
DI RUANG TUNGGU.
Terlihat Devano, Dinda, Pak Adi dan juga Ibu Rika yang sedang duduk, sambil berharap-harap cemas dengan keselamatan Alana dan juga calon Anaknya.
"Sabar yah sayang, kamu harus kuat." Ucap Dinda sambil mengusap-usap pundak Devano yang sedang duduk di sampingnya.
"Ia mah, Devano janji Devano akan kuat. Karena benar apa kata mamah, kalau Devano sedih terus kayak gini, nanti siapa yang akan menguatkan dan menyemangati Alana." Ucap Devano sambil tersenyum, sepertinya sekarang ini ia sudah sedikit kuat menghadapi semua kenyataan ini.
"Oh iya mah, Devano minta maaf yah.? Gara-gara Devano, mamah jadi nginep semalaman disini, papah jadi enggak ada yang ngurusin deh di rumah." Ucapnya lagi merasa bersalah.
"Sayaaang, kamu itu ngomong apa sih.? Papah kan udah gede, eehhh salah.! Maksud mamah, lebih tepatnya lagi udah tua, jadi kamu tenang aja." Ucap Dinda bercanda sambil tersenyum.
"Papah udah biasa kok ngurusin apa-apa sendiri." Ucapnya lagi, Dinda berbicara seperti itu karena seperti yang kita tau pak Erik adalah seorang yang sangat mandiri.
"Eeehh Dev, ibu Dinda, itu Dokter yang menangani Alana sudah keluar." Ucap pak Adi, sambil menatap kearah Dokter Renata yang baru saja keluar dari ruang rawat Alana, yang sekarang sedang berjalan menghampirinya, Devano, Dinda dan juga ibu Rika.
"Oh iya bener pak." Jawab Dinda dan Devano secara bersamaan.
"Ya Tuhaaaan, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap istri dan calon anak gw." Ucap Devano panik dan penuh harap.
"Dev, maaf yah sebelumnya. Saya enggak tau kalau pasien yang saya tangani itu adalah istri kamu." Ucap Dokter Renata yang sekarang sudah berdiri tepat dihadapan Devano.
"Ia enggak papa Ren, gw juga enggak tau kalau ternyata yang menangani istri gw itu loh." Ucap Devano.
"Tapi ngomong-ngomong, gimana kondisi istri dan calon anak gw Ren.?" Ucap Devano cemas.
"Iya, gimana kondisi Alana dan calon anaknya sekarang.?" Ucap Dinda, pak Adi dan Ibu Rika yang juga cemas dengan keadaan Alana.
Melihat mereka semua secemas itu, Dokter Renata pun langsung terdiam, sehingga Devano pun semakin cemas dan ketakutan.
"Ren, kok loh diem sih Ren.? Gimana keadaan istri dan calon anak gw sekarang Ren.?" Ucap Devano dengan nada sedikit tinggi.
"Dev, Tante Dinda, Bapak juga Ibu, saya bener-bener menta maaf.! Alana memang berhasil saya selamatkan, Tapi,,,,,,," Seketika Dokter Renata terdiam.
"Tapi, tapi apa Ren.?" Ucap Devano lagi panik.
"Tapi kandungannya tidak berhasil saya selamatkan, karena kondisi Alana sangat lemah, jika dipertahankan nantinya akan membahayakan keselamatan,,,,,,,," Seketika ucapan Dokter Renata terpotong.
"Enggak, jadi maksud loh.! Alana itu keguguran Ren.?" Ucap Devano kaget dan tak percaya sambil meneteskan air mata.
"Ia Dok, Alana keguguran Dok.?" Ucap Dinda, pak Adi dan juga ibu Rika, yang juga kaget dan tak percaya dengan semuanya.
"Ia pak, bu, Alana keguguran." Ucap Ibu Renata dengan jelas.
__ADS_1
"Hiks,, hiks,, mamah, Alana keguguran mah.? Hiks,, hiks,, dan semua ini salah Devano, salah Devano karena udah enggak becus jaga istri Devano sendiri." Ucap Devano sambil menangis dan memeluk Dinda mamahnya.
"Ssttttt sayang.! Semua ini bukan salah kamu sayang, semua ini musibah, mamah kan tadi udah ngomong sama kamu, kamu harus kuat.!" Ucap Dinda sambil mengusap-usap pundak Devano.
"Ia Dev, semua ini bukan salah kamu. Jadi kamu berhenti menyalahkan diri kamu sendiri terus kayak gini." Ucap pak Adi mencoba untuk menyadarkan Devano.
"Hiks,, hiks,, tapi mah, pak.! Devano harus ngomong apa sama Alana setelah Alana sadar nanti. Mamah dan bapak kan juga tau, betapa bahagianya Alana saat pertama kali Alana tau kalau Alana hamil. Hiks,, hiks,, Devano enggak sanggup Mah, pak.! Hiks,, hiks,, Devano enggak sanggup nyampein semua ini sama Alana, Alana pasti akan sangat hancur." Ucap Devano sambil terus menangis, sehingga Dokter Renata yang masih berdiri dihadapannya pun langsung terdiam.
"Emang seberarti apa sih Alana itu buat loh Dev.? Sampai-sampai loh harus nangis kayak gini didepan gw. Dan kenapa sih Dev, loh itu dari dulu enggak pernah sadar dengan perasaan gw ini." Ucap Renata dalam hati sedikit kesel, kemudian ia pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Udah Dev, kamu yang sabar yah.? Kamu tenang aja, kamu enggak usah sedih.! Kan Alana masih bisa hamil lagi, nanti biar saya kasih tau tips-tipsnya supaya Alana bisa cepat hamil lagi, tapi disamping itu Alana juga harus sering-sering cek ke dokter kandungan.! Kalau enggak keberatan, aku siap kok untuk membantu Alana." Ucap Dokter Renata sambil tersenyum.
"Tuh kan Dev, kamu dengar Dokter Renata ngomong apa.? Alana itu masih bisa hamil, jadi kamu enggak usah sed,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong, karena tiba-tiba ada seorang suster datang menghampirinya.
"Maaf, ini dengan keluarga ibu Alana yah.?" Ucap suster tersebut dengan ramah.
"Maaf Pak, Ibu, ibu Alana nya sudah sadar." Ucapnya lagi.
Mendengar ucapan suster tersebut, Devano, Dinda, Pak Adi dan Ibu Rika pun langsung buru-buru melangkah masuk menuju kamar rawat Alana.
"Maaf pak, Bu, kalau mau masuk satu-satu yah.? Kasihan ibu Alana, kan ibu Alana nya baru saja sadar." Ucap salah satu suster di Rumah Sakit tersebut dengan ramah.
"Ya udah, mah, pak, kalau gitu Devano dulu yang masuk yah.?" Ucap Devano tergesa-gesa, kemudian ia pun langsung buru-buru masuk kedalam ruang rawat tersebut, karena ia sudah tidak sabar ingin cepat-cepat melihat kondisi Alana istri tersayangnya.
"Mas Devano,,," Ucap Alana yang sedang berbaring lemah ditempat tidurnya, sambil tersenyum kearahnya.
"Ia Mas, Alana udah sadar." Ucap Alana pelan.
"Tapi mas Deeev, Alana enggak betah disini, Alana pengin pulaaang." Ucap Alana merengek dengan manjanya sambil menarik-narik lengan Devano suaminya.
"Kenapa sayang, kamu ngomong apa.? Pulang.? Kan istri mas yang cantik ini baru juga sadar, masa udah pengin pulang aja." Ucap Devano heran.
"Eeemmm mas tau nihhh, pasti istri mas yang cantik ini udah kangen yah pengin bobo bareng mas, hah.?" Ucapnya lagi sambil tersenyum dan mencubit manja pipinya.
"Iiiihhh mas Dev, jangan cubit-cubit Alana dulu.! Kan Alana baru sadar, entar kalau Alana pingsan lagi gimana.?" Ucap Alana bercanda, sambil tersenyum.
"Enggak, enggak boleh.! Kamu enggak boleh pingsan lagi, cukup ini yang terakhir kamu buat mas mu ini panik." Ucap Devano serius, sepertinya kejadian sekarang ini benar-benar membuatnya sangat panik.
"Eeemmmm mas Deeev, Alana sayang sama mas Dev.?" Ucap Alana sambil memeluk Devano dengan erat.
"Ia sayang, mas juga sayaaaang banget sama kamu." Ucap Devano sambil tersenyum dan mengecup keningnya.
"Kok sayangnya cuma sama Alana doang, emang sama Dede bayi diperut Alana, mas udah enggak sayang lagi.?" Ucap Alana cemberut sambil mengusap-usap perutnya.
__ADS_1
"Iiiihhh Papah jahat yah De, papah udah enggak sayang sama Dede lagi, papah udah lupa nih sama Dede." Ucapnya lagi sambil terus mengusap-usap perutnya.
Melihat tingkah laku Alana seperti itu, seketika Devano pun langsung terdiam.
"Ya Tuhaaaan, kenapa kau berikan cobaan yang berat ini kepada ku ya Tuhaaaan.? Harus dari mana gw ceritain semua ini sama Alana, kalau Alana tau semua ini, Alana pasti akan sangat hancur."
Ucap Devano dalam hati sedih sekaligus bingung, sambil menatap kearahnya yang masih berbaring tepat di hadapannya.
"Mas, mas kenapa.? Kok mas malah diam.?" Ucap Alana bingung, karena biasanya jika ia berbicara tentang kehamilannya Devano langsung mengusap-usap dan menciumi perutnya.
"Eh ia, kenapa sayang.? Tadi kamu pengin cepet-cepet pulang yah.? Emang kenapa sayang kamu pengin cepet-cepet pulang.?" Ucap Devano gugup karena ia sedang mengalihkan pembicaraan.
"Mas Devano itu kenapa sih, kok aneh banget." Ucap Alana dalam hati bingung.
"Ah udah lah enggak papa, mungkin mas Devano kecapekan kali nungguin aku semalam,,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong
"Sayang, kok kamu malah jadi ikut-ikutan diam. Tadi mas nanya kenapa kamu pengin pulaaang, hah.?" Ucap Devano penasaran.
"Ya Alana pengin pulang aja mas, soalnya Alana enggak betah disini, kita pulang aja yah maaaas, pleaseeeeee.?" Ucap Alana merengek dengan manja.
"Uuuhh udah mulai nih, istri mas yang cantik ini udah mulai manja-manja lagi." Ucap Devano sambil tersenyum dan mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Emang mau ngapain sih di Rumah.? perasaan dari tadi istri mas yang cantik ini ribut terus nih pengin cepet-cepet pulang.?" Ucapnya lagi semakin penasaran.
"Alana pengin pulaaang, karena Alana pengin cepet-cepet masak makanan yang sehat-sehat kayak biasa, supaya Dede bayi diperut Alana ini sehat, dan Alana juga pengin cepet-cepet oleh raga lagi supaya Dede bayi di perut Alana ini kuat." Ucap Alana sambil tersenyum dan mengusap-usap perutnya dengan penuh kasih sayang.
"Soalnya itu dari tadi, Alana kayak enggak ngerasain apa-apa di perut Alana mas, Alana juga udah enggak ngerasain mual lagi, Alana takut Dede bayi di perut Alana ini kenapa-napa." Ucapnya lagi khawatir.
"Apa jangan-jangan.! Mas,,,,,," Ucap Alana lagi sedikit menyadari.
Mendengar ucapan Alana, Devano tidak menjawabnya, ia justru malah menangis. Sehingga Alana pun bingung.
"Mas kok malah nangis sih.? Dede bayi enggak kenapa-napa kan mas.? Dede bayi baik-baik aja kan mas.?" Ucap Alana dengan suara sedikit tinggi karena panik, namun sayang lagi-lagi Devano terdiam sambil terus menangis, karena ia tidak sanggup untuk menjawabnya, hingga akhirnya Alana pun menyadari semuanya, dan ia pun langsung ikut menangis
"Hiks,,, hiks,,, enggak, enggak mungkin.! Hiks,,, hiks,,, Dede bayi baik-baik aja kan mas.? Hiks,,, hiks,,, Alana enggak mungkin keguguran kan mas.?" Ucap Alana syok dan tak percaya dengan semuanya.
Melihat keadaan Alana seperti itu, Devano yang masih menangis pun langsung memeluknya dengan erat.
"Hiks,,, hiks,,, semua ini salah mas sayang, semua ini salah mas, salah mas karena udah gagal ngejagain kamu dan Dede bayi." Ucap Devano sedih, lagi-lagi ia menyalahkan dirinya sendiri.
"Hiks,, hiks,, enggak mungkin mas, Hiks,, hiks,, enggak mungkin.! Hiks,, hiks,, Alana enggak mungkin keguguran mas, Alana enggak mungkin keguguran. Hiks,, hiks,, Dede bayi masih ada mas diperut Alana, hiks,, hiks,, Dede bayi masih ada diperut Alana." Ucap Alana dengan perasaan yang sudah tidak karuan sambil terus menangis.
__ADS_1
######
Jangan lupa like, coment dan fav 😍