DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 32


__ADS_3

DI RUMAH DEVANO.


Waktu menunjukkan pukul 05:30 Sore.


Terlihat Kiara yang baru saja sampai di rumah dan masuk kedalam kamarnya, begitupun juga dengan Devano dan juga Alana, merekapun terlihat langsung masuk ke dalam kamar mereka.


"Mas Devano, bukanya kata mas tadi, mamah sama papah udah ada disini yah.?? Tapi kok dari tadi, Alana lihat-lihat mereka enggak ada sih mas.??" Kata Alana bingung karena dari ia masuk ke dalam rumahnya, ia tidak melihat adanya pak Erik dan Dinda mertuanya itu, yang katanya sudah berada di rumahnya dan sekarang ini sedang menunggunya pulang.


"Di ruang tamu enggak ada, di ruang keluarga enggak ada juga, di kamar Kiara juga enggak ada.?? Terus mamah sama papah ada di mana yah m,,,,,,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.


"M, m, mas Devanooo.?? M, m, mas Devano lagi ngapain.??" Kata Alana gugup dan bingung melihat Devano yang tiba-tiba berlutut tepat di hadapannya.


Melihat Alana gugup seperti itu, Devano pun tersenyum.


"Ini kado buat kamu.??" Kata Devano serius sambil menunjukkan satu buah cincin berlian yang sangat mewah.



Karena cincin tersebut pun ternyata adalah salah satu kado yang sudah ia niatkan, yang akan ia berikan kepada Alana istrinya itu waktu di taman tadi.


"M, m, mas Devano,,, m, m, mas Devano serius.?? C, c, cincin ini,,, k, k, kado untuk Alana.??" Kata Alana masih gugup, karena ia benar-benar tidak percaya dengan ucapan Devano suaminya itu, karena menurutnya Devano itu adalah suami yang tidak pernah perduli kepadanya.


"Iyaa,,," Kata Devano singkat sambil tersenyum.


"Cincin ini adalah kado untuk kamu, dihari ulang tahun kamu sekarang ini." Kata Devano lagi, ia mencoba untuk meyakinkan Alana kembali, kalau semua ucapannya itu memang benar.


"M, m, mas serius mas.??" Kata Alana masih gugup dan tak percaya dengan ucapan Devano itu.


Melihat Alana yang seperti tidak percaya dengan ucapannya, lagi-lagi Devano pun tersenyum.


"Sini mana tangannya.?? Biar cincin ini mas yang pakein." Kata Devano serius, perlahan ia pun memegang lembut tangan Alana istrinya itu, kemudian ia pun langsung mengambil cincin tersebut dari kotaknya.


"Sekarang mas yang pakaiin yah cincinnya.??"



Kata Devano sambil tersenyum dan menatap dalam wajah Alana.


"M, m, mas Devano.??" Kata Alana gugup dan masih tak percaya dengan semua yang sekarang ini sedang Devano lakukan kepada dirinya.


Melihat Alana gugup seperti itu, perlahan Devano pun memasukkan cincin tersebut tepat dijari manisnya.



"Kamu suka kan, hah.??" Kata Devano pelan, sambil tersenyum dan menatap dalam wajah Alana.


Mendengar kata-kata dari Devano, Alana pun langsung menganggukkan kepalanya.


"I, i, iya mas.! A, A, Alana suka." Kata Alana gugup sambil tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca, karena sekarang ini ia benar-benar sangat terharu sekaligus bahagia, karena ternyata Devano suaminya itu perduli juga kepada dirinya.


Melihat Alana terharu seperti itu, perlahan Devano pun berdiri, kemudian ia pun langsung memeluk tubuh Alana dengan begitu eratnya.


"Eeemmmm,,, selamat ulang tahun yaaah.??" Kata Devano pelan sambil mengusap-usap rambut Alana istrinya itu.


Mendengar kata-kata dari Devano, Alana hanya terdiam, ia tidak menjawab sepatah kata pun, seketika ia pun langsung menangis di pelukan Devano suaminya itu.


"Hiks,,, hiks,,,hiks,,," Suara Alana menangis karena saking bahagianya.


Mendengar Alana menangis seperti itu, lagi-lagi Devano pun tersenyum.


"Eeeeemmmm udah, udaaah, jangan nangiiiis.!!!" Kata Devano pelan sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh Alana.


"Hiks,, hiks,, Alana seneng dapat kado dari hiks,, hiks,, mas.?? Hiks,, hiks,, Alana seneng ternyata mas hiks,, hiks,, perduli juga sama hiks,, hiks,, Alana.?? Hiks,, hiks,, Alana juga seneng hiks,, hiks,, ternyata mas, hiks,, hiks,,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.


"Ssssssttttt.!!! Udah, udah, udaaaah.!!" Kata Devano pelan, sambil terus mengusap-usap rambut Alana, perlahan ia pun mencoba untuk melepaskan pelukannya itu.


"Udah jangan nangis lagi, yaaahh.??" Kata Devano pelan sambil tersenyum dan mengusap air mata Alana yang menetes di pipinya, kemudian ia pun mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah cantik Alana, perlahan ia pun mencoba untuk memejamkan matanya, karena sepertinya lagi-lagi ia ingin mencium bibir seksi Alana istrinya itu.


Melihat Devano memejamkan matanya seperti itu, perlahan Alana pun ikut memejamkan matanya.


"M, m, mas Deeeev.??"



Kata Alana pelan, dengan suara nafas yang terdengar sangat ngos-ngosan, sepertinya lagi-lagi Alana telah terbuai oleh rayuan manis Devano suaminya itu.


Melihat Alana seperti itu, perlahan Devano pun mencoba untuk menciumnya.


"Maaaasss.??"



Kata Alana pasrah, dengan suara nafas yang terdengar masih sangat ngos-ngosan.


Melihat Alana pasrah seperti itu, Devano pun langsung menciumnya.



Setelah puas menciumi Alana, perlahan ia pun mencoba untuk menyudahinya, kemudian ia pun tersenyum sambil memandangi wajah cantik Alana istrinya itu.


"Kamu ini memang cantik.??" Kata Devano sambil membelai lembut wajah cantik Alana istrinya itu, akhirnya sekarang ini ia sudah berani memuji kecantikan Alana langsung di hadapannya.

__ADS_1


Mendengar pujian dari Devano, Alana pun langsung tersenyum.


"Alana sayang sama mas.??" Kata Alana manja, sambil menatap dalam wajah Devano.


"Iyaa,,,," Kata Devano sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Alana.


"Ya udah, mas mau mandi dulu yah.?? Soalnya sekarang ini mas harus cepat-cepat berangkat ke pesta ulang tahun temen mas." Kata Devano serius, sambil buru-buru melangkah menuju kamar mandi.


"Mas mau ke pesta ulang tahun temen mas.?? A, A, Alana ikut yah mas.??" Kata Alana gugup, ia mencoba meminta izin kepada Devano untuk ikut ke acara pesta tersebut bersama dengannya.


"Enggak bisa dong Alanaaa, kan mas ke pestanya mau sama kak Laras.??" Kata Devano dengan santainya, setelah apa yang baru saja ia lakukan kepada Alana, kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru melanjutkan langkahnya kembali menuju kamar mandi.


"Apa.?!!! Mas Devano mau ke pesta ulang tahun temenya, sama kak Laras.?? Aku benar-benar enggak habis pikir, sebenarnya mas Devano itu anggap aku ini apa sih.?? Aku bener-bener enggak ngerti.!! Tiba-tiba mas Devano baik, romantis, bahkan mas Devano juga cium-cium aku, tapi sekarang,,, dengan mudahnya mas Devano ngomong kayak gitu di depan aku, setelah apa yang baru saja mas Devano lakuin ke aku.??" Kata Alana dalam hati sedih dan kecewa dengan sikap Devano suaminya itu.


"Apa mas Devano itu cuma mau mempermainkan aku.?? Karena dari kemarin-kemarin aku selalu nurutin kemauan,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.


"Alanaaa, kamu kenapa.?? Kok mas lihatin, dari tadi kamu diem aja.??" Kata Devano yang sudah keluar dari kamar mandi, yang sekarang ini sudah siap untuk pergi ke pesta ulang tahun Tania mantan kekasihnya itu.


"Eh, iya kenapa mas.?? O, o, ohhh e, e, enggak,,, A, A, Alana enggak papa.!!" Kata Alana gugup karena sekarang ini ia sedang berbohong.


Melihat Alana gugup seperti itu, Devano pun tersenyum.


"Ya udah kalau gitu, mas pergi dulu yah.??" Kata Devano sambil tersenyum, seperti tidak punya salah, kemudian ia pun langsung mencium bibir Alana MMMUACH.!!!


"Ya udah,,, kamu jaga diri yah di rumah.??" Kata Devano lagi sambil mengusap-usap rambut Alana, kemudian ia pun langsung pergi meninggalkan Alana hanya sendiri di dalam kamar.


"Bener-bener yah mas Devano itu laki-laki yang enggak punya hati.!! Emang mas Devano pikir aku ini perempuan apaan.?? Yang bisa mas Devano cium-cium semau dan sesuka hatinya." Kata Alana dalam mati, sedih dan kesal melihat tingkah laku Devano, yang menganggapnya seperti perempuan murahan yang bisa dengan mudah ia cium-cium.


"Pokoknya aku enggak boleh diam dan nurut terus seperti ini.?? Aku juga harus bisa cari kebahagiaan untuk diri aku sendiri, aku harus bisa cari kakak-kakak yang dulu pernah nolongin ak,,,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.


"Tok.!!! Tok.!!! Tok.!!! Alana,,, Devano,,, ini mamah sayang, bukain dulu pintunya.!!" Kata Dinda dari balik pintu kamar Alana, sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut, ia datang ke rumah Devano, karena ia mau menjemput Kiara putri kecilnya itu.


"I, i, iya mah iya.!! I, i, ini Alana mau bukain pintunya." Kata Alana gugup sambil buru-buru melangkah menuju pintu kamarnya, kemudian ia pun langsung membuka pintu kamar tersebut.


"Kamu sendirian sayaaang.?? Mas Devano nya kemana.??" Kata Dinda bingung karena ia tidak melihat adanya Devano di dalam kamar tersebut.


"I, i, itu mah.!! M, m, mas Devano nya pergi ke pesta ma,,,,,," Seketika Alana pun langsung terdiam.


"Aduuuuhhh kok aku malah jujur kayak gini sih sama mamah.?? Nanti kalau mamah curiga gimana.?? Masa Devano ke pesta enggak ajak istri,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.


"Apa.?!! Sekarang ini Devano ke pesta, tapi kamu enggak di ajak.?!!" Kata Dinda dengan suara tinggi karena ia kaget mendengar kata-kata dari Alana menantunya itu.


"I, i, iya mah.!! S, s, soalnya,,, t, t, tadi mas Devano nya lagi buru-buru mah.!!! T, t, terus kan,,,, A, A, Alana nya juga belum mandi,,, j, j, jadi mas Devano nya,,, e, e, enggak keburu mah.!!! K, k, kalau harus nunggu Alana mandi dulu." Kata Alana gugup karena sekarang ini sedang berbohong, untuk menutupi kelakuan buruk Devano suaminya itu, karena ia tidak mau kalau sampai Dinda mamah mertuanya itu tau dengan kelakuan Anaknya yang sebenarnya itu seperti apa.


"Enggak bisa, enggak bisa.!!! Sekarang juga kamu mandi, terus kamu dandan yang cantik.!! Kamu pakai gaun yang waktu itu mamah beliin untuk kamu, cepatan.!!!" Kata Dinda menyuruh Alana untuk cepat-cepat mandi dan dandan yang cantik.


"S, s, sekarang Alana mandi.?? T, t, terus dandan yang cantik.?? E, e, emang sekarang ini Alana mau kemana mah.??" Kata Alana gugup dan bingung, karena ia benar-benar tidak tau mengapa tiba-tiba Dinda mamah mertuanya menyuruhnya seperti itu.


"Udah, Kamu jangan banyak tanya sayang.?!! Sekarang juga cepetan kamu mandi.!! Nanti biar mamah yang dandanin kamu, biar kamu ini tambah cantik." Kata Dinda lagi-lagi menyuruh Alana seperti itu, namun entah apa maksud dan tujuannya mengapa tiba-tiba ia menyuruhnya seperti itu.


"Udaaaah, sekarang kamu mandi.!! Jangan banyak tanya, nanti juga kamu tau sendiri.?? Nanti biar mamah yang dandanin kamu, mamah kan jago dandan." Kata Dinda lagi-lagi menyuruh Alana untuk cepat-cepat mandi.


"I, i, iya mah,,," Kata Alana gugup sambil buru-buru masuk kedalam kamar mandi.


DI TEMPAT BERBEDA, DI PESTA ULANG TAHUN TANIA.


Waktu menunjukkan pukul 09:00 Malam.


Terlihat Tania yang sedang berdiri sambil mondar-mandir menunggu kedatangan Devano, karena seperti yang kita tau, sampai sekarang ini pun ia masih berharap Devano akan kembali lagi kepada dirinya.


"Iiiiiiihhhhh perasaan tamu-tamu yang lain udah pada datang, tapi kok Devano sampai sekarang belum juga kelihatan yah.??" Kata Tania dalam hati panik kalau sampai Devano tidak datang di acara pesta ulang tahunnya itu.


"Apa jangan-jangan.!! Devano enggak datang lag,,,,,," Seketika ucapan Tania terpotong.


"E, e, ehhh tunggu dulu, tunggu dulu.!!! Itu kayaknya Diki deh.??" Kata Tania lagi dalam hati, sambil menatap kearah Diki yang sedang berjalan menghampirinya.


"Hay Tania, selamat ulang tahun yah.?" Kata Diki sambil tersenyum dan memberikan selamat kepadanya.


"Iya thanks yah Dik." Kata Tania sambil tersenyum.


"Oh iya Dik, emang kamu kesini enggak bareng Devano yah.?? Emang Devano enggak kesini.??" Kata Tania penasaran.


"Oh e, e, enggaaak,,, gw kesini sendiri.!! Mungkin masih di jalan kali Devano nya, tapi tadi sih Devano telepon gw,,, katanya dia datang kok ke acara kamu ini." Kata Diki mencoba untuk menjawab pertanyaan dari Tania, ia berbicara seperti itu karena tanpa sepengetahuan dari kita, tadi Devano sempat telepon dan berbicara seperti itu kepadanya.


"Oooohhh,, tadi Devano telepon kamu ngomong kayak gitu Dik.??" Kata Tania sedikit lega karena akhirnya ia tau, kalau malam ini Devano mantan kekasihnya datang di acara pesta ulang tahunnya itu.


"Iya Tan, tadi Devano telepon ngomong kayak git,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.


"E, e, ehhh tunggu dulu, tunggu dulu.!! Itu kayaknya Devano deh Tan." Kata Diki sambil menatap kearah Devano yang baru saja sampai dan masuk kedalam gedung, yang sekarang ini sedang berjalan menggandeng Laras kekasihnya itu.


"Devano itu kenapa sih.?? Udah gw bilangin berkali-kali juga.! Jauhin Laras, jauhin Laras, jauhin Laras.!!! Ehhh malah berani-beraninya ke kesini bawa Laras, enggak kasihan apa sama Alana.??" Kata Diki dalam hati kesel, karena tanpa sepengetahuan dari kita ternyata Diki sudah berkali-kali mengingatkan Devano untuk jauhin Laras, karena ia kasihan kepada Alana, karena seperti yang kita tau Diki dan Siska yang tak lain adalah adik Diki sendiri, sudah mengenal Alana dan Laras dari sejak mereka masih kecil, jadi ia tau semuanya tentang perbedaan sifat Alana dan sifat Laras.


"Apa.?!! Gw enggak salah lihat kan.?? Perempuan itu serius istrinya Devano.?? Kampungan banget sih.!!! Cantikan juga gw dari pada dia." Kata Tania dalam hati dengan sombongnya, sambil menatap kearah Laras yang masih terus digandeng oleh Devano, ia berbicara seperti itu, karena setaunya Laras itu adalah istri dari Devano, ia tidak tau kalau istri Devano yang sebenarnya itu adalah Alana.


"Hay Dev.!!!" Teriak Diki menyapa Devano.


"Hay Dik."



Teriak Devano sambil tersenyum membalas sapaan dari Diki sahabatnya itu, kemudian ia dan Laras pun langsung berjalan menghampiri Diki dan juga Tania.

__ADS_1


"Hay Tan, selamat ulang tahun yah.??" Kata Devano sambil tersenyum dan memberikan selamat kepada Tania, karena sepertinya ia sudah melupakan kejadian 10 tahun yang lalu, saat Tania selingkuh dengan Rasya dibelakangnya, karena memang sekarang ini ia sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa lagi kepada Tania mantan kekasihnya itu.


"Iyaaa, makasih yah Dev.??" Kata Tania sambil tersenyum dan sok cantik di hadapan Devano, berharap Devano akan tertarik lagi kepada dirinya.


"Oh iya Dev, ini,,,,,," Kata Tania lagi sambil menatap kearah Laras yang sedang berdiri tepat di samping Devano.


"Oh iya maaf gw lupa, Kenalin.!! Ini Laras, kekasih gw." Kata Devano memcoba untuk mengenalkan Laras kepada Tania.


"Kekasih.?? Maksud Devano apa sih.?? Bukannya perempuan ini istrinya Devano yah.??" Kata Tania dalam hati bingung.


"Ahhh udah lah.!! Mungkin Devano lupa kali, lagian enggak penting juga buat gw, perempuan jelek ini siapa.?? Yang terpenting buat gw sekarang, gw harus bisa buat Devano jatuh cinta lagi ke gw." Kata Tania lagi dalam hati, sambil tersenyum sinis menatap kearah Laras.


"Perempuan ini sebenarnya siapanya kak Devano sih.?? Perasaan dari tadi ngelihatin gw sinis banget." Kata Laras dalam hati kesel, karena melihat Tania yang menatapnya seperti itu.


"E, e, ehhh.!!! Kok kalian malah pada diem aja sih.?? Udah ayo cepet kenalan.!!" Sambung Diki menyuruhnya untuk cepat-cepat kenalan.


"Oh iya maaf.!! Gw Tania." Kata Tania pura-pura tersenyum, sambil memperkenalkan dirinya kepada Laras.


"Laras.!" Kata Laras singkat.


"Oh ya udah, ayo duduk-duduk.!!" Kata Tania, menyuruh Devano, Laras dan juga Diki untuk duduk.


"Iya thanks yah Tan.??" Kata Diki, kemudian ia, Devano dan Laras pun langsung duduk di satu meja.


"Oh iya kak Devano, kak Devano mau minum apa.?? Biar Laras yang ambilin yah.?? Sekalian kak Diki juga, kak Diki mau minum apa kak.??" Kata Laras penuh perhatian.


"Eeemmm minum apa yah Dev.??" Kata Diki bingung.


"Enggak tau Dik.! Apa malam ini kita minum aja Dik.?!! Udah lama nih kita enggak minum bareng-bareng, perasaan pas terakhir kita minum, waktu kita masih sekolah deh.!!" Kata Devano mengajak Diki untuk minum, minuman yang memabukkan bersama, ia berbicara seperti itu karena memang benar, terakhir ia mabuk saat ia masih sekolah, karena seperti yang kita tau, pada saat itu Devano memang lagi bandel-bandel nya.


"Apa.?!!! Jadi malam ini kak Devano mau mabuk.?? Waaahhh semakin gampang aja nih rencana gw malam ini, sepertinya malam ini Dewi keberuntungan memang lagi berpihak ke gw." Kata Laras dalam hati sambil tersenyum karena senang, akhirnya rencananya malam ini, rencana yang kita pun tidak tau itu apa, akan berjalan dengan lancar.


"Kalau malam ini kak Devano mabuk.?? Kan gw enggak perlu repot-repot tuh, ngerayu kak Devano untuk minum.?? Gw tinggal masukin aja obat perangsang itu diminuman kak Devano.!! Biar malam ini kak Devano tergoda setiap kali melihat tubuh seksi gw ini.?? Biar malam ini juga kak Devano kuat sampai pagi melayani gw diatas ranjang." Kata Laras lagi dalam hati sambil tersenyum senang, karena sepertinya rencananya untuk tidur dengan Devano, iya,,, Rencananya untuk tidur dengan Devano akan berhasil, karena memang itu lah rencana Laras dari kemarin, ia ingin tidur dengan Devano, agar ia bisa hamil dan berhasil mendapatkan Devano seutuhnya.


"Gila loh Dev.!! Serius nih malam ini kita minum.??" Kata Diki kaget mendengar ucapan Devano sahabatnya itu, karena ia pun sama seperti Devano, terakhir ia mabuk saat ia masih sekolah dulu bersama dengan Devano.


"Iya Dik gw seriuuuus, gw kangen nih masa-masa muda kita dulu." Kata Devano sambil tersenyum dan penuh semangat.


"Ya udah kalau gitu, kenapa enggak.!! Gw juga kangen Dev, emang loh doang.?!!!" Kata Diki yang juga penuh dengan semangat.


"Ya udah kalau gitu, biar Laras yang ambilin minumannya yah kak.??" Kata Laras sok perhatian, sambil buru-buru melangkah menuju bar, sesampainya ia di bar, ia langsung mengambil 3 botol minuman yang memabukkan itu dan memasukkan obat perangsang yang sudah ia siapkan dari rumah, ke salah satu botol minuman yang nantinya akan ia berikan kepada Devano.


"Heeeemmm,,, kak Devanooo, kak Devano, mulai malam ini dan seterusnya, kak Devano akan jadi milik gw.?? Karena malam ini, kita akan bersenang-senag bersama kak.??" Kata Laras dalam hati, sambil tersenyum memandangi botol minuman milik Devano yang sudah ia masuki obat perangsang tersebut, kemudian dengan segera ia pun langsung melangkah kembali menuju tempat di mana Devano dan Diki berada.


"Maaf kak Diki, ini minumannya.??" Kata Laras sambil tersenyum dan memberikan satu botol minuman kepada Diki.


"Oh iya, makasih yah Ras.??" Kata Diki sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung mengambil satu botol minum tersebut dari tangan Laras.


"Heeemmm bagus.! Sekarang tinggal giliran kak Devano." Kata Laras dalam hati sambil tersenyum.


"Nih kak, minuman kak Devano.?? Laras tuangin sekalian yah kak.??" Kata Laras sok perhatian sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung menuangkan minuman yang sudah ia campuri dengan obat perangsang tersebut, kedalam gelas milik Devano.



"Ya udah sekarang kakak minum yah.??" Kata Devano sambil tersenyum dan mengambil minuman tersebut dari meja, kemudian tanpa curiga sedikitpun Devano pun langsung meminumnya.


"Bagus.!! Ayo minum yang banyak kak Devanoooo, biar secepatnya obat itu bereaksi.!!! Biar malam ini kita bisa cepat-cepat bersenang-senag bersama." Kata Laras dalam hati sambil terus tersenyum karena senang, akhirnya Devano sudah meminum minuman tersebut.


15 menit kemudian,,,,


"Aduuuhh.!!! Kok kepala gw pusing banget yah.?? Padahal gw baru minum sedikit, loh pusing enggak Dik.??"



Kata Devano sambil memegangi kepalanya karena pusing, karena sepertinya obat perangsang yang di masukan oleh Laras kedalam minumannya itu, sudah mulai bereaksi.


"Hemmmm akhirnyaaaaa,,, rencana gw ini berhasil." Kata Laras lagi dalam hati sambil terus tersenyum menatap kearah Devano yang sudah mulai pusing itu.


"Pusiiiiing.?? Enggak kok.! Gw belum apa-apa, bohong kali loh.?? Masa loh cemen banget sih, baru segitu udah nyerah.?!!! Bukanya dulu loh itu yang paling kuat yah diantara kita.??" Kata Diki tak percaya dengan kata-kata Devano, karena menurutnya dulu itu Devano lah yang paling kuat saat mabuk.


"Beneran nih Dik, kepala gw pusing banget nih Dik.?? Kayaknya gw enggak kuat deh.!! Gw mau pulang aja deh Dik." Kata Devano sambil terus memegangi kepalanya, karena pusing di kepalanya itu benar-benar bertambah semakin pusing.


"Kak Devanooo, kak Devano kenapa kak.?? Kepala kak Devano pusing kak.??" Kata Laras tergesa-gesa sambil memasang wajah panik agar Devano dan Diki tidak curiga kalau semua itu ternyata adalah ulahnya.


"Iya nih Ras, kepala kakak pusing bangeeet.!!! Lebih baik sekarang kita pulang aja yah.?? Kakak udah enggak kuat banget nih Ras.??" Kata Devano sambil terus memegangi kepalanya karena pusing, kemudian ia pun langsung buru-buru beranjak dari tempat duduknya.


"I, i, ya kak.!!! Y, y, ya udah ayo sekarang kita pulang kak.!!" Kata Laras tergesa-gesa sambil buru-buru memapah tubuh Devano yang sudah mulai sempoyongan itu.


"Dev, loh pulang Dev.?!!" Kata Diki panik sambil menatap kearah Devano yang masih berdiri disampingnya.


"Iya Dik, gw mau pulang.! Gw udah enggak kuat nih.??" Kata Devano sambil meringis karena menahan pusing di kepalanya.


"Heeemmm,,, tinggal satu langkah lagi, semua rencana gw ini akan berhasil." Kata Laras dalam hati sambil terus tersenyum, karena ia sangat yakin kalau rencananya itu pasti akan berhasil.


###########


Hay guys.!!!


Siap-siap yah.!!! Karena untuk episode selanjutnya, Devano sudah tau semuanya loh, kalau gadis kecil yang dulu pernah ia tolong itu ternyata adalah Alana,,,


Namun yang jadi pertanyaannya sekarang ini, mungkinkah Devano tau semua itu, sesudah ia meniduri Laras.??? 🤔🤔🤔🤔

__ADS_1


Jangan lupa.!!!


Like, coment dan vote.!!!


__ADS_2