DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 48


__ADS_3

DI RUMAH DIKI.


Waktu menunjukkan pukul 09:00 Pagi.


Terlihat Diki yang baru saja sampai dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.


"Aduh sial.! Capek banget gw hari ini.!" Ucap Diki dengan suara ngos-ngosan sambil menenggak satu gelas air putih, ia capek karena habis kejar-kejaran dengan pelaku teror Alana yang tak lain adalah Dimas adiknya sendiri.


"Mana tadi gw kehilangan jejak lag,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.


"Bang Diki,,," Ucap Siska salah satu adiknya lagi, yang tak lain adalah sahabat terdekat Alana, ia kaget melihat Diki yang tiba-tiba kembali lagi pulang ke rumahnya.


"Bang Diki kenapa.? Kok bang Diki kayak kecapekan gitu.? Terus bang Diki juga ngapain.? Kok jam segini ada di rumah.? Emang bang Diki enggak ke kantor.?" Ucapnya lagi kebingungan.


Mendengar pertanyaan Siska, Diki pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Enggak Sis, soalnya hari ini sampai peneror Alana ketemu, Abang ditugaskan diluar kantor dulu sama Devano." Ucap Diki mencoba untuk menjelaskan.


"Apa.? Tadi bang Diki ngomong apa.? Peneror Alana, emang ada yang neror Alana bang.? Siapa.?" Ucap Siska kaget, karena ia baru tahu kabar tersebut.


Mendengar Siska yang tak henti-hentinya bertanya, Diki pun langsung menceritakan semua kejadian teror tersebut dari awal sampai akhir, seperti yang Devano ceritakan kepadanya.


"Apa.? Jadi Alana bener-bener kena teror.? Ya ampun kasihan bang,,,,,,,,,," Seketika ucapan Siska terpotong, karena tiba-tiba Dimas yang sedang berada didalam kamar pun keluar menghampirinya sambil marah-marah.


"Ya ampuuuuun.! Kak Siska lama banget sih ngambil Beta-din-nya,,,,,," Seketika ucapan Diki pun tersendat, kemudian ia pun langsung terdiam karena kaget.


"B, b, bang Diki.?" Ucapnya lagi gugup dan ketakutan, sambil cepat-cepat menyembunyikan tangannya yang terluka.


"Kamu kenapa Dim, marah-marah kayak gitu.? Terus tadi kamu ngomong apa.? Betadine, emang kamu kenapa.? Terus lagian kamu ngapain jam segini ada di rumah, emang kamu enggak sekolah.?" Ucap Diki dengan sangat tegas, karena ia memang selalu seperti itu kepada adik-adiknya, apalagi setelah kepergian ke dua orang tuanya, karena ternyata kedua orang tua Diki sudah meninggal dan sekarang ia adalah tulang punggung sekaligus pengganti orang tua untuk adik-adiknya.


"E, e, enggak kok bang.! Dimas enggak kenapa-nap,,,,,,," Belum sempat Dimas menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong.


"Itu bang, tadi Dimas jatuh dari motor waktu mau berangkat sekolah, makannya hari ini dia enggak masuk sekolah." Ucap Siska mencoba untuk memberi tahu Diki, karena setahunya Dimas itu jatuh dari motor, karena Dimas lah yang memberi pengakuan seperti itu kepadanya.


"Apa.? Kamu jatuh dari motor.? Tapi kamu enggak papa kan.?" Ucap Diki kaget dan panik, karena ia sangat-sangat menyayangi adik-adiknya, apalagi sejak kedua orang tuanya meninggal ia lah yang bertanggung jawab atas segalanya.


"E, e, enggak kok bang.! Dimas enggak papa." Ucap Dimas gugup, karena ia berbohong


"Enggak papa gimana.? Lihat aja tuh bang tangannya.! Sampai tersayat kayak gitu, berdarah lagi banyak." Ucap Siska sambil menunjuk ke arah tangan Dimas yang terluka.


"Aduuuuuh mati gw.! Gimana kalau bang Diki sampai curiga dan mengenali kalau luka ini adalah perbuatannya tadi." Ucap Dimas dalam hati ketakutan.


"Kamu terluka sampai berdarah.? Coba mana Abang lihat." Ucap Diki kaget sambil buru-buru melangkah menghampirinya untuk melihat luka tersebut.


"Makanya dong lain kali kamu itu hati-hati kalau bawa mot,,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong, karena benar apa yang ia duga, ia pasti mengenali luka tersebut jika bertemu dengan orang yang ia lukai tadi.


"L, l, luka ini.? Kenapa luka ini sama persis dengan luka pelaku teror Alana." Ucap Diki dalam hati kaget dan tak percaya, sambil terus menatap luka tersebut.


"Tuh kan, bang Diki langsung diam. Gw yakin bang Diki pasti udah tau kalau gw orang yang baru saja bang Diki kejar-kejar." Ucap Dimas dalam hati semakin ketakutan melihat Diki terdiam seperti itu.


"Kok kalian malah jadi pada diam sih.?" Ucap Siska bingung melihat kakak dan adiknya yang tiba-tiba malah justru pada terdiam.


"Emang ini ada ap,,,,,,,,," Seketika ucapan Siska terpotong.


"Dimas, Abang mau ngomong sama kamu.!" Ucap Diki tegas dengan tatapan mata yang sangat tajam, sehingga Dimas pun semakin ketakutan dibuatnya.


"Aduuuuuh bener dugaan gw, bang Diki pasti udah tau semuanya." Ucapnya gemetaran karena saking takutnya.


"I, i, ia bang ada apa.?" Ucap Dimas masih gemetaran, ia tidak berani menatap mata Diki sama sekali.

__ADS_1


"Luka ini bener karena kamu jatuh dari motor.?" Ucap Diki mencoba untuk menanyakannya dengan pelan, berharap ia akan mengakui semuanya.


"I, i, ,ia bang, bener." Ucap Dimas berbohong.


"Bener karena kamu jatuh dari motor.?" Ucap Diki lagi semakin tegas.


"I, i, ia bang ben,,,,,,,,,," Seketika ucapan Dimas terpotong, karena tiba-tiba Diki abangnya langsung marah.


"Bener karena kamu jatuh dari motor.?" Teriak Diki sambil menggebrak meja dengan sangat kencang, karena kesal kepada Dimas yang lagi-lagi berbohong kepadanya.


"Ampun baaaaang, Dimas minta maaf bang, Dimas minta maaf." Ucap Dimas sambil menangis ketakutan dan bersujud di kaki Diki, karena baru kali ini ia melihat Diki abangnya bisa semarah itu.


"Bang.! Abang apa-apaan sih.? Abang kenapa.? Ada apa.?" Teriak Siska marah dan kesel melihat tingkah laku Diki abangnya yang kasar kepada Dimas adiknya.


Mendengar pertanyaan Siska, Diki tidak menjawabnya, ia malah justru terus marah-marah kepada Dimas.


"Abang bener-bener enggak nyangka yah sama kamu.! Bisa-bisanya ngelakuin perbuatan brutal kaya gitu. Kamu itu masih sekolah Dimaaaas." Ucap Diki penuh emosi, sehingga lagi-lagi Siska pun kebingungan.


"Perbuatan brutal, perbuatan brutal giman,,,,,," Lagi-lagi ucapan Siska terpotong.


"Ia bang, Dimas ngaku salah. Dimas minta maaf.! Tapi Dimas cuma disuruh bang." Ucap Dimas dengan jujur.


"Tunggu dulu, tunggu dulu.! Ini tuh sebenarnya ada apa sih.?" Ucap Siska lagi yang masih kebingungan.


Melihat Siska kebingungan terus seperti itu, Diki pun akhirnya menjelaskan semuanya, tenang Dimas adiknya yang hendak meneror Alana.


"Apa.? Jadi yang neror Alana itu Dimas bang.?" Ucap Siska kaget dan tak percaya dengan ucapan Diki, karena ia tau betul kalau Dimas adiknya adalah anak yang baik.


"Ya ampun Dimaaaas, kamu itu apa-apaan sih.? Kamu itu lagi cari mati kali yah.?" Ucapnya lagi panik dan khawatir dengan nasib Dimas selanjutnya seperti apa kalau sampai Devano tau tentang semua ini.


"Tapi Dimas cuma disuruh kak, sumpah Dimas cuma disuruh." Ucap Dimas mencoba untuk menjelaskan.


"Tapi kenapa kamu mau.?" Sambung Diki dengan suara tinggi, masih penuh dengan emosi.


"Soalnya, soalnya apa.?" Ucap Diki lagi dengan suara yang masih tinggi dan tatapan mata yang sangat tajam.


"S, s, soalnyaaaa, Dimas lagi butuh banget duit bang." Ucap Dimas dengan jujur.


"Apa.? Kamu lagi butuh banget duit.?" Sambung Siska kaget mendengar pengakuan Dimas, karena ia tau betul setelah kedua orang tuanya meninggal, Diki kakaknya selalu memenuhi semua kebutuhannya dan juga semua kebutuhan adik-adiknya.


"I, i, ia kak." Ucap Dimas gugup dan masih ketakutan.


"Ya ampun Dimaaaas, Kalau kamu butuh Duit kamu tinggal ngomong sama Abang.! Kapan sih Abang enggak kasih kamu duit saat kamu minta, hah.?" Ucap Diki dengan suara lebih tinggi lagi, ia tak habis pikir dengan pemikiran Dimas adiknya.


"T, t, tapi Diki enggak mau nyusahin Abang terus. Soalnya Diki tau sekarang Abang lagi butuh banyak duit buat biaya kuliah kak Lala." Ucap Dimas, ia berbicara seperti itu karena memang benar, sekarang ini Diki kakaknya lagi butuh banyak duit buat biaya kuliah Lala salah satu adiknya lagi, yang sekarang kuliah di London.


"Apa kamu bilang.? Kamu enggak mau nyusahin Abang.?" Ucap Diki masih marah.


"I, i, ia bang." Ucap Dimas.


"Justru dengan perbuatan kamu ini.! Kamu bukan cuma nyusahin Abang, tapi kamu nyusahin semua keluarga kita. Ngerti enggak kamu.!" Ucap Diki lagi masih dengan suara tinggi.


"S, s, semua keluarga kita, maksudnya.?" Ucap Dimas bingung dengan apa maksud dari ucapan Diki kakaknya.


"Ia, semua keluarga kita. Kamu mikir enggak sih.? Bagaimana kalau sampai Devano tau kalau pelaku teror istrinya itu ternyata kamu.!" Ucap Diki mencoba untuk menjelaskan.


"T, t, tadi Abang ngomong apa.? Bagaimana kalau sampai Devano tau.? M, m, maksud Abang, orang yang tadi mau Dimas teror itu Alana istri kak Devano.?" Ucap Dimas kaget, karena ia benar-benar baru tahu kalau yang hendak ia teror tadi ternyata adalah Alana istri Devano teman sekaligus bos Diki kakaknya di kantor.


"Ia Dim, emang kamu enggak tau.?" Ucap Siska.

__ADS_1


"E, e, enggak kak.! Dimas enggak tau." Ucap Dimas menyesal.


"BODOH.! BODOH.! BODOH.! Kamu itu bodoh banget sih Dim.? Bagaimana kalau nanti Devano sampai tau semua ini.! Abang harus ngomong apa coba sama dia, kalau kayak gini caranya bisa-bisa Abang dipecat dari perusahaannya, mau makan apa kita nanti.?" Ucap Diki kesel dengan perbuatan Dimas adiknya, ia berbicara seperti itu karena memang sumber keuangannya ada di perusahaan Pak Erik yang tak lain adalah Ayah dari Devano.


"Hiks,,, hiks,,, Dimas bener-bener minta maaf baaang.? Hiks,, hiks,, Dimas bener-bener minta maaf.! Hiks,,, hiks,,, Dimas bener-bener enggak tau kalau yang mau Dimas teror tadi itu kak Alana istrinya kak Devano, hiks,,, hiks,,,, Dimas bener-bener enggak tau baaaaang." Ucap Dimas merasa bersalah sambil menangis karena menyesali perbuatannya.


Melihat Dimas adiknya menangis seperti itu, Diki pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Ya udah, sekarang mas mau tanya sama kamu.! Siapa yang udah berani nyuruh kamu untuk ngelakuin semua ini.?" Ucap Diki dengan sangat tegas.


"Iya bener, sebenarnya siapa sih yang udah berani nyuruh kamu untuk neror Alana.?" Sambung Siska kesal dan penasaran.


Mendengar pertanyaan Diki dan Siska, Dimas tidak menjawabnya, ia malah justru terdiam.


"Kenapa kamu diam.? JAWAB..!" Teriak Diki semakin marah.


"I, i, ia bang.! Y, y, yang nyuruh Dimas,,,, i, i, itu bang,,,," Ucap Dimas gugup dan ketakutan, ia tidak berani untuk memberi tahu siapa yang menyuruhnya, karena ia sempat di ancam untuk tutup mulut olehnya.


"Itu, itu siapa.? Jawab.!" Ucap Diki mencoba untuk menanyakannya lagi.


"I, i, itu bang, yang nyuruh Dimas namanya M, M, Marcell bang, Dia adalah salah satu alumni dari sekolahan Dimas, dan kalau enggak salah, sekarang dia juga kuliah di tempat kak Siska kuliah." Ucap Dimas dengan jujur.


"T, t, tadi kamu ngomong apa.? Marcell.?" Ucap Siska kaget mendengar jawaban dari Dimas.


"I, i, iya kak." Ucap Dimas gugup.


"Kamu kenal sis.?" Sambung Diki penasaran.


"Ia bang, Siska kenal, dan Alana juga pasti kenal kok sama Marcell.! Denger-denger dari temen-temen Siska dikampus, dia itu anak orang kaya bang, cuma dia enggak mau pulang, dia lebih milih jadi anak jalanan karena dia enggak mau diatur sama orang tuanya, dan kalau enggak salah lagi, dia itu udah diusir sama orang tuanya. Soalnya dia itu brutal banget bang." Ucap Siska mencoba untuk menjelaskan siapa sebenarnya Marcell, seseorang yang sudah berani menyuruh Dimas untuk menero Alana.


"Sial.! Berani banget dia nyuruh adik gw berbuat kayak git,,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong, karena tiba-tiba Siska mengingat sesuatu tentang Marcell.


"Ehhh tapi tunggu dulu deh bang.! Kalau enggak salah, Marcell kan yang kemarin buat Alana kecelakaan sampai keguguran.? Apa jangan-jangan,,,," Ucap Siska kaget.


"Dia sengaja lagi bang, dan itu semua adalah salah satu dari rencananya." Ucapnya lagi curiga.


"Apa.? Dia yang udah buat Alana kemaren kecelakaan sampai keguguran.?" Ucap Diki kaget.


"Kalau dia yang udah buat Alana kecelakaan sampai keguguran, Abang yakin dia pasti sengaja dan semua itu pasti salah satu dari rencananya." Ucapnya lagi dengan sangat yakin.


"Eh tapi tunggu dulu.! Kamu enggak terlibat dalam rencana ini kan Dim.?" Ucap Diki sedikit ketakutan, kalau sampai Dimas adiknya terlibat dalam rencana tersebut.


"E, e, enggak kok bang.! Dimas enggak terlibat dalam rencana itu bang, sumpah bang.!" Ucap Dimas dengan jujur.


"Awas aja yah kalau kamu sampai terlibat, Devano pasti enggak akan pernah maafin kamu.! Dan Devano juga pasti enggak akan pernah mau maafin Ab,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong karena tiba-tiba Devano datang dan berdiri di depan pintu masuk rumahnya.


"Gw enggak akan pernah maafin, enggak akan pernah maafin siapa.?"



Ucap Devano sambil berjalan masuk menghampiri Diki, Dimas dan Siska yang sedang berdiri di ruang tamu.


"D, D, Devano,,,?"



Ucap Diki gugup dan kaget mengapa Devano bisa tiba-tiba berada di rumahnya, kemudian ia pun langsung terdiam.


"Aduuuuuh.! Gila, gila, gila.! Sejak kapan Devano berdiri di situ.? Kira-kira Devano dengar enggak yah gw lagi ngomongin apa.? Kalau sampai Devano dengar, gawat.! Gw harus jelasin apa ke dia, dia pasti marah banget sama Dimas, sama gw juga. Kalau dia tau ternyata pelaku teror istrinya adalah Dimas Adik gw sendiri." Ucap Diki dalam hati panik dan ketakutan.

__ADS_1


######


Jangan lupa like, coment dan fav.😘


__ADS_2