
DI PERJALANAN.
Waktu menunjukkan pukul 07:00 Pagi.
Terlihat Diki yang sedang mengendarai mobilnya, untuk mengantarkan Dimas adiknya berangkat ke sekolah, karena untuk hari ini Dimas adiknya itu tidak bisa membawa motor sendiri, dikarenakan tangannya yang terluka.
"Gimana bang, kemarin Abang berhasil enggak ngikutin Marcell.?" Ucap Dimas penasaran.
"Aduuuuuh Dim, padahal kemaren itu Abang hampiiiiiir aja nangkep itu anak.! Tapi sayang banget itu anak berhasil kab,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong, karena tiba-tiba ia melihat seorang perempuan seperti Renata yang sedang kesusahan mengecek mesin mobilnya di tengah jalan, karena sepertinya mobilnya itu mogok.
"Itu bukannya Renata yah.? Prempuan rese yang kemarin di rumah Devano.? Tapi ngapain itu perempuan berhentiin mobilnya di tengah-tengah jalan kayak gitu.? Apa mungkin mobilnya itu mogok.?" Ucapnya dalam hati penasaran sambil terus menatap kearah Renata yang masih terus kesusahan mengecek mesin mobilnya.
"Aduuuuuh.! Ini mobil kenapa harus pakai mogok segala sih.? Mana cuaca mau hujan, mana jauh dari bengkel lagi.! Terus gw harus gimana nih.? Gw kan enggak ngerti masalah mobil." Ucap Renata kesel, sambil terus kesusahan mengecek mesin mobilnya, hingga akhirnya Diki pun menyadari kalau perempuan tersebut memang benar Renata.
"Waaah kayaknya bener itu Renata.! Perempuan rese dan sok tau yang kemarin ada di rumah Devano." Ucapnya lagi dalam hati sambil tersenyum, karena senang melihat Renata kesusahan.
"Eeemmm, gw cengin dia aaaah.!" Ucapnya dalam hati sambil terus tersenyum, sehingga Dimas adiknya yang sedang duduk di sampingnya pun bingung.
"Bang, Abang kenapa sih dari tadi senyum-senyum sendiri.?" Ucapnya sambil terus menatap kearah Diki abangnya yang senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
"Oh enggaaak, Abang enggak kenapa-napa." Ucap Diki sambil buru-buru menghentikan mobilnya tepat disamping mobil Renata, sehingga lagi-lagi Dimas pun kebingungan dibuatnya.
"Bang, Abang ngapain berhentiin mobil disin,,,,,,," Seketika ucapannya terpotong.
"Udah kamu diem aja.!" Ucap Diki sambil tersenyum menatap kearah Renata yang sampai sekarang pun masih kesusahan mengecek mesin mobilnya yang mogok itu.
"Aduuuuuh.! Gw harus minta tolong sama siapa yah.? Kalau kayak gini bisa-bisa gw telat nih ke rumah sakit, mana udah banyak banget lagi pasien yang nunggu." Ucap Renata bingung dan panik, sehingga Diki yang masih berada didalam mobilnya pun lagi-lagi tersenyum, kemudian ia pun langsung buru-buru membuka kaca mobilnya.
"Woy.! Mobilnya kenapa non, mogok.?" Teriak Diki dari dalam mobil, sambil tersenyum jahil kepadanya.
Mendengar teriakkan Diki, seketika Renata pun langsung menatap kearahnya.
"L, l, loh.!" Ucap Renata kaget
"Ngapain loh ada disini.? Loh sengaja yah dari kemaren ngikutin gw.?" Ucap Renata nyolot.
"Eeeehhh asal main tuduh-tuduh aja loh.! Lagian ngapain gw ngikutin loh.!" Teriak Diki tak terima.
"Kalau loh enggak ngikutin gw, kenapa dong sekarang kita bisa ketemu lagi disini.?" Ucap Renata kesal.
"Lah.! Mana gw tau, mungkin kita jodoh kali." Ucap Diki sambil tertawa meledeknya, ia sengaja berbicara seperti itu, karena ia ingin memancing emosinya.
__ADS_1
"Iiiihhh ogah amat gw jodoh sama loh.! Daripada gw jodoh sama loh.! Lebih baik gw enggak nikah seumur hidup gw." Ucap Renata yang sudah mulai terpancing emosinya oleh Diki, sehingga Diki pun lagi-lagi tersenyum.
"Udah loh enggak usah marah-marah terus.! Ngomong-ngomong loh mau enggak gw bantuin nyalain itu mobil.!" Ucap Diki sambil menunjuk kearah mobil tersebut.
"Enggak usah.! Gw enggak butuh bantuan cowok rese kayak loh.!" Ucap Renata kesel sambil menatap sinis kearahnya.
"Ya udah.! Lagian gw juga cuma bercanda kok nawarinya, iya enggak Dim.?" Ucap Diki sambil tertawa kearah Dimas, kemudian ia pun langsung melajukan mobilnya kembali.
"Dadaaaaaaaah.!" Teriak Diki sambil tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya.
"Iiiih.! Ngeselin banget sih itu cowok.! Jangan sampai deh gw ketemu lagi sama cowok enggak jelas kayak gitu.!" Ucap Renata penuh emosi, sehingga Dimas yang melihatnya pun merasa kasihan dan tak tega.
"Bang, Abang kok iseng banget sih jadi cowok." Ucap Dimas sedikit kesel.
"Itu cewek kan kasihan bang.?" Ucapannya lagi sambil menatap kearah Renata yang masih kesusahan mengecek mesin mobilnya dari kaca sepion mobil Diki kakaknya.
"Udah biarin aja.! Lagian itu tuh cewek rese yang semalam bang Diki ceritain sama kamu dan juga Siska." Ucap Diki dengan santainya, ia berbicara seperti itu karena tanpa sepengetahuan dari kita, semalam ia sempat menceritakan kejadian kurang mengenakkan antara ia dan Renata, kepada Siska dan juga Dimas adiknya.
"Bang, tapi itu cewek sekarang lagi kesusahan Bang.! Emang Abang enggak ngeliat, tuh.! Cuaca diluar mau hujan, dan sampai sekarang itu cewek masih belum bisa nyalain mobilnya. Ayolah baaang, bantu dia.! Kasihan bang." Ucap Dimas memohon sambil mencoba untuk menyadarkan Diki kakaknya agar mau menolongnya.
"Tapi Dim, sekarang ini udah siang, entar kamu telat lagi ke sekolah." Ucap Diki mencoba untuk menolak.
"Bang, Abang itu kenapa sih.? Emang Abang lupa apa pesan almarhum ibu.! Kalau kita itu harus membantu orang yang lagi kesus,,,,,,,,,," Seketika ucapan Dimas terpotong.
"Ngapain itu mobil cowok rese balik lagi.? Belum puas apa dia udah bikin gw kesel dari kemaren.?" Ucap Renata kesel, sambil menatap kearah mobil Diki yang sudah terparkir tepat dibelakang mobilnya.
"Mau ngapain loh kesini lagi.?" Ucap Renata jutek sambil menatap kearah Diki yang sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Kok mau ngapain, ya mau bantuin loh lah.!" Ucap Diki nyolot.
"Enggak, enggak mau.! Gw enggak butuh bantuan dari l,,,,,,," Seketika ucapan Renata terpotong, karena tiba-tiba Diki langsung mengecek mesin mobilnya.
"Loh mau ngapain ngecek-ngecek mobil gw.?" Ucap Renata masih kesal.
"Udah enggak usah banyak tanya.! Sekarang loh berteduh disitu tuh.! Soalnya sebentar lagi hujan, entar loh kehujanan lagi." Ucapnya lagi sambil menunjuk ke sebuah warung yang berada di sisi jalan, kemudian ia pun langsung mencoba untuk mengecek mesin mobilnya lagi, sehingga membuat Renata pun langsung terdiam dan kaget.
"I, i, ini serius.? Cowok rese ini mau bantuin gw.? Gw enggak lagi mimpi kan ini.?" Ucapnya dalam hati tak percaya sambil terus terdiam.
"Loh kenapa.? Kok malah diem.? Udah gerimis nih.! Nanti loh kehujanan lagi." Ucap Diki yang tanpa sengaja mengkhawatirkan keadaannya, karena sebenarnya sifatnya memang seperti itu, baik ke semua orang.
"Dimas.! Tolong ambiin jaket Abang di mobil.! Kasih tuh.! Sama kak Renata, soalnya diluar udah gerimis." Teriak Diki, ia sengaja meminjamkan jaketnya untuk Renata, agar Renata tidak kehujanan, sehingga membuat Renata pun lagi-lagi hanya bisa terdiam.
__ADS_1
"Apa.! Cowok rese ini ngomong apa.? Dia mau minjemin jaketnya buat gw. Maksudnya apa yah.? Biar gw enggak kehujanan.?" Ucapnya semakin tak percaya dengan perlakuan baik Diki kepadanya.
"Ok kak.!" Teriak Dimas sambil buru-buru mengambil jaket tersebut dan memberikannya untuk Renata.
"Ini kak jaketnya." Ucap Dimas sambil tersenyum.
"Eh, i, i, iya kenapa.? Jaket yah.? Thanks banget yah.?" Ucap Renata gugup karena ia masih tak percaya Diki cowok rese yang sudah membuatnya kesel bisa sebaik itu kepadanya.
"Ya udah, kakak berteduh tuh disana.!" Ucap Dimas sambil menunjuk ke warung, tempat yang Diki tunjukkan kepada Renata untuk ia berteduh.
"Oh iya dek, thanks yah.?" Ucap Renata sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah menuju warung tersebut, semampainya ia di warung, ia pun langsung menatap kearah Diki dan Dimas yang masih terus sibuk mengecek mesin mobilnya.
"Gimana bang, udah nyala belum mobilnya.?" Ucap Dimas penasaran
"Belum Dim. Eh.! Tapi kamu coba dulu deh nyalain mobilnya.! Siapa tau aja bisa, soalnya ini ada kabel yang putus udah abang sambung." Ucap Diki sambil terus sibuk mengecek-ngecek mesin mobil tersebut, sehingga Renata yang sedang duduk di warung pun tersenyum melihatnya.
"Gw bener-bener enggak nyangka, ternyata cowok rese itu enggak seperti yang gw kira, ternyata cowok rese itu baik juga." Ucap Renata yang tidak sadar telah memujinya, sambil terus menatap kearahnya.
"Ayo Dim, cepetan nyalain mobilnya.! Udah nyala apa belum.? Hujannya udah mau turun nih.!" Teriak Diki.
"Bentar ya bang.! Coba Dimas nyalain dulu." Teriak Dimas dari dalam mobil tersebut, kemudian ia pun langsung buru-buru menyalakan mobil tersebut.
"Bang, berhasil bang.! Udah nyala bang, udah nyala.!" Teriak Dimas tergesa-gesa karena saking senengnya
"Ok, Sip.!" Teriak Diki sambil tersenyum.
"Ya udah ayo bang, kita kesana dulu.! Hujannya udah turun nih.!" Ucap Dimas sambil melangkah menuju warung tempat dimana Renata sedang berteduh, dan diikuti oleh Diki dari belakang.
"Mas, kopi dua ya mas.!" Ucap Diki yang sekarang sudah berada di warung tersebut, kemudian ia pun langsung duduk tepat di samping Dimas dan juga Renata sambil menikmati secangkir kopi yang ia pesan bersama-sama.
"Kalau dilihat-lihat, ternyata cowok rese ini ganteng juga yah.? Baik lagi."
Ucap Renata dalam hati sambil menatap kearah Diki, sepertinya sekarang ini ia sudah mulai terpukau akan ketampanan dan kebaikannya.
"Loh ngapain lihatin gw kayak gitu.? Udah mulai naksir loh sama gw.?"
Ucap Diki dengan tengilnya, sambil tersenyum ke arahnya, sehingga Renata pun langsung salah tingkah di buatnya.
__ADS_1
"Oh e, e, enggaaak, siapa yang lagi liatin loh.! Gw enggak lagi lihatin loh kok.!" Ucap Renata gugup karena ia sedang berbohong.
Melihat Renata gugup seperti itu, Diki hanya tersenyum, begitu juga dengan Dimas yang sedang duduk disampingnya.