
"Sayang, ini semua enggak seperti apa yang kamu lihat sayang.? Ini cuma salah paham, ini semua cuma salah paham sayang." Kata Erik panik, karena ia tau apa yang ada didalam pikiran Dinda sekarang ini.
"Bohong Dinda.! Ma Erik bohong.!" Kata Sania masih terus berbohong.
"Hiks,, hiks,, mas Erik jahat.! Hiks,, hiks,, mas Erik jahat.!" Teriak Sania pura-pura menangis, sambil mendorong tubuh Erik, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah menghampiri Dinda, dan memeluknya dengan erat.
"Hiks,,, hiks,,, kak Sania takut Din.? Hiks,, hiks,, kak Sania takut.?" Kata Sania pura-pura ketakutan.
"Kak Sania kenapa kak.? Kak Sania jangan nangis.! Kak Sania cerita sama Dinda.! Ada apa kak.? Mas Erik ngapain kak Sania.?" Kata Dinda tergesa-gesa dan panik.
"Sayang, kamu ini apa-apan sih sayang.? Mas ini enggak ngelakuin apa-apa sama kak Sania." Kata Erik mencoba untuk membela diri, karena ia memang benar-benar tidak bersalah.
"Hiks,, hiks,, enggak Din.! Hiks,, hiks,, mas Erik bohong.! Hiks,, hiks,, tadi itu mas Erik hampir hiks,, hiks,, perkosa hiks,, hiks,,, kak Sania Din.?" Kata Sania sambil terus pura-pura menangis dan memasang wajah ketakutan, agar Dinda percaya dengan semua kebohongannya itu.
"Apa.? Mas Erik mau perkosa kak Sania.?" Kata Dinda kaget dan tak percaya, dengan keadaan yang sangat lemas dan tak berdaya.
"Sayang jangan percaya sayang.! Mas enggak akan pernah ngelakuin hal bodoh seperti itu sayang.! Percaya sama mas sayang.! Percaya sama mas.! Mas enggak akan pernah ngelakuin hal bodoh seperti itu.!" Kata Erik tergesa-gesa dan panik, karena ia takut kalau sampai Dinda akan percaya dan kemakan oleh kebohongan Sania.
"Bohong Dinda.! Mas Erik bohong." Kata Sania sedikit panik, karena ia pun takut kalau sampai Dinda percaya dengan ucapan Erik.
"Kenapa mas Erik tega bohong sama Dinda setelah apa yang barusan saja mau mas Erik lakukan ke Sania.? Mas Erik bener-bener jahat.! Mas Erik jahat.! Mas Erik itu tadi hampir saja mau perkosa kak Sania Din.? Mas Erik itu tadi hampir mau perkosa kak Sania.?" Kata Sania dengan raut wajah yang sangat menyakinkan.
__ADS_1
"Kamu percaya kan Din, sama kak Sania.? Kamu percaya kan Din.?" Kata Sania dengan raut wajah melas, agar Dinda percaya dengan ucapannya itu.
"Enggak sayang, kamu percaya sama mas sayang.! Kamu percaya sama mas.! Mas enggak akan pernah mungkin ngelakuin hal seperti itu sayang.? Mas enggak akan pernah mungkin ngelakuin hal seperti itu.! Kak Sania itu bohong sayang, kak Sania itu bohong." Kata Erik sambil berjalan menghampiri Dinda.
"Jangan Dinda.! Jangan percaya sama mas Erik.! Jangan percaya sama mas Er,,,,,,,,," Seketika ucapan Sania terpotong.
"Cukup.! Cukup kak Sania, cukup.! Terserah kak Sania mau bicara seperti apa.? Lebih baik sekarang kak Sania selesaikan masalah ini dengan mas Erik, cepat selesaikan.!" Kata Dinda dengan suara yang sangat tinggi karena marah.
"Dan untuk kamu mas.! Dinda benar -benar kecewa sama mas, Dinda benar-benar kecewa sama mas.!" Kata Dinda lagi, kemudian dengan segera ia pun langsung lari keluar dari kamar Sania, meninggalkan Erik dan Sania berdua di dalam kamar tersebut.
"Sayang.! Kamu mau kemana sayang.?" Teriak Erik sambil buru-buru melangkah untuk mengejarnya, namun belum sempat ia melangkah, Sania sudah menarik tangannya.
"Mas Erik mau ke mana.? Udah lah mas, ngapain sih mas Erik ngejar Dinda.? Lebih baik sekarang mas Erik disini sama Sania.!" Kata Sania sambil terus memegang erat tangan Erik, ia mencoba untuk menggodanya.
"Enggak, gw enggak akan pernah ngelepasin tangan mas Erik.!" Kata Sania dengan suara sedikit tinggi, sambil memegang tangan Erik lebih erat lagi.
"Saya bilang lepasin tangan saya.! Cepatan lepasin tangan saya.!" Teriak Erik semakin marah, sambil melepaskan tangannya dari genggaman Sania, kemudian ia pun langsung mencoba untuk mengejar Dinda kembali.
"Mas Erik mau kemana.? Percuma mas Erik ngejar Dinda, Dinda enggak akan pernah mau memaafkan mas Erik.! Jadi lebih baik mas Erik tetap disini temenin Sania.!" Kata Sania lagi-lagi mencoba untuk menggodanya.
Mendengar godaan dari Sania, seketika langkah Erik pun terhenti.
__ADS_1
"Kamu itu sebenarnya mau apa sih dari saya, hah.?" Kata Erik marah dan bingung.
Mendengar kata-kata dari Erik, Sania pun langsung tertawa.
"Mas Erik benar-benar pengin tau apa mau gw.?" Kata Sania sambil terus tertawa.
"Gw cuma mau, rumah tangga mas Erik dan Dinda hancur.! Iya hancur, hancur sehancur-hancurnya.! Seperti apa yang telah keluarga Dinda lakukan dulu ke keluarga gw.! Gw akan hancurkan keluarga pak Irsyad satu persatu mas Erik.? Gw akan hancurkan keluarga pak Irsyad satu persatu." Kata Sania, dengan suara tinggi sambil tersenyum bahagia karena sekarang ini ia merasa menang dari Dinda.
Melihat tingkah laku Sania seperti itu, Erik pun langsung tersenyum sinis.
"Saya memang enggak tau apa maksud dari kata-kata kamu.! Tapi yang jelas, kamu itu adalah perempuan licik.! Iya, Kamu itu adalah perempuan licik.! Dan saya mau sekarang juga, kamu keluar dan angkat kaki dari rumah saya.! Cepat angkat kaki dan keluar dari rumah saya.!" Kata Erik dengan suara yang sangat tinggi dengan raut wajah yang sangat marah, sepertinya sekarang ini ia benar-benar sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi kepada Sania, setelah apa yang Sania lakukan kepada dirinya dan juga Dinda istrinya, sampai-sampai ia pun langsung mengusir Sania dari rumahnya.
Melihat Erik semarah itu, Sania malah justru tersenyum.
"Apa.? Mas Erik mau ngusir gw dari sini.? Mas Erik enggak usah takut.! Tanpa mas Erik suruh, secepatnya gw akan keluar dari sini.! Karena apa.? Karena sekarang gw udah berhasil buat rumah tangga mas Erik dan Dinda hancur.! Iya han,,,," Belum sempat Sania menyelesaikan ucapannya, namun sudah terpotong.
"Cukup.! Saya udah enggak mau lagi denger kamu omong.! Sekarang juga kamu keluar dari sini.! Ayo cepatan keluar dari sini.!" Kata Erik dengan suara yang sangat tinggi dan raut wajah yang semakin marah, kemudian ia pun langsung memegang tangan Sania dengan sangat kasar, dan menyerednya keluar dari rumah, sepertinya kelakuan Sania benar-benar sudah membuat emosi Erik semakin memuncak, sampai-sampai kepada perempuan pun ia berani berbuat kasar seperti itu.
"Mas Erik.! Lepasin tangan gw.! Lepasin tangan gw mas Erik.!" Kata Sania dengan suara yang sangat tinggi dan raut wajah yang sangat marah, sambil mencoba untuk melepaskan genggaman kasar Erik dari tangannya, namun sayang ia tidak berhasil, karena Erik memegang tangannya semakin kasar dan kuat, sambil terus menyeretnya keluar dari rumah.
"Sekarang juga kamu keluar dari rumah saya.! Dan jangan pernah balik lagi.!" Kata Erik sambil melepaskan tangan Sania dan mendorongnya keluar dari rumahnya dengan kuat, kemudian dengan segera ia pun langsung masuk dan menutup pintu rumahnya itu dengan begitu kencang JEBRET.!
__ADS_1
"Kurang ajar.! Berani banget Erik ngelakuin ini ke gw.? Awas aja loh.! Gw akan balas semuanya, gw akan balas semuanya.!" Kata Sania dengan suara tinggi, kemudian dengan segera ia pun langsung pergi meninggalkan rumah tersebut.