DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 57


__ADS_3

DI RUMAH PAK IRSYAD.


Waktu menunjukkan pukul 07:00 malam.


Terlihat Dinda yang sedang mondar-mandir di dalam kamarnya.


"Iiiiiiihh Mas Erik kemana sih sebenarnya.? Kok mas Erik enggak kasih-kasih kabar sih.? Ditelpon, mas Erik enggak jawab, Dichat apa lagi."



Kata Dinda dalam hati kesel dan panik, karena dari Erik berangkat ke Jepang, ia tidak memberikan kabar kepada dirinya.


"Apa jangan-jangan.! Mas Erik selingkuh lagi disana.? Buktinya dari kemaren mas Erik maksa-maksa Dinda terus untuk ngizinin ke Jepang.? Iiiiiiihhhhh kalau mas Erik disana beneran selingkuh gimanaaa.? Awas aja kalau disana mas Erik beneran selingkuh.! Dinda enggak bakalan maafin mas Erik." Kata Dinda lagi dalam hati, semakin panik dan kesel.


"Tapi entar dulu deh.! Kayaknya enggak mungkin sih kalau mas Erik selingkuh.? Lagian kan mas Erik itu sayang banget sama Dinda, sama dede di perut Dinda juga, jadi enggak mungkin kalau mas Erik itu selingkuh.! Tapi kalau mas Erik enggak selingkuh, sekarang mas Erik kemana dong.? Kok sampai sekarang mas Erik enggak ada kabar sih.? Ya Tuhaaaan, kenapa mas bikin Dinda panik dan khawatir kaya gini sih.? Mas itu sebenarnya kemanaaa.? Mas cepetan telepon Dinda doooong.! Dinda takut mas kenapa-nap,,,,,,," Seketika ucapannya terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar ponselnya bergetar Drttttt,,, Drttttt,,, Drttttt,,, karena ada yang menelpon, kemudian dengan sangat terburu-buru ia pun langsung mengangkatnya.


"Mas Erik.! Mas Erik kemana aja sih sebenarnya.? Bikin Dinda khawatir aja tau engg,,,,,,," Lagi-lagi ucapannya terpotong.


"Sayaaang, kamu ini kenapa.? Ini itu mamah, bukan mas Erik." Kata ibu Yuli dengan suara sedikit tinggi karena panik mendengar Dinda yang seperti sedang marah-marah kepada Erik, ia takut kalau Dinda dan Erik sedang ada masalah.


"M, m, mamah.! Ya ampuuuun, maaf banget yah maaah.? Kirain Dinda mamah itu mas Erik, Soalnya sekarang ini Dinda lagi kepikiran mas Erik mah, dari mas Erik pergi ke Jepang sampai sekarang, mas Erik itu enggak ada kabar, Dinda takuuuut, Dinda takut mas Erik itu kenapa-napa mah.?" Kata Dinda gugup, ia mencoba untuk menjelaskan apa yang sedang ia rasakan saat ini.


Mendengar penjelasan dari Dinda, ibu Yuli justru malah tersenyum.


"Eeeemm kayaknya sekarang anak mamah udah benar-benar jatuh cinta nih sama mas Erik.? Sampai-sampai anak mamah sekhawatir itu mikirin mas nya, ternyata mamah emang enggak salah yah.? Jodohin kamu sama mas Erik.?" Kata Ibu Yuli sambil tersenyum menggodanya, sepertinya sekarang ini ia sangat bahagia karena Dinda putrinya itu sudah benar-benar menjadi istri Erik seutuhnya tanpa ada paksaan dari siapapun.


"Iiiiiihhh mamah.! Dinda seriuuuus.? Mas Erik sampai sekarang enggak ada kabar.? Dinda takut mas Erik kenapa-napa mah." Jawab Dinda kesel, karena mendengar ibu Yuli yang justru menggodanya.


"Iya, iyaaa, mama tau.! Mama minta maaf.? Udah kamu tenang aja.! Mungkin sekarang ini mas Erik lagi sibuk, kamu enggak boleh terlalu banyak pikiran.!" Kata ibu Yuli mencoba untuk menenangkannya.


"Oh iya, mamah sampai lupa.! Tadi mas Arya telepon, katanya sekarang kamu lagi hamil yah.? Kamu hamil kok enggak kasih tau mamah sih sayaaang.? Terus kata mas Arya juga sekarang kamu lagi di rumah mamah.?" Kata ibu Yuli lagi serius.


"Iya mah, sekarang Dinda lagi ada di rumah mam,,,,," Belum sempat Dinda menyelesaikan ucapannya, namun sudah terpotong.


"Aduh sayaaaaaang, sekarang kan kamu lagi hamiiiiil.? Kamu jangan bolak-balik dari rumah mas Erik ke rumah mamah dong sayaaaang.! Kan jarak rumah mamah sama rumah mas Erik itu jauuuuh, entar kandungan kamu kenapa-napa lagi.?" Kata ibu Yuli khawatir, kalau sampai calon anak yang ada dikandungan Dinda kenapa-napa, apalagi calon anak tersebut adalah calon cucu pertamanya yang ia dan pak Irsyad pun sudah lama menantinya.


"Terus gimana dong mah.? Dinda kan enggak berani kalau Dinda di rumah mas Erik sendirian.?" Kata Dinda serius.


"Kalau kamu enggak berani di rumah mas Erik sendirian, gimana kalau untuk sementara Sania tinggal di rumah mas Erik, biar kamu ada temennya.? Jadi kan meskipun mas Erik enggak ada di rumah kayak sekarang ini, kamu enggak perlu bolak-balik ke rumah mamah.? Mamah cuma takut sayang, mama takut nanti kandungan kamu kenapa-napa.? Lagian kemaren Sania telepon mamah, katanya minggu depan Sania mau pindah kuliah di Jakarta, terus untuk sementara Sania belum ada tempat tinggal, tapi ini juga kalau mas Erik ngizinin sih.? Kalau mas Erik enggak ngizinin kamu jangan maksa mas Erik yah sayaang.? Takutnya nanti mas Erik marah." Kata ibu Yuli serius, sepertinya ia akan menyuruh Sania keponakannya dari Surabaya yang akan pindah kuliah di Jakarta, untuk sementara tinggal di rumah Erik, agar Dinda ada temannya.


"Yang bener mah.? Sania mau pindah kuliah di Jakarta.? Dinda mau mah.! Dinda mau Sania tinggal di rumah mas Eriiiik, malahan Dinda mau banget mamaaah.! Kalau sania tinggal di rumah mas Erik, kan berarti nanti Dinda ada temannya.?" Kata Dinda tergesa-gesa, sambil tersenyum senang mendengar kabar tersebut, apalagi ia dan Sania sudah lama tidak bertemu.

__ADS_1


"Syukur deh kalau kamu seneng sayang.? Tapi jangan lupa.! Kamu minta izin dulu sama mas Erik yah.?" Kata Ibu Yuli sambil tersenyum.


"Iya mah, secpatnya Dinda langsung minta izin sama mas Erik mah." Kata Dinda penuh semangat.


DI TOKYO, JEPANG.


Waktu menunjukkan pukul 11:00 malam.


Di Hotel, terlihat Erik yang sedang duduk dengan raut wajah yang sangat lelah.



Karena ia baru saja pulang meeting dengan kliennya.


"Aduuuuh capek banget." Kata Erik sambil berjalan menuju ranjang untuk istirahat, karena sekarang ini ia benar-benar sangat capek, bagaimana tidak, tadi ia sampai di Jepang pukul 05:00 sore, kemudian ia langsung memesan sebuah kamar di hotel, setelah memesan kamar tersebut, ia langsung sibuk menyiap-nyiapkan berkas-berkas penting yang akan ia bawa untuk meeting bersama dengan kliennya.


Ia sengaja langsung meeting malam ini juga, karena ia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya satu-persatu agar secepatnya ia bisa pulang lagi ke Indonesia berkumpul dengan Dinda dan calon anaknya, karena sebenarnya ia sangat tidak tega meninggalkan Dinda terlalu lama, apa lagi mengingat keadaannya yang sekarang ini sedang hamil muda, yang tentunya sangatlah butuh perhatian lebih dari dirinya sebagai seorang suami, bahkan saking ingin cepat selesainya pekerjaan tersebut, ia sampai tidak istirahat terlebih dahulu, jangankan memikirkan untuk istirahat, memberi kabar kepada Dinda pun ia lupa.


"Oh iya, Dinda.?" Kata Erik dalam hati kaget, karena sepertinya sekarang ini ia baru ingat akan Dinda istri tersayangnya yang dari pagi sampai sekarang belum ia beri kabar tentang keadaannya sekarang ini, kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru mengambil ponsel miliknya.


"Ya ampun udah banyak banget panggilan tak terjawab dari kamu.? Pasti kamu panik banget yah mikirin mas.?" Kata Erik kaget sambil menatap layar ponselnya, kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru menelponnya.


DI TEMPAT BERBEDA, DI INDONESIA.


Terlihat Dinda yang sedang duduk didalam kamarnya, sambil memikirkan keadaan Erik sekarang ini.


"Sebenarnya mas Erik itu kemana sih.? Kenapa coba sampai sekarang enggak ada kabar.? Kenapa mas Erik bikin khawatir Dinda kayak gini sih.?"



Kata Dinda dalam hati panik dan sedih.


"Apa mungkin mas Erik kenapa-napa yah di Jep,,,,,,," Seketika ucapannya terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar ponselnya berdering karena ada panggilan video call.


Mendengar ponselnya berdering, dengan segera ia pun langsung buru-buru mengecek siapa yang meneleponnya.


"M, m, mas Erik.?" Kata Dinda gugup sambil tersenyum, karena saking senangnya ternyata yang meneleponnya adalah Erik suaminya yang sekarang ini sedang ia tunggu-tunggu kabarnya, kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru mengangkatnya.


"Hiks,,hiks,, hiks,,," Dinda menangis dengan raut wajah yang sangat sedih.


"Sayaaang, kamu kenapaa.? Kok kamu nangis sih.? Perut kamu mual lagi, apa kepala kamu pusing, hah.?" Kata Erik tergesa-gesa karena panik melihat Dinda menangis seperti itu.

__ADS_1


Mendengar kata-kata dari Erik, Dinda tidak menjawabnya, ia hanya menggelengkan kepalanya sambil terus menangis.


"Terus kamu kenapaaa.? Kok kamu nangis sih sayang, hah.? Sekarang kamu ngomong sama mas yaaah.! Kamu kenapaaa.?" Kata Erik lagi, penasaran.


"Hiks,,, hiks,,, hiks,,, mas Erik dari tadi pagi kemanaaaa.? Kenapa mas Erik enggak hiks,, hiks,, kasih kabaaar.? Hiks,, hiks,, kan disini Dinda sama dede hiks,, hiks,, nungguin kabar dari maaas.? Hiks,, hiks,, Dinda sama dede hiks,, hiks,, khawatiiir, Dinda sama dede hiks,,, hiks,,, takut mas Erik hiks,, hiks,, kenapa-napaaaa.?" Kata Dinda dengan sangat manjanya.


Mendengar jawaban dari Dinda, Erik pun tersenyum.


"Eeeeemmm kasihaaan, kamu sama Dede nungguin kabar dari mas yah, hah.? Mas minta maaf yaaaah.? Tadi mas enggak kasih kabar dulu sama kamu dan juga dede, Kamu sama dede panik yah mikirin mas.? Maafin mas yah.? Soalnya tadi itu mas langsung kerja, biar kerjaan mas disini cepet selesai, soalnya mas kan pengin cepet-cepet pulang, mas kasihan sama istri mas yang manja ini.! Istri mas yang manja ini pasti kesulitan enggak ada mas yah, hah.? Kalau kamu kesulitaaan, dan butuh apa-apa, kamu minta tolong aja sama mas Arya yaaah.?" Kata Erik pelan dan penuh perhatian.


Mendengar penjelasan dari Erik, Dinda pun langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Eeeemmm Dinda sayang sama mas Eriiiiikk.? Mas Erik cepat pulaaang.! Dinda sama dede disini kangeeen.?" Kata Dinda merengek dengan sangat manjanya.


Melihat tingkah laku istrinya yang sangat manja, Erik pun tersenyum.


"Oh iya, papah lupa.! Anak papah mana nih.? Papah pengin lihat." Kata Erik.


Mendengar kata-kata dari Erik, Dinda pun langsung mengarahkan ponselnya ke perutnya.


"Mas Erik, ini Dedenyaaa.? Kata Dedeee, papah cepat pulaaang.! Dede kangeeen pengin bobo sama papah lagiiiii.?" Kata Dinda sambil mengusap-usap perutnya, sepertinya malam ini ia memang benar-benar sangat kangen dan ingin tidur bersama dengan Erik lagi seperti malam yang sudah-sudah.


"Eeemmm mas tau niiiihh.? Yang kangen sama papaaah, yang pengin bobo sama papaaah, mamahnya kan bukan dede, hah.?" Kata Erik sambil tersenyum menggodanya, karena ia sangat tau apa yang sedang Dinda rasakan saat ini, karena apa yang Dinda rasakan saat ini ia juga merasakannya.


"Eeeemmm mas Eriiik, iya mamahnya yang pengin bobo sama papaaah.? Terus mamahnya juga yang kangen sama papaaah.? Makanya papah cepet pulaaaaang.! Di sini mamahnya kangeeen.?" Kata Dinda sambil merengek.


"Kasihan istri mas ini, kamu kangen yah pengin bobo bareng mas lagi.? Sabar yaaaah.?" Kata Erik pelan sambil tersenyum.


"Ya udah, sekarang kamu bobo yah.? Udah malam, besok kamu kan harus kuliah." Kata Erik lagi, ia menyuruh Dinda untuk tidur, karena memang hari sudah cukup malam, apa lagi ia tau kalau Dinda besok harus kuliah.


"Dinda mau bobooo, tapi telponnya jangan dimatiin.! Dinda mau mas Erik temenin Dinda, sampai Dinda bobooo.?" Kata Dinda.


"Iyaaa," Kata Erik sambil tersenyum.


"Ya udah, sekarang kamu bobo yah.? Mas enggak bakalan matiin telponnya, mas akan temani kamuuu, sampai kamu bobo." Kata Erik lagi dengan sabarnya.


Mendengar kata-kata dari Erik, Dinda pun tersenyum, kemudian ia pun langsung berbaring, sampai akhirnya ia pun tertidur.


"Kasihan kamu, pasti sekarang ini kamu kesepian yah enggak ada mas.?"


__ADS_1


Kata Erik dalam hati, sambil memandangi wajah cantik Dinda yang sudah terlelap tidur dari ponselnya.


"Tapi ngomong-ngomong, sejak kamu hamil perasaan kamu jadi tambah manja banget sih, hah.? Bobo aja pengin dilihatin, sehat-sehat yah kamu sama dede di sana.! Mas usahain secepatnya mas pasti akan pulang." Kata Erik lagi dalam hati, sambil terus memandangi wajah cantik Dinda, ia berbicara seperti itu karena memang benar, sejak Dinda hamil, Dinda jadi semakin manja kepadanya, mungkin Dinda seperti itu karena bawaan anak yang sedang dikandungnya, kemudian ia pun langsung memutuskan sambungan teleponnya.


__ADS_2