
"A, a, Alana.?!!! Ka, ka, kamu ada di rumah.??? Bu, bu, bukanya tadi pagi kamu berangkat ke Kampus yah.???" Kata Laras gugup karena ia sangat kaget melihat Alana ada di rumah yang sekarang ini justru sedang membukakan pintu untuknya, karena setau Laras tadi pagi Alana itu berangkat ke Kampus, dan memang benar tadi pagi Alana memang berangkat ke kampus, namun karena kejadian tadi pagi ia dijambret oleh preman, ia pun jadi kesiangan dan telat ke Kampus hingga akhirnya ia memilih untuk kembali lagi pulang ke rumahnya.
"I, i, iya kak.!!! So, so, soalnya tadi pagi,,, A, a, Alana kesiangan kak.!!!" Kata Alana gugup sambil terus terbengong menatap kearah Devano.
"Kakak-kakak itu siapa yah.??? K, k, kok aku kayak pernah ketemu sama kakak-kakak itu sih, tapi dimana.??? Terus kenapa wajah kakak-kakak itu seperti udah enggak asing lagi yah buat aku.???" Kata Alana dalam hati bingung dan bertanya-tanya karena melihat Wajah Devano yang seperti sudah tidak asing lagi dimatanya namun ia lupa dimana ia pernah ketemu dengannya.
Melihat Alana terdiam seperti itu, Laras yang tak lain adalah kakak tiri dari Alana, iya,,,, kakak tiri dari Alana pun panik.
"Kak Devano tunggu disini dulu yah.???" Kata Laras pelan, kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru menarik tangan Alana dan langsung membawanya masuk kedalam kamar.
"Hehh Alana, gw kasih tau yah sama loh.?!! Cowok yang ada di depan itu namanya kak Devano, dan Dia itu adalah pacar gw LARAS.!!! Jadi Awas aja yah kalau loh sampai kecentilan di depan Dia." Kata Laras mencoba untuk mengacam Alana, karena biasanya setiap ada lelaki yang mendekatinya, mereka semua mengurungkan niatnya setelah bertemu dengan Alana dan mereka lebih memilih mendekati Alana.
"I, i, iya kak.!!!" Kata Alana gugup dan ketakutan.
"Dan satu lagi.!! Gw enggak mau yah lihat kamu dan kak Devano itu ngobrol.!!! Jadi sekarang ini gw mau loh tetap di dalam kamar dan jangan pernah keluar sebelum kak Devano itu pulang, ngerti loh.?!!!" Kata Laras lagi-lagi mencoba untuk mengancam Alana, karena ia dan Ibu Rika mamahnya yang tak lain adalah mamah tiri Alana, memang selalu seperti itu kepada Alana, dari semenjak pak Adi yang tak lain adalah Ayah Alana sakit ia selalu mengancam Alana supaya ia mau mengikuti semua keinginannya, alasannya kalau sampai Alana tidak mau mengikuti semua kemauan darinya, mereka berdua tidak mau lagi mengurus pak Adi yang sedang sakit-sakitan itu.
"Ba, ba, baik kak.!!!" Kata Alana lagi-lagi gugup.
Mendengar kata-kata dari Alana, Laras pun langsung tersenyum.
"Hemmm bagus.!!! Ya udah,,, kalau gitu loh tetap diem disini dan jangan pernah keluar sebelum kak Devano pacar gw itu pulang.!!!" Kata Laras mengingatkan Alana lagi, kemudian ia pun mencoba untuk melangkah keluar dari kamar Alana, namun belum sempat ia melangkah, langkahnya sudah terhenti.
"Ta, ta, tapi kak.!!! Ka, ka, kayaknya Alana pernah ketemu sama kakak-kakak yang ada di luar itu deh.???" Kata Alana mencoba memberitahu Laras kakak tirinya, kalau ia seperti pernah ketemu dengan kakak-kakak yang ada di luar yang tak lain adalah Devano.
"Apa loh bilang.??? Loh pernah ketemu sama pacar gw.??? Loh enggak usah ngaco deh.!!! Pacar gw itu baru saja pulang dari Korea, dan asal loh tau yah.??? Dari kecil pacar gw itu tinggal di sana, dan sekarang ini pun adalah kali pertama pacar gw itu ke Indonesia, jadi enggak mungkin kalau loh dan pacar gw itu pernah ketemu, ngerti loh.???" Kata Laras berbohong, namun entah apa alasannya mengapa ia berbohong seperti itu kepada Alana.
Mendengar kata-kata dari Laras, seketika Alana pun terdiam.
"Bener juga yah kata kak Laras, enggak mungkin Aku pernah ketemu sama kakak-kakak itu.?? Lagian bisa ketemu dimana aku sama kakak-kakak itu, kan selama ini aku enggak pernah pergi jauh-jauh, jadi enggak mungkin dong aku pernah ketemu sama kakak-kakak itu.??? Aduuuuh Alanaaa, Alana.!!! Kamu kenapa jadi ngaco kayak gini sih.???" Kata Alana dalam hati sambil tersenyum karena lucu kepada dirinya sendiri yang ngaku-ngaku seperti pernah ketemu dengan Devano.
Melihat Alana terdiam seperti itu, dengan segera Laras pun langsung melanjutkan langkahnya dan keluar dari kamar Alana untuk menghampiri Devano yang dari tadi masih berdiri di depan pintu rumahnya, namun baru saja ia keluar dari kamar Alana, tiba-tiba ibu Rika menarik tangannya.
"Aduh, aduh.!!! Mamah ngapain tarik-tarik tangan gw sih.?!!" Kata Laras sedikit kesal karena ibu Rika yang tiba-tiba menarik tangannya itu.
"Mamah mau tanya sama kamu, laki-laki yang ada didepan itu siapa.??? Kenapa itu laki-laki bisa ada disin,,,,,,,,,," Seketika ucapan Ibu Rika terpotong.
"Ssssssttttt mamah jangan keras-keras ngomongnyaaa.!!! Sekarang biar Laras ceritain semuanya sama mamah." Kata Laras dengan suara pelan karena takut Devano dan Alana mendengar ucapannya, karena sepertinya ada suatu rahasia yang sedang Laras sembunyikan dari Devano dan juga Alana, namun entah apa itu rahasianya sehingga ia sampai ketakutan kalau Devano dan Alana akan mendengar.
"Ya udah sekarang kamu ceritain semuanya sama mamah, Laki-laki itu siapa.?? Mamah enggak suka yah kamu bawa laki-laki kesini.??? Karena biasanya laki-laki yang kamu bawa ke rumah itu orang-orang miskin." Kata Ibu Rika sedikit kesal, ia berbicara seperti itu karena memang benar, biasanya cowok yang suka Laras bawa ke rumahnya adalah orang-orang dari kalangan bawah, meskipun sesungguhnya mereka semua selevel dengan keluarganya, namun karena sifat Ibu Rika itu sangat matre, ia jadi tidak suka jika Laras membawa laki-laki seperti itu kerumahnya.
"Ya udah makanya mamah diem.!!! Mamah dengerin gw ngomong dulu.!!! Jangan nyrocoooos mulu kayak gini.!!!" Kata Laras semakin kesal.
"Nih gw ceritain semuanya sama mamah yah.??? Mah, mamah inget enggak kejadian 10 tahun yang lalu, waktu mamah bayar beberapa preman untuk menangkap dan menyingkirkan Alana.??" Kata Laras serius, ia mencoba untuk mengingatkan Ibu Rika mamahnya tentang kejadian 10 tahun yang lalu saat Alana dikejar-kejar oleh beberapa preman, Iya Alana,,,,, karena ternyata gadis kecil pemilik liontin yang dulu dikejar-kejar oleh preman dan kemudian ditolong oleh Devano itu adalah Alana dan bukanlah dirinya seperti yang ia katakan kepada Devano, karena ternyata ia hanya mengaku-ngaku saja kepada Devano, alasannya karena ia sudah tertarik kepada Devano saat pertama kali ia melihatnya, apalagi setelah tau kalau ternyata Devano adalah anak muda yang dulu pernah menemukan kalung liontin Alana, semua itu membuatnya semakin ingin mendekatinya, karena ia mempunyai jalan untuk mencari-cari alasan agar bisa mendekatinya yaitu dengan cara ia pura-pura menjadi Alana, dan ia tertarik kepada Devano karena ia tau kalau Devano adalah anak dari pak Erik Dekan di kampusnya, bahkan ia dan semua mahasiswa pun tau kalau pak Erik itu terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya yang pastinya kekayaannya akan diwariskan kepada Devano putranya itu.
"Iya sayang mamah inget, emang kenapa.??" Kata ibu Rika penasaran, sudah jelas ia mengingat semua kejadian itu, karena ternyata memang benar kejadian 10 tahun silam yang menimpa Alana tersebut adalah rencananya, ia sengaja membayar beberapa preman untuk menangkap dan menyingkirkan Alana secepatnya, alasannya karena ia tidak suka dengan kehadiran Alana berada didalam keluarganya.
"Mah, mamah inget kan.??? Dulu mamah gagal untuk menyingkirkan Alana, terus preman- preman itu telpon ke mamah, kalau ada anak muda yang berhasil bawa kabur Alana dari kejaran mereka.??" Kata Laras mencoba untuk mengingatkan lagi kejadian 10 tahun lalu tersebut.
"Iya sayang mamah inget." Kata ibu Rika yang memang masih sangat mengingatnya.
"Terus mamah inget lagi enggak.??? Malam itu Alana pulang sambil nangis-nangis, dia ngomong ke papah sama bi Iyem kalau kalung liontin kesayangannya pemberian dari mamahnya itu hilang di taman.?? Dan malam itu kan Alana langsung balik lagi ke taman untuk mencari kalung liontin itu mah, terus kalung liontin itu ditemukan oleh anak muda yang katanya dulu sudah menolongnya dari kejaran para preman, dan terus Alana mau mengambil kalung itu dari anak muda yang sudah menolongnya itu mah, tapi sayang kan mah semua itu gagal, karena kita keburu datang dan mencegahnya." Kata Laras lagi-lagi mencoba untuk mengingatkan kejadian 10 tahun yang lalu tersebut kepada ibu Rika mamahnya, ia berbicara seperti itu karena memang benar, dulu waktu sehabis Alana ketemu dengan Devano ditaman, ia pulang sambil menangis-nangis karena kalung liontin kesayangannya pemberian dari almarhum mamahnya itu hilang di taman dan ia pun sangat yakin kalau Devano lah yang menemukannya, apalagi saat kejadian itu Alana kembali lagi ke taman untuk mencari kalung liontin kesayangannya itu dan setelah sampai di taman, Alana melihat Devano sedang memegang dan menatapi kalung liontin tersebut dan kemudian menyimpannya di saku jaket yang sedang ia pakai, akan tetapi disaat Alana mau mengambil kalung liontin tersebut dari Devano, karena rumah Alana itu berada di samping taman tersebut, tiba-tiba Ibu Rika dan Laras dengan cepat datang untuk menyusulnya dan kemudian langsung menyeretnya untuk pulang, ibu Rika dan Laras memang selalu berbuat kasar kepada Alana dari sejak Ibu Rika menikah dengan pak Adi Ayah dari Alana.
"Iya sayang mamah inget, emang kenapa.??" Kata ibu Rika semakin penasaran.
__ADS_1
"Nah kalau mama sekarang udah inget, sekarang gw mau kasih tau sama mamah siapa laki-laki yang sekarang sedang berdiri di luar itu.!!! Laki-laki itu mah,,, anak muda yang dulu menolong Alana." Kata Laras mencoba untuk menjawab rasa penasaran ibu Rika dari tadi.
"Apa.?!!!! Laki-laki itu yang dulu menolong Alana.?? Kalau memang benar laki-laki itu yang dulu menolong Alana, terus kenapa kamu bawa kesini, nanti kalau dia ngomong sama papah gimana kalau ternyata dulu Alana memang dikejar-kejar para preman, kan papah dulu enggak percaya dengan penjelasan dari Alana it,,,,,,,,," Seketika ucapan ibu Rika terpotong.
"Ssssttttttt mamah jangan keras-keras ngomongnyaaa,,,, mamah tenang aja.!!! Lagian laki-laki itu sekarang ini kayaknya udah enggak mengenali Alana lagi, dan mamah tau enggak apa rencana gw kenapa gw bawa laki-laki itu kesini.??? Itu karena gw mau ngaku sama dia, kalau gw itu adalah gadis kecil yang dulu ia tolong yaitu Alana mah, karena gw itu ingin deketin dia.!!! Karena apa mah.??? Karena laki-laki itu anak dari Pak Erik Dekan di kampus gw mah, dan mamah tau enggak Pak Erik itu siapa.??? Pak Erik itu mah, orang yang sangat kaya raya, jadi gw harus bisa dapatin laki-laki yang sedang berdiri di depan itu.!!! Lebih baik sekarang mamah bantuin gw yah mah.??? Cepetan sekarang juga mamah ambil foto-foto Alana waktu Alana masih kecil mah dan tunjukkan ke laki-laki itu, kalau foto-foto Alana waktu masih kecil itu gw mah, yah mah.??" Kata Laras mencoba untuk menjelaskan sejelas-jelasnya kepada ibu Rika mamahnya dengan apa alasan mengapa dirinya tiba-tiba membawa Devano kerumahnya itu.
"Yang bener sayang.?!!! Berati laki-laki yang sedang berdiri di depan itu Anak orang kaya dong?? Kalau gitu ayo sayang, sekarang juga kita lanjutkan rencana kamu itu.!!!" Kata ibu Rika dengan suara tinggi dan tergesa-gesa sambil tersenyum senang mendengar ucapan dari Laras itu.
Mendengar ibu Rika yang tak lain adalah mamahnya, menyetujui semua rencana jahatnya, dengan segera Laras dan ibu Rika pun langsung mengambil semua foto-foto Alana waktuk masih kecil dan kemudian langsung menunjukkannya kepada Devano.
"Ja, ja, jadi,,,, ka, ka, kamu ini benar-benar gadis kecil yang kakak tolong 10 tahun yang lalu.??? Gadis kecil pemilik liontin yang sekarang ini sedang kakak pegang.???" Kata Devano gugup dengan mata yang berkaca-kaca karena saking senangnya akhirnya ia bisa menemukan gadis kecil pemilik liontin pujaan hatinya itu.
"I, i, ya kak.!!!" Kata Laras gugup dan pura-pura terharu agar Devano percaya dengan rencananya itu.
"Iya nak Devano, foto gadis kecil yang sedang nak Devano lihat sekarang ini, adalah foto Laras waktu dia masih kecil." Kata ibu Rika pelan sambil tersenyum manis dan berusaha untuk tenang agar Devano tidak curiga.
"Ka, ka, kalau benar gadis kecil ini adalah Laras, terus ibu siapa.??? Dan terus foto yang sedang berjejeran dengan Laras dikalung liontin yang sedang saya pegang ini siapa.?? Bu, bu, bukanya mamah Laras itu sudah meninggal yah.???" Kata Devano masih sedikit bingung dengan pengakuan Laras dan juga Ibu Rika, karena Devano masih inget, dulu gadis kecil pemilik liontin yang tak lain adalah Alana pernah memberi tahu dirinya kalau mamahnya sudah meninggal.
"Oh,,, i, itu kak.!!! I, i, ibu ini mamah tiri aku,,, i, i, iya kak.!!! I, i, ibu ini mamah tiri aku,,, I, iya kan bu.??" Kata Laras lagi-lagi gugup, sambil menginjak kaki ibu Rika yang sedang berada dibawah kolong meja agar ia menyetujui kata-katanya itu.
"I, i, iya.!!! Sa, sa, saya ibu tiri Laras." Kata ibu Rika yang juga ikut-ikutan membohongi Devano.
"O, o, ohhhh,,,,, te, te, terus,,, pe, pe, perempuan yang tadi bukain pintu u, u, untuk saya itu siapa bu.???" Kata Devano gugup dan penasaran dengan perempuan yang tadi membukaan pintu untuknya yang tak lain adalah Alana.
"Oh perempuan yang tadi kak, perempuan itu namanya Alana, dia itu adik aku kak.!!! Pasti kakak heran yah, kenapa foto ini lebih mirip sama perempuan itu.??? Ya gimana yah kak, namanya juga kan kakak beradik, kalau enggak mirip gedenya ya bisa jadi mirip waktu kecilnya, kayak aku sama adik aku itu Alana kak.???" Kata Laras sambil tersenyum dan berusaha untuk tenang sambil mencari-cari alasan yang masuk akal agar Devano percaya.
"Kakak percaya kan kak.??" Kata Laras mencoba untuk meyakinkan Devano lagi.
Mendengar kata-kata dari Laras, seketika Devano pun langsung memeluknya dengan begitu erat.
Melihat Devano memeluknya dengan begitu erat, Laras dan ibu Rika pun langsung tersenyum senang karena akhirnya Devano masuk kedalam perangkapnya.
"Bagus, akhirnya kak Devano percaya juga dengan kata-kata gw, secepatnya gw harus bisa dapatin kak Devano." Kata Laras dalam hati.
SATU HARI KEMUDIAN, DI KAMPUS.
Waktu menunjukkan pukul 07:45 Pagi.
Terlihat Alana dan Siska sahabat terdekatnya dari kecil, yang sedang berjalan sambil ngobrol di halaman depan kampus menuju ruang kelasnya.
"Oh iya Alana, gimana tangan kamu.??? Udah sembuh belum.??" Kata Siska sambil menatap lengan tangan Alana yang kemarin sempat terluka oleh preman, ia bisa tau tangan Alana terluka, karena tanpa sepengetahuan dari kita kemaren Alana sempat meneleponnya, untuk memberi kabar kepadanya kalau kemarin ia tidak bisa berangkat ke kampus lantaran ia dijambret oleh preman.
"Eh, iya kenapa,,,, luka ditangan aku ini.??? Kamu tenang aja, udah sembuh kok.!!" Kata Alana sambil tersenyum dan terus berjalan menuju ruangannya.
"Syukur deh kalau gitu." Kata Siska sambil tersenyum.
"Iya sis,,, ini juga untungnya ada kakak-kakak yang nolongin aku kemaren, kalau enggak ada kakak-kakak itu, enggak tau deh nasib aku ini kayak gimana sekarang.???" Kata Alana sambil tersenyum, ia merasa sangat bersyukur karena kemarin ada kakak-kakak yang tidak ia kenal yang tak lain adalah Raka menolongnya.
"Apa kata kamu tadi.?? Ada kakak-kakak yang nolongin kamu.??? Cieeee yang kemarin habis di tolongin sama kakak-kakak,,,, ngomong-ngomong gimana tuh si kakak-kakak, ganteng enggak.???" Kata Siska sambil tersenyum menggoda Alana.
"Iiiiiiihhhhh apaan sih kamu,, kenal juga enggak aku sama kakak-kakak itu." Kata Alana mencoba untuk menjelaskan.
"Serius kamu enggak kenal sama kakak-kakak itu.?? Apa jangan-jangan.!!! Kakak-kakak itu pacar loh lagi.???" Kata Siska lagi-lagi menggoda Dinda.
__ADS_1
"Ya ampun siskaaaa,,, beneraan, aku enggak kenal sama kakak-kakak ituuu." Kata Alana mencoba untuk menyakinkan Siska.
"Iya, iya,,, aku percaya kok.!!! Lagian kan kata kamu, kamu itu cuma mau pacaran sama kakak-kakak halu kamu itu, yang katanya dulu pernah nolongin kamu kayak malaikat gituuuuu.??" Kata Siksa sambil terus tersenyum meledeknya, ia berbicara seperti itu karena Alana sering curhat kepadanya seperti itu, ia hanya mau pacaran dengan kakak-kakak yang dulu pernah menolongnya dari kejaran para preman, yang sudah ia anggap seperti malaikat penolongnya yang tak lain adalah Devano.
"Iiiiiiihhhhh kamu ini bisanya ngeledek terus yaaaah.???"
Kata Alana sambil tersenyum menatap kearah Siska.
"Tapi emang bener kaaan,,,, kalau kakak-kakak halu kamu itu, yang bikin kamu jomblo terus kayak gini dan nolakin semua cowok yang mau deketin kamu, iya kan.???" Kata Siska mencoba untuk menebaknya, ia berbicara seperti itu, karena memang benar, selama ini Alana memang belum pernah pacaran satu kali pun, bahkan ia pun selalu menolak jika ada laki-laki yang mau mendekatinya, alasannya yaitu, Alana hanya ingin pacaran dengan laki-laki yang dulu pernah menolongnya yang tak lain adalah Devano, karena ia sangat berharap bisa bertemu lagi dengannya.
"Ia Sis, tapi itu dulu,,, karena untuk sekarang ini, aku sadar kayaknya semua ini enggak mungkin akan terjadi, coba kamu bayangin.!!! Sampai sekarang ini aja aku belum pernah ketemu lagi sama kakak-kaka itu.??? Kayaknya aku memang harus ngelupain kakak-kakak itu deh.!!! Dan mungkin memang bener apa kata-kata kamu, kalau selama ini aku cuma ngehalu, aku cuma ngehalu pengin jadi pacar kakak-kakak itu." Kata Alana sedih dengan mata yang berkaca-kaca, karena sepertinya sesuatu yang ia harapkan dari kecil itu tidak akan mungkin terwujud.
"Loh Alana, kok kamu sedih sih.??? Udah dong kamu enggak usah sedih kayak giniiii,,, kamu harus tetap optimis Alana, kalau kamu pasti bisa bertemu lagi dengan kakak-kakak itu." Kata Siska mencoba untuk meyakinkan Alana kalau ia pasti bisa bertemu lagi dengan Devano.
"Kita lihat nanti aja lah Sis, sekarang ini aku udah enggak mau terlalu berharap lagi." Kata Alana lagi, sepertinya sekarang ini ia benar-benar mau menyerah dengan harapannya itu.
"Ya udah kamu yang sabar aja yah.???" Kata Siska pelan sambil mengusap-usap pundak Alana.
Mendengar kata-kata dari Siska, Alana hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Oh iya Alana, bukanya itu obat yah.??? Ngomong-ngomong obat itu buat siapa.??" Kata Siska penasaran sambil menatap kearah tangan Alana yang dari tadi sedang menenteng satu kantong obat.
"O, o, ohhh Obat ini.??? Biasa lah Sis, obat ini buat papah aku,,, untung sekarang ini aku udah punya kerja sampingan, jadi kan aku bisa beliin obat buat papah aku setiap minggu, ya meskipun aku sedikit kecapekan sih karena enggak ada waktu untuk istirahat, tapi ya enggak apa-apa, yang penting papah aku bisa kembali sehat." Kata Alana sambil tersenyum karena senang akhirnya sekarang ini ia mempunyai kerja sampingan setelah pulang kuliah, karena dengan pekerjaannya itu ia bisa membelikan Obat untuk Pak Adi ayahnya yang sedang sakit-sakitan itu.
"Kamu yang sabar yah.???" Kata Siska pelan sambil tersenyum dan mengusap-usap pundak Alana, lagi-lagi ia berusaha untuk menguatkan Alana karena ia memang sahabat terbaik dan terdekat Alana dari Alana kecil.
"Iya aku akan selalu sabar sis.!!! Demi papah dan demi Obat ini, enggak apa-apa aku kerja capek, gajih aku habis cuma buat beli Obat ini, karena yang terpenting buat aku sekarang, papah aku itu bisa sembuh lagi kayak dulu, dan Alhamdulillaaaah banget untuk minggu ini aku udah berhasil dapetin obat papah aku ini, dan obat papah aku ini udah berhasil aku bel,,,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong PRAK.!!! Karena tiba-tiba ada seseorang yang menyenggol obat tersebut, hingga akhirnya obat tersebut pun terjauh dan pecah.
"Ya ampun, obat buat papah aku ini.???" Kata Alana dengan suara tinggi dan tergesa-gesa karena kaget sambil menatap kearah obat tersebut yang sudah berserakan dibawah.
"Maaf banget yah, maaf.?? Aku lagi buru-buru nih.!!!" Kata orang tersebut, yang tak lain adalah Devano, iya Devano,,,, dengan tergesa-gesa, kemudian ia pun langsung buru-buru melanjutkan langkahnya kembali.
"Woy tunggu.!!! Kakak enggak bisa kabur gitu aja dong, kakak harus tanggung jawab.!!" Teriak Alana sambil menatap kearah Devano yang masih terus berjalan entah kemana.
Mendengar teriakkan dari Alana, Devano tidak perduli, ia malah justru berjalan lebih cepat lagi menuju ruangan pak Erik Ayahnya, karena sekarang ini ia sedang ditunggu-tunggu Oleh semua Dosen karena ada rapat penting.
"Bener-bener ngeselin yah kakak-kakak itu.??? Wah enggak bisa dibiarin nih, sekarang juga aku harus samperin kakak-kakak itu.!!! Dia harus tanggung jawab, dia harus gantiin obat papah aku ini dengan yang baru." Kata Alana kesal, karena obat yang sudah susah payah ia beli terjatuh oleh orang yang tidak mau bertanggung jawab seperti Devano, kemudian dengan segera ia pun langsung mencoba melangkah untuk menyusulnya.
"Alana kamu mau kemana.??? Udah biarin kamu enggak usah kejar kakak-kakak itu.!!! Dia itu Dos,,,,,,," Seketika teriakan Siska terpotong.
"Enggak bisa Siska.!!! Kakak-kakak itu harus aku samperin, dia itu harus tanggung jawab.!!! Dia enggak bisa main kabur begitu aja.!!!" Teriak Alana sambil terus berjalan dengan sangat terburu-buru mengikuti langkah kaki Devano, hingga akhirnya ia pun sampai di depan ruangan pak Erik dan melihat Devano masuk kedalam ruangan tersebut dan kemudian menutup pintunya, namun karena saking emosinya, Alana sampai lupa kalau ruangan tersebut adalah ruangan pak Erik Dekan di kampusnya, dengan beraninya ia malah justru langsung membuka pintu ruangan tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Pokoknya kakak harus tanggung jawab.!!! Kakak harus gantiin obat papah aku ini yang pec,,,,,,,,,,,,,cah." Seketika teriakan Alana tersendat karena ia kaget bukan main melihat semua Dosen yang sedang rapat itu menatap kearahnya, begitupun juga dengan Raka dan juga Devano yang baru saja duduk.
########
Kira-kira apakah yang terjadi setelah Raka melihat Alana, perempuan yang kemarin ia tolong yang sudah berhasil mencuri hatinya itu.???
__ADS_1
Maaf telat Up
Mohon dimaklumi 🙏🙏🙏