
"Cieeeeee yang keperawanannya udah direnggut sama pak Erik, kayaknya seneng banget sih.?" Kata Tika sambil tersenyum dan terus menggoda Dinda.
"Tapi entar dulu deh Din.! Emang pak Erik bisa yah ngelakuin itu sama loh.? Emang pak Erik bisa romantis gitu.? Secara pak Erik itu kan orangnya galak, dingin, cuek lagi sama perempuan, terus kalau pak Erik lagi pengin gitu-gituan sama loh, mintanya kaya gimana.?" Kata Tika lagi penasaran, karena ia sangat tau kalau sifat Erik itu memang seperti itu.
"Loh enggak tau sih, pak Erik itu aslinya kaya gimana.? Pak Erik itu aslinya baiiiiik banget.! Udah baik, dewasa, perhatian, penyayang, pokonya pak Erik itu aslinya sangat berbeda lah dari penampilan luarnya, sampai-sampai aku nih yah.? Yang tadinya benci banget sama pak Erik, bisa jadi sesayang ini sama pak Erik." Kata Dinda, sambil tersenyum dan membayangkan betapa baiknya Erik kepada dirinya.
"Iiiiiihhh gw juga mau donggggggg punya suami kaya pak Er,,,,,," Seketika ucapan Tika terpotong, karena tiba-tiba ia melihat Ria yang baru saja datang dan masuk ke dalam ruang kelasnya.
"Tika, jangan kasih tau Ria masalah pernikahan aku sama pak Erik yah.? Loh kan tau sendiri Ria itu orang nya kaya gimana.? Ria kan ember banget." Bisik Dinda panik dan ketakutan, kalau sampai Tika memberi tau kepada Ria tentang masalah pernikahannya dengan Erik, karena menurutnya, Ria itu ember.
"Iya udah, kamu tenang aja.!" Kata Tika, kemudian ia pun langsung menyapa Ria yang sekarang ini sudah duduk di bangkunya.
"Eh Ri, kok tumben sih loh jam segini baru datang.?" Kata Tika penasaran.
"Iya nih, tadi mobil gw mog,,,,,,,," Belum sempat Ria menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong.
"Selamat pagi semuanya.?" Kata Erik yang baru saja masuk kedalam ruang kelas Dinda, karena kebetulan pagi ini adalah jam mata kuliahnya.
"Pagi pak.!" Kata semua mahasiswa dan mahasiswinya yang berada di ruang kelas tersebut.
"Ok langsung saja, ini tugas buat kalian.? Tolong langsung di kerjakan sekarang dan dikumpulkan hari ini juga." Kata Erik sambil membagi satu-persatu tugas tersebut kepada mereka semua.
"Ya ampun Dindaaa, pak Erik itu ganteng banget siiih.? Eeemmm gw jadi iri deh sama loh." Kata Tika pelan, sambil tersenyum memandangi wajah tampan Erik, karena ia benar-benar sangat terpesona dengan ketampanannya itu.
"Iya Tik, ganteng bangeeet.? Aku juga sebagai istrinya bingung dan enggak ngerti lagi kenapa bisa punya suami seganteng dan setampan itu.?" Kata Dinda sambil tersenyum dan terbengong memandangi wajah tampan Erik.
Mendengar obrolan dari Dinda dan Tika, dengan segera Erik pun langsung menghampirinya.
"Dinda, Tika, kalian itu kalau mau ngobrol di luar.! Jangan berisik disini, suara kalian itu mengganggu teman-teman kalian yang sedang belajar, ngerti kalian.?" Kata Erik tegas dan dingin dengan raut wajah yang sangat marah.
Melihat raut wajah Erik semarah itu, seketika Tika pun langsung terdiam dan tertunduk.
"I, i, iya pak, maaf.?" Kata Tika gugup, karena ia benar-benar sangat takut kalau sampai Erik dosennya itu akan menghukumnya, akan tetapi tidak dengan Dinda, melihat Erik semarah itu, ia justru terlihat santai dan biasa saja, bahkan ia malah terlihat tersenyum dengan sangat manja kepadanya.
Melihat Dinda tersenyum seperti itu kepada dirinya, alih-alih membalas senyumannya, Erik malah justru marah-marah kepadanya.
"Kamu kenapa senyum kayak gitu.? Tugas kamu udah dikerjain belum.?" Kata Erik dengan suara tinggi sambil menatap tajam wajah Dinda.
"Apa.? Tadi aku enggak salah dengar kan.? Mas Erik marah-marah sama aku.?" Kata Dinda dalam hati, kaget dan tak percaya mendengar Erik suaminya masih berani marah-marah kepada dirinya, karena ia mengira sekarang ini Erik sudah berubah, apalagi mengingat akhir-akhir ini Erik selalu memperlakukannya dengan sangat baik.
"Kenapa kamu diam.? Cepet kerjakan tugas dari saya.!" Kata Erik lagi sambil terus menatap tajam wajah Dinda, kemudian ia pun langsung melangkah pergi menuju tempat duduknya.
"Iiiihhh mas Erik itu kenapa sih.? Aneh banget, tadi aja di mobil baik banget ke aku.? Aku cium-cium, aku peluk-peluk mas Erik enggak marah, terus kenapa sekarang marah-marah lagi sama aku.?" Kata Dinda dalam hati kesel dan semakin bingung dengan sikap Erik yang suka berubah-rubah.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan, mas Erik sebenerenya enggak sayang lagi ke aku, mas Erik cuma mau manfaatin aku doang.? Secara mas Erik kan baiknya kalau lagi berduaan doang sama aku, buktinya sekarang mas Erik udah kumat lagi marah-marah.? Iiiiihhh bodoh banget sih aku, mau aja dimanfaatin sama mas Erik.?" Kata Dinda lagi dalam hati, sambil menatap sinis wajah pak Erik.
Melihat Dinda menatapnya seperti itu, Erik hanya terdiam dan tidak menghiraukannya, meskipun sesungguhnya ia sangat tau apa yang sedang Dinda rasakan saat ini.
DI KANTIN.
Waktu menunjukkan pukul 11:00 siang.
Terlihat Dinda, Tika dan juga Ria yang sedang duduk di dalam kantin sambil asyik ngobrol.
"Oh iya, kalian itu tadi berisik banget lagi ngomongin apaan sih.? Kayak enggak ada waktu lagi aja tau enggak.? Udah tau pak Erik itu galak, masih aja mancing-mancing emosinya." Kata Ria penasaran dan kesal karena Dinda dan Tika yang berisik dijam mata kuliah Erik, yang mengakibatkan mereka dimarahin habis-habisan olehnya.
"Udah lah enggak usah ngomongin pak Erik, males tau enggak sih.? Mendingan kita pesen makanan aja yuk.?" Kata Dinda masih kesel mengingat perlakuan Erik kepadanya.
"Iya bener banget tuh kata Dinda, lebih baik kita pesen makanan.! Gw udah lapar banget nih.? Mungkin efek kena marah pak Erik kali yah, jadi laper kaya gini.?" Kata Tika sambil tersenyum, kemudian mereka bertiga pun langsung buru-buru memesan makanan kesukaannya masing-masing.
"Bu, aku pesen baso satu yah.?" Teriak Tika kepada ibu kantin.
"Iya Bu, aku juga mau sat,,,,,,," Seketika terikan Dinda terpotong, karena ia melihat Erik yang juga sedang berada di kantin sedang membeli air mineral.
"Iiiiiiihhhhh ngapain sih harus ada mas Erik disini.?" Kata Dinda dalam hati kesel, sambil menatap sinis wajah Erik.
Melihat Dinda menatapnya seperti itu, Erik justru malah pun tersenyum.
Melihat tingkah laku istrinya seperti itu, Erik pun lagi-lagi tersenyum.
"Hemmmm, lucu banget sih kamu.?" Kata Erik dalam hati sambil menatap kearah Dinda, kemudian ia pun langsung mengirimkan caht kepadanya, TING.! Suara ponsel Dinda berdering.
"Chat dari siapa nih.?" Kata Dinda sambil buru-buru mengambil ponselnya.
"Iiiihhh apaan sih.? Orang dekat juga, ngapain pake kirim-kirim chat segala.?" Kata Dinda dalam hati kesal sambil menatap sinis Erik, kemudian ia pun langsung membuka chat tersebut.
"Temui mas di gudang belakang.!" Isi pesan dari Erik.
"Enggak mau.!" Balas Dinda singkat, ia menolak perintah Erik, karena sekarang ini ia benar-benar masih sangat kesal kepadanya.
"Harus mau.! Mas lagi jalan menuju gudang, Temui mas cepetan.!" Balas Erik lagi.
"Iiiiihhhh apaan sih mas Erik.?" Kata Dinda dalam hati kesel membaca pesan dari Erik yang seperti memaksanya.
"Tika, Ria, aku ke toilet dulu yah.?" Kata Dinda terpaksa berbohong, karena ia tidak mau kalau sampai mereka berdua tau, kalau ternyata sekarang ini ia berniat pergi ke gudang untuk menemui Erik.
"Oh, ya udah sanah.!" Kata Tika dan Ria secara bersamaan.
__ADS_1
"Ya udah, aku ke toilet dulu yah.?" Kata Dinda sambil buru-buru melangkah pergi menuju gudang, tempat dimana Erik mengajaknya bertemu.
Sesampainya Dinda di depan gudang, ia melihat pintu gudang yang sudah terbuka, perlahan ia pun mencoba untuk masuk kedalam gudang tersebut dan kemudian langsung menutup pintunya.
"Mas Erik, mas Erik dimana.?" Kata Dinda pelan, sambil menengok ke kanan dan ke kiri seisi ruangan gudang tersebut.
"Maaaas, mas Erik diman,,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong, ia kaget bukan main karena tiba-tiba lampu di dalam gudang tersebut mati, sehingga gudang terlihat sangat gelap dan sunyi.
"Hiks,,, hiks,,, mas Erik, hiks,,, hiks,,, mas Erik dimanaaa.? Hiks,,, hiks,,, Dinda takuuut.? Hiks,,, hiks,,, Dinda takut maaas.?" Kata Dinda panik dan ketakutan sambil menangis.
"Hiks,,, hiks,,, maaass.? Dinda tak,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong, karena tiba-tiba Erik memeluknya dari belakang.
"Ssssssttttt kamu enggak usah takut.! Mas ada disini kok." Kata Erik pelan, sambil terus memeluk Dinda dan menciumi leher, dan pundaknya dengan sangat pelan dan lembut.
"Hiks,, hiks,, mas Erik Dinda takuuuuut.? Hiks,, hiks,,, gelaaaap.? Hiks,, hiks,, nyalain lampunyaaa.!" Kata Dinda pelan, sambil buru-buru berbalik menghadap ke arah Erik, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan begitu erat, karena sekarang ini ia benar-benar sangat takut.
"Ssstttttt.! Udah, udah enggak usah takut.!! Kan ada mas disini.?" Kata Erik pelan sambil mengusap-usap rambut Dinda dengan penuh kasih sayang.
"Mas Erik mau ngapain ngajak Dinda kesini.?Dinda enggak mau disini gelaaaap, Dinda takuuuut.?" Kata Dinda sambil merengek dengan sangat manjanya.
Mendengar rengekan dari Dinda, perlahan Erik pun mencoba untuk melepaskan pelukan erat Dinda dari tubuhnya, kemudian ia pun langsung menatap wajah cantik Dinda dengan begitu dalamnya.
"Mas minta maaf yah.? Tadi di kelas mas udah marah-marah sama kamu.? Tadi di kelas itu mas enggak benaran marah kok sama kamu.?" Kata Erik serius.
"Hiks,, hiks,, mas bohong.! Tadi mas beneran marah sama Dinda, hiks,, hiks,, mas jahat sama Dinda, mas udah enggak sayang lagi sama Dinda." Kata Dinda kesel sambil cemberut.
"Enggak sayaaaang, beneraan.! Lagian mana mungkin siiiiih, mas bisa marah sama istri mas yang paling cantik dan seksi iniiii, hah.?" Kata Erik pelan sambil tersenyum dan mencubit manja hidung Dinda, sepertinya sekarang ini ia sedang ingin manja-manjaan dengan Dinda istri tersayangnya itu.
"Dinda enggak percaya, tadi mas marahnya beneraan.? Dinda senyum sama mas, tapi mas malah marah-marah sama Dinda, kan Dinda malu maaas, dilihatin sama temen-temen Dinda.?" Kata Dinda merengek manja, sambil terus cemberut.
Melihat tingkah laku istrinya yang sangat manja, Erik pun tersenyum.
"Eeeemmm kasihan istri mas ini.? Tadi kamu malu yah dimarahin di depan temen-temen kamu.? Mas minta maaf yaaaah.?" Kata Erik pelan sambil mengusap-usap rambut Dinda.
"Enggak mau.! Dinda enggak mau maafin mas, Dinda kesel sama mas, Dinda marah sama mas.!" Kata Dinda ngambek sambil terus cemberut.
"Eeemmmm bener nih enggak mau maafin mas.?" Kata Erik sambil memasang wajah melas.
"Enggak mau.!" Kata Dinda ketus.
"Eeemmm gimana kalau minta maafnya pake cium, masih kesel dan masih marah enggak sama mas.?" Kata Erik sambil tersenyum, ia mencoba merayu Dinda seperti itu, karena ia sangat tau kalau Dinda istrinya itu sangat haus akan belaian dan sentuhan darinya.
Mendengar tawaran dari Erik, seketika Dinda pun langsung tersenyum.
__ADS_1
"Dinda mau mas Eriiiiiik, Dinda mau ciuuuum.?" Kata Dinda sambil merengek manja seperti anak kecil.