DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 39


__ADS_3

Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik pun tersenyum kemudian dengan segera ia pun langsung mencium bibirnya.



Erik terus menciumi bibir Dinda tanpa henti-hentinya, bahkan ia pun terlihat menciumi pundak dan lehernya yang sangat mulus dan putih itu dengan sangat pelan dan lembut.


"Awwwww mas Eriiiiiiikk, geliiiiiiiii.?" Kata Dinda dengan sangat manjanya sambil merintih kenikmatan.


Mendengar rintihan Dinda, Erik pun tak tahan, seketika ia pun langsung menyenderkan tubuhnya ke tembok dengan sedikit kasar.


"Aww sakit maaaas, dorong nya pelan-pelaaan.!!!" Kata Dinda sambil merengek kesakitan.


Melihat Dinda kesakitan seperti itu, Erik tidak perduli, dengan segera ia pun langsung menciumi bibir Dinda kembali dengan sangat rakusnya.



Setelah puas menciumi bibir Dinda, Erik pun langsung menciumi leher dan pundaknya kembali dengan sangat rakus dan tanpa henti-hentinya, bahkan ia pun terlihat meninggalkan sangat banyak jejak warna merah di pundak dan di lehernya, saking banyaknya jejak warna merah tersebut, mungkin akan terlihat jelas jika ada orang yang memandang, apalagi mengingat baju yang Dinda kenakan sekarang ini sangatlah seksi dan terbuka.


"Awww maaas, sakiiit.? Leher Dinda jangan digigit-gigiiiit.?" Kata Dinda sambil merengek kesakitan, karena Erik menciumi leher dan pundaknya sambil menggigit-gigit kecil, karena sepertinya nafsu dan hasrat Erik sekarang ini memang sedang menggebu-gebu, sehingga ia tidak sadar jika sekarang ini ia dan Dinda sedang berada Di kampus, dengan beraninya ia malah menggigit-gigit leher dan pundak Dinda sehingga meninggalkan cukup banyak jejak warna merah, yang pastinya akan terlihat dengan jelas oleh teman-temannya di kampus jika mereka memandang.


"Sakit yah sayang, hah.?" Kata Erik pelan, sambil menatap dalam wajah Dinda.


"Habisnya mas udah enggak tahan, mas udah enggak kuat.? Kita main-main yah disini.?" Kata Erik lagi dengan raut wajah penuh dengan nafsu, sepertinya sekarang ini nafsu Erik memang sudah benar-benar mencapai puncaknya, sampai-sampai didalam gudang pun ia mengajak Dinda istrinya untuk main-main.


"Mas mau main-main disini sama Dinda.?" Kata Dinda manja, sambil menatap dalam wajah Erik


"Iya, kamu mau kan.?" Kata Erik serius.


"Dinda mauuu." Kata Dinda merengek manja sambil tersenyum karena senang mendengar ajakan dari Erik itu, karena seperti yang kita tau, ia memang sangat haus akan belaian dan sentuhan darinya


Mendengar jawaban dari Dinda, dengan segera Erik pun langsung membuka kemeja yang ia kenakan, kemudian ia pun langsung membaringkannya di atas meja.


"Sekarang mas buka yah bajunya.? Mas pengin nen.?"



Kata Erik pelan sambil menatap dalam wajah cantik Dinda.


"Iya mas, tapi jangan sambil digigiiiit.?" Kata Dinda merengek ketakutan, karena biasanya Erik memang selalu seperti itu.


"Iya." Kata Erik singkat sambil menganggukkan kepalanya, kemudian ia pun langsung mencoba untuk membuka baju dan pengait bra yang sedang Dinda kenakan, namun sayang, baru saja ia membuka bajunya dan belum sempat membuka pengait branya, tiba-tiba bel di kampus berbunyi tanda waktu istirahat sudah selesai.


"Sayang bel nya udah bunyi.?" Kata Erik dengan suara yang terdengar sangat ngos-ngosan sambil buru-buru menyudahi permainannya itu.


"Emang kenapa kalau belnya udah bunyi.? Kok mas Erik berhenti sih enggak jadi nen.?" Kata Dinda bingung melihat Erik yang tiba-tiba menghentikan permainannya setelah mendengar bel di kampusnya.

__ADS_1


"Sayaaang, udah waktunya masuk kelas.? Udahan yah.! Kita lanjutin lagi entar malam di rumah.?" Kata Erik dengan raut wajah yang masih penuh dengan nafsu.


"Iiiiiihh mas Eriiiiik, Dinda enggak mauuu.?" Kata Dinda merengek seperti anak kecil, karena ia benar-benar tidak mau menyudahi permainannya itu.


Melihat rengekan dari Dinda, Erik pun tersenyum.


"Rasanya enak banget yah.? Sampai-sampai kamu ketagihan terus kaya gini, hah.?" Kata Erik pelan sambil membelai lembut wajah cantik Dinda.


"Iya enaaak, Dinda sukaaaa.?" Kata Dinda manja, ia berbicara seperti itu, karena ia memang benar-benar sudah ketagihan dengan permainan Erik yang sangat berpengalaman itu, apalagi setelah ia tau kalau ternyata rasanya itu sangatlah nikmat, ia pun jadi terus-terusan ketagihan seperti sekarang ini.


Mendengar jawaban dari Dinda, lagi-lagi Erik pun tersenyum.


"Kalau kamu sukaaaa, entar malam kita lanjutin yah.? Tapi jangan sekarang.! Sekaraaaang, kamu harus masuk ke kelas, takut telat.!" Kata Erik mencoba untuk menasehati Dinda.


"Sekarang mas pakaiin lagi yah bajunya.?" Kata Erik penuh perhatian sambil buru-buru memakaikan baju Dinda kembali, yang tadi sempat dibuka olehnya.


Setelah selesai memakaikan baju Dinda, Erik pun langsung menyuruhnya untuk cepat-cepat keluar dari gudang tersebut, karena ia takut kalau sampai Dinda telat masuk kampus.


"Ya udah, Dinda duluan yah mas.?" Kata Dinda sambil buru-buru melangkah keluar dari gudang tersebut.


"Iya, hati-hati yah.?" Kata Erik penuh perhatian sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung ikut keluar dari gudang tersebut dan berjalan mengikuti langkah kaki Dinda dari belakang, ia sengaja tidak keluar dari gudang bersamanya, karena ia takut kalau sampai orang-orang akan curiga jika melihatnya, namun disaat ia sedang berjalan, ia melihat Dinda yang sedang ditertawakan dan dibully habis-habisan oleh teman-teman kampusnya.


"Hahahha loh dari mana Din.? Habis ketemu sama om-om yah.?" Kata salah satu teman cowok Dinda sambil nyinyir dan terus menertawakannya.


"Tau nih Dinda, merah amat.? Semalam berapaan nih.? Boleh dong entar malam gw booking.?" Kata salah satu teman cowok Dinda lagi, ia pun ikut nyinyir dan menertawakannya.


"Kenapa loh diam Din, malu yah.? Muka aja sok polos loh.! Ternyata kelakuannya bejat." Kata salah satu teman cewek Dinda, sambil terus nyinyir kepadanya.


"Maksud kalian tuh apa sih ngomong kaya gitu.? Aku itu bukan perempuan murahan tau enggak.?" Kata Dinda dengan suara tinggi karena marah dan tidak terima dengan ucapan mereka.


Melihat Dinda semarah itu, mereka tidak perduli, mereka malah justru menertawakannya rame-rame.


"Hahahha apa kata loh.? Loh bukan perempuan murahan.? Loh enggak sadar tuh leher sama pundak loh banyak banget warna merah.? Terus apa dong namanya kalau bukan perempuan murahan.? Secara kan loh anak manja yang enggak punya pacar, pastinya loh obral kan tubuh loh ini sama om-om.?" Kata salah satu teman cewek Dinda lagi sambil terus menertawakannya, karena sekarang ini mereka semua sudah berani dan tidak takut lagi kepada Dinda, meskipun mereka semua tau kalau Ayahnya adalah pendonor dana terbesar di kampusnya, mereka mulai berani seperti itu kepada Dinda, sejak mereka tau kalau ternyata Erik dosen barunya di kampus berani menghukumnya, mereka semua pun jadi ikut-ikutan berani kepadanya.


Mendengar nyiyiran dari teman-temannya, seketika Dinda pun langsung menatap kearah pundaknya.


"Apa.? Ini kenapa banyak banget warna merah.?" Kata Dinda dalam hati kaget, karena ia benar-benar tidak tau kalau Erik meninggalkan cukup banyak jejak warna merah di pundaknya, karena seperti yang kita tau, keadaan di gudang tadi sangat gelap, kemudian dengan segera ia pun langsung menutupinya dengan kedua tangannya.


"Kenapa loh tutupin.? Malu yah.?" Kata salah satu teman Dinda lagi sambil tersenyum, karena senang melihat Dinda malu seperti itu.


Mendengar nyinyiran mereka, Dinda tidak menjawabnya, ia justru mencoba untuk melangkah pergi menuju ruang kelasnya.


"Eeeehhhh mau kemana loh.?" Kata mereka lagi, sambil menghalangi langkah kaki Dinda.


"Loh enggak bisa pergi dari sini.! Dasar perempuan murahan." Kata salah satu dari mereka lagi.

__ADS_1


"Hiks,,, hiks,,, awas.! Hiks,, hiks,, Aku mau ke kelas." Kata Dinda dengan suara bergetar karena menangis, sambil mencoba untuk terus melangkah menuju ruang kelasnya, namun sayang lagi-lagi langkahnya terhenti.


"Eeeehhh tunggu dulu.! Sebelum loh pergi, loh harus kasih tau dulu ke kita semua, siapa yang udah ngelakuin ini sama l,,,,,,," Seketika ucapannya terpotong.


"Saya yang ngelakuin semua itu sama Dinda.?" Teriak Erik yang dari tadi sedang berdiri di belakang mereka.


"P, p, pak Erik.?" Kata mereka semua secara bersamaan gugup dan kaget, sambil menatap kearah Erik yang sedang berjalan menghampirinya.


"Iya, saya yang ngelakuin semua itu sama Dinda, kenapa.?" Kata Erik dengan sangat tegas dan raut wajah yang sangat marah, ia mencoba untuk meyakinkan mereka semua kalau semua itu adalah ulahnya.


"Hiks,,, hiks,,, mas Eriiiiiiik.?" Kata Dinda kaget dan tak percaya melihat Erik tiba-tiba datang dan mengakui semuanya.


"Iya sayang.?" Kata Erik sambil tersenyum menatap kearah Dinda.


"Sayaaaang.?" Kata mereka semua secara bersamaan, kaget dan tak percaya mendengar Erik menyebut Dinda, dengan sebutan seperti itu.


"Kamu enggak papa kan.?" Kata Erik pelan dan penuh perhatian, kemudian ia pun langsung buru-buru menutupi pundak dan leher Dinda menggunakan jaketnya.


"Hiks,, hiks,, Dinda malu mas Eriiiik.? Hiks,, hiks,, Dinda mau pulaaaang.? Dinda hiks,, hiks,, enggak mau hiks,, hiks,, kekelaaas.? Hiks,, hiks,, Dinda maluuu.?" Kata Dinda sambil terus menangis, karena sekarang ini ia benar-benar sangat malu dengan semua kejadian yang telah manimpanya.


Melihat Dinda menangis seperti itu, Erik pun langsung memeluknya.


"Ssssssttttt udah, udaaah.! Kamu enggak usah nangis lagi.! Ya udah, lebih baik sekarang kita pulang yaaah.?" Kata Erik pelan dan penuh perhatian, ia mencoba untuk menenangkan Dinda.


"Hiks,, hiks,, iya mas." Kata Dinda sambil menganggukkan kepalanya.


"Tapi tunggu dulu sayang.! Mas mau kasih tau dulu sama mereka semua.!" Kata Erik tegas, sambil menatap tajam kearah semua murid-muridnya yang tadi nyinyir kepada Dinda istrinya.


"Saya mau kasih tau kalian semua yah.? Dinda ini bukan perempuan murahan, dan semua itu saya yang melakukannya, karena apa.? Karena Dinda ini adalah istri saya." Kata Erik tegas, ia mencoba untuk memberi pengumuman kepada semua murid-muridnya kalau sekarang ini ia dan Dinda sudah menikah.


"Apa.? Dinda istri pak Erik.? Dan itu artinya, pak Erik sama Dinda udah menikah.?" Kata semua murid-muridnya secara bersamaan, kaget dan tak percaya mendengar pengumuman dari Erik, karena setau merek semua, Erik dan Dinda itu musuhan.


"Iya, saya sudah menikah sama Dinda, dan sekarang ini Dinda adalah istri saya.! Jadi kalian semua jangan pernah mengejek Dinda seperti itu lagi.! Sekali lagi saja saya dengar kalian mengejek Dinda, kalian semua akan berurusan dengan saya, mengerti.!" Kata Erik semakin tegas dengan raut wajah yang sangat marah.


"M, m, mengerti pak.!" Kata mereka semua gugup dan ketakutan.


"Bagus kalau kalian semua mengerti." Kata Erik dengan raut wajah yang masih sangat marah, kemudian ia pun langsung merangkul pundak Dinda dan mengajaknya untuk pulang.


"Ya udah, sekarang kita pulang yah sayang.? Nanti biar mas yang minta izin sama dosen yang ngajar kamu sekarang." Kata Erik pelan dan penuh perhatian, kemudian ia dan Dinda pun langsung melangkah menuju mobilnya untuk pulang, dan meninggalkan semua murid-muridnya itu yang masih syok dan tak percaya mendengar pengumuman darinya.


"Ini kita enggak lagi mimpi kan.? Dinda sama pak Erik beneran udah menikah.?" Kata salah satu dari mereka masih tak percaya mendengar pengumuman dari Erik.


"Enggak tau, kayaknya kita ini memang benar-benar lagi mimpi deh.! Soalnya pak Erik itu enggak pantes sama Dinda, pak Erik itu pantesnya sama gw.?" Kata salah satu dari mereka lagi, tidak terima melihat Erik dosen nya yang sangat tampan menikah dengan Dinda perempuan yang sangat manja di kampusnya.


"Tau tuh pak Erik, pantesan juga sama gw.? Kenapa bisa milih Dinda sih." Kata salah satu dari mereka lagi kesel, karena menurutnya Erik lebih pantas menikah dengannya.

__ADS_1


"Eeeehhh tapi tunggu dulu deh.! Kalian semua baper enggak sih, ngelihat pak Erik sesayang itu sama Dinda.? Kalau gw sih baper bangeeet.?" Kata salah satu dari mereka sambil tersenyum, karena baper mengingat betapa sayangnya Erik tadi kepada Dinda.


"Gw enggak baper.! Yang ada gw itu iri ngelihat pak Erik sesayang itu sama Dinda, karena pak Erik itu pantesnya sama gw." Kata salah satu dari mereka lagi sewot.


__ADS_2