kamar non Dinda." Kata bi Ijah sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung melangkah menuju kamar Dinda, namun belum juga ia sampai di kamar tersebut, tiba-tiba langkahnya terhenti.
"Bi Ijah, tunggu.!" Teriak Sania dari depan kamarnya, kemudian ia pun langsung melangkah menuju tempat dimana bi Ijah berada.
"Bi Ijah mau kemana.? Oh iya bi, Itu susu buat siapa.?" Kata Sania yang sekarang sudah berada tepat dihadapannya.
"Ohhh susu ini non, susu ini buat non Dinda.! Kenapa emang non.?" Kata bi Ijah sopan
Mendengar jawaban dari bi Ijah, seketika Sania pun langsung terdiam.
"Susu itu untuk Dinda.? Gw enggak salah denger kan.? Waaah, bagus dong kalau gitu.! Kayaknya ini memang kesempatan untuk gw, gw enggak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.! Gw harus cepat-cepat menyingkirkan Dinda.! Eeemmm ternyata mamah enggak salah yah nyuruh gw beli obat pelemah kandungan." Kata Sania dalam hati, sambil tersenyum, sepertinya ia dan ibu Santi mamahnya memang sudah merencanakan semua itu sejak Sania masih berada di Surabaya.
"Ya udah terimakasih yah non.? Kalau gitu bibi ke dapur dulu." Kata bi Ijah sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung melangkah menuju dapur dan meninggalkan Sania hanya sendiri.
Melihat bi Ijah pergi, dengan segera Sania pun langsung membawa susu tersebut masuk kedalam kamarnya, dan kemudian langsung memasukkan obat pelemah kandungan tersebut kedalam susu tersebut.
"Gw harus cepet-cepet kasih susu ini untuk Dinda.!" Kata Sanaia dalam hati, sambil buru-buru melangkah menuju kamar Dinda Tok.! tok.!tok.!
"Dinda, ini kak Sania Din.! Tolong bukain dulu pintunya.!" Kata Sania.
Mendengar Sania mengetuk pintu kamarnya, dengan segera Dinda pun langsung keluar.
"Eh kak Sania, ada ap,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.
"Loh, kok kak Sania sih yang bawa susu untuk Dinda.? Terus itu susu juga kak Sania yang bikin.?" Kata Dinda heran, sambil menatap segelas susu yang sedang Sania pegang.
"Ohhh bukan Din, susu ini bukan kak Sania yang bikin.! Tadi itu bi Ijah lagi sibuk, jadinya kak Sania deh yang nganterin susu ini untuk kamu, enggak papa kan.?" Kata Sania berbohong, kemudian ia pun langsung memberikan susu tersebut kepada Dinda
"Eeeeemm kak Saniaaaa, makasih yah kak.? Kak Sania udah perhatian banget sama Dinda, Kak Sania juga udah baiiiiik banget sama Dinda.? Semoga kak Sania betah yah tinggal disini.!" Kata Dinda sambil tersenyum karena senang dengan sikap Sania yang perhatian.
"Ya udah, Dinda masuk dulu yah kak.?" Kata Dinda lagi, kemudian ia pun langsung melangkah masuk kedalam kamarnya sambil membawa susu tersebut meninggalkan Sania hanya sendiri di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
"Eeemm Dindaaa, Dinda, bodoh banget sih loh.! Mau aja gw bohongin.! Tunggu reaksinya 5 menit lagi.! Karena dalam waktu 5 menit lagi, loh akan menangis kesakitan, karena bayi yang ada di dalam perut loh itu sebentar lagi akan keluar, dan kalau loh sampai enggak kuat menahan rasa sakit perut loh itu.! loh akan meninggal secara perlahan, dan kalau loh sampai meninggal, gw jamin.! Erik pasti akan menjadi milik gw selamanya." Kata Sania dalam hati sambil tersenyum senang, karena ia sangat yakin kalau rencananya itu pasti akan berhasil.
"Ya udah deh.! Lebih baik sekarang gw tunggu di kam,,,,,,," Seketika ucapan Sania terpotong.
"Eh tunggu dulu, tunggu dulu.! Itu suara apaan.? Itu kayak suara Dinda lagi kesakitan yah.?" Kata Sania dalam hati, sambil terus mendengarkan suara Dinda yang sudah mulai merentih kesakitan.
"Aww mas Erik sakit maaaas.? Awww mas Erik sakiiiiiit, Dinda sakit maaaaass.?" Suara Dinda merintih kesakitan dari dalam kamar, sepertinya ia sudah meminum susu pemberian Sania.
Mendengar suara Dinda merintih seperti itu, Sania pun langsung tersenyum bahagia.
"Bagus, sepertinya rencana gw ini berhasil.!Kasihan kamu Dinda.! Sebentar lagi anak kesayangan Erik yang ada didalam perut loh itu, pasti akan meninggal, begitu pun juga dengan loh Dinda.! Dan untuk loh Erik, ini adalah balasan dari gw, karena loh tadi sok jual mahal ke gw.! Dan ini baru permulaan dari rencana gw, tunggu kejutan-kejutan selanjut,,,,,," Belum sempat Sania menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong.
"E, e, ehhh tapi tunggu dulu deh.! Kok suara rintihan Dinda kayak gitu sih.?" Kata Sania bingung dan heran karena mendengar suara rintihan Dinda yang aneh, Dinda merintih kesakitan bercampur dengan suara desahan yang terdengar sangat manja.
"Aww mas Eriiiik, sakit maasss.? Awwww sakit maaas, pelan-pelaaan.!" Suara rintihan Dinda bercampur dengan desahan yang sangat manja.
Mendengar suara Dinda merintih seperti itu, Sania pun semakin bingung.
"Sebenarnya itu Dinda lagi kesakitan apa lagi ngapain sih, kok suara Dinda kayak gitu.? Penasaran gw.? Coba deh gw dengerin lebih dekat lagi.!" Kata Sania dalam hati penasaran, sambil melangkah tepat didepan pintu kamar Dinda, kemudian ia pun langsung mendengarkan sebenarnya apa yang sedang terjadi kepadanya.
"Mas Eriiiik, mas Erik pelan-pelan mainnyaaa.! Dinda sakit maaaas.?" Kata Dinda merengek dengan sangat manjanya.
"Uuuuuuh kasihaaan, mas mainnya kenceng-kenceng yah, hah.? Istri mas sakiiiiit.?" Kata Erik penuh perhatian.
"Ya udaaah, mas mainnya pelan-pelan yaaah.? Biar istri mas yang ndut ini enggak sakit lagi." Kata Erik sambil tersenyum.
"Iya mas mainnya pelan-pelan ajaaa.! Terus mas mainnya sambil duduk.! Mas jangan nimpa diatas dedeee.! Kasihan nanti dedenya engaaap.?" Kata Dinda sambil terus merengek manja.
"Eeeeemmmm jagoan papah yang ndut ini engaaap ditimpa papaaah, hah.? Jagoan papah yang ndut ini siap-siap yaaah didalam perut mamaaah.! Soalnya sebentar lagi papah mau nyerang jagoan papah yang ndut ini nih.! Kita main tembak-tembakan yang lama yaaaah didalam perut mamaaah.? kita bikin mamah sampai lemes." Kata Erik sambil tersenyum menggoda Dinda.
"Eeeeeemmm mas Eriiiiik, enggak mauuuu.! Mas Erik sama dede jangan bikin mamah lemeeees." Kata Dinda sambil merengek seperti anak kecil.
Mendengar obrolan Erik dan Dinda seperti itu, Sania pun semakin bingung.
"Sampai sini gw masih bingung deh.! Sebenarnya mereka didalam kamar lagi ngapa,,,,," Seketika ucapan Sania terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar suara Dinda yang lagi-lagi merintih sambil mendesah, bahkan rintihan dan desahan Dinda itu pun semakin lama terdengar semakin cepat dan sangat kenikmatan.
"Aw mas Eriiiiik, pelan-pelan maaass.! Awwww mas Erik sakiiiiit.? Sakit maaaas, awww.! Sakiiiiit.? Awwww aw aw aw aw mas Eriiik, aw aw aw aw sakit maaaas.? Aw aw aw aw aw." Suara Dinda mendesah dengan sangat manjanya, sambil memanggil-manggil nama Erik.
Setelah mendengarkan suara rintihan dan desahan Dinda seperti itu, Sania pun sudah bisa menebaknya, kalau sebenarnya dari tadi ia tidaklah sedang merintih kesakitan karena minum susu pemberian darinya, akan tapi justru sebaliknya, dari tadi ia merintih seperti itu, karena ia sedang merasakan betapa nikmatanya bercinta diatas ranjang bersama dengan Erik.
"Kurang ajar.! Jadi dari tadi gw berdiri disini cuma untuk ngedengerin Dinda dan Erik bercinta.? Bodoh banget sih gw ini.! Bodoh, bodoh, bodoh.! Kenapa sih gw enggak sadar dari tadi.? Kalau tau kaya gini, lebih baik gw pergi dari tadi." Kata Sania dalam hati kesel.
"E, e, ehh tapi entar dulu deh.! Kok Dinda sampai sekarang belum kesakitan yah.? apa jangan-jangan.! Susu itu belum Dinda minum.? Kalau susu itu belum Dinda minum, berarti masih ada kemungkinan dong untuk Dinda minum susu itu.! Eeemmmm bagus deh kalau gitu lebih baik sekarang gw tidur.! Gw tunggu kabar dari Dinda besok.! Siapa tau kan pas besok gw bangun Dinda udah minum susu itu." Kata Sania lagi dalam hati sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung melangkah pergi menuju kamarnya untuk tidur.
__ADS_1