
DI RUMAH PAK IRSYAD.
Waktu menunjukkan pukul 09:00 Pagi.
Terlihat Erik yang sedang berdiri di depan mobilnya.
Sambil menatap kearah Dinda yang baru saja keluar dari dalam rumah dan sedang berjalan menghampirinya.
"Sayang, ayo cepetan udah siang nih.! Dari tadi dokter Tia udah nelponin mas terus." Teriak Erik menyuruh Dinda untuk lebih cepat lagi jalannya, karena tanpa sepengetahuan dari kita, ternyata dari tadi dokter Tia memang sudah menelepon Erik, karena ada sesuatu yang sangat penting yang akan Dokter Tia sampaikan kepadanya mengenai penyakit Dinda.
"Iya mas, ini juga Dinda jalannya cepet kok.!" Kata Dinda sambil berjalan lebih cepat lagi menghampiri Erik, hingga akhirnya ia pun sampai di hadapan Erik.
"Ya udah ayo.!" Kata Erik sambil buru-buru membukakan pintu mobilnya untuk Dinda, kemudian ia pun menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil tersebut, namun belum sempat Dinda masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggilnya.
"Dinda, Erik, tunggu.!" Teriak seseorang tersebut sambil berjalan melangkah menghampiri mereka berdua.
"Arya.?" Kata Erik sambil menatap kearah Arya yang sekarang ini sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Iya Rik, ini gw.! Kok loh pagi-pagi udah ada disini.? Bareng sama Dinda lagi, emang loh nginep disini.?" Kata Arya bingung melihat Erik bisa berada didalam rumahnya, karena seperti yang kita tau, semalam Erik datang ke rumah pak Irsyad sudah larut malam sehingga Arya pun sudah tidur.
"Ya iya lah saya ada disini bareng Dinda, kan Dinda istri saya, kenapa.? Enggak boleh saya nginep disini.?" Kata Erik nyolot tapi bercanda.
"Ya bukan gitu Rik, loh jawabnya enggak usah nyolot gitu juga kali.! Loh boleh kok Rik nginep disini, tinggal disini juga boleh, asal jangan loh jual aja ini rumah, kalau ini rumah loh jual, bisa dipecat loh jadi menantu pak Irsyad." Kata Arya sambil tersenyum menggoda Erik.
"Oh iya gw jadi lupa, kok kalian udah pada bareng-bareng lagi kaya gini.? Bukanya kemaren kalian pada ribut.?" Sambung Arya lagi semakin bingung dan penasaran, karena yang ia tau, Erik dan Dinda sekarang ini sedang mempunyai masalah besar, bahkan mereka sudah memutuskan untuk bercerai.
"Ya itu kan kemaren bukan sekarang, iya enggak sayang.?" Kata Erik dengan santainya sambil tersenyum.
"Iya doooong." Kata Dinda sambil tersenyum dan merangkul pinggang Erik, ia sengaja memanas-manasi Arya kakaknya yang sampai sekarang belum juga menikah.
"Yah kalian, giliran lagi pada akur aja mesra-mesraan kalian didepan gw.! Enggak inget kemaren pas lagi pada berantem." Kata Arya sewot.
"Loh kok mas jadi sewot sih.?" Kata Dinda sambil tersenyum, ia pura-pura tidak tau mengapa Arya kakaknya bisa sesewot itu.
"Enggak, siapa yang sewot.?" Kata Arya.
"Oh iya Rik, ngomong-ngomong loh kan udah terlanjur ambil cuti satu minggu dari kampus tuh, terus gimana.?" Kata Arya lagi, ia menanyakan hal seperti itu kepada Erik, karena ternyata saat Erik ribut dengan Dinda kemaren, Erik memang mengambil cuti dari kampus selama satu minggu, karena ia ingin menenangkan hati dan pikirannya.
"Cuti.? Maksudnya.?" Kata Dinda bingung mendengar ucapan Arya, karena ia memang tidak tau tentang hal tersebut.
__ADS_1
"Iya sayang, kemaren mas ambil cuti." Kata Erik mencoba untuk menjawabnya.
"Iiiihhh emang mas Erik mau kemanaaa.? Kok mas Erik ngambil cuti enggak kasih tau Dindaaa.?" Kata Dinda ngambek sambil cemberut, karena sepertinya ia lupa kalau kemaren ia dan Erik ribut dan tidak saling bicara.
"Sayaaang, kamu itu jangan ngambek duluuu.! Mas ambil cuti tuh pas kemaren waktu kita ribut." Kata Erik mencoba untuk memberi tahu Dinda kapan ia mengambil cuti tersebut.
"Soalnya pas ribut kemaren tuh, mas pusing banget mikirin kamu.! Makanya mas ambil cuti, karena mas pengin nenangin pikiran mas, tapi sekarang udah terlanjur ambil cuti, ya udah lah enggak papa diambil aja." Kata Erik lagi mencoba menjelaskan apa alasannya mengapa tiba-tiba ia mengambil cuti dari kampus.
Mendengar penjelasan dari Erik, seketika Dinda pun langsung memeluknya dengan begitu erat.
"Eeeemm mas Eriiiik, Dinda minta maaf.? Kemarin mas pusing yah mikirin Dind,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.
"Apa kata loh tadi Rik.? Loh jadi ambil cuti.? Bagus deh Rik kalau gitu, loh gantiin gw ke Jepang yah besok, buat ketemu klien.? Soalnya besok tuh gw sibuk banget Rik di kantor." Kata Arya.
"Ayo lah Riiiiik, bantuin gw yah.? Pleaseee.! Lagian ini juga kan perusahaan loh." Kata Arya lagi memohon sambil memasang wajah yang sangat melas, ia berbicara seperti itu karena memang perusahaan tersebut sudah diwariskan kepadanya dan juga Erik oleh pak Irsyad Ayahnya.
"Mas Erik, maksud mas Arya apa.? Besok mas Erik ke Jepang.?" Kata Dinda bingung, karena ia pun tidak tau tentang hal tersebut.
Mendengar pertanyaan Dinda, Erik pun tersenyum.
"Iya sayang, enggak pap,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong.
"Iiiihhh mas Erik enggak boleeeh.! Mas Erik enggak boleh ke Jepaaaang.? Dinda enggak mau mas, Dinda enggak mau mas Erik ke Jepaaaaang," Kata Dinda sambil merengek-rengek dengan mata yang berkaca-kaca, bahkan hampir menangis, karena memang ia benar-benar tidak mau ditinggal Erik pergi ke Jepang seperti yang Arya perintahkan kepada Erik suaminya itu, ia seperti itu karena ia benar-benar tidak bisa jauh darinya, karena seperti yang kita tau Erik memang belum pernah sekalipun meninggalkan Dinda pepergian jauh, kecuali kemaren waktu Ribut.
"Tapi mas Eriiiiik, Dinda enggak mau jauh dari mas Eriiiiiik, Dinda maunya bareng-bar,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.
"Ssssttttttt iya, iya mas tau, kamu enggak mau jauh-jauh dari mas, dan kamu maunya bareng-bareng terus sama mas, iya kan.?" Kata Erik sambil tersenyum.
"Tapi kamu harus dengerin mas dulu yaaah.? Emang kamu enggak kasihan sama mas Arya.? Mas Arya kan sekarang lagi banyak banget kerjaan di kantor, lagian emang kamu juga lupa.? Perusahaan papah ini kan juga tanggung jawab mas.! Jadiii, kamu enggak boleh kaya gitu yah.? Kamu harus izinin mas.! Atau gini dehhhh, kalau kamu izinin mas ke Jepang, mas janji deh sama kamu, kamu minta dibeliin oleh-oleh apaaaaaa aja, nanti pasti akan mas beliin gimana.? Kalau kamu enggak percaya, sekarang kamu ngomong sama mas, kamu mau dibeliin apa aja, hah.?" Kata Erik lagi panjang lebar, ia mencoba untuk merayu Dinda istrinya itu.
"Dinda enggak mau di beliin apa-apaaa, Dinda cuma mau mas Erik cepet-cepet pulang lagi kesini sama Dindaaaa.?" Kata Dinda sambil terus merengek dengan raut wajah yang sangat sedih.
Mendengar jawaban dari Dinda, Erik pun tersenyum, kemudian ia pun langsung mengeratkan pelukannya itu ke tubuh Dinda.
"Eeeeeemmm kamu tenang aja yaaah.? Setelah pekerjaan mas nanti beres, mas janji mas akan cepet-cepet pulang, lagian mas juga enggak mau jauh-jauh dari kamu." Kata Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda.
Melihat tingkah laku Erik dan Dinda yang sangat-sangat bucin, Arya yang memang dari tadi sedang berdiri di hadapan mereka pun hanya bisa tersenyum heran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gimana Rik, loh besok mau kan gantiin gw ke Jepang.?" Kata Arya lagi serius.
"Iya besok saya berang,,,,,,," Belum sempat Erik menyelsaikan ucapannya, namun sudah terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar ponselnya berdering karena ada pesan masuk dan ternyata yang mengirim pesan tersebut adalah dokter Tia, ia meminta Erik dan Dinda untuk cepat-cepat datang ke rumah sakit.
Setelah selesai membaca pesan tersebut, dengan segera Erik dan Dinda pun langsung buru-buru pergi menuju rumah sakit.
__ADS_1
1 jam berlalu,,,,,,,
DI RUMAH SAKIT.
Terlihat Erik yang sedang duduk di ruang tunggu, sambil menunggu Dinda yang sekarang ini sedang diperiksa oleh dokter Tia.
"Ya tuhaaaan, semoga tidak terjadi hal yang lebih buruk lagi kepada istri saya." Kata Erik dalam hati panik dan khawatir, karena ia sangat takut jika sampai terjadi hal yang lebih buruk lagi kepada Dinda istrinya.
Disaat ia sedang menunggu Dinda, tiba-tiba ia melihat Dokter Tia keluar dari ruangannya dan berjalan menghampirinya, sepertinya dokter Tia sudah selesai memeriksa Dinda.
"Dok, Dinda kenapa dok.? Apa perut mual Dinda tadi pagi ada hubungannya dengan penyakit Dinda saat ini.?" Kata Erik tergesa-gesa dan panik karena takut kalau perut mual Dinda tadi pagi, ada hubungannya dengan penyakit yang sedang Dinda derita saat ini.
"Pak Erik yang tenang yah.? Lebih baik sekarang pak Erik masuk ke ruangan saya dulu, biar nanti saya bicarakan dengan pak Erik dan Dinda di dalam." Kata Dokter Tia mencoba untuk mengajak Erik masu kedalam ruangannya, karena ada sesuatu hal yang sangat penting mengenai Dinda yang akan ia sampaikan kepada Erik dan juga Dinda, kemudian ia pun langsung melangkah masuk menuju ruangannya dan diikuti oleh Erik dari belakang.
Sesampainya mereka didalam ruangan tersebut, dokter Tia pun langsung duduk, begitu juga dengan Erik, ia pun terlihat langsung duduk disamping Dinda.
"Mas, Dinda takuuut.?" Kata Dinda merengkek ketakutan.
"Kamu yang tenang yaaah.?" Kata Erik pelan sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda, ia mencoba untuk menenangkannya, meskipun sesungguhnya sekarang ini perasaannya pun sama dengan perasaan Dinda saat ini.
Mendengar obrolan Erik dan Dinda, dokter Tia justru malah tersenyum, kemudian ia pun langsung memulai pembicaraannya.
"Pak Erik, Dinda, saya selaku dari pemilik rumah sakit ini benar-benar meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada pak Erik, dan terutama kepada Dinda, semua ini benar-benar kesalahan yang tidak disengaja dan semua ini adalah kesalahan dari pihak rumah sakit." Kata Dokter Tia serius meminta maaf kepada Dinda dan juga Erik, karena memang ada sebuah kesalahan yang sangat besar yang harus ia pertanggung jawabkan selaku pemilik dari rumah sakit tersebut, namun entah apa sebenarnya kesalahannya itu.
"Maksudnya.?" Kata Erik dan Dinda secara bersamaan bingung, karena mereka berdua benar-benar tidak tau apa sebenarnya maksud dari ucapan dokter Tia itu.
Melihat Erik dan Dinda kebingungan seperti itu, dengan segera dokter Tia pun langsung menjelaskan yang sejelas-jelasnya,
"Sebenarnya, Dinda itu tidak memiliki riwayat penyakit seperti yang Dinda takut-takutkan saat ini, dan semua ini adalah kesalahan dari pihak rumah sakit, saya selaku dari pemilik rumah sakit ini benar benar minta maaf yang sebesar-besarnya kepada pak Erik dan juga Dinda, karena ternyata hasil lab Dinda waktu itu, tertukar dengan hasil lab salah satu dari pasien di rumah sakit ini." Kata Dokter Tia pelan dengan raut wajah yang sangat bersalah, sambil terus meminta maaf kepada Erik dan juga Dinda.
"M, m, maksudnya.? S, s, saya enggak sakit Dok.?" Kata Dinda gugup dan kaget, dengan suara bergetar karena menahan tangis, karena sekarang ini ia benar-benar terharu sekaligus senang mendengar pernyataan dari Dokter Tia itu.
"Dok, berarti selama ini Dinda enggak sakit Dok.?" Sambung Erik yang juga kaget sekaligus senang mendengar pernyataan dari Dokter Tia itu.
"Iya, Dinda tidak sakit." Kata Dokter Tia serius.
Melihat Dokter Tia seserius itu, seketika Dinda pun langsung menangis.
"Hiks,,,,, hiks,,, mas Erik, hiks,,, hiks,,, Dinda enggak hiks,,, hiks,, sakiiiit.? Hiks,,, hiks,,, Dinda enggak hiks,,, hiks,,, sakit mas Eriiiiiik.?" Kata Dinda sambil terus menangis, karena saking senangnya.
Mendengar ucapan Dinda, seketika Erik pun langsung memeluknya dengan begitu erat.
"Iya, kamu enggak sakit sayang, kamu enggak sakiiiiiit," Kata Erik pelan dengan mata yang berkaca-kaca sambil menciumi rambut dan kening Dinda tanpa henti-hentinya, karena sekarang ini ia pun benar-benar bahagia sekaligus terharu mendengar pernyataan dari dokter Tia.
__ADS_1