DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 61


__ADS_3

8 BULAN KEMUDIAN,,,,,


DI RUMAH ERIK.


Waktu menunjukkan pukul 08:00 malam.


Terlihat Dinda yang sedang berdiri didalam kamar, sambil menunggu Erik pulang dari kantor, dengan keadaan perut yang sudah membesar dan badannya pun terlihat lebih berisi, tidak seseksi dulu lagi.



Keadaan tubuhnya seperti itu, mungkin karena akhir-akhir ini ia jadi lebih doyan makan, namun meskipun seperti itu, demi buah hatinya bersama Erik yang paling ia sayangi dan ia nanti-nantikan, sekarang ini ia sudah bisa menerimanya, ia sudah tidak takut lagi meskipun badannya harus gendut sekali pun, karena yang terpenting untuknya sekarang adalah, anak yang ada di dalam kandungannya itu sehat.


Dinda menunggu Erik sudah cukup lama, akan tetapi Erik tak juga kunjung pulang, hingga akhirnya ia pun ketiduran.


Waktu menunjukkan pukul 11:00 malam.


Terlihat Erik yang baru saja pulang dari kantor, dan sedang berjalan menuju kamarnya sambil membawa beberapa bingkisan makanan kesukaan Dinda, karena ia pun sangat tau kalau Dinda istrinya yang sekarang ini sedang hamil besar itu sangat doyan makan.


"Hemmm, ternyata kamu udah bobo.? Mana perutnya dibuka lagi itu bobonya."



Kata Erik yang baru saja masuk ke dalam kamar, sambil tersenyum menatap kearah Dinda yang sudah tertidur pulas dengan keadaan perut yang sangat terbuka.



Kemudian ia pun langsung menghampirinya dan duduk tepat di sampingnya.


"Kasihan kamu, lama yah nungguin mas pulang.? Sampai-sampai kamu bobo kayak gini.?" Kata Erik dalam hati sambil mengusap-usap rambut Dinda.


"Padahal mas udah bawain makanan kesukaan kamu, tapi kamu malah udah bobo." Kata Erik lagi sambil tersenyum dan terus mengusap-usap rambutnya, sepertinya ia benar-benar sangat sayang dan perhatian kepada Dinda dan calon anaknya, sampai-sampai ia pulang malam dari kantor pun menyempatkan diri untuk membeli makanan kesukaannya.


"Euuuummmm." Suara Dinda terusik dari tidurnya.


"Ssssttttt.! Udah bobo lag,,,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong, karena ia melihat Dinda yang justru terbangun dari tidurnya.


"Mas Eriiiiik, mas Erik udah pulaaaang.?" Kata Dinda dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, sambil menatap kearahnya dengan tatapan mata sayu.

__ADS_1


Melihat Dinda terbangun dari tidurnya, Erik pun tersenyum.


"Iya mas udah pulang, kamu kesel yah nungguin mas pulang lama, hah.? Maafin mas yaaah.? Malam ini mas pulang malam lagi." Kata Erik pelan sambil terus mengusap-usap rambut Dinda.


"Iya enggak papa kok mas.! Lagiaaan, mas kerja sampai malam kaya gini kan untuk Dinda sama Dedeee, iya kaan.?" Kata Dinda sambil tersenyum, ia tidak marah sama sekali melihat Erik suaminya pulang malam, karena sepertinya sedikit demi sedikit sekarang ia sudah mulai dewasa dan tidak semanja dulu lagi sewaktu pertama menikah dengannya.


"Eeeemm pinter nih istri mas sekarang.?" Kata Erik sambil tersenyum.


"Oh iya.! Tapi kok istri mas bobo enggak pakai baju sih, perutnya dibuka.? Entar kedinginan loh dedenya." Kata Erik sambil mengusap-usap perut Dinda dengan penuh kasih sayang.


"Iya, soalnya tadi Dinda geraaah." Kata Dinda.


"Oooohhh gituuu.? Ya udah, sekarang bangun yuk.! Tuh mas udah bawain makanan kesukaan kamu, kan biasanya kalau malam-malam kaya gini, istri mas yang cantik ini, sama jagoan papah ini suka laper, iya kan.?" Kata Erik penuh perhatian, ia memanggil calon anaknya jagoan, karena tanpa sepengetahuan dari kita, ia dan Dinda sempat memeriksa dan meng USG calon anaknya itu, dan menurut dokter anak yang ada di dalam kandungan Dinda berjenis kelamin laki-laki.


"Asyiiiikk, makasih yah maaas.?" Kata Dinda sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung beranjak untuk bangun dan duduk tepat disampingnya.


"Eeeeeeemmmm mas Eriiiiik, Dinda sama dede sayang banget sama maaas.? Makasih yah maaas, mas udah bawain Dinda sama dede makanan.?" Kata Dinda sambil memeluk tubuh Erik dengan begitu eratnya.


"Iya, Dinda sama dede sekarang lapeeer, padahal tadi Dinda sama dede udah makan, tapi sekarang Dinda sama dede udah laper lagiiiii." Kata Dinda merengek manja, semenjak hamil besar ia memang gampang sekali laper, apalagi diwaktu malam seperti ini, itu sebabnya mengapa sekarang ini badannya menjadi berisi dan sudah tidak seseksi dulu lagi.


Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik pun tersenyum.


"Iiiiiiihhh maaaas, Dinda enggak Nduuuut.? Enggak, Dinda enggak Nduuuut.! Dinda masih seksi kok." Kata Dinda merengek sambil cemberut.


Melihat istrinya ngambek seperti itu, lagi-lagi Erik pun tersenyum, kemudian ia pun langsung mengeratkan pelukannya.


"Eeeemmm iya, iyaaa, Istri mas enggak Ndut kok.! Enggak, istri mas enggak Ndut.! Istri mas ini masih seksi.! Lagiaaan, kalau istri mas ini Ndut juga enggak papa kok, kan mas yang bikin istri mas yang seksi ini bisa jadi Ndut kaya gini, hah.?" Kata Erik sambil mencubit hidung Dinda, karena ia gemas melihat tubuhnya saat ini.


"Mas Eriiiiik, tapi Dinda enggak Nduuuut.? Nih yang Ndut cuma Dede doaang." Kata Dinda masih cemberut, sambil mengusap-usap perutnya.


"Iyaaa, Istri mas enggak Ndut kok.! Ya udah, sekarang kamu makan yah.? Sini biar mas suapin.!" Kata Erik penuh perhatian, kemudian ia pun langsung mengambil makanan yang baru saja ia bawa dan kemudian membukanya.


Mendengar kata-kata dari Erik, Dinda pun langsung tersenyum.


"Iya cepetan suapin.! Dinda sama Dede udah laper bangeeeeet.?" Kata Dinda merengek manja seperti anak kecil.


Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik hanya tersenyum, kemudian ia pun langsung mencoba untuk menyuapinya.

__ADS_1


"Eeemmmm kayaknya enak nih makanannya.? Udah ayo cepetan sekarang makan.! A biar mas suapin." Kata Erik perhatian.


"A." Kata Dinda sambil membukakan mulutnya.


"Ammmm," Kata Erik sambil tersenyum.


"Enak enggak sayang makanannya.?" Kata Erik sambil terus menyuapinya.


"Iya enak, lagi cepetaaan.! A," Kata Dinda tak sabar sambil membukakan mulutnya, kemudian ia pun langsung memakannya dengan sangat lahap, sehingga Erik pun tersenyum melihatnya, apalagi dengan keadaan tubuhnya yang Ndut itu.


"Iiiiihhhhhhhh mas kenapa sih.? Kok lihat Dinda senyum senyum gituuuu.?" Kata Dinda bingung.


"Eeeeemmmm Istri mas ini sekarang Ndut banget sih.? Jagoan papah juga sama nih, Ndut.! Papahnya sampai kaaalah sama kalian berdua.! Mamah sama jagoan papah ini makanya banyak bangeeeeet, jadi pada Ndut semuanya, papahnya kalah deh.!" Kata Erik sambil tersenyum karena senang melihat badan dan perut Dinda yang sekarang ini semakin berisi yang tetlihat sangat sehat.


"Iiiiiiihhhhh mas Eriiiiik, Dinda enggak mau Nduuuut.? Dede aja yang Ndut." Kata Dinda merengek dengan sangat manjanya.


Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik hanya tersenyum, kemudian ia pun langsung mengusap-usap perutnya dengan sangat pelan dan penuh kasih sayang.


"Jagoan papah sekarang lagi ngapain nih didalam perut mamaaaah, hah.? Maafin papah yaaaaah.? Sekarang papah pulang malam terus, papah jadi enggak bisa deh.! Usap-usap jagoan papah yang lama, soalnya papah sibuk terus di kantor." Kata Erik sambil tersenyum dan terus mengusap-usap perut Dinda.


"Iya papah enggak papa.! Yang penting nanti habis mamah makan, papah usap-usap Dede sampai Dede bobo." Kata Dinda sambil tersenyum dan menirukan suara gemas dari anak kecil.


"Iyaaaa, nanti papah usap-usap Dede sampai mamahnya bobo. Eh.! Sampai mamahnya bobo apa sampai Dedenya bobo nih.?" Kata Erik sambil tersenyum menggoda Dinda.


"Iiiihhh maaas " Kata Dinda merengek dengan sangat manjanya.


Melihat Dinda merengek seperti itu, Erik hanya tersenyum sambil mengusap-usap rambutnya.


"Oh iya mas.! Dinda sampai lupa, tadi mamah telepon Dinda, kata mamaaah besok Sania jadi tinggal disini.! Enggak papa kan maaas.? Biar Dinda ada temennyaaa, lagian kan akhir-akhir ini mas sibuk terus dikantor.! Dinda cuma takut kalau nanti perut Dinda sakit, mas enggak ada di rumah, enggak papa yah mas Sania tinggal disiniii.?" Kata Dinda memohon sambil memasang wajah melas.


"Katanya dulu Sania enggak jadi pindah kuliah sayang.? Emang sekarang dia jadi pindah.?" Kata Erik serius kalau memang dulu Sania memutuskan untuk tidak jadi pindah kuliah ke Jakarta.


"Iya mas, tapi sekarang Sania jadi pindah." Kata Dinda.


"Oooh gituuu.? Ya mas sih sebenarnya enggak papa kalau Sania mau tinggal di sini.! Malahan mas seneng kamu jadi ada temannya, tapi gimana yah.? Mas kan belum kenal sama Sania, jadi mas itu belum tau Sania itu orangnya kaya gimana.? Oh iya.! Tapi ngomong-ngomong Sania orangnya baik kan sayang.?" Kata Erik khawatir, karena ia memang belum kenal dengan Sania sebelumnya, dan ia juga belum tau sifatnya itu seperti apa, ia bisa sekhawatir itu, karena ia memang belum pernah membawa orang yang belum ia kenal masuk ke dalam rumahnya, apalagi sampai tinggal bersama dengannya.


"Maaas, Sania orangnya baik kok mas.! Boleh yah mas Sania tinggal di sini.? Biar Dinda ada temennya, Pleaseeeeeee.! Boleh yah maaaas.?" Kata Dinda lagi-lagi memohon sambil memasang wajah melas, berharap Erik menuruti kemauannya.

__ADS_1


Melihat istrinya memohon-mohon seperti itu, akhirnya Erik pun menuruti kemauannya itu, meskipun sesungguhnya ia masih sangat khawatir dengan kehadiran Sania.


__ADS_2