DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 36


__ADS_3

Setelah mendengarkan Erik membacakan pesan dari ibu Sari mertuanya, Dinda hanya terdiam dan terbengong.


"Kalau seandainya nanti aku punya anak, aku pasti akan sibuk ngurusin anak aku, dan aku pasti enggak akan ada waktu lagi untuk ngerawat tubuh seksi aku ini.? Nanti kalau aku udah enggak seksi lagi gimana.? Badan aku gendut, penampilan aku berantakan, dan yang pastinya aku juga enggak cantik lagi.? Terus kalau nanti mas Erik udah enggak sayang lagi ke aku gimana.? Iiiiihhhhh enggak mau, enggak mau, enggak mau.! Pokonya aku enggak boleh hamil dulu.!" Kata Dinda dalam hati, panik dan ketakutan kalau sampai ia benar-benar hamil dan apa yang ia pikirkan itu benar-benar terjadi.


"Kamu kenapa.? Kamu enggak mau yah, punya anak dari mas.?" Kata Erik serius, ia berbicara seperti itu karena ia sudah bisa menebak apa yang ada di dalam hati Dinda.


"M, m, maksud mas.?" Kata Dinda gugup, karena ia kaget mengapa Erik bisa tau apa yang sedang ia pikirkan sekarang ini.


"Dari tadi mas lihat kamu.! Kamu diam aja, kamu enggak kaya biasanya cerewet." Kata Erik sambil tersenyum menggoda Dinda.


"Iiiiiihhhhh mas, Dinda enggak cereweeet..?" Kata Dinda sambil merengek.


"Oh iya mas, emang mas udah pengin banget yah punya anak ?" Kata Dinda lagi serius.


"Iya, mas udah pengin banget cepet-cepet punya anak, lagian kamu juga kan tau sendiri sekarang umur mas berapa.? Nanti kalau mas semakin tua dan enggak punya anak-anak gimana.?" Kata Erik sambil tersenyum, ia ingin cepat-cepat mempunyai keturunan dari Dinda, karena seperti yang kita tau, usianya sekarang ini sangat jauh berbeda dari usia Dinda dan di usianya sekarang ini, ia memang sudah sangat pantas mempunyai seorang anak, apalagi mengingat isi pesan dari ibu Sari mamahnya, itu semua pun membuat ia semakin bersemangat untuk mempunyai anak dari Dinda, karena ia ingin membahagiakan kedua orangtuanya.


"Iiiiiiihhhhh mas, berati mas udah tua dooong.? Dinda gak mau punya suami tuaaaa, enggak mau mas Eriiiiiik.?" Kata Dinda sambil merengek dengan sangat manjanya, sambil terus memeluk tubuh Erik dengan begitu erat.


Mendengar rengekan dari Dinda, Erik yang dari tadi sedang menyetir mobilnya pun tersenyum.


"Tua juga tapi ganteng kaaaan.? Kamu suka.? Buktinya dari tadi kamu nemplok terus di pelukan mas kaya gini, enggak mau lepas-lepas.?" Kata Erik dengan percaya dirinya, sambil tersenyum menggoda Dinda.


Mendengar godaan dari Erik, seketika wajah Dinda pun berubah menjadi merah karena malu.


"Biarin nemplok-nemplok terus juga, kan nemploknya sama suami sendiri, enggak sama suami orang." Kata Dinda sambil cemberut.


"Iya, iya.! Enggak papa." Kata Erik sambil tersenyum.

__ADS_1


"Oh iya, gimana pertanyaan mas tadi.? Kamu enggak mau yah, punya anak dari mas.?" Kata Erik lagi serius sambil terus mengendarai mobilnya, sepertinya ia memang sudah serius dengan ucapannya itu, kalau ia memang pengin cepat-cepat mempunyai anak dari Dinda.


Mendengar pertanyaan dari Erik, Dinda pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Dinda mau punya anak dari mas, tapi Dinda takuuut.? Dinda takut kalau entar Dinda punya anak, Dinda akan sibuk ngurusin anak Dinda, terus Dinda enggak sempet ngerawat diri Dinda sendiri, entar kalau Dinda enggak cantik lagi gimana.? Badan Dinda gendut, Dinda enggak seksi lagi.? Dinda enggak mau maaas, Dinda enggak mau kaya gituuuu.?" Kata Dinda serius, ia mencoba untuk menjelaskan sejelas-jelasnya alasan mengapa dirinya belum siap mempunyai seorang anak dari Erik.


Mendengar penjelasan Dinda yang seserius itu, Erik justru malah tersenyum.


"Apa kata kamu tadi.? Kamu enggak mau punya anak, karena kamu takut enggak cantik dan enggak seksi lagi.? Emang sekarang kamu cantik.? Emang sekarang kamu seksi.?" Kata Erik sambil tersenyum menggoda Dinda, ia sengaja berbicara seperti itu karena ingin menggodanya, karena seperti yang kita tau ia memang paling suka menggoda Dinda istrinya itu, tentunya semua ucapannya itu bohong, kalau Dinda enggak cantik dan enggak seksi, mana mungkin ia akan tergoda setiap kali melihat tubuh seksi dan paras cantiknya.


"Ooohh jadi menurut mas, Dinda enggak cantik.? Dinda enggak seksi.? Ya udah kalau gitu mas jangan bobo sama Dinda lagi entar malam.!" Kata Dinda nagmbek sambil cemberut, ia mengancam Erik seperti itu, karena sekarang ini sudah tau apa kelemahannya, sehingga lagi-lagi ia mengancamnya seperti itu.


Melihat Dinda yang sudah mulai ngambek, Erik pun lagi-lagi tersenyum.


"Enggaaak, bohong, bohong.! Udah jangan nagmbek.! Lagian kalau kamu enggak cantik, terus kamu enggak seksi, mana mungkin sih mas akan terus-terusan jatuh cinta sama kamu kaya gini hah.?" Bisik Erik tepat ditelinga Dinda, sambil tersenyum menggodanya.


"Eeeemmm mas Eriiiiik." Kata Dinda sambil tersenyum dan mengeratkan pelukannya ketubuh Erik.


"Iya Dinda takuuut, Dinda takut entar mas enggak sayang lagi sama Dindaaaa.? Terus mas ninggalin Dinda deh.! Dinda enggak mau kehilangan mas, Dinda sayang banget sama maaas.?" Kata Dinda mencoba untuk menjawab pertanyaan Erik.


"Kamu enggak usah takut yah.? Sampai kapan pun mas enggak akan pernah ninggalin kamu, jadi mulai sekaraaaang, kamu mau yah punya anak dari mas.?" Kata Erik serius, sambil menatap dalam wajah cantik Dinda, ia mencoba untuk meyakinkannya kalau sampai kapan pun ia tidak akan pernah meninggalkannya.


"Iya mas." Kata Dinda sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Melihat Dinda menganggukan kepalanya, Erik pun tersenyum, kemudian ia pun langsung menghentikan mobilnya dan menatap kearah Dinda yang masih terus memeluknya.


"Kamu mau sampai kapan nemplok terus kaya gini dipelukan mas.? Kamu enggak mau turun.?Udah sampai tuh.!" Kata Erik serius, sambil tersenyum.

__ADS_1


Mendengar kata-kata dari Erik, Dinda pun kaget, Kemudian ia pun langsung menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan nya.


"Iiiiiiihhhhh mas Eriiiiik, cepet banget sih nyampenya.? Dinda masih pengin peluk-peluk maaas.?" Kata Dinda sambil merengek seperti anak kecil, karena sedih menurutnya perjalanan terasa sangat cepat, sehingga ia harus melepaskan pelukannya itu dari Erik.


"Udah enggak usah sedih.! Kan besok juga masih bisa peluk mas lagi.! Ya udah, lebih baik kita turun yuk.?". Kata Erik sambil tersenyum.


"Mas Eriiiiik, tapi Dinda masih pengin peluuuuuuuk.? Sebebntaaaar aja.!" Kata Dinda lagi-lagi merengek seperti anak kecil.


"Tapi sekarang kan udah sampai, entar telat lagi.?" Kata Erik serius.


"Enggak perduli mau telat apa enggak.! Pokonya Dinda masih pengin peluk, kalau mas enggak mau, Dinda enggak mau turun." Kata Dinda dengan suara sedikit tinggi sambil cemberut.


"Iya tapi jangan disini.! Itu ada,,,,," Belum sempat Erik menyelesaikan ucapannya, Dinda sudah mengeratkan pelukannya dengan begitu erat.


"Aduuuhh.! Kenapa ini anak sudah banget dikasih taunya sih.? Itu kan ada Tika lagi ngelihatin." Kata Erik dalam hati sambil menatap kearah Tika yang sedang berdiri di depan mobil sambil terus memperhatikan apa yang sedang Dinda lakukan kepadanya di dalam mobil tersebut.


"Pak Erik.? Dinda.?" Kata Tika kaget dan tak percaya sambil terus menatap kearah Dinda yang masih terus asyik memeluk Erik.


"Eeemmm mas Erik, Dinda pengin peluk-peluk mas terus kayak giniii.?"



Kata Dinda dengan sangat manjanya, sambil menciumi leher dan telinga Erik tanpa henti-hentinya.


Melihat Dinda yang tak henti-hentinya memeluk dirinya, akhirnya Erik pun mencoba untuk membalas pelukannya itu, perlahan ia pun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dinda, ia tidak perduli lagi dengan adanya Tika, yang sekarang ini masih terus memperhatikannya.


"Enggak, enggak mungkin.! Itu pak Erik sama Dinda lagi apa-apaan sih.? Terus itu Dinda juga kenapa kegatelan banget kayak gitu sih.?" Kata Tika kaget dan masih tak percaya, Dinda sahabatnya yang masih sangat polos dan belum pernah pacaran bisa seagresif itu memeluk dan menciumi Erik, dan yang bikin ia kaget dan rasa tak percayanya lagi adalah pria yang di peluk oleh Dinda, karena setau ia dan teman-temannya di kampus, Dinda dan Erik itu tidak pernah akur dan mereka itu musuhan.

__ADS_1


Melihat Tika yang masih terus memperhatikan dirinya dan Dinda, Erik pun tersenyum.


"Mau sampai kapan kamu peluk-peluk mas kaya gini.? Lihat tuh.! Temen kamu dari tadi lagi ngelihatin kita pelukan.?" Bisik Erik tepat ditelinga Dinda, sambil terus tersenyum.


__ADS_2