
MASIH DI RUMAH DEVANO.
Waktu menunjukkan pukul 12:00 Malam.
Terlihat Alana yang sedang tiduran ditempat tidurnya, sambil terbengong memikirkan kejadian yang baru saja menimpanya.
"Sebenarnya siapa sih yang tega ngelakuin semua ini sama aku.? Apa coba salah aku.? Aku benar-benar enggak habis pikir sama semua ini, kenapa sih cobaan selalu datang bertubi-tubi menghampiri aku.?"
Ucap Alana kesel, sambil terus terbengong. Sehingga Devano yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk mengganti pakaiannya pun langsung melangkah menghampirinya dan duduk disampingnya.
"Kamu kenapaaa.? Kamu masih mikirin kejadian tadi yah.?"
Ucap Devano pelan dan penuh perhatian, sambil menatap dalam wajah cantik Alana istri tersayangnya.
"Kamu tenang aja yah.? Mas janji, secepatnya mas akan cari tau siapa pelakunya." Ucapnya lagi serius.
"Tapi mas mau cari kemana.? Mas aja enggak tau siapa orangnya. Bahkan tadi kita lihat di CCTV aja mukanya enggak kelihatan, kita enggak ngenalin dia sama sekali." Ucap Alana sedikit ragu dengan ucapan Devano suaminya, ia berbicara seperti itu karena tadi ia dan Devano sempat melihat rekaman CCTV di rumahnya saat kejadian tersebut terjadi, akan tetapi hasilnya nol besar, karena wajah pelaku sama sekali tidak terlihat dan tidak ia kenali.
"Kamu tenang aja sayang.! Mas akan kerahkan semua anak buah papah di kantor untuk mencari tau siapa pelakunya. Tadi mas udah telepon Diki, mas suruh dia dan anak buah papah untuk selidiki kasus ini secepatnya." Ucap Devano mencoba untuk memberi tahu Alana, kalau ternyata tadi ia sempat menelepon Diki sahabat terbaiknya sekaligus karyawan terpercayanya di kantor untuk secepatnya menyelidiki kasus tersebut bersama dengan anak buah pak Erik yang tak lain adalah Ayahnya.
"Oh iya sayang, sebenarnya mas udah ada feeling sih siapa pelakunya, soalnya mas juga curiga banget sama itu orang. Tapi,,,,,,," Seketika Devano terdiam.
"Tapi, tapi apa mas.?" Ucap Alana penasaran.
"Tapi mas mau kasih taunya takut kamu marah." Ucap Devano lagi.
"Marah.? Marah kenapa.?" Ucap Alana bingung sebenarnya apa maksud dari ucapan Devano suaminya itu.
"Soalnya feeling mas, pelakunya itu salah satu dari keluarga kamu." Ucap Devano lagi mencoba untuk menjelaskan.
"Salah satu dari keluarga Alana.?" Ucap Alana masih kebingungan.
"Maksud mas, kak Laras.?" Ucap Alana mencoba untuk menebaknya.
"Ia sayang, feeling mas Laras pelakunya. Mas sangat yakin pasti dia yang ngelakuin ini semua sama kamu." Ucap Devano dengan sangat yakin kalau Laras lah pelakunya.
"Enggak mas, enggak mungkin.! Kak Laras itu selama ini udah baik banget sama Alana, kak Laras itu udah berubah mas. Jadi enggak mungkin kalau pelakunya itu kak Laras." Ucap Alana ragu dengan feeling Devano suaminya.
"Sayang, kamu itu kenapa sih jadi orang mudah banget percaya sama orang lain.? Kamu pikir aja yah sayang, kalau pelakunya bukan kak Laras, kenapa coba tadi kak Laras bisa kebetulan banget ada dirumah kita saat kejadian itu terjadi." Ucap Devano mencoba untuk menyakinkan Alana kembali, kalau pelakunya itu pasti adalah Laras, kakak tirinya.
__ADS_1
"Ya ampun maaas, mas itu suudzon banget sih jadi orang. Kan tadi mas juga denger sendiri, kalau tadi kak Laras kesini itu mau jengukin Alana. Masa mas enggak denger sih.?" Ucap Alana sedikit kesel, karena ia tidak terima Laras kakak tirinya yang sudah taubat Devano tuduh sebagai pelaku dibalik semuanya.
"Terserah kamu aja deh sayang.! Yang jelas mas akan tetap selidiki Laras, dan kalau sampai terbukti Laras pelakunya, jangan harap mas akan kasih kesempatan kedua untuk dia, dan mas juga mohon sama kamu sayang, kalau sampai bener pelakunya Laras, mas mohon kamu jangan halang-halangi mas untuk memberinya pelajaran." Ucap Devano menggertak Alana, karena ia sangat yakin kalau pelakunya adalah Laras.
DI TEMPAT BERBEDA, DI RUMAH PAK ADI.
Terlihat Laras, Ibu Rika dan juga Pak Adi yang sedang berdebat.
"Mah, harus berapa kali sih Laras kasih tau mamah kalau pelakunya itu bukan Laras." Ucap Laras kesel, karena tanpa sepengetahuan dari kita, dari tadi ibu Rika mamahnya tak henti-hentinya menuduhnya sebagai pelaku teror Alana.
"Mamah enggak percaya sayang, sekarang kamu ngaku enggak.! Kalau kamu yang ngelakuin semua itu sama Alana." Ucap Ibu Rika masih tak percaya, karena ia tau betul kelakuan anaknya itu dulu seperti apa.
"Pelakunya bukan Laras maaah, kalau sekarang mamah nyuruh Laras ngaku, Laras harus ngaku apa.?" Ucap Laras lagi-lagi ia mencoba untuk mengelaknya.
"Udah, udah, mah.! Mungkin memang bukan Laras pelakunya." Ucap pak Adi yang dari tadi sedang berdiri diantara mereka.
"Kalau bukan Laras pelakunya, kenapa coba pah, tadi Devano telpon papah katanya Laras ada di rumahnya saat kejadian itu terjadi." Ucap Ibu Rika serius, karena tanpa sepengetahuan dari kita tadi Devano sempat menelepon pak Adi ayah mertuanya, untuk memberi tahu hal tersebut kepadanya.
"Apa.? Jadi tadi kak Devano sempat telpon papah.? Dan dia curiga kalau gw yang ngelakuin semua itu." Ucap Laras dalam hati kaget dan tak percaya.
Pagi pun tiba,,,,,,,,
DI PERJALANAN.
Waktu menunjukkan pukul 07:00 Pagi.
"Iya ada apa Dev.?" Ucap Diki via telepon.
"Oh ia, ia. Ini gw lagi on the way ke rumah loh. Sebentaaaar lagi juga nyampe nih. Tuh.! gerbang rumah loh juga udah kelih,,,,,,,,,,," Seketika ucapannya terpotong.
"Eh Dev, Dev, udah dulu yah.? Gw tutup dulu teleponnya." Ucapnya lagi tergesa-gesa, sambil buru-buru memutuskan sambungan telepon tersebut, karena ia tak sengaja melihat seseorang mencurigakan dengan pakaian tertutup, sama persis dengan pelaku teror Alana semalam yang sedang berdiri mengintai rumah Devano sambil membawa sebuah botol kaca yang akan ia lemparkan ke dalam rumah tersebut.
"Orang itu siapa yah.? Gerak-geriknya mencurigakan banget." Ucap Diki penasaran sambil menatap kearah orang tersebut, kemudian ia pun langsung turun dari mobilnya untuk menghampirinya.
"Maaf, kalau boleh tau kamu lagi ngapain yah disini.?"
Ucap Diki sopan, karena ia tidak mengenali siapa orang tersebut, karena ia pun takut salah orang, apalagi seperti yang kita tau orang tersebut memakai pakaian tertutup.
Mendengar pertanyaan Diki, seketika orang tersebut pun langsung menengok kearahnya, kemudian ia pun langsung terdiam dan kaget.
"B, b, bang Diki.? K, k, kenapa bang Diki bisa ada disini.? Apa jangan-jangan.! Bang Diki ngikutin gw dari sejak gw masih di rumah." Ucap seseorang tersebut dalam hati gugup dan ketakutan melihat Diki abangnya, ia Diki adalah abang dari seseorang mencurigakan tersebut yang tak lain adalah Dimas adiknya.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam.? Kamu lagi ngapain disin,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong, karena tiba-tiba Dimas adiknya mendorong tubuhnya dengan kuat sampai-sampai ia terjatuh.
"Aw.! Aduh.!" Ucap Diki kesakitan, karena Dimas mendorong tubuhnya benar-benar kuat, sampai-sampai botol kaca yang sedang ia pegang pun tak sengaja jatuh dan pecah tepat dihadapan Diki.
"Botol apaan ini.?" Ucap Diki sambil mengambil pecahan botol kaca tersebut, dan ternyata botol kaca tersebut ada isinya, yaitu secarik kertas yang bertuliskan.
"KAMU ENGGAK BERHAK BAHAGIA, KAMU HARUS MATI ALANA" Ucap Diki, ia mencoba membaca tulisan tersebut.
"Ini maksudnya apa.? J, j, jadi kamu,,,,," Ucapnya lagi curiga, sambil menatap kearah orang tersebut yang tak lain adalah Dimas adiknya sendiri.
"G, g, gawat.! Gw harus kabur sekarang, sebelum bang Diki tau kalau ternyata ini gw." Ucap Dimas dalam hati gugup dan semakin ketakutan. Kemudian ia pun langsung lari dengan kencang menjauh dari Diki Abangnya.
"Woy.! Tunggu.! Loh mau kemana woy.!" Teriak Diki sambil berlari dengan kencang untuk mengejarnya dan membawa pecahan botol kaca tersebut.
"Aduuuuuh.! Bang Diki udah mulai deket lagi, sekarang gw harus ngumpet dimana.? Kalau gw sampai ketangkap gawat ini." Ucap Dimas semakin ketakutan sambil terus berlari.
"Woy, tunggu woy.!" Teriak Diki lagi sambil terus berlari untuk mengejarnya, kemudian ia pun melemparkan pecahan botol kaca yang sedang ia pegang tepat mengenai pergelangan tangannya.
"Aw.! Aduh sial.! Tangan gw luka lagi, aduuuuuh mana darahnya banyak banget lagi" Ucap Dimas dalam hati kesakitan sambil terus berlari dan memegangi tangannya yang lumayan tersayat besar itu.
"Hemmmm.! Mampus loh, kena juga loh akhirnya." Ucap Diki sambil tersenyum senang dan terus berlari untuk mengejarnya, ia tidak tau sama sekali kalau ternyata yang baru saja ia lukai adalah Dimas Adik bontot kesayangannya.
"Woy.! Daripada loh lari-lari kayak gitu, lebih baik loh nyerah.! Loh kasih tau sama gw siapa yang nyuruh,,,,,,,,," Seketika teriakan Diki terpotong, karena tiba-tiba ponselnya bergetar.
"Aduuuuuh, ada apa sih.? Ini dari tadi Devano teleponin gw mulu. Enggak tau apa kalau keadaan lagi urgent." Ucap Diki sedikit kesel, ia berbicara seperti itu karena memang benar dari tadi Devano tak henti-henti meneleponnya.
"Tuh kan, jadi enggak ada orangnya. Kemana yah.?" Ucap Diki sambil menatap ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang sepertinya ia kehilangan jejak Dimas.
"Aduuuuuh sial.! Gw kehilangan jejak lag,,,,,,," Lagi-lagi ucapannya terpotong karena lagi dan lagi Devano menelponnya, dan kemudian ia pun akhirnya mengangkatnya.
"Iya hallo, ada apa Dev.?" Ucap Diki via telepon.
"Aduuuuuh.! Loh gangguin gw aja sih Dev. Tadi itu gw hampiiiiiir aja nangkep pelakunya." Ucapnya lagi mencoba untuk memberi tahunya.
"Ia, gw hampir aja nangkep pelakunya. Eehhhh.! loh malah teleponin gw terus, kehilangan jejak kan gw jadinya." Ucap Diki lagi sedikit kesal.
"Tapi loh tenang aja sih Dev, pelakunya terluka kok.! Soalnya tadi pelakunya sempet gw lempar pakai pecahan botol, dan gw yakin itu lukanya pasti parah." Ucap Diki mencoba untuk memberi tahu Devano, apa yang baru saja ia lakukan.
"Heemmm.! Dan gw juga yakin, kalau pelakunya orang terdekat diantara kita, gw pasti ngenalin itu lukanya." Ucap Diki lagi dengan sangat yakin sambil tersenyum senang karena sudah berhasil membuat seseorang mencurigakan tersebut yang tak lain adalah Dimas adiknya terluka.
"Ia Dev, gw pasti kenal sama itu luka. Dan gw janji Dev, gw janji sama loh.! Kalau gw tau siapa pelakunya, gw pasti akan habisi dia, dan gw juga pasti akan cepat-cepat kasih tau loh." Ucapnya lagi penuh semangat.
#########
__ADS_1
Aduuuuuh kira-kira siapa yah pelakunya.? Kok Author jadi lieur 😂 Semalam pelakunya perempuan, kok sekarang jadi laki-laki.? 🤔
Jangan lupa like, coment dan fav 😍