
"Alana juga enggak tau mas, siapa yah.?" Ucap Alana penasaran.
"Ya udah non, bibi turun dulu yah.?" Ucap Asisten rumah tangganya lagi dari balik pintu kamarnya, sambil berjalan turun kebawah menuju ruang tamu.
"Ia bi, nanti Alana sama mas Devano nyusul" Ucap Alana.
"Ya udah, kalau gitu biar Alana dulu aja yah mas yang turun.? Mas mandi dulu Sanah.!" Ucapnya lagi sambil melepaskan pelukan Devano dari tubuhnya.
"Eeeemmmm enggak mauuu, mas masih kangeeeeen." Rengek Devano manja, sambil memeluk tubuh Alana kembali dengan erat.
"Maaas, kan kita bisa lanjut nanti setelah tamunya pulang." Ucap Alana.
"Tapi mas maunya seka,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Maaass,,,," Ucap Alana.
"Ya udah ia, ia. Mas mandi nih.!" Ucap Devano cemberut sambil terpaksa melepaskan pelukannya, kemudian ia pun langsung melangkah menuju kamar mandi.
Melihat tingkah laku suaminya seperti itu, Alana pun tersenyum.
"Nah gitu dong mas." Ucap Alana sambil terus tersenyum.
"Ya udah yah mas, Alana turun kebawah dulu." Teriak Alana.
"Ia sayang.! Eh, tapi tunggu dulu.! Kalau mau kebawah ganti dulu bajunya.!" Teriak Devano dari dalam kamar mandi, ia menyuruhnya seperti itu, karena seperti yang kita tau, ia memang paling tidak suka jika tubuh seksi Alana istri tersayangnya itu dilihat oleh orang selain dirinya.
"Ia mas." Teriak Alana lagi sambil buru-buru mengganti pakaiannya dan langsung turun kebawah menuju ruang tamu, sesampainya ia di ruang tamu, ia langsung menghampiri asisten rumah tangganya yang dari tadi sudah berdiri di sana.
"Mana bi tamunya.? Kok enggak ada.? Emang enggak bibi suruh masuk.?"
Ucap Alana bingung mengapa tamu tersebut tidak ada di ruang tamu.
"A, a, anu non.! Masih diluar non. Soalnya tadi bibi suruh masuk enggak mau, katanya mau nungguin non aja apa tuan turun." Ucap Asisten rumah tangganya mencoba untuk menyampaikan ucapan tamu tersebut.
"Oooh ya udah, kalau gitu biar Alana yang keluar, biar Alana yang temui tamunya. Soalnya Alana penasaran, siapa sih sebenarnya orangnya.?" Ucap Alana sambil buru-buru melangkah menuju pintu keluar, sesampainya ia diluar lagi-lagi ia dibuat bingung karena lagi-lagi tamu tersebut tidak ada.
"Dimana tamunya.? Kok enggak ada, kata bibi kan tadi ada di luar. Di luar di mana yah.?" Ucap Alana sambil menengok kesekeliling depan rumahnya, untuk mencari tamu tersebut, akan tetapi keadaan tampak sepi.
Dan tamu tersebut pun tidak ia temukan.
"Ah udah lah.! Mungkin dia udah pulang kali, nungguin aku sama mas Devano kelamaan." Ucapnya lagi, kemudian ia pun langsung melangkah masuk ke dalam rumah, namun baru saja ia melangkah tiba-tiba langkahnya terhenti, karena tak sengaja ia menendang sebuah kotak.
"Aw.! Aduh.! Apaan ini.?" Ucapnya lagi sambil menatap kotak tersebut.
"Kotak.? Kotak apaan yah.? Kok tulisannya, khusus buat ibu Alana, apaan yah isinya.?" Ucap Alana penasaran, sambil mengambil kotak tersebut, kemudian ia pun mencoba untuk membukanya secara perlahan.
"Aaaaaaaaahhhhhhhhhh.!" Teriak Alana begitu kencangnya sambil melempar kotak tersebut, sehingga Devano dan Asisten rumah tangganya pun mendengar dan langsung buru-buru lari keluar untuk menghampirinya.
"Sayang kamu kenapa sayang.? Ada apa.?" Teriak Devano tergesa-gesa dan panik dengan suara ngos-ngosan.
"Ia non Alana, non Alana kenapa.?" Ucap Asisten rumah tangganya penasaran.
Mendengar pertanyaan Devano dan Asisten rumah tangganya, Alana hanya terdiam. Ia tidak menjawab sepatah katapun, ia terdiam karena ia sangat syok melihat apa isi dari kotak yang baru saja ia buka, sehingga Devano yang melihatnya pun panik.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa.? Kamu kenapa diam aja, ada apa.?" Ucap Devano tergesa-gesa.
Mendengar pertanyaan dari Devano, lagi-lagi Alana masih terus terdiam, kemudian ia pun malah justru langsung memeluknya dengan erat sambil menangis.
"Hiks,,, hiks,,, Alana takut mas, hiks,,, hiks,,, Alana takut, hiks,,, hiks,,, itu tadi Alana lihat,,,,, hiks,,, hiks,,, pokoknya Alana takut mas." Ucapnya sambil terus menangis sesenggukan dipelukan Devano, ia tidak bisa menjelaskan dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Ia sayang, kamu takut. Tapi kamu takut apa.? Kamu tenang dul,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Tuan, tuan, lihat deh.! Itu ada kotak.!" Ucap Asisten rumah tangganya yang masih berdiri dihadapan Devano dan Alana, sambil menunjuk kearah kotak tersebut beserta isinya yang Alana lempar tadi.
"Kontak, kotak apaan.? Mana.?" Ucap Devano penasaran sambil melangkah untuk melihatnya.
"J, j, jangan mas.! Hiks,, hiks,, jangan.!" Ucap Alana masih sangat ketakutan.
"Udah sayang, kamu tenang yah.? Disini kan ada mas." Ucap Devano mencoba untuk menenangkannya.
"Coba mana bi, aku pengin lihat." Ucapnya lagi masih penasaran.
"Sebentar yah tuan.! Bibi ambil dulu." Ucap Asisten rumah tangganya, sambil buru-buru melangkah menuju kotak tersebut dan kemudian mengambilnya.
"Subhanallah, astaghfirullahalazim.! Ini apaan.? Siapa yang berani ngirim kayak gini ke rumah tuan.? Ada tulisannya lagi, khusus buat ibu Alana." Ucap Asisten rumah tangganya yang juga kaget dan syok melihat isi didalam kotak tersebut.
"Ada apa bi.? Apa isi didalam kotak itu.?" Ucap Devano semakin penasaran, sambil buru-buru melihat apa isi di dalam kotak tersebut, dan ternyata isinya.
"Kurang ajar.! Siapa yang berani ngirim kepala tengkorak kesini buat non Alana.?" Ucap Devano penuh emosi, sambil membanting kotak tersebut.
"Hiks,, hiks,, Alana takut maaas, hiks,, hiks,, Alana takuuut." Ucap Alana sambil terus menangis.
"Hiks,, hiks,,, tapi Alana takut mas.? Hiks,, hiks,,, mas baca dong.! Hiks,, hiks,, itu tuh kotak khusus buat Alana, hiks,, hiks,,, maksudnya apa coba.?" Ucap Alana semakin ketakutan, namun ia juga bingung apa maksud dari orang tersebut mengirimkan kepala tengkorak kepadanya.
"Ia sayang, mas tau. Tapi kamu tenang yah.? Mas janji sayang, mas akan cari tau siapa pelakunya, mas akan kejar dia sampai ke ujung dunia pun, pokoknya siapapun yang berani macem-macem sama kamu, dia akan berhadapan dengan mas." Ucap Devano serius dengan raut wajah yang masih sangat marah.
"Bi, tadi siapa yang datang kesini.? Bibi kenal enggak.?" Ucapnya lagi penasaran.
"Bibi enggak kenal tuan, soalnya tadi orangnya pakai masker, terus kepalanya ditutupi pakai sweater. Orangnya cuma ngomong katanya temen tuan sama non, katanya kesini mau jenguk non, tapi,,,,,,," Seketika Asisten rumah tangga tersebut terdiam.
"Tapi, tapi kenapa bi.?" Ucap Devano semakin penasaran.
"Tapi kotak itu kayaknya emang orang itu yang bawa, soalnya tadi bibi lihat dengan jelas kalau orang itu bawa kotak itu." Ucap Asisten rumah tangga tersebut mencoba untuk menyampaikan apa yang ia lihat tadi, sambil menatap kearah kotak tersebut.
Mendengar ucapan Asisten rumah tangganya, Devano pun terdiam sejenak, kemudian ia pun menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Kira-kira siapa yah orangnya yang berani kirim kayak gini buat Alana.? Awas aja kalau sampai ketemu, enggak bakalan gw kasih ampun.! Pokoknya gw harus selidiki semua ini sampai tuntas." Ucap Devano dalam hati masih penuh emosi, karena ada orang yang berani-beraninya mau main-main dengannya.
"Oh iya bi, kira-kira tadi orangnya laki-laki apa perempuan.?" Ucap Devano lagi.
"Dari suaranya sih perempuan tuna. Tapi itu dia tuan, bibi enggak tau siapa ora,,,,,,," Seketika ucapan Asisten rumah tangganya terpotong, karena tiba-tiba Devano memanggil satpam dirumahnya.
"Pak Anton, pak Suryo.!" Teriak Devano.
Mendengar teriakkan Devano bos nya, pak Anton yang ketiduran pun seketika langsung terbangun dan langsung buru-buru lari untuk menghampirinya.
"Ia tuan, ada apa tuan.?" Ucap pak Anton tergesa-gesa dan panik, karena tidak biasanya Devano bos nya teriak-teriak memanggilnya diwaktu semalam ini.
"Tadi pak Anton lihat enggak, ada perempuan masuk kesini.? Terus pak Anton tau enggak siapa orangnya.?" Ucap Devano mencoba untuk bertanya kepadanya tentang siapa sebenarnya perempuan tersebut.
__ADS_1
"K, k, kapan tuan.?" Ucap pak Anton gugup dan gemetaran karena takut, karena ia merasa mempunyai salah, yaitu ketiduran di waktu kerja.
"Tadi ada perempuan masuk kesini bawa kotak berisi tengkorak, dan itu kontaknya.! Masa pak Anton enggak lihat sih.? Kan pak Anton yang jaga pintu." Ucap Devano lagi.
"I, i, itu.! A, a, anu, Maaf pak.! Tadi saya enggak sengaja ketiduran." Ucap pak Anton masih gugup dan gemetaran karena saking takutnya, karena ia tau betul kalau Devano bos nya memang baik ke semua pegawainya, akan tetapi ia paling tidak suka jika pegawainya lalai dan melakukan kesalahan.
"Apa.? Pak Anton berani-beraninya tidur diwaktu pak Anton sedang bekerja.?" Ucap Devano semakin emosi.
"I, i, iya pak.! S, s, saya minta ma,,,,,,,,," Seketika ucapan pak Anton terpotong, karena tiba-tiba Laras datang ke rumah Devano.
"Ini ada apa yah.? Kok malam-malam gini rame. Terus kamu kenapa Alana, kok nangis.? Kak Devano juga kelihatannya marah, ada apa.?" Ucap Laras yang sedang berdiri diantara mereka.
"Hiks,, hiks,, kak Laraaas.?" Ucap Alana kaget, sambil terus menangis.
"Laraaaas.?" Ucap Devano kaget, mengapa malam-malam seperti ini Laras bisa berada di rumahnya.
"Sejak kapan kamu ada disini.?"
Ucap Devano sedikit curiga.
"A, a, aku.? A, a, aku baru aja datang, emang Kenapa sih.? ada apa.?" Ucap Laras gugup dan bingung.
"I, i, itu Mba, tadi ada seorang perempuan ngirim kotak berisi tengko,,,,,,,," Seketika ucapan Asisten rumah tangga Devano terpotong, karena tiba-tib pak Suryo salah satu lagi satpam dirumah Devano, yang baru saja keluar membeli makanan pun datang.
"Maaf pak.! Kata bi Inah tadi bapak panggil saya, ada apa yah pak.?" Ucap pak Suryo sopan, ia cepat-cepat datang menemui Devano, karena bi Inah salah satu Asisten lagi di rumah Devano yang memberi tahu kepadanya.
"Pak Suryo dari mana aja.?" Ucap Devano marah.
"I, i, ini pak, saya habis beli makanan. Ada apa yah pak.?" Ucap pak Suryo gugup dan ketakutan.
"Tadi kamu lihat enggak ada perempuan masuk ke rumah ini.? Soalnya tadi non Alana kena teror." Ucap Devano mencoba untuk menanyakan kepadanya.
"Apa.? Non Alana kena teror tuan, non Alana kena teror apa.?" Ucap pak Suryo kaget.
"Tadi ada perempuan misterius masuk ke rumah ini, bawa kotak berisi kepala tengkorak buat non Alana, kamu lihat enggak orangnya.?" Ucap Devano tegas, ia mencoba untuk menjelaskan apa yang baru saja terjadi didalam rumahnya.
"Apa.? Ada orang yang kirim kotak berisi kepala tengkorak buat Alana.? Orangnya siapa Alana.?" Ucap Laras dengan suara tinggi karena kaget.
"Hiks,, hiks,, Alana juga enggak tau kaaak." Ucap Alana masih terus menangis.
"Ssttttt.! Ya udah Alana, ya udah.! Kamu yang ten,,,,,,,," Seketika ucapan Laras terpotong.
"Tunggu dulu tuan.! Tadi pas saya mau beli makanan, saya lihat ada seseorang mencurigakan yang sedang mengintai rumah tuan, orang itu pakaiannya tertutup, kepalanya ditutupi sweater, terus dia juga memakai masker. Pas saya tanya sedang apa.? Eehhhh dia malah pergi." Ucap pak Suryo mencoba untuk menyampaikan apa yang tadi sempat ia lihat.
Mendengar ucapan pak Suryo, seketika Devano pun langsung terdiam.
"Kurang ajar.! Kira-kira siapa yah orang yang berani-beraninya mau main-main sama gw.? Awas aja kalau ketemu, gw habisi itu orang." Ucap Devano dalam hati marah.
"Saya enggak mau tau.! Pokoknya jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Kalau sampai kejadian seperti ini terulang lagi, saya pecat kalian.!" Gertak Devano serius dan penuh emosi, sambil menatap kearah pak Anton dan pak Suryo, satpam dirumahnya.
######
Jangan lupa like, coment dan fav 🙏
__ADS_1