DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 40


__ADS_3

DI RUMAH ERIK


Waktu menunjukkan pukul 07:00 malam.


Di ruang keluarga, terlihat Erik yang sedang duduk santai sambil tersenyum memandangi wajah cantik Dinda yang sedang tidur-tiduran dipangkuannya, sejak pulang dari kampus, ia terus menghibur dan menemaninya, agar Dinda istrinya itu tidak sedih lagi mengingat-ingat kejadian tadi saat ia dihujat di kampus, bahkan demi ingin menghiburnya, ia sampai rela tidak masuk kerja.


"Mas Erik, emang enggak papa hari ini mas enggak ke kantor.?" Kata Dinda serius.


Mendengar pertanyaan Dinda, Erik tidak menjawabnya, ia justru tersenyum sambil terus memandangi wajah cantik Dinda, yang sekarang ini masih berada dipangkuannya tanpa henti-henti.


"Iiiiiiihh mas kenapa sih, dari tadi lihatin Dinda muluuu.? Dinda kan maluuuu.?" Kata Dinda sambil merengek, karena ia merasa risih dan canggung dengan tatapan Erik itu.


Mendengar kata-kata Dinda, Erik pun tersenyum.


"Kenapa harus malu.? Biasanya juga mas lihatin lebih dekat lagi, mas cium-cium, kamu enggak pernah malu, malah kamu seneng, keenakan, ya kan.?" Kata Erik sambil tersenyum menggodanya.


"Iiiiiihhhhh mas Eriiiik, Dinda enggak pernah keenakaaaaan, Dinda juga enggak pernah kesenengen, biasa aja.!" Kata Dinda dengan raut wajah merah karena malu.


"Kalau enggak pernah keenakan, terus kenapa dong kalau mas cium, kamu suka kaya gini nih.? Aw mas Eriiiik, enaaaak, Dinda sukaaa, lagiiiii.?" Kata Erik sengaja menurunkan suara manja darinya saat merintih kenikmatan, karena sekarang ini ia sedang ingin menggodanya, agar ia malu dan ngambek, karena menurutnya itu lucu.


"Iiiihhh mas Eriiiik, males ahhh.! Awas.! Dinda mau kekamar, mas jangan ikutin Dinda.! Mas bobo aja disini sendiri.!" Kata Dinda ngambek, sambil buru-buru bangun dari pangkuan Erik dan kemudian mencoba untuk melangkah menuju kamarnya.


"Eeeehhh kamu mau kemana.?" Kata Erik sambil buru-buru menarik tangannya dengan kuat, sehingga Dinda pun terjatuh dan duduk di pangkuannya kembali dengan posisi menghadap ke arahnya.


"Iiiiiiihhhhh mas, awas ah.! Dinda mau ke kamar." Kata Dinda lagi masih ngambek.


Melihat Dinda ngambek seperti itu, Erik pun lagi-lagi tersenyum.


"Kenapa malah senyum sih.? Dinda mau ke kam,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.


"Enggak boleh." Kata Erik pelan sambil menatap dalam wajah cantik Dinda, kemudian ia pun langsung membaringkannya kebangku yang sedang mereka duduki, perlahan ia pun mencoba untuk membaringkan tubuhnya di atas tubuh Dinda.


"Kamu enggak boleh pergi, kamu harus tetap disini temenin mas.! Nanti kalau mas lagi pengin cium gimanaaa.?" Kata Erik pelan, sambil membelai lembut wajah cantik Dinda, sepertinya sekarang ini ia sedang ingin memancing- mancing nafsu Dinda agar Dinda terbuai olehnya.


"Kalau mas lagi pengin cium, ciuman aja sama tembok.! Dinda mah enggak mau.! Lagian Dinda juga enggak mau bobo sama mas lagi." Kata Dinda masih ngambek sambil terus cemberut.


"Eeemmm enggak mauuuuu, pengin ciumannya sama kamuuuu.?" Kata Erik merengek manja seperti anak kecil, sambil menatap dalam wajah cantik Dinda yang sekarang ini masih terbaring dibawah tubuhnya.


"Eeemmmm mas Eriiiiiiik.?" Kata Dinda merengek manja, sepertinya sekarang ini ia sudah mulai terpancing nafsunya oleh Erik.


"Kenapaaa, hah.?" Kata Erik pelan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Dinda juga pengin ciuuuuum.?" Kata Dinda lagi sambil terus merengek.


"Kamu pengin mas ciuuuuum, hah..?" Kata Erik sambil terus tersenyum karena lucu mendengar jawaban dari Dinda istrinya yang sangat mudah tergoda olehnya, meskipun ia sedang dalam keadaan ngambek sekalipun.


"Iya, Dinda pengin cium.?" Kata Dinda mencoba untuk meyakinkan Erik.


Mendengar jawaban dari Dinda, Erik pun tersenyum, Kemudian tanpa basa-basi ia pun langsung mencium bibirnya tanpa henti-henti.



Setelah puas menciumi bibir Dinda, perlahan ciuman Erik pun berpindah ke leher dan telinganya, bahkan bukan hanya ciuman, Erik pun terlihat menjilati telinga dan leher Dinda dengan sangat pelan.


"Awww mas Eriiiiik, geliiiii.?" Kata Dinda merintih kenikmatan dengan sangat manjanya.


Mendengar kata-kata Dinda, Erik pun tersenyum.


"Yang bener, geli apa enak hah.?" Bisik Erik tepat ditelinga Dinda, sambil mencubit manja hidungnya.


"Eeeeeeem mas Eriiiiiik, beneran geliiiii.?" Kata Dinda sambil merengek.


"Ooooh geliiii.? Terus gimana, kamu suka.?" Kata Erik sambil membelai-belai wajah cantik Dinda


Mendengar jawaban dari Dinda, dengan segera Erik pun langsung kembali menciumi telinga dan leher Dinda dengan begitu rakusnya.


"Awww maaass, awww Dinda gel,,,,,,,,," Seketika desahan Dinda terpotong, karena ia kaget bukan main melihat Arya kakanya, yang sedang berdiri dihadapannya, tepat di belakang Erik.


"M, m, mas Arya.?" Kata Dinda dalam hati gugup dan panik, sambil buru-buru memejamkan matanya, kemudian ia pun langsung memeluk tubuh Erik dengan begitu eratnya, karena sekarang ini ia benar-benar sangat malu.


"Kamu kenapa, kok peluk mas kenceng banget.? Seneng yah dicium-cium sama mas terus kaya gini, hah.?" Kata Erik pelan, sambil tersenyum dan terus menciumi leher dan telinga Dinda tanpa henti-henti.


"M, m, mas Erik,,,,,,,," Belum juga selesai Dinda berbisik kepadanya, namun Erik sudah terpotongnya.


"Kenapaaa, hah.? Habis ini mas mainin lagi yah nen nya, kayak semal,,,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong.


"Maaas.?" Kata Dinda sambil merengek dengan raut wajah yang sangat panik.


"Kamu kenapa sih sayaaang.? Kok kamu kayak panik banget.?" Kata Erik bingung melihat Dinda sepanik itu, karena ia memang benar-benar tidak tau kalau ternyata Arya dari tadi sedang berdiri tepat dibelakangnya.


"Mas Erik, ada mas Aryaaaa." Bisik Dinda tepat di telinga Erik, sambil terus memeluknya dengan begitu erat.


"Ada mas Arya.? Diman,,,,,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong.

__ADS_1


"Ehemmmm, Ehemmmm.!" Suara Arya pura-pura batuk, sambil terus berdiri di belakang Erik.


Mendengar suara Arya batuk, seketika Erik pun langsung menengok ke belakang tepat ke arahnya.


"Arya.?" Kata Erik kaget, kemudian ia pun langsung buru-buru beranjak bangun dari atas tubuh Dinda dan mengajaknya untuk duduk.


"Mas Erik, Dinda maluuuu.?" Bisik Dinda sambil merengek, kemudian ia pun langsung memeluk tubuh Erik kembali dengan begitu erat.


"Aduuhh, kamu kenapa enggak ketok pintu dulu sih kalau mau masuk ke rumah orang.? Gangguin orang lagi seneng aja sih.?" Kata Erik kesel karena Arya menganggunya saat ia sedang asyik bercinta dengan Dinda, sepertinya ia tidak malu sama sekali kepada Arya meskipun ke geb olehnya.


"Ngapain gw harus ketok pintu dulu.? Orang gw main ke rumah adik gw sendiri, lagian salah kalian lah, ngapain ngelakuin kaya gini di sini.? Kayak enggak ada kamar aja." Kata Arya dengan santainya.


"Lagian tumben banget, ada apa kamu kesini.?" Kata Erik penasaran mengapa Arya tiba-tiba main ke rumahnya.


"Ooooh, jangan bilang kamu kesini pengin dibantuin lagi untuk PDKT sama Dessy.?" Kata Erik dengan percaya dirinya.


Mendengar kata-kata Erik, Arya pun langsung tertawa.


"Loh tenang aja kali Rik, gw sekarang udah enggak butuh bantuan loh lagi.! Lagian sekarang gw sama Dessy udah resmi pacaran, dan gw kesini juga bareng Dessy kok.! Tuh dia ada diluar, lagi telepon sama mamahnya." Kata Arya serius, kalau ia dan Dessy memang sudah resmi pacaran, karena sejak kejadian di kantor waktu itu, Arya langsung minta maaf kepadanya dan mencoba menjelaskan apa alasannya mengapa ia bisa senekad itu melakukan hal seperti itu kepadanya, dan alasannya adalah karena sekarang ini ia masih sangat mencintainya.


Mendengar Alasan dari Arya seperti itu, Dessy yang memang masih sangat mencintainya pun mengerti, hingga akhirnya mereka berdua pun saling menyatakan perasaannya masing-masing dan akhirnya mereka berdua resmi pacaran.


"Serius kamu.? Kamu enggak lagi bohongin aku kan.?" Kata Erik kaget sambil tersenyum senang karena akhirnya Arya dan Dessy resmi pacaran lagi.


"Ya gw serius lah.! Masa gw boh,,,,,," Belum sempat Arya menyelsaikan ucapannya namun sudah terpotong.


"Mas Aryaaa, Dessy itu siapa.? Bukanya Dessy itu perempuan yang lagi dekat sama mas Erik.?" Kata Dinda bingung dan penasaran, karena setaunya, Dessy itu adalah perempuan yang kemarin-kemarin dekat dengan Erik.


"Dindaaa, mas itu enggak lagi dekat sama Dessy.?" Kata Erik mencoba untuk menjelaskan kalau ia dan Dessy memang tidak sedang dekat, seperti apa yang Dinda istrinya itu pikirkan.


"Mas bohong.! Waktu itu juga di kampus, Dinda lihat mas lagi berduaan bareng sama kak Dessy, iya kan.?" Kata Dinda ngambek, karena ia benar-benar tidak percaya dengan ucapan Erik dan ia pun sangat cemburu kepadanya.


Melihat istrinya ngambek seperti itu, Erik pun tersenyum.


"Enggak sayaaaang.? Waktu di kampus itu, mas sama Dessy mau ke kantor, mas itu enggak lagi berdua-duan sama Dessy." Kata Erik mencoba untuk menjelaskan agar Dinda tidak salah paham.


"Emang kamu cemburu banget yah sama Dessy, hah.? Mas itu sama Dessy enggak ada hubungan apa-apa, mas dekat sama Dessy itu karena Dessy adalah sekertaris mas di kantor, kalau kamu enggak percaya, tanya tuh sama mas Arya.! Lagian yang suka sama Dessy itu, mas Arya tuh.!" Kata Erik lagi serius, sambil menatap kearah Arya yang sedang duduk di hadapannya.


"Tapi mas beneran kan.? Mas enggak ada hubungan apa-apa sama kak Des,,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.


"Eehhh stop, stop, stop.! Kalian itu sebenarnya kenapa sih.? Orang gw yang pacaran kok, tapi kalian yang ribut.! Aneh banget sih.?" Kata Arya kesel melihat Erik dan Dinda meributkan Dessy kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2