DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 59


__ADS_3

DI KAMAR ALANA.


Waktu menunjukkan pukul 08:00 Malam.


Terlihat Alana yang sedang duduk diatas Ranjang sambil terus terbengong seperti memikirkan sesuatu, sehingga Devano yang hendak membersihkan badannya ke kamar mandi pun bingung melihatnya.



"Sayang, kamu kenapa.? Kok mas perhatiin dari sejak mas pulang dari kantor, kamu bengong terus kayak lagi ada masalah.?" Ucapnya penasaran sambil berjalan menghampirinya.


"Eh.! Iya kenapa mas.?"



Ucap Alana gugup sambil menatap kearah Devano suaminya itu yang sekarang sudah berdiri tepat dihadapannya.


"Tuh kan sayang, kamu enggak dengerin mas ngomong." Ucap Devano, sambil duduk tepat disampingnya.


"Kata mas juga kamu kenapa bengong teruuus, kamu lagi ada masalah.?" Ucap Devano pelan dan penuh perhatian, ia mencoba untuk mengulangi lagi ucapanya itu.


"Oh e, e, enggak kok mas.! Alana lagi enggak ada masalah apa-apa." Ucap Alana gugup.


"Sayang, kamu enggak usah bohong deh sama mas." Ucap Devano tak percaya.


"Udah sekarang kamu ngomong sama mas.! Kamu lagi ada masalah apa.? Cerita sama mas.!" Ucap Devano lagi-lagi bertanya seperti itu, sehingga membuat Alana pun tersenyum.


"Ya ampun maaas, Alana ini beneran lagi enggak ada masalah apa-apa. Lagian Alana juga enggak bohong kok.! Kan yang suka bohong itu mas.! Bukan Alana." Ucap Alana sambil tersenyum menyindirnya, namun entah apa maksud dari sindirannya itu.


"Yang suka bohong itu mas, bukan Alana.? Maksudnya.?" Ucap Devano bingung mendengar ucapannya..


"Iya, yang suka bohong itu mas.! Kenapa coba mas enggak jujur aja sama Alana, kalau kemarin-kemarin mas bengong terus karena lagi mikirin hubungan mas sama Bang Diki yang lagi kurang baik, tapi mas malah bohongin Alana. Kata mas, mas lagi banyak masalah di kantor.?" Ucap Alana mencoba untuk menjelaskan apa maksud dari ucapannya itu.


Mendengar ucapan Alana, Devano pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Oh itu sayang, mas minta maaf yah.? Mas enggak jujur sama kamu, karena mas enggak mau kalau kamu sampai banyak pikiran." Ucap Devano serius, ia mencoba untuk menjelaskan apa maksud mengapa ia membohonginya.


"Ya tetep aja kan mas, mas enggak kasih tau Alana juga, Alana tetep tau.! Malahan Alana taunya dari orang lain lagi, bukan dari mas.! Suami Alana sendiri." Ucap Alana sedikit kesel.


"Ia sayang, mas minta maaf.! Lagian emang kamu tau dari mana sih sayang masalah ini.?" Ucap Devano penasaran.


"Enggak penting Alana tau dari mana, yang penting buat Alana, sekarang juga mas harus baikan lagi sama Bang Diki.! Sama Dimas juga. Pokoknya kalau mas belum baikan sama mereka, Alana marah." Ucap Alana sambil cemberut, ia mencoba untuk mengancamnya.


"Ya enggak bisa gitu dong sayaaaang, semuanya enggak semudah itu.!" Ucap Devano mencoba untuk menolak saran darinya.


"Enggak semudah itu gimana sih mas.? Lagian yang salah itu kan buka Bang Diki ataupun Dimas mas, yang salah tuh itu tuh.! Mantan mas, si Tania.!" Ucap Alana kesel sambil terus cemberut, sehingga membuat Devano pun langsung tersenyum.


"Kamu cemburu yah sayang sama Tania.?" Ucap Devano sambil terus tersenyum.


"Apaan sih mas, enggak.!" Ucap Alana masih terus cemberut.


"Emmmm bohong nih.! Pasti kamu cemburu kaaan, hah." Ucap Devano menggodanya sambil mencubit gemas hidungnya.


"Iiiihhh.! Awas Ah.! Jangan pegang-pegang Alana.!" Ucap Alana sambil terus cemberut, karena sepertinya sekarang ini ia sedang menjalankan rencananya, yaitu berusaha untuk membuat Devano dan Diki baikan lagi seperti semula, karena hanya dengan cara itu Devano suaminya itu pasti akan lemah, karena Devano paling tidak bisa jika tidak menyentuhnya sehari saja.


"Kok kamu gitu sih sayang, kasar banget sama mas.?" Ucap Devano.

__ADS_1


"Biarin aja.!" Ucap Alana sambil terus cemberut.


"Pokoknya mas enggak boleh sentuh-sentuh Alana sebelum mas baikan lagi sama Bang Diki.! TITIK." Ucap Alana mencoba untuk mengancamnya seperti itu, sambil buru-buru berbaring membelakanginya.


"Loh, kamu mau ngapain sayang.? Kamu mau bobo, tinggalin mas sendiri.?" Ucap Devano bingung, sambil menarik-narik tangannya.


"Iiiihhh, Awas ah mas.! Jangan pegang-pegang Alana !" Ucap Alana sambil menghempaskan tangan Devano, kemudian ia pun langsung menatap sinis kearahnya.


"Udah yah.! Jangan ganggu Alana lagi.! Sekarang Alana mau bobo." Ucapnya lagi sambil buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Loh kok kamu gitu sih sayang.? Ya enggak bisa gitu dong sayang, kamu ini kan istri mas.! Kalau bukan mas yang sentuh kamu, terus siapa dong yang harus sentuh kamu.!" Ucap Devano ketakutan, sambil menarik-narik tangannya.


"Iiiihhh, awas.! Kata Alana juga jangan pegang-pegang Alana sebelum mas Devano baikan lagi sama Bang Diki." Ucap Alana sambil menghempaskan tangannya, lagi-lagi ia mengancamnya seperti itu, sehingga membuat Devano pun pusing, kemudian ia pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Ya udah deh iya.! Mas baikan lagi sama Diki." Ucap Devano, ia terpaksa memunguti keinginannya, sehingga Alana yang sedang berbaring pun seketika langsung duduk karena saking senangnya.


"Tadi mas ngomong apa.? Mas serius.? Mas enggak bohong kan.?" Ucap Alana dengan nada tinggi karena saking senangnya.


"Iya sayang, mas serius." Ucap Devano.


"Eeemmmm, Alana sayaaaang banget sama mas." Ucap Alana sambil memeluknya dengan erat.


"Iyaaa." Ucap Devano pelan, sambil mengusap-usap rambutnya.


"Oh ia sayang, tapi jangan sekarang-sekarang yah baikannya.? Soalnya untuk sekarang-sekarang mas bener-bener belum siap jika harus ketemu sama Diki." Ucap Devano serius, sehingga membuat Alana pun langsung melepaskan pelukannya.


"Loh kok jangan sekarang-sekarang sih mas.? Ya harus sekarang-sekarang dong maaaas.!" Ucap Alana sambil merengek, sehingga Devano pun lagi-lagi kepusingan.


"Ya udah iya Bawel.!" Ucap Devano.


"Eeemmm udah bisa yah ngomong kayak gini sama mas sekarang, hah.?" Ucap Devano sambil terus tersenyum dan mencubit gemas kedua pipinya.


"Iiiihhh sakiiiiit." Rengek Alana manja.


"Tapi kamu juga sayang kan sama mas.?" Ucap Devano sambil tersenyum.


"Ia, Alana sayang sama mas.! Sayaaaang banget, nget, nget, nget.!" Ucap Alana sambil terus tersenyum dengan bahagianya.


"Emmmm sayang bangeeet, hah.?" Ucap Devano sambil mengusap-usap rambutnya.


"Ia, Alana sayang banget sama mas." Ucap Alana lagi serius.


"Ya udah.! Kalau kamu beneran sayang sama mas, mas boleh enggak minta sesuatu.?" Ucap Devano serius.


"Minta sesuatu, emang mas mau minta apa.?" Ucap Alana bingung, sehingga Devano pun langsung tersenyum, kemudian ia pun langsung berbisik kepadanya.


"Mas pengin nen sayang, kamu mau kan.?" Bisiknya tepat di telinga Alana istri tersayangnya itu.


"Iiiihhh mas." Rengek Alana.


"Kenapa.? Kamu mau kan.? Mas pengin nen sayang, sampai mas bobo." Ucap Devano serius dengan raut wajah penuh dengan nafsu.


"Tapi mas kan belum mandi, banyak keringat tuh.! Iiiihhh lengkeeet." Ucap Alana sambil menunjuk ke arah badan Devano suaminya itu yang memang dipenuhi oleh keringat.


"Pleaseee, yah.?" Ucap Devano memohon dengan raut wajah melas, sehingga Alana pun tak tega melihatnya.

__ADS_1


"Ya udah.! Tapi mas janji, mas harus cepet-cepet baikan sama Bang Diki, sama Dimas juga.!" Ucap Alana memberinya persyaratan seperti itu.


"Iyaaa mas janji, tapi mas nen dulu sampai mas bobo." Ucap Devano, lagi-lagi ia meminta hal seperti itu kepadanya.


"Ya udah, Alana buka dulu yah mas nen nya.?" Ucap Alana sambil membuka baju dan pengait bra yang sedang ia kenakan.


"Eeeemmmm gede banget sih sayang nen nya.?" Ucap Devano gemas, sambil menatap kearah gunung kembar Alana yang baru saja ia buka.


"Iiiihhh mas, kayak baru pertama lihat nen Alana aja." Ucap Alana malu.


"Tapi beneran sayang, kok kayak gedean yah.? Nih.! Mas pegang juga agak-agak keras." Ucap Devano serius, sambil memegang gunung kembar Alana istri tersayangnya itu yang memang sedikit keras dari biasanya.


"Aw.! pelan-pelan pegangnya.! Sakit maaas." Rengek Alana kesakitan.


"Loh kok sakit sih sayang.? Biasanya mas pegang kayak gimana juga kamu enggak kesakitan, kamu enggak lagi kenapa-napa kan sayang.?" Ucap Devano bingung dan panik melihat Alana kesakitan seperti itu.


"Alana juga enggak tau mas, Alana juga bingung. Soalnya udah hampir tiga hari nen Alana ini sakit mas, apalagi kalau Alana pegang, padahal kan Alana baruuuu aja seminggu yang lalu haid." Ucap Alana serius, namun entah perubahan apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada dirinya.


"Kok bisa gitu sih sayang.? Tapi enggak papa kan.?" Ucap Devano penasaran.


"Enggak papa sih, tapi kadang-kadang sakit maaas.?" Rengek Alana dengan manjanya.


"Ya udah, ya udah.! Besok kita ke rumah sakit yah.? Kita periksa sama Dokter Renata." Ucap Devano semakin panik, karena ia takut kalau Alana istri tersayangnya itu sampai kenapa-napa.


"Iya mas." Ucap Alana sambil menganggukkan kepalanya.


"Ya udah.! Lebih baik sekarang kamu bobo, istirahat yah.?" Ucap Devano pelan dan penuh perhatian, sambil mengusap-usap rambutnya, sepertinya saking paniknya melihat keadaan Alana seperti itu, ia sampai tidak jadi dengan tujuan awalnya membuka gunung kembar Alana itu untuk apa.


"Bobooo, emang mas enggak jadi nen.?" Ucap Alana bingung.


"Kan katanya lagi sakit sayang.?" Ucap Devano dengan penuh perhatiannya.


"Tapi enggak apa-apa kok kalau mas mau, asal pelan-pelan."Ucap Alana serius sambil tersenyum.


"Ya udah, mas nen yah.?" Ucap Devano sambil tersenyum.


"Tapi beneran enggak papa kan.?" Ucap Devano sedikit khawatir.


"Iya enggak papa mas." Ucap Alana sambil tersenyum.


Mendengar ucapan Alana, Devano pun perlahan menyesap gunung kembarnya satu persatu secara bergantian dengan sangat pelan.


"Aw maaas, Awww.!" Rengek Alana manja sambil mendesah kenikmatan, sehingga membuat Devano pun tersenyum.


"Enak yah sayang, hah.?" Ucap Devano, sambil mengusap-usap rambutnya.


"Iya mas, enak." Ucap Alana dengan tatapan mata kosong karena saking nikmatinya permainan dari Devano itu.


"Ya udah, mas nen lagi yah.? Pokoknya malam ini mas pengin nen sampai mas bobo." Ucap Devano yang sudah mulai ingat dengan apa tujuan awalnya, kemudian ia pun langsung menyesapnya lagi satu persatu secara bergantian.


"Aw mas, Awwww.!" Rengek Alana dengan sangat manjanya, sambil mengeratkan pelukannya itu ke tubuh Devano, sehingga nafsu Devano pun memuncak dibuatnya, kemudian ia pun langsung menyesapnya lagi dengan sangat rakusnya.


"Aw.! Sakit maaas, Awww.! pelan-pelaaaan.!" Rengek Alana kesakitan, karena sepertinya saking menikmati permainannya, Devano sampai lupa apa pesan dari Alana, kalau ia harus memainkanya dengan pelan.


"Mas enggak bisa pelan sayang, enak banget." Ucap Devano ngos-ngosan dengan tatapan mata kosong dan raut wajah penuh dengan nafsu, kemudian ia pun langsung menyesapnya lagi dengan sangat rakusnya tanpa henti-henti.

__ADS_1


"Aw mas Awww.! Sakiiiiit." Rengek Alana lagi kesakitan, akan tetapi Devano tidak perduli, ia pun terus menyesapnya dengan sangat rakusnya, bahkan bukan hanya menyesap, Devano pun terlihat menggigit-gigit kecil kedua gunung kembar Alana satu per satu secara bergantian, sehingga gunung kembar Alana itu pun banyak tanda-tanda merah dibuatnya, malam ini Devano benar-benar seperti anak bayi yang sedang kelaparan, ia menyesap kedua gunung kembar Alana dengan sangat rakus tanpa henti-henti, hingga akhirnya ia dan Alana pun ketiduran.


__ADS_2