
MASIH DI RUMAH SAKIT.
Di parkiran mobil.
Terlihat mobil Devano yang sedang berparkir di parkiran mobil tersebut, karena seperti yang kita tau, siang ini ia akan mengantarkan Alana istri tersayangnya itu berobat ke rumah sakit, ke Dokter Renata.
"Ya udah ayo sayang, ati-ati turunnya.!" Ucap Devano yang baru saja turun dari mobilnya, sambil buru-buru menggandeng tangan Alana istri tersayangnya.
"Oh iya sayang, sekarang kepala kamu masih pusing enggak.? Terus masih mual-mual enggak perutnya.?" Ucapnya lagi penuh perhatian, sambil berjalan masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
"Sekarang udah rada mendingan sih mas, tapi kadang-kadang masih suka pusing, terus mual-mual, apalagi pas tadi lagi tuh.! Pas mas berangkat ke kantor, Alana enggak bisa bangun tau mas, soalnya kepala Alana ini pusing banget, udah gitu mualnya enggak berhenti-berhenti lagi." Ucap Alana serius, ia mencoba untuk menjelaskannya panjang lebar, apa yang baru saja ia alami tadi pagi.
"Eeemmm kasihan istri mas ini.!" Ucap Devano sambil mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Ya udah, nanti kamu kasih tau tuh.! Semuanya sama Renata, apa aja yang kamu rasakan tadi pagi, supaya Renata kasih resep obatnya, supaya istri mas yang bawel ini cepet sembuh, dan kembali bawel lagi." Ucap Devano sambil tersenyum menggodanya.
"Iiiihhh mas." Rengek Alana manja, sehingga Devano pun tersenyum.
"Iya enggaaaak." Ucap Devano sambil terus tersenyum dan mengusap-usap rambutnya.
"Ya udah sayang, mas ke toilet dulu yah.? Mas kebelet pengin pipis nih.!" Ucap Devano serius.
"Ya udah, kalau gitu Alana juga ke mobil dulu ya mas.? Soalnya Handphone Alana ketinggalan di dalam mobil mas." Ucap Alana serius, kalau handphonenya memang ketinggalan didalam mobil Devano suaminya itu.
"Ketinggalan di dalam mobil mas.?" Ucap Devano bingung, karena ia memang tidak tau tentang itu.
"Iya mas, Alana ambil dulu yah.?" Ucap Alana lagi.
"Tapi kamu kuat enggak jalannya.? Masih pusing enggak kepalanya.?" Ucap Devano sedikit khawatir
"Enggak kok mas, kata Alana juga kan tadi udah rada mendingan." Ucap Alana serius, kalau kepalanya sekarang ini sudah terasa mendingan.
"Ya udah kalau gitu ati-ati yah sayang.? Mas pipis dulu, udah kebelet banget nih.!" Ucap Devano sambil buru-buru melangkah menuju toilet, meninggalkan Alana sendiri.
"Ya udah deh.! Mendingan aku juga ke mobil sekarang aja." Ucap Alana sambil buru-buru melangkah menuju parkiran mobil untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan, namun belum sempat ia mengambil ponselnya, dan baru saja melangkah sampai parkiran mobil, tiba-tiba langkahnya terhenti, karena ia melihat Renata yang sedang berdiri tepat dibelakang mobilnya.
"Itu bukannya kak Renata yah.? Tapi ngapain kak Renata berdiri disitu.! Bukannya sekarang ini jadwal praktek kak Renata, kan seharusnya sekarang ini kak Renata ada di dalam rumah sakit, apa kak Renata lagi nungguin seseorang.?"
Ucapnya penasaran, sambil terus menatap kearah Renata yang memang seperti sedang menunggu seseorang.
"Aduuuh.! Bang Diki jadi enggak sih nemuin gw disini.! Kok lama banget sih.? Keburu pasien-pasien gw ngambek nih kalau lama kayak gini.!" Ucap Renata dalam hati panik, sambil terus melihat jam di tangannya tanpa henti-henti, karena takut kalau pasien-pasiennya itu sampai ngambek karena kelamaan menunggunya, karena sepertinya demi untuk menemui Diki pujaan hatinya, ia rela izin keluar sebentar kepada pasien-pasiennya itu.
"Apa lebih baik sekarang gw tinggal dulu aj,,,,,,,," Seketika ucapannya terpotong, karena tiba-tiba ia melihat Diki yang baru saja turun dari mobilnya dan sedang berjalan menghampirinya.
"Bang Diki.?" Ucap Renata sambil tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia, sambil terus menatap kearahnya yang sekarang ini sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Kok Bang Diki lama banget sih datang,,,,,,," Lagi-lagi ucapan Renata terpotong, karena lagi-lagi tanpa basa-basi Diki langsung mencium bibirnya.
__ADS_1
Dengan sangat rakusnya, lama dan tanpa henti-hentinya, apalagi dengan keadaannya yang sekarang ini sedang mabok, ia pun menjadi semakin rakus lagi seperti orang kesetanan, sehingga Alana yang dari tadi masih berdiri di parkiran mobil tersebut pun kaget dan syok dibuatnya.
"I, i, itu bukannya Bang Diki yah.? T, t, tapi kok Bang Diki cium kak Renata, emang mereka berdua pacaran.?" Ucap Alana gugup karena saking kaget dan syok nya, sambil terus menatap kearahnya yang masih terus asyik berciuman.
"B, b, bang Diki, Bang Diki kenapa.? Kok cium Renata nya kasar banget.?" Ucap Renata yang baru saja selesai berciuman.
"Kenapa sayaaaang.? Abang kangen banget sama kamu sayaaang." Ucap Diki dengan suara ngaco dan keadaan yang masih beler, sambil membelai lembut wajah cantiknya.
"Kamu juga kangen sama Abang kan sayang.?" Ucapnya lagi sambil terus membelai lembut wajah cantiknya.
"I, i, ia Bang, Renata juga kangen sama Abang.! T, t, tapi Bang,,,,,," Ucap Renata gugup.
"Tapi, tapi kenapa sayaaaang.?" Ucap Diki yang masih terus membelai lembut wajah cantiknya.
"T, t, tapi kok mulut Abang bau.! A, A, Abang mabok yah.?" Ucap Renata lagi-lagi gugup karena ia sedikit takut melihat keadaannya seperti itu.
"Enggak sayaaaang, Abang enggak mabok kok.! Abang cuma minum sedikit, soalnya sekarang ini Abang lagi pusing banget, Abang lagi banyak banget masalah sayang, sekarang kamu mau kan temenin Abang ngobrol, hibur Abang.?" Ucap Diki memintanya seperti itu.
"T, t, tapi jangan sekarang Bang.! Sekarang ini Renata lagi sibuk banget, pasien-pasien Renata di dalam lagi nungguin Renata." Ucap Renata serius.
"Pleaseeee, Abang mohon.! Sebentaaaar aja.! Ayo temenin Abang ngobrol, hibur Abang.!" Ucap Diki memohon dengan raut wajah yang sangat melas, sambil buru-buru menarik tangan Renata dan mengajaknya masuk ke dalam mobil miliknya.
"Eh Bang, pelan-pelan nariknyaaa.!" Ucap Renata sambil berjalan masuk kedalam mobil tersebut bersamanya, sehingga Alana yang sekarang ini masih memperhatikan mereka pun penasaran dibuatnya.
"K, k, kok Bang Diki sama kak Renata masuk ke dalam mobil, emang mereka berdua mau ngapain.? Mereka berdua mau kemana.?" Ucapnya sambil terus menatap kearah Renata dan Diki yang seperti sedang ngobrol di dalam mobil tersebut.
"Kamu kenapa sayaaaang, kok kayak takut gitu lihat Abang.? Ini Abang sayang, Bang Diki.!" Ucapnya mencoba untuk mengingatkannya.
"I, i, ia Bang." Ucap Renata lagi-lagi gugup, sehingga Diki yang masih mabok pun tersenyum melihatnya.
"Kamu cantik banget sih sayang kalau lagi ketakutan kayak gini.!" Ucap Diki dengan suara yang masih ngaco, sambil menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam, perlahan ia pun mencoba untuk membuka kancing baju yang sedang Renta kenakan.
"B, B, Bang Diki, Bang Diki mau ngapain.?" Ucap Renata gugup dan panik.
"Temenin Abang bobo lagi yah sayaaaang.?" Ucap Diki dengan suara yang semakin ngaco, sambil terus menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam, ia mencoba untuk memberi tahu apa tujuannya mengapa ia membukakan kancing bajunya itu.
"T, t, tapi Bang, jangan disini.! Disini kan di mobil Bang, nanti kalau ada orang yang lihat gimana.?" Ucap Renata masih panik, ia berbicara seperti itu karena seperti yang kita tau, ia memang bersedia melayani Diki untuk melakukan hubungan tersebut, mungkin ia seperti itu karena saking cintanya kepada Diki, apalagi ini adalah kali pertama ia mencintai seseorang dan seseorang itu pun meresponnya, jadi ia masih-masih sangat polos dan bodoh dalam hal seperti itu, dan sepertinya juga ia itu adalah tipe-tipe cewek yang setia jika sudah mencintai seseorang.
"Enggak bakalan sayaaaang, nih lihat.!" Ucap Diki sambil memencet tombol otomatis di mobil miliknya itu untuk menutupi semua kaca mobilnya agar tidak terlihat dari luar, sehingga Alana yang sekarang ini masih memperhatikan mereka pun semakin penasaran di buatnya.
"Loh, kok kaca mobilnya ditutup, terus mobilnya juga enggak jalan-jalan, sebenernya mereka berdua mau ngapain sih.?" Ucap Alana sambil terus menatap kearah mobil tersebut.
"Kamu lihat kan sayaaang.! Enggak bakalan kelihatan dari luar." Ucap Diki mencoba untuk merayunya.
"I, i, ia Bang." Ucap Renata gugup sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan erat untuk melampiaskan semua rasa rindunya yang terpendam dari kemarin kepada Diki yang tak lain adalah pujaan hatinya itu.
"Eeemmmm, Renata kangen banget sama Abaaang.! Kemarin Abang kemana aja sih.? Kok Abang enggak mau angkat telepon dari Renata.?" Rengek Renata dengan sangat manjanya, sambil terus memeluknya dengan erat dan menciumi leher, telinga, bibir dan wajah Diki tanpa henti-hentinya, karena sekarang ini ia benar-benar sangat rindu kepadanya, sehingga Diki yang sedang mabok pun tersenyum melihat tingkah lakunya.
__ADS_1
"Kemarin Abang sibuk sayaaaang, manja banget sih kamu ini.!" Ucap Diki sambil terus tersenyum dan mengusap-usap rambutnya.
"Tapi harusnya Abang angkat dong telepon dari Renata.! Abang kasih tau sama Renata kalau Abang ini lagi sibuk." Ucap Renata sambil cemberut manja.
"Eeemmmm udah, udah, udaaaah.! Jangan cemberut kayak gitu.! Nanti cantiknya ilang loh." Ucap Diki mencoba untuk merayunya lagi, kemudian ia pun langsung mengangkat tubuh Renata ke atas pangkuannya.
"Uup.!" Ucap Diki yang sudah berhasil mengangkat tubuhnya itu ke atas pangkuannya.
"B, B, Bang Diki mau ngapain.? Kok angkat Renata ke pangkuan Abang.?" Ucap Renata sambil tersenyum, karena sebenarnya ia sangat senang dengan perlakuannya itu.
Mendengar ucapan Renata, Diki tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum sambil menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam, sehingga membuat Renata pun bingung.
"B, b, bang Diki kenap,,,,,,,," Seketika ucapan Renata terpotong, karena tiba-tiba Diki langsung menjilat telinga dan lehernya dengan sangat pelan.
"Awww Baaaaang." Ucap Renata sambil mendesah kenikmatan dengan sangat manjanya dipangkuan Diki.
"Hemmm.! Enak yah.?" Ucap Diki pelan, sambil tersenyum dan mengusap-usap rambutnya.
"I, i, iya, enaaak." Ucap Renata dengan polosnya.
"Ya udah, kalau gitu sekarang Abang mau kasih kamu yang lebih enak lagi dari ini.!" Ucap Diki yang sudah mulai terpancing nafsunya.
"Lebih enak lagi dari ini.? Emang apaan Bang.?" Ucap Renata pura-pura tidak tahu dengan apa maksud dari ucapannya itu, sebenarnya ia sangat tau apa yang sekarang ini Diki pujaan hatinya itu mau.
"Kemarin kamu pengin apa sayang, sama Abang.?" Ucap Diki mencoba untuk mengingatkan apa yang kemarin Renata itu mau.
"Kemarin Renata pengin apa.? Renata enggak pengin apa-apa." Ucap Renata bingung, karena untuk sekarang ini ia benar-benar tidak tau dengan apa maksud dari ucapannya, dan sepertinya ia juga tidak inget dengan apa yang kemarin ia mau.
"Kamu ini bohong sayaaaang, kemarin kamu kan ngomong sama Abang.! Katanya kamu mau ini kamu nih.! Dimainin lagi sama Abang. Kamu mau Abang cium-cium ini kamu, Abang jilat-jilat, Abang mainin paket jari sampai basah, dan teruuus Abang masukin sama si jagoan Abang nih." Ucap Diki dengan keadaan yang masih beler, ia mencoba untuk mengingatkan apa yang kemarin Renata mau, sambil menunjuk ke arah juniornya yang sudah mengeras dan ia sebut sebagai jagoannya.
"Eeeemmm Abaaaag." Rengek Renata dengan sangat manjanya, sambil memeluknya lebih erat lagi, sehingga Diki yang sedang beler pun lagi dan lagi tersenyum melihat tingkah lakunya.
"Kenapaaa.? Kamu mau kan ini kamu Abang mainin lagi, sama si jagoan Abang nih.!" Ucap Diki sambil menunjuk kearah juniornya lagi.
"Iya Renata mauuu.! Tapi Renata pengin lihat dulu jagoannya Abang.! Renata kangeeen." Rengek Renata tak sabar ingin melihatnya, sehingga Diki pun langsung buru-buru membuka dan menunjukkan juniornya yang sudah mengeras dan siap bertempur ke medan perang itu kepadanya.
"Nih sayang.! Udah bangun kan.?" Ucap Diki sambil tersenyum dan mengusap-usap juniornya itu.
"Eeemmmm Renata sayang sama jangon Abang.! Renata pengin mainin." Rengek Renata dengan sangat manjanya sambil mengusap-usap juniornya itu, kemudian ia pun langsung memainkannya.
"Aaaahhh.! Ssstttttt Aaahhh.! Aduh sayaaaang, Aaaahhhh." Suara Diki mendesah karena saking nikmatnya permainan dari Renata yang sudah semakin berpengalaman itu, kemudian tanpa basa-basi ia pun langsung membaringkan tubuh Renata ke atas jok mobil tersebut, dan langsung memulai permainannya itu dengan sangat rakusnya, kasar dan tanpa henti-hentinya.
"Aw, aw, aw, aw bang Diki aw, aw, aw, aw, pelan-pelan bang.! Aw, aw, aw, aw, sakit baaaaang, aw, aw, aw, aw, aw, aw, aw." Suara Renata mendesah kesakitan sekaligus kenikmatan sambil memeluk Diki dengan begitu eratnya, sehingga Diki yang sedang mabok pun seketika nafsunya semakin menggila, dengan segera ia pun langsung melanjutkan permainannya lagi dengan penuh semangat, lebih kasar lagi, sekuat tenaga, sampai Renata pun lemas dan tak berdaya lagi dibuatnya, bahkan sampai-sampai mobil yang sedang ia pakai sebagai hotel pun bergoyang-goyang, sehingga Alana yang dari tadi masih memperhatikan mereka pun, seketika langsung mati kutu karena saking kaget dan syok melihat kelakuan mereka.
"E, e, enggak.! Enggak mungkin.! Ini aku lagi mimpi kan.? Enggak mungkin kan Bang Diki sama kak Renata lagi ngelakuin hubungan kayak gitu diuar nikah di dalam mobil.?" Ucap Alana dalam hati gugup dan tak percaya, bahkan seketika wajahnya pun berubah menjadi merah, karena perasaannya sekarang ini bercampur aduk, ia ada malu sendiri melihatnya, kesel, marah, bingung dan tak tau lagi harus bagaimana, kenapa bisa Diki seseorang yang menurutnya sangat-sangat berprilaku baik bisa melakukan hubungan seperti itu diluar nikah dengan Renata, kemudian dengan segera ia pun langsung melangkah masuk lagi ke dalam rumah sakit tersebut untuk menghampiri Devano dan meninggalkan Renata dan Diki yang masih terus asyik bercinta.
#######
Buat para readers, author mohon banget.!
__ADS_1
Jangan lupa like, coment, dan vote.!
Biar author tambah semangat lagi ngelanjutin ceritanya.