
DI RUMAH PAK ERIK.
Waktu menunjukkan pukul 02:00 siang
Terlihat Dinda yang sedang duduk dengan penampilannya yang sudah rapih dan sangat cantik.
Karena ia sedang menunggu taksi yang ia pesan untuk menjemput Devano di sekolah, namun belum saja taksi tersebut datang, ia sudah melihat pak Erik yang baru saja pulang dari kantor dan sedang berjalan sambil menatap kearahnya.
Pak Erik sengaja pulang di waktu yang masih siang seperti ini, karena ia tau kalau Dinda istrinya pasti sedang kesal kepada dirinya dengan kejadian Devano disekolah tadi pagi.
Dan benar saja apa yang difikirkan oleh pak Erik, melihat pak Erik pulang dari kantor, Dinda pun langsung berdiri, kemudian langsung menatap kearahnya dengan tatapan yang sangat tajam dan raut wajah yang sangat marah.
Melihat raut wajah Dinda seperti itu, pak Erik pun langsung melangkah lebih cepat lagi untuk menghampirinya dan kemudian berdiri di sampingnya.
"Sayaaaang,,, kamu kenapa, kok kamu kayak marah sih sama mas.??? Terus sekarang kamu mau kemana, kok kamu udah rapi kaya gini.???" Kata pak Erik pura-pura tidak tau kenapa Dinda marah.
"Mas enggak usah pura-pura enggak tau deh, Dinda marah karena apa.???" Kata Dinda kesal, ia berbicara seperti itu karena ia sangat tau kalau sekarang ini pak Erik sedang pura-pura tidak tau dengan apa penyebab dirinya bisa marah.
"Sayaaaang,,, kok kamu ngomong gitu sih.??? Udah lebih baik sekarang kamu tenaaaang,,, terus kita duduk yuk.?!!!" Kata pak Erik pelan, ia mencoba untuk merayu Dinda, kemudian merangkul pundaknya dan mengajaknya untuk duduk.
"Awas ah.!!! Enggak usah peluk-peluk Dinda, Dinda bisa kok duduk sendiri." Kata Dinda ketus sambil menghempaskan tangan pak Erik dari tubuhnya, kemudian langsung duduk sambil cemberut.
Melihat raut wajah istrinya seperti itu, pak Erik justru malah tersenyum.
"Sayaaaang,,, kamu itu sebenarnya kenapa siiiih.???" Kata pak Erik pelan, ia masih pura-pura tidak tau.
"Tau.!!!! Mas pikir aja sendiri.!!!"
Kata Dinda ketus, dengan keadaan yang masih terus cemberut.
Melihat istrinya yang terus-terusan cemberut, pak Erik pun langsung melangkah lebih dekat lagi, kemudian langsung berdiri tepat dihadapannya.
"Kamu itu kenapaaa, hah.??? Sekarang kamu cerita sama mas, ada ap,,,,,,,,," Seketika ucapan pak Erik terpotong karena tiba-tiba ia mendengar Devano yang baru pulang dari sekolah sambil marah-marah.
__ADS_1
"Papah, papah kenapa tega sih sama Devano,, papah itu bikin Devano malu tau enggak didepan teman-teman Devano.???"
Kata Devano dengan suara tinggi sambil menatap kearah pak Erik dengan tatapan yang sangat tajam.
Mendengar kata-kata dari Devano, seketika pak Erik pun langsung menatap kearahnya, begitupun juga dengan Dinda.
"Sayang,, kamu udah pulang sayang, kamu pulang naik apa.??? Ya ampun sayaaaang,,, kamu kelihatan lelah banget kayak gini,,, pasti kamu capek banget yah.???" Kata Dinda khawatir sambil berjalan menghampirinya.
"Ini semua gara-gara mas tau enggak, bikin Devano kaya gini.??? Mas itu memang benar-benar enggak punya perasaan yah mas.??? Devano itu anak kita mas,, enggak seharusnya mas itu memblokir seluruh ATM dan kartu kredit Devano mas.??? Emang mas enggak kasihan apa lihat Devano pulang kayak gini.???" Kata Dinda dengan suara tinggi dan raut wajah yang sangat marah karena melihat keadaan Devano yang terlihat sangat lelah.
"Kamu itu kenapa sih sayang,,, mas itu ngelakuin semua ini demi Devano, supaya anak itu bisa mikir kalau cari uang itu susah.!!!" Kata pak Erik serius sambil menunjuk ke arah Devano.
"Dinda juga tau cari uang itu susah mas, tapi enggak seharusnya mas ngelakuin semua ini sama Devano mas.???" Kata Dinda, lagi-lagi ia mencoba untuk membela Devano anak kesayangannya itu.
"Apa kamu bilang sayang.??? Enggak seharusnya mas ngelakuin semua ini sama Devano,,, kamu tau enggak apa yang dilakukan sama anak itu diluaran sana.???" Kata pak Erik serius, sepertinya ia sudah mulai terpancing emosinya oleh Dinda.
Mendengar kata-kata dari pak Erik, Dinda hanya bisa terdiam, ia tidak bisa menjawabnya, karena ia memang tidak pernah tau apa yang dilakukan oleh Devano diluaran sana.
"Kenapa kamu Diam.??? Jawab.!!!!" Kata pak Erik dengan suara tinggi karena marah, ia memang tidak pernah main-main dalam mengurus Devano.
Mendengar bentakan dari pak Erik, lagi-lagi Dinda tidak bisa menjawabnya, ia hanya bisa terdiam dengan raut wajah yang sangat ketakutan.
"Cukup.!!! Papah enggak usah bentak-bentak mamah, semua ini salah Devano pah.??? Jadi papah enggak usah marah-marah sama mamah.!!!" Kata Devano dengan suara tinggi, ia mencoba untuk membela Dinda mamahnya
"Iya memang ini semua salah kamu.?!! Bagus deh kalau kamu ngerti, akhirnya kamu sadar juga dengan kesalah kamu.??? Kalau kamu enggak bikin kesalahan,, papah enggak akan pernah marah-marah sama mamah, apalagi sampai memblokir semua ATM dan kartu kredit kamu, ngerti.?!!!" Kata pak Erik dengan suara yang tak kalah tinggi dari Devano.
"Kenapa sih papah itu selalu jahat sama Devano, dan kenapa papah itu enggak pernah ngertiin Devano.??? Papah itu enggak seperti Om Arya tau enggak.??? Om Arya itu baik sama Raka pah, enggak seperti papah.?!!!" Kata Devano semakin marah.
Mendengar kata-kata dari Devano, pak Erik pun tersenyum sinis.
"Apa kamu bilang,, papah jahat.??? Papah enggak seperti Om Arya yang selalu baik sama Raka.??? Kamu itu mikir enggak sih dengan kata-kata kamu ini, hah.???" Kata pak Erik bingung dengan jalan pikir Devano putranya itu.
"Sekarang kamu ngaca, kamu lihat baik-baik diri kamu, kamu itu seperti apa.???? Sudah pantas belum kamu diperlakukan oleh papah, sama seperti Om Arya memperlakukan Raka.??? Papah benar-benar enggak nyangka yah sama kamu, kenapa sih kamu bisa jadi kaya gini.??? Emang kamu enggak kasihan sama papah, kamu enggak kasih mamah.??? Kamu tau enggak pengorbanan mamah ngelahirin kamu itu seperti ap,,,,,,,,,,,," Seketika ucapan pak Erik terpotong oleh Dinda.
"Udah mas, cukup mas.!!! Mas udah jangan marahin Devano lagi, kasihaan dia mas.???" Kata Dinda sambil menarik-narik tangan pak Erik.
"Enggak sayang,,, anak ini harus tau pengorbanan kamu dulu melahirkan dia itu seperti apa." Kata pak Erik serius sambil melepaskan genggaman tangan Dinda dari tangannya, karena pak Erik ingin memberi tahu betapa besar pengorbanan Dinda saat melahirkannya dulu.
"Kamu tau enggak pengorbanan mamah ngelahirin kamu itu dulu seperti apa, hah.??? Mamah itu hampir saja kehilangan nyawanya, demi melahirkan kamu tau enggak.?!!! Tapi kamu malah berani-beraninya membuat papah sama mamah kecawa.???" Kata pak Erik dengan suara yang sangat tinggi dan raut wajah yang sangat marah, karena kesel dengan tingkah laku bandel Devano, apalagi jika mengingat betapa besarnya pengorbanan Dinda dulu saat melahirkan Devano.
Mendengar kata-kata dari pak Erik Ayahnya, alih-alih sadar dengan perbuatannya selama ini, Devano malah menjawabnya dengan kata-kata yang membuat pak Erik semakin Emosi.
__ADS_1
"Enggak ada gunanya papah ngomong kaya gini di depan Devano.!!!! Karena apa,,, karena Devano itu enggak pernah minta papah dan juga mamah untuk melahirkan Devano kedunia ini, jadi enggak ada gunanya papah berbicara seperti ini di depan Devano, enggak ada gunanya pah.!!! Enggak ada gun,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong plaaaakkkk.!!!! karena pak Erik langsung menampar pipinya dengan sangat kuat, ia sudah benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi dan ini kali pertama ia menamparnya, dan tamparannya itu membuat Devano terdiam dan kaget.
"Papaaaaaah.????" Kata Devano pelan dan tak percaya karena semarah-marahnya pak Erik Ayahnya bisanya tidak sampai berbuat seperti itu kepada dirinya.
"Mas.!!! Apa yang baru saja mas lakukan sama Devano.??? Kenapa mas tampar Devano sih mas.?!!!" Kata Dinda dengan suara yang sangat tinggi sambil mendorong dada pak Erik, kemudian ia pun langsung memeluk Devano dan menangis.
"Hiks,,, hiks,, sayaaang,,, kamu enggak papa kan sayaaang.???" Kata Dinda lagi, sambil memegang pelan pipi Devano yang baru saja pak Erik tampar.
Mendengar kata-kata dari Dinda mamahnya, Devano hanya bisa terdiam, ia masih sangat syok dengan apa yang sudah Ayahnya lakukan kepada dirinya.
"Mas bener-bener tega sama Devano, mas itu jahat banget tau enggak.??? Devano itu anak kita mas, kenapa mas tega sih pukul Devano.???" Kata Dinda dengan suara tinggi sambil terus menangis.
Mendengar kata-kata dari Dinda, pak Erik tidak menyesali perbuatannya sama sekali, karena setiap apa saja yang akan pak Erik lakukan, ia sudah memikirkannya terlebih dahulu, ia malah justru berbicara dengan kata-kata yang membuat Dinda dan Devano semakin syok dan kaget.
"Mas ngelakuin semua ini demi kebaikan Devano.??? Dan sekarang juga, beresin semua barang-barang Devano.!!! Karena besok mas akan kirim Devano ke Korea, dan mulai lusa,, dia akan sekolah dan melanjutkan kuliahnya disana." Kata pak Erik tegas dan serius dengan keputusannya karena menurutnya dengan mengirimkannya sekolah dan melanjutkan kuliahnya ke Korea akan merubah Devano menjadi anak yang baik, karena pak Erik sangat yakin kalau Devano itu sebenarnya adalah anak yang pintar dan baik, hanya saja ia terpengaruh dari pergaulan teman-temannya.
"Apa.?!!! Besok mas akan kirim Devano ke Korea.??? Enggak mas,, Dinda enggak setuju mas, sampai kapan pun Dinda enggak akan pernah setuju.!!!" Kata Dinda dengan suara yang sangat tinggi karena kaget dan syok sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, karena ia benar-benar tidak mau dan tidak bisa jauh dari Devano anak kesangannya itu.
"Enggak pah,,, Devano enggak mau sekolah dan melanjutkan kuliah di Korea, daripada Devano harus sekolah dan melanjutkan kuliah di sana, lebih baik Devano angakat kaki dari rumah ini." Kata Devano dengan suara tinggi, ia mencoba menentang keputusan dari pak Erik Ayahnya.
Mendengar kata-kata dari Devano, pak Erik pun langsung tersenyum sinis.
"Apa kamu bilang,, kamu mau angkat kaki dari rumah ini.??? Kalau kamu berani angkat kaki dari rumah ini, jangan harap kamu bisa balik lagi kesini.???" Kata pak Erik, ia berbicara seperti itu karena ia sedang memberi pelajaran kepada Devano, karena tidak mungkin ada orang tua yang membiarkan anaknya pergi meninggalkan rumahnya untuk selamanya.
"Oke kalau itu mau papah.??? Sekarang juga,, Devano angkat kaki dari rumah ini, dan jangan harap Devano akan balik lagi ke sini."
Kata Devano serius, sambil menatap wajah pak Erik dengan tatapan yang sangat tajam, kemudian Devano pun langsung melangkah pergi keluar dari rumahnya.
Melihat Devano melangkah keluar dari rumah, seketika Dinda pun langsung teriak memanggilnya.
"Sayang kamu mau kemana sayang.?!!! Jangan tinggalin mamah sayang, kamu mau kemana.???" Kata Dinda panik karena Dinda sangat takut kalau sampai Devano kenapa-napa di luaran sana jika sampai Ia benar-benar pergi meninggalkan rumahnya.
"Mas kejar Devano dong mas.!!! Cegah dia mas, supaya dia enggak jadi pergi.!!!" Kata Dinda dengan suara tinggi sambil menarik-narik tangan pak Erik agar mengejarnya.
"Enggak,,, mas enggak akan pernah mencegah Devano untuk pergi, ini semua sudah keputusannya, jadi biarkan saja dia pergi, supaya dia bisa tau betapa susahnya hidup di luaran sana." Kata pak Erik serius, ia tidak mau mencegah Devano, karena ia mau memberikan pelajaran kepadanya kalau hidup di luaran sana tidak lah mudah, dan bukan hanya itu saja, pak Erik tidak mau mencegah Devano, karena ia sangat tau kalau anak semata wayangnya itu tidak akan sanggup hidup diluaran sana tanpa adanya fasilitas dari dirinya, karena seperti yang kita tau semua fasilitas Devano mobil dan uang jajannya sudah pak Erik tarik semuanya.
"Mas itu kenapa sih tega banget sama Devano.??? Dinda itu benci banget sama mas tau enggak, Dinda itu benci sama mas.?!!!" Kata Dinda dengan suara tinggi, kemudian langsung melangkah pergi menuju kamarnya dan meninggalkan pak Erik hanya sendiri.
Mendengar kata-kata dari Dinda, pak Erik hanya terdiam sambil menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Aduuuuh,,, punya istri kok bisanya ngambek terus kaya anak kecil.!!! Kalau kayak gini,, harus siap-siap nih entar malam saya kedinginan tidur diluar." Kata pak Erik kesal, ia berbicara seperti itu karena seperti yang kita tau, disaat Dinda sedang marah kepada pak Erik, Dinda tidak pernah mengizinkan pak Erik tidur bersamanya di dalam kamar.
__ADS_1