
"Non Sania bangun non.! Non Sania kenapa.? Bangun non.! Bangun.!" Triak bi Iroh lagi semakin panik, sambil terus menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan sangat kuat agar terbangun, namun sayang Sania justru kejang-kejang semakin kuat dan cepat, bahkan seketika Sania pun langsung melototkan matanya, kemudian langsung terdiam, karena sepertinya Sania baru saja menghembuskan nafasnya yang terakhir dan kemudian meninggal.
"Enggak, enggak mungkin.! Non Saniaaa, bangun non.!" Teriak bi Iroh lagi tak percaya, kemudian dengan segera ia pun langsung melaporkan kejadian tersebut kepada polisi, karena ia takut kalau sampai ia disalahkan dengan kasus meninggalnya Sania tersebut.
DI TEMPAT BERBEDA, DI JALAN.
Terlihat pak Toni supir pribadi pak Irsyad yang sedang fokus menyetir mobilnya, karena seperti yang kita tau, sekarang ini ia sedang mengantarkan Dinda dan Erik ke rumah sakit, namun selama di perjalanan Dinda pendarahan tidak ada hentinya, sehingga keadaan Dinda pun saat ini terlihat semakin mengkhawatirkan, wajahnya terlihat sangat pucat dan tubuhnya pun terlihat semakin lemas, bahkan selama diperjalanan Dinda terus merintih kesakitan tiada hentinya.
"Sakit maaaaas, perut Dinda sakiiiiit.?" Kata Dinda dengan suara pelan dan lirih, sambil terus merintih kesakitan di pangkuan Erik, dengan keadaan yang semakin lemah.
"Ia sayaaang, mas tau perut kamu sakit, sabar yah sayang yaaah.? Sebentar lagi juga kita sampai ke rumah sakit yaaah.?" Kata Erik pelan, sambil mengusap-usap perut Dinda yang sedang terbaring di pangkuannya itu, ia mencoba untuk menenangkannya meskipun sesungguhnya sekarang ini perasaannya pun benar-benar sudah tidak karuan.
Mendengar kata-kata dari Erik, Dinda tidak menjawabnya, ia masih terus merintih kesakitan dengan keadaan yang semakin lemas, bahkan suara rintihannya pun terdengar semakin pelan dan sangat lirih, sampai hampir tak terdengar
"Sakit maaaaas, sakiiiiiiii,,,,,,,,,,,," Perlahan suara rintihan Dinda benar-benar tak terdengar, bahkan ia pun terlihat terdiam dan tak bersuara.
"Sayang, kamu kenapa sayang.? Bangun sayang.! Bangun.! Kamu kenapa sayang.?" Kata Erik tergesa-gesa dan panik, sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dinda agar terbangun, namun sayang Dinda tetap terdiam dan tidak mau bangun, karena sepertinya ia benar-benar sudah sangat lemas dan sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit di perutnya itu, sehinga ia pun akhirnya pingsan.
"Pak Toni ngebut pak.! Cepetan pak.!" Kata Erik dengan suara tinggi dan tergesa-gesa karena saking paniknya.
"Baik pak Erik.!" Kata pak Toni sambil cepat-cepat melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi lagi, namun sayang belum juga sampai mereka di rumah sakit dan kira-kira hanya tersisa waktu 10 menit lagi mereka sampai di rumah sakit tersebut, tiba-tiba mobil yang dikendarai pak Toni berhenti.
"Pak Toni kenapa berhenti.? Cepetan pak.! Keadaan Dinda sekarang ini semakin lemah pak.!" Kata Erik semakin panik.
"Iya pak.! Tapi ini di depan macet par,,,,," Belum juga pak Toni menyelesaikan ucapannya, namun sudah terpotong.
"Pak Erik.! Pak Erik mau kemana pak.?" Triak pak Toni kaget dan bingung melihat Erik yang tiba-tiba keluar dari mobilnya dengan sangat terburu-buru sambil menggendong Dinda.
Mendengar teriakkan dari pak Toni, Erik tidak perduli, ia malah justru berlari dengan sangat cepat sambil terus menggendong Dinda menuju rumah sakit, karena sepertinya ia tidak mau menunggu macet parah, yang pastinya akan memakan waktu cukup lama, karena ia pun tidak mau kalau sampai Dinda dan calon anaknya kenapa-napa, apalagi dengan keadaannya yang sekarang ini sudah tidak sadar kan diri seperti itu.
Melihat Erik lari sambil menggendong Dinda seperti itu, disepanjang jalan semua mata tertuju kepadanya, akan tetapi ia tidak perduli, bahkan ia terus berlari lebih cepat lagi, karena ia sudah tidak sabar ingin cepat-cepat membawa Dinda sampai di rumah sakit.
15 menit berlalu,,,,
Akhirnya Erik sampai juga menggendong Dinda sampai di rumah sakit, setelah sampai di rumah sakit, Dinda langsung buru-buru dilarikan ke ruang UGD, kemudian dengan segera Erik pun langsung memerintahkan Dokter terbaik di rumah sakit tersebut untuk menangani Dinda secepatnya dan sebaik mungkin, hingga akhirnya semua Dokter tersebut pun dibuat sibuk olehnya, karena mereka semua langsung turun tangan untuk menangani Dinda.
Disaat Dinda sedang ditangani oleh Dokter, dengan segera l Erik pun langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi pak Irsyad dan ibu Yuli orang tua Dinda, dan juga pak Edi dan ibu Sari orangtuanya, tentang keadaan Dinda sekarang ini.
Mendengar kabar tersebut, pak Irsyad dan Ibu Yuli yang sekarang ini sedang berada di Korea pun dengan segera langsung siap-siap untuk terbang ke Indonesia, begitupun dengan pak Edi dan ibu Sari, setelah mendengar kabar tentang menantunya itu, meraka yang tinggal di Bandung pun langsung ke Jakarta hari itu juga.
30 Menti berlalu,,,,
Akhirnya Dokter yang menangani Dinda pun keluar dari ruang UGD, dengan raut wajah yang tak bisa diartikan, sehingga Erik yang melihatnya pun semakin panik.
"Bagaimana dengan kondisi istri dan calon anak saya sekarang Dok.?" Kata Erik tergesa-gesa.
"Begini pak.! Sebenernya kondisi istri dan calon anak bapak sekarang ini sangat kritis, bahkan detak jantung istri dan calon anak bapak pun saat ini semakin lemah, dan saya sebagai dokter yang menangani istri bapak, menyarankan agar istri bapak sesegera mungkin melakukan operasi, demi untuk menyelamatkan bayi yang ada didalam kandungannya." Kata Dokter tersebut mencoba untuk memberi saran kepada Erik.
"Ya udah enggak apa-apa dok.! Kalau memang itu yang terbaik untuk istri dan calon anak saya, lakukan sekarang juga Dok.! Lakukan Dok.!" Kata Erik dengan suara tinggi dan tergesa-gesa.
Mendengar kata-kata dari Erik, dengan berat hati dokter tersebut pun langsung mencoba untuk menjelaskan bagaimana mengkhawatirkannya kondisi Dinda saat ini kepadanya.
"Baik pak.! Secepatnya saya akan melakukan tindakan operasi kepada istri bapak, tapi sebelumnya saya akan memberi tahu dulu kepada bapak, kalau operasi ini hanya berlaku untuk menyelamatkan bayinya saja, sedangkan untuk istri bapak kecil sekali kemungkinannya untuk bisa diselamatkan, dan saya juga tidak bisa menjanjikan kalau istri bapak itu akan sela,,,,,,," Belum sempat Dokter tersebut menjelaskan semuanya kepada Erik, namun sudah terpotong.
"Apa Dok.? Enggak, enggak mungkin Dok.! Enggak mungkin.! Istri saya pasti masih bisa di selamatkan Dok.? Istri saya Pasti masih bisa diselamatkan.! Saya mohon Dok sama Dokter, saya mohon.! Selamatkan Istri dan calon anak saya Dok.! Saya mohon Dok.!" Kata Erik dengan suara tinggi karena kaget dan syok, sambil memohon-mohon kepada Dokter tersebut untuk bisa menyelamatkan Dinda dan calon anaknya.
"Sabar pak.! Bapak yang tenag dulu.! Saya dan tim medis lainnya akan berusaha semampu dan sebaik mungkin untuk bisa menyelamatkan istri dan juga calon anak bapak, jadi sekarang bapak tenang dulu.! Lebih baik, sekarang bapak banyak-banyak berdoa untuk keselamatan Istri dan calon anak bapak.! Karena sebentar lagi istri bapak akan menjalankan operasi." Kata Dokter tersebut panjang lebar.
Mendengar kata-kata dari Dokter tersebut, Erik hanya terdiam dengan raut wajah yang sudah tidak bisa diartikan lagi betapa hancurnya saat ini.
"Baik pak.! Kalau gitu sekarang saya tinggal dulu, karena secepatnya saya akan memindahkan istri bapak ke ruang operasi." Kata Dokter tersebut sopan, kemudian ia pun langsung melangkah meninggalkan Erik, dan langsung memindahkan Dinda menuju ruang operasi.
Kemudian Dokter tersebut pun langsung melakukan tindakan dioperasi kepadanya.
__ADS_1
30 menit berlalu,,,,,,
Waktu menunjukkan pukul 04:00 sore.
Terlihat Erik yang sedang duduk terdiam di depan ruang operasi, dengan raut wajah yang sangat panik dan mata yang berkaca-kaca.
"Ya Allah, apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan rumah tangga saya sekarang ini.? Sekarang ini istri saya sedang melakukan operasi, dan didalam istri saya sekarang sedang berjuang mati-matian untuk bisa menyelamatkan dirinya dan juga anak saya, sedangkan saya disini tidak bisa berbuat apa-apa, saya disini hanya bisa duduk terdiam seperti ini.! Suami macam apa saya ini ya Allah, suami macam apa.? Saya ini benar-benar suami yang enggak berguna.!" Kata Erik dalam hati sedih, sambil menangis.
"Ya Allah, cobaan apa yang sedang engkau berikan kepada rumah tangga saya sekarang ini ya Allah.? Kenapa semuanya terasa sakit seperti ini.?" Kata Erik lagi dalam hati, sambil terus menangis, namun disaat ia sedang menangis karena memikirkan keadaan Dinda, tiba-tiba ia mendengar seseorang bertanya kepadanya.
"Gimana kondisi Dinda sekarang ini Rik.? Dinda baik-baik aja kan Rik.?" Kata sesorang tersebut tergesa-gesa dan terdengar sangat panik.
"Iya Rik, Sekarang Dinda baik-baik aja kan Rik.?" Sambung salah satu diantara mereka lagi.
"M, m, mamah.? P, p, papah.?" Kata Erik gugup dan kaget sambil menatap kearah pak Edi dan ibu Sari yang sekarang sedang berdiri tepat dihadapannya.
"Iya Erik, ini papah.! Bagaimana dengan kondisi Dinda saat ini Rik.?" Kata pak Edi semakin panik dan penasaran.
Mendengar pertanyaan dari pak Edi dan Ibu Sari, Erik pun langsung terdiam.
"Kenapa kamu diem nak.? Dinda enggak kenapa-napa kan nak.?" Kata Ibu Sari semakin panik.
"Paaah, maaah, sebenarnya kondisi Dinda saat ini sedang krit,,,,,," Belum juga Erik selesai menjawab pertanyaan pak Edi dan Ibu Sari, namun sudah terpotong, karena ia melihat Dokter yang menangani Dinda keluar dari ruangan operasinya.
"Dok, bagaimana kondisi istri dan anak saya dok.? Operasinya berjalan dengan lancar kan dok.?" Kata Erik tergesa-gesa dan panik.
"Allhamdulilah Operasinya berjalan dengan lancar pak.! Dan anak bapak sudah berhasil saya selamatkan, namun karena kondisi anak bapak saat ini sangat lemah, jadi anak bapak sekarang sedang dirawat secara intensif di ruang inkubator." Kata Dokter tersebut.
Mendengar jawaban dari Dokter tersebut, pak Edi dan ibu Sari yang belum tau betapa mengkhawatirkannya kondisi Dinda saat ini pun merasa lega, kemudian pak Edi pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Syukurlah kalau gitu Dok, saya jadi sedikit lega." Kata Pak Edi sambil tersenyum.
"Iya Dok, bagaimana dengan kondisi istri saya sekarang ini Dok.? Istri saya baik-baik aja kan Dok.?" Kata Erik yang juga penasaran dengan kondisi Dinda saat ini.
Mendengar pertanyaan dari mereka, seketika Dokter tersebut pun langsung terdiam.
"Dok, kenapa Dokter diam.? Istri saya enggak kenapa-napa kan dok.?" Kata Erik lagi semakin panik dan penasaran.
"Maaf pak.! Kalau untuk istri bapak, seperti yang sudah saya jelaskan kepada bapak tadi, untuk kondisi istri bapak saat ini sangatlah kritis, bahkan detak jantung dan denyut nadi istri bapak saat ini semakin melemah, dan sekarang ini istri bapak masih dalam keadaan koma dan belum sadarkan diri pak." Kata Dokter tersebut mencoba untuk menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.
"Apa Dok.? Keadaan Dinda saat ini sedang kritis.?" Kata pak Edi dengan suara tinggi karena kaget dan syok mendengar jawaban dari Dokter tersebut.
"Enggak dok, enggak mungkin.! Enggak mungkin keadaan menantu saya kritis.?" Sambung ibu sari tergesa-gesa sambil menangis.
"Iya Dok, enggak mungkin Dok.! Istri saya pasti masih bisa diselamatkan, istri saya pasti akan selamat." Kata Erik dengan suara bergetar karena menangis, sambil buru-buru melangkah menuju ruangan Dinda, kemudian diikuti oleh Ibu Sari dan pak Edi dari belakang, hingga akhirnya mereka bertiga pun sampai dan masuk ke dalam ruang rawat tersebut.
"Enggak, enggak mungkin.! Semua ini enggak mungkin terjadi sama istri saya."
Kata Erik kaget dan syok sambil menangis, melihat keadaan Dinda yang sedang terbaring lemah ditempat tidurnya, dengan keadaan tubuh yang sudah dipenuhi dengan peralatan medis.
Kemudian ia pun langsung melangkah menghampirinya dan duduk tepat disampingnya, seketika ia pun langsung mengencangkan suara tangisannya.
"Bangun sayang, kamu harus bangun.! Sekarang anak kita udah lahir sayang, anak kita udah lahir.! Kamu udah berhasil memberikan mas kebahagiaan, kamu udah berhasil sayang, dan sekarang saatnya mas bahagiain kamu dan anak kita sayang.? Jadi kamu harus bangun sayang, kamu harus bangun.! Izinkan mas bahagiain kamu sayang, izinkan mas bahagiain kamu.?" Kata Erik dengan suara bergetar karena menangis, sambil menggenggam tangan Dinda dengan begitu eratnya.
Ini adalah kali pertama Erik menangis seperti itu karena perempuan selain ibu sari mamahnya, dan ini juga adalah hari pertama ia menangis lagi setelah sekian lama ia tidak menangis, karena ia adalah sosok pria yang tidak gampang menangis, dan terakhir ia menangis saat ia masih kecil.
Melihat anaknya yang jarang sekali menangis, bisa sampai menangis seperti itu, pak Edi yang dari tadi sedang berdiri di belakang Erik pun langsung menghampirinya lebih dekat lagi.
__ADS_1
"Sabar Rik, kamu harus kuat.! Lebih baik sekarang kamu banyak-banyak berdoa untuk istri kamu, supaya istri kamu ini bisa cepat-cepat sadar.!" Kata pak Edi pelan, sambil mengusap-usap pundak Erik, ia mencoba untuk menenangkannya karena ia sangat tau betapa hancur hatinya saat ini, akan tetapi tidak dengan ibu Sari, ia terlihat duduk terdiam dengan keaadaan lemas dan raut wajah yang sangat sedih, karena memikirkan keadaan Dinda menantu satu-satunya sekarang ini.
MASIH DI RUMAH SAKIT.
Waktu menunjukkan pukul 09:00 malam.
Terlihat pak Edi dan ibu Sari yang sedang duduk di depan ruang rawat Dinda dengan raut wajah yang sangat panik, akan tetapi tidak dengan Erik, dari tadi siang ia terlihat setia menemani Dinda didalam ruang rawatnya dan belum keluar sedetik pun dari ruangan tersebut.
"Kamu harus kuat yah sayang.? Kamu harus kuat.! Demi anak kita kamu harus kuat.! Kamu harus bangun sayang.! Disini mas dan anak kita masih sangat membutuhkan kamu sayang.? Jadi kamu harus bang,,,,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar ada orang masuk ke ruang rawat Dinda.
"Rik, bagaimana dengan kondisi Dinda saat ini Rik.?" Tanya orang tersebut tergesa-gesa dan panik, sambil terus melangkah dengan sangat terburu-buru untuk menghampirinya.
"Ya Rik, bagaimana dengan kondisi Dinda sekarang ini Ri,,,,,,,,," Seketika ucapan Ibu Yuli terpotong, iya ucapan ibu Yuli, karena orang tersebut adalah ibu Yuli dan pak Irsyad yang baru saja sampai dari Korea.
"Enggak, enggak mungkin.! Dindaaaa.!" Teriak ibu Yuli sambil menangis histeris melihat keadaan Dinda sekarang ini, kemudian ia dan pak Irsyad pun langsung buru-buru melangkah menghampirinya lebih dekat lagi.
"Hiks,, hiks,, ya ampun sayang, kenapa jadi kayak gini.? Hiks,, hiks,, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu sayang.? Hiks,, hiks,, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu.? Hiks,, hiks,, bangun sayang.! Hiks,, hiks,, bangun.!" Kata ibu Yuli dengan suara bergetar karena ia terus menangis, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan begitu erat.
"Hiks,, hiks,, bangun sayang.! Hiks,, hiks,, banguuuunnn.!" Kata ibu Yuli lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dinda dengan kuat agar terbangun.
"Mamah yang sabar mah.! Mamah tenang dulu.! Udah mamah jangan nangis.! Mamah jangan nangis mah.!" Kata pak Irsyad, mencoba untuk menenangkan ibu Yuli, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan begitu erat.
"Ssssssttttt udah mamah jangan nangis.! Mamah yang tenang, mamah yang sabar mah.!" Kata pak Irsyad lagi sambil mengusap-usap pundak ibu Yuli.
"Hiks,,, hiks,,, tapi papa lihat dong keaadaan Dinda sekarang pah.! hiks,,, hiks,, papah lihat dong pah.! hiks,, hiks,, papah lihat.!" Teriak ibu Yuli sambil menatap kearah Dinda yang sedang terbaring dihadapannya, kemudian ia pun langsung memeluknya kembali.
"Hiks,, hiks,, Dinda anak mamaaaah, hiks,,hiks,, bangun sayaaang.! Hiks,, hiks,, Banguuun.! Ini mamah sayang, hiks,, hiks,, ini mamaaah.? Sekarang mamah udah hiks,, hiks,, pulang sayang, mamah udah hiks,, hiks,, pulaaaang." Kata ibu Yuli dengan suara bergetar karena menangis, sambil menciumi habis wajah Dinda.
"Mamaaah, mamah udah yah mah.? Mamah harus tenang.! Mamah harus sabar.!" Kata pak Irsyad pelan, ia mencoba untuk menenangkannya kembali, meskipun sesungguhnya perasaannya pun saat ini sangat hancur melihat Dinda putri tersayangnya terbaring dengan keadaan seperti itu.
Melihat ibu Yuli menangis, Erik hanya bisa terdiam dengan raut wajah yang sangat sedih dan merasa bersalah.
"Ini semua memang salah Erik mah.? Ini semua salah Erik.! Erik enggak bisa menjaga Dinda dengan baik mah, Erik ini benar-benar udah gagal jadi seorang suami, Erik sudah gagal mah.? Erik sudah gag,,,,,,,," Seketika ucapan Erik terhenti, karena tiba-tiba seisi ruangan dikagetkan oleh Dinda yang tiba-tiba kejang.
"Dinda.! Kamu kenapa Dinda.? Kamu kenapa.?" Teriak Erik dengan suara yang sangat tinggi karena saking paniknya, sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Dokter.! Dok.!" Teriak Erik lagi secara bersamaan dengan pak Irsyad dan ibu Yuli, dengan suara yang sangat tinggi.
Mendengar teriakkan dari kamar rawat Dinda, dengan segera Dokter dan semua tim medis yang menangani Dinda pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut dan diikuti oleh pak Edi dan ibu Sari dari belakang, karena seperti yang kita tau dari tadi pak Edi dan ibu sari sedang duduk didepan kamar rawat Dinda, karena mereka tidak boleh masuk keruangan Dinda secara bersamaan.
Setelah masuk ke dalam kamar rawat Dinda, Dokter dan tim medis lainnya langsung sibuk menangani Dinda yang masih terus kejang, mereka berusaha untuk menyelamatkan nyawanya.
"Hiks,, hiks,, pah, Dinda pah.! Hiks,, hiks,, Dinda.?" Kata ibu Yuli sambil terus menangis dipelukan pak Irsyad.
"Hiks,, hiks,, iya mah, iya.! Hiks,, hiks,, papah tau." Kata pak Irsyad yang juga ikut menangis melihat keadaan Dinda seperti itu.
"Udah pak, Bu, lebih baik sekarang kita berdoa untuk keselamatan Dinda.!" Kata ibu Sari yang dari tadi sedang berdiri dibelakangnya, ia mencoba untuk menenangkan pak Irsyad dan ibu Yuli.
"Iya, lebih baik sekarang ini kita berdoa.!" Sambung pak Edi yang juga sedang berdiri tepat dibelakang mereka.
"Hiks,, hiks,, Dinda, kamu harus kuat sayang.! Hiks,, hiks,, kamu harus kuat.!" Kata Erik sambil menatap kearah Dinda yang sekarang ini masih terus ditangani oleh Dokter dan tim medis, hingga akhirnya Dokter dan tim medis tersebut pun menyudahinya.
"Bagaimana dengan keadaan Istri saya Dok.? bagaimana dok.?" Kata Erik panik.
"Iya Dok bagaimana dengan keadaan putri saya dok.?" Kata ibu Yuli dan pak Irsyad secara bersamaan.
"Iya Dok, bagaimana dok.?" Sambung pak Edi dan ibu Sari lagi.
Mendengar pertanyaan dari mereka, sebenarnya Dokter tersebut pun benar-benar tidak tega untuk menyampaikan kondisi Dinda saat ini, namun karena itu semua adalah tugasnya, dengan berat hati Dokter tersebut pun akhirnya menjawabnya.
"Maaf pak, Bu, semuanya.! Saya dan tim medis lainnya sudah benar-benar berusaha semampu dan sebisa mungkin untuk menyelamatkan nyawa anak bapak dan juga ibu.! Tapi semuanya kembali lagi kepada yang di atas, nyawa anak bapak dan ibu, tidak berhasil kami selamatkan, dan sekarang anak bapak dan ibu sudah dinyatakan meninggal." Kata Dokter tersebut serius, kalau keaadaan Dinda sekarang ini memang sudah benar-benar telah meninggal.
Mendengar pernyataan dari Dokter, seketika ibu Yuli pun langsung pingsan ditempat, sedangkan pak Irsyad, pak Edi dan Ibu Sari mereka hanya bisa terdiam dan tidak bisa berkata-kata, mereka semua kaget, syok dan tak percaya mendengar pernyataan dari Dokter tersebut.
"Hiks,, hiks,, enggak.! Hiks,, hiks,, enggak mungkin.! Hiks,, hiks,, enggak mungkin Istri saya meninggal, hiks,, hiks,, enggak mungkin Dok.! Hiks,, hiks,, enggak mungkin.!" Teriak Erik tak percaya sambil menangis histeris
"Sekarang tolong katakan sama saya Dok.! Dokter pasti bohong kan Dok.? Dokter pasti bohong.? Istri saya enggak mungkin meninggal.! Enggak, enggak mungkin.!" Teriak Erik lagi masih tak percaya, dengan keadaan yang sudah tidak karuan, sambil menatap kearah Dokter tersebut dengan tatapan yang sudah tidak bisa diartikan lagi betapa hancurnya saat ini, kemudian dengan segera ia pun langsung melangkah mendekat kearah Dinda dan memeluknya dengan begitu erat.
__ADS_1
"Bangun sayang, bangun.! Kamu enggak mungkin meninggal sayang.! Enggak, enggak mungkin.! Kamu pasti masih hidup sayang, kamu masih Hidup.! Bangun sayaaaang, bangun.!" Teriak Erik sambil terus menangis histeris dan menggoyang-goyangkan tubuh Dinda dengan sangat kuat agar terbangun.