
DI TEMPAT BERBEDA, DI KAMPUS.
Terlihat Raka yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Aduuuuuh.! Akhirnya selesai juga kerjaan aku." Ucap Raka kecapekan sambil menutup pintu ruangan tersebut, kemudian ia pun melangkah menuju pintu keluar, namun belum sempat ia melangkah keluar, tiba-tiba langkahnya terhenti, karena ia melihat Laras yang sedang duduk di taman kampus sambil terbengong.
"Kenapa sih semua orang enggak ada yang percaya sama gw.? Bahkan nyokap gw sendiri aja enggak percaya sama gw. Mereka semua malah nyurigaain gw sebagai pelaku peneroran itu.! Padahal kan gw enggak tau apa-apa soal itu." Ucap Laras dalam hati kesal sekaligus sedih, karena semuanya mencurigainya sebagai pelaku peneroran tersebut, padahal kenyataannya ia tidak tau sama sekali tentang itu, karena memang bukan ia pelakunya.
"Tapi gw jadi penasaran, sebenarnya siapa sih pelaku peneroran itu.? Kenapa jadi gw yang kena getah,,,,,,,," Seketika ucapan Laras terpotong, karena tiba-tiba Raka datang menghampirinya.
"P, p, pak Rakaaa,,, kok pak Raka bisa ada disini.?" Ucap Laras gugup dan kaget melihat Raka yang tiba-tiba berada di dekatnya.
Melihat Laras kaget seperti itu, Raka pun tersenyum.
"Ia, tadi aku mau pulang, terus enggak sengaja aku lihat kamu disini.! Ya udah deh aku mampir dulu di sini." Ucap Raka mencoba untuk menjelaskan.
"Oh gitu pak." Ucap Laras masih sedih.
"Hmmmm.! Enggak usah panggil aku pak juga kali, ini kan udah diluar jam kuliah." Ucap Raka sambil tersenyum.
"Enggak ah.! Enggak mau, takutnya enggak sopan lagi." Ucap Laras dengan raut wajah yang masih sedih, sehingga Raka pun penasaran.
"Oh iya Ras, kamu kenapa sih.? Kok perasaan dari tadi aku perhatiin, kamu bengong mulu.?" Ucap Raka.
Mendengar pertanyaan Raka, Laras pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Sebenarnya sekarang ini Laras lagi ada masalah pak, dan Laras yakin pak Raka juga pasti udah tau apa masalahnya." Ucap Laras dengan sangat yakin, karena Raka adalah sepupu Devano dan Devano pasti sudah memberi tahunya.
"Aku udah tau.? Belum kok aku belum tau. Emang apa masalahnya.?" Ucap Raka semakin penasaran.
Mendengar ucapan Raka, Laras pun langsung menjelaskan semuanya, dari ia yang dicurigai sebagai pelaku teror Alana, sampai ia yang tidak dipercayai lagi oleh ibu Rika mamahnya.
"Oh itu, kalau itu sih aku juga udah tau." Ucap Raka serius kalau ia memang sudah tau masalah tersebut.
"Ya udah kamu yang sabar aja.! Kalau emang bukan kamu pelakunya, kamu buktiin sama mereka, biar mereka percaya sama kamu." Ucap Raka Mencoba untuk memberi saran kepadanya.
"Tapi Laras harus buktiin kayak gimana sama mereka pak.? Laras harus nyari pelakunya.? Laras aja enggak tau siapa pelakunya." Ucap Laras bingung harus bagaimana membuktikan kepada semuanya kalau memang bukan ia pelakunya.
"Udah lah.! Mungkin ini emang udah nasib Laras, Karena dulu Laras suka jahat sama mereka." Ucap Laras pasrah.
"Ternyata kayak gini yah pak.! Kalau jadi mantan penjahat, kita ngomong apaaaa aja enggak ada yang percaya, selalu dicurigai, selalu disalah-salah kan, dan Seakan-akan satu kesalahan menutup seribu kebaikan." Ucap Laras dengan raut wajah yang masih sangat sedih.
"Ya udah Ras, kamu yang sabar aja.! Aku yakin, secepatnya pasti pelaku peneroran itu terungkap." Ucap Raka mencoba untuk menenangkannya.
DI RUMAH DEVANO.
Waktu menunjukkan pukul 04:00 Sore.
Terlihat Alana dan Devano yang sedang duduk berduaan bermesraan di ruang tamu, sambil menunggu seseorang.
"Sayang, ini mas mau diapain sih.?" Ucap Devano sedikit ketakutan melihat Alana istri tersayangnya yang hendak memberikan sesuatu perawatan wajah ke wajah gantengnya.
"Udah mas tenang aja.! Mas pengin ganteng enggak.?" Ucap Alana memaksa Devano agar mau mengikuti keinginannya.
"Mmmmm mas mah udah ganteng kali dari sejak lahir." Ucap Devano dengan sangat percaya dirinya sambil tersenyum.
"Ya udah makanannya biar tambah ganteng lagi. Sekarang mas merem.!" Ucap Alana menyuruhnya untuk memejamkan mata, namun entah apa yang akan ia lakukan kepadanya.
"Aduh sayaaaang, ini sebenarnya mas mau di apa,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Udah mas mereeeeeem.! Bandel banget sih enggak bisa diomongin." Ucap Alana dengan bawelnya, lagi-lagi ia menyuruh Devano suaminya untuk memejamkan mata.
"Iya ini mas juga udah mereeem, BAWEL.!" Ucap Devano sambil buru-buru memejamkan matanya, kemudian Alana pun langsung buru-buru menyemprotkan sebuah Vitamin ke wajah ganteng Devano suaminya itu.
"Nah gitu dong mas, nurut.!"
Ucap Alana sambil terus menyemprotkan sebuah Vitamin ke wajah ganteng Devano suaminya itu
"Emang biar apa sih sayang mas dipakein kayak gini.?" Ucap Devano sambil tersenyum dan terus memejamkan matanya.
"Kok biar apa sih.? Ya biar sehat dong maaass, biar muka mas enggak kusam nih.! Soalnya kan mas suka keluar rumah, banyak debu nempel." Ucap Alana mencoba untuk menjelaskan.
"Ooooh gituuu," Ucap Devano yang sekarang sudah pasrah mau dijadiin apa itu wajah oleh Alana istrinya yang sangat-sangat bawel itu.
"Eh, tapi tunggu dulu.! Kalau gitu berarti kamu bohong dong sayang.?" Ucapnya lagi.
"Kok bohong sih mas.?" Ucap Alana bingung.
"Iya bohong, kan tadi kata kamu biar tambah ganteng sayang. Bukan supaya sehat." Ucap Devano sambil membukakan matanya.
"Ya mas sendiri pilih mana.? Sehat apa ganteng, hayo.?" Ucap Alana mencoba untuk memberikan pilihan kepada Devano suaminya.
"Kalau Alana sih pilih sehat dari pada ganteng." Ucap Alana mencoba untuk memilih.
__ADS_1
Mendengar pilihan Alana, Devano pun langsung tersenyum.
"Eeemmmm berarti kamu beruntung dong sayang.?" Ucap Devano sambil terus tersenyum.
"Beruntung.? Beruntung kenapa.?" Ucap Alana lagi-lagi bingung.
"Ya beruntung.! Kamu kan penginnya punya suami sehat, nah kalau mas kan udah sehat, ditambah ganteng lagi."
Ucap Devano dengan percaya dirinya sambil tersenyum sok imut.
"Iiiihhh mas apaan sih, PD banget." Ucap Alana sambil tersenyum malu.
"Loh emang bener kan.?" Ucap Devano.
"Hati-hati loh sayang.! Kalau punya suami ganteng kayak mas. Nanti banyak cewek-cewek yang ngantri." Ucap Devano sambil tersenyum menggodanya.
"Iiiihhh mas enggak boleeeeh.! Mas enggak boleh sama cewek lain. Pokoknya mas bolehnya cuma sama Alana doang, TITIK." Ucap Alana mengancamnya dengan manja, sehingga Devano pun tersenyum, kemudian ia pun langsung menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Kenapa emang sayang, hah.? Kamu sayang banget yah sama mas.?" Ucap Devano sambil membelai lembut wajah cantik Alana istri tersayangnya.
"Eeemmm mas Deeev, Alana pengin cepet-cepet punya Dede lagi dari maaass." Ucap Alana merengek dengan sangat manjanya, sehingga lagi-lagi Devano pun tersenyum melihat tingkah lakunya itu.
"Eeemmm istri mas yang cantik ini pengin cepet-cepet punya Dede lagiii.?" Ucap Devano pelan sambil tersenyum dan mengusap-usap rambutnya.
"Iya, Alana pengin cepet-cepet bisa hamil lagi." Ucap Alana penuh harap.
"Kamu yang sabar yah sayang.! Kita kan mau program, dan sebentar lagi juga Dokter Renata datang, nanti kamu tanya-tanya deh tuh.! Apaaa aja yang mau kamu tanya, yang bisa buat kamu supaya bisa cepet-cepet hamil lagi, yaaah.?" Ucap Devano pelan dan penuh perhatian, sambil terus mengusap-usap rambutnya, ia berbicara seperti itu karena seperti yang kita tau, ia memang sedang menunggu seseorang, dan seseorang tersebut ternyata adalah Dokter Renata, ia dan Alana ingin program kehamilan dan konsultasi masalah kehamilan dengannya.
"Tapi kok Dokter Renatanya lama banget sih datangnya mas.? Kan mas udah telepon Dokter Renata dari siang, tapi kok sampai jam segini belum datang."
Ucap Alana yang sudah mulai BT, karena ia sudah tidak sabar ingin cepat-cepat konsultasi dengannya.
"Sabar yah sayang.! Palingan sekarang Dokter Renatanya lagi di jal,,,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Ya ampun Devano, Alana.! Maaf banget yah.? Gw telat. Soalnya tuh tadi ada sedikit masalah dijalan." Ucap Renata yang baru saja sampai dan berdiri tepat dihadapan Devano dan Alana.
"Eh Dokter Renata, ia enggak papa kok Dok." Ucap Alana sambil tersenyum dengan sangat ramahnya.
"Enggak papa gimana.?" Ucap Devano sambil tersenyum menatap kearahnya.
"Lihat tuh Ren.! Tadi istri gw udah mau nangis nungguin loh kelamaan, udah enggak sabar pengin cepet-cepet punya anak dari gw dia Ren." Ucap Devano sambil tersenyum jahil menggoda Alana istri tersayangnya.
"Awww.! Sakit sayang, kok kamu cubit mas sih.?" Ucap Devano kesakitan.
"Abisnya mas sih.! Ngomong-ngomong kayak gitu sama Dokter Renata, sengaja banget sih." Ucap Alana pelan sambil cemberut.
"Ia, ia, enggak sayaaaang. Mas minta maaf yaaah.?" Ucap Devano pelan sambil mengusap-usap rambutnya dengan sangat mesra, sehingga Dokter Renata yang dari tadi sedang berdiri di hadapannya pun langsung terdiam.
"Bahagia banget yah Dev, jadi istri kamu.! Disayang-sayang, dimanja-manja. Coba aja kalau itu gw, gw pasti seneeeeng banget.! Sayangnya itu bukan gw, dan gw dari dulu cuma mimpi, mimpi yang enggak kesampaian, dan mungkin enggak akan pernah kesampaian sampai kapanpun." Ucapnya dalam hati sedih, sambil terus menatap kearah Devano dan Alana yang masih terus asyik bermesraan.
"Enggak mau ah.! Alana enggak mau maafin mas. Abis mas mah gitu, kebiasaan.!"Ucap Alana sambi terus cemberut dengan manja.
"Ia deeeh mas janji, mas enggak akan kayak gitu lagi. Tapi maafin mas dooong." Ucap Devano memohon.
"Ya udah deh ia, Alana maafin.! Tapi jangan kayak gitu lagi." Ucap Alana masih terus cemberut, sehingga Devano pun tersenyum.
"Masa udah maafin masih cemberuuut.? Emmmm senyum dooong.!" Ucap Devano sambil mencubit gemas kedua pipinya.
"Aw.! Sakiiiiiiit." Rengek Alana.
"Oh ia, maaf, maaf.!" Ucap Devano sambil tersenyum dan mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang, sehingga lagi-lagi Renata pun hanya bisa terdiam.
"Lihat mereka berdua mesra kayak gini, kayaknya gw memang udah enggak ada harapan lagi deh untuk miliki Devano. Apa mungkin gw kubur aja perasaan gw ini.?" Ucap Renata lagi dalam hati.
"Tapi apa mungkin gw sanggup.?" Ucapnya lagi dalam hati sedih sambil terus terdiam, sehingga Alana dan Devano yang sudah selesai bermesraan pun bingung.
"Dokter Renata, Dok.!" Ucap Alana.
"Woy.! Ren, loh kenapa.?" Ucap Devano.
"Eh iya kenapa.?" Ucap Renata kaget.
"Loh kenapa, kok dari tadi diem aja.?" Ucap Devano penasaran.
"Oh enggak.! E, e, enggak papa kok." Ucap Renata gugup karena ia berbohong.
"Oh ya udah langsung aja.! Apa yang mau loh sama Alana tanyakan.? Nanti biar gw jawab." Ucapnya lagi mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, hingga akhirnya Devano dan Alana pun langsung konsultasi kepadanya.
1 Jam kemudian,,,,
Devano dan Alana pun sudah selesai berkonsultasi, dan sekarang adalah waktu Renata untuk pulang.
__ADS_1
"Ya udah ya Dev, Alana juga, gw pulang dulu. Semoga pertemuan kita hari ini bermanfaat." Ucap Renata sambil tersenyum.
"Iya Ren, makasih yah loh udah mau datang ke rum,,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong karena tiba-tiba ponselnya bergetar karena ada yang menelponnya.
"Eh sebentar yah Ren.! Gw angkat telepon dulu." Ucap Devano sambil buru-buru mengangkat telepon tersebut, namun belum juga telepon tersebut di angkat sudah mati terlebih dahulu.
"Siapa emang mas yang nelepon, kok langsung diamatiin.?" Ucap Alana penasaran.
"Mas juga enggak tau, nomor baru soalnya." Ucap Devano serius, kalau no tersebut no baru dan tidak ia kenal.
"Eh tunggu dulu.! Ini kok ada chat dari Diki banyak banget, dia chat gw kapan yah.? Kok gw enggak denger." Ucapnya lagi bingung sambil buru-buru membuka dan membaca isi chat tersebut.
"Dev, loh lagi ngapain sih.? Dari tadi gw telepon enggak diangkat-angkat. Mobil gw mogok nih.! Jemput gw di bengkel yah, SEKARANG.!" Ucap Devano membacakan isi chat tersebut.
"Ya ampun maaas, kasihan amat. Mas jemput gih sekarang.!" Ucap Alana.
"Enggak bisa sayaaaang, ini itu chat udah dari satu jam yang lal,,,,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong, karena tiba-tiba Diki datang dan langsung marah-marah.
"Aduh Deeeev.! Loh itu kemana aja sih.? Apes banget tau enggak gw hari ini.! Udah mobil gw mogok, gw kehilangan jejak, dan yang paling bikin gw kesel, tadi itu gw ketemu sama cewek enggak jelas. Gilaaaa Itu cewek asal main tendang-tendang gw aj,,,,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong, karena ia kaget bukan main melihat Renata yang tak lain adalah perempuan tersebut, yang juga sedang berada di dalam rumah Devano.
"P, p, perempuan itu.! Bukannya itu perempuan yang tadi siang nendang INI gw yah.? Kok itu perempuan bisa ada disini.?"
Ucap Diki dalam hati kaget dan tak percaya sambil terus terbengong menatap Renata yang juga sedang menatap kearahnya.
"L, l, loh.!"
Ucap Renata yang juga kaget bukan main melihat Diki, lelaki tidak jelas yang sudah mengejar-ngejar Dimas adiknya bisa berada di dalam rumah Devano sahabatnya.
"Loh ngapain disini.? Loh sengaja yah ngikutin gw dari belakang.?" Ucap Renata menuduhnya dengan nyolot.
"Emang kalian udah pada saling kenal.?" Ucap Alana bingung.
"Iya Dik, Renata juga. Emang kalian udah pada saling kenal.?" Ucap Devano yang juga bingung melihat Diki dan Renata yang seperti sudah saling mengenal.
"Ini Dev, Alana juga, dia itu orang yang tadi udah buat gw telat ke rumah loh.! Jadi kalau loh mau marah, marahin aja tuh orang.!" Ucap Renata bsambil menatap sinis kaarahnya.
"Eh enggak bisa.! Enak aja main asal marah-marahin gw aja, emang gw salah apa.?" Ucap Diki tidak terima dengan ucapan Renata.
"Ya loh salah lah, tadi kan loh yang udah ngajakin gw ribut di jalan. Jadinya gw telat kan kesini.! Lagian loh ngapain sih disini, loh ngikutin gw yah.?" Ucap Renata lagi-lagi ia menuduhnya seperti itu.
"Eeeehhh, enak aja gw ngikutin loh.! Emang gw enggak ada kerjaan apa." Ucap Diki tak terima.
"Udah deh, loh ngaku aja.! Loh pasti ngikutin gw kesini kan.? Udah Dev.! Kalau loh mau marah, marahin aja tuh orang enggak jel,,,,,,,,," Seketika ucap Renata terpotong.
"Ssttttt.! Renata Udah.! Udah jangan pada ribut terus.! Dia itu namanya Bang Diki. Bang Diki ituuu, sahabat mas Devano." Ucap Alana mencoba untuk memberi tahu siapa Diki sebenarnya.
"Sayang, bukannya biarin aja enggak usah dikasih tau. Biar mereka pada ribut, biar rame." Ucap Devano sambil tersenyum.
"Ih mas apaan sih.! Orang temennya pada ribut malah seneng." Ucap Alana.
"Ya lagian, mereka pada nyrocos sendiri-sendiri aja enggak tanya-tanya dulu sama mas." Ucap Devano.
"Ya udah lah terserah.! Yang penting gw kesini bukan ngikutin loh.! Gw kesini ke Rumah Devano, sahabat gw. Denger kan loh.!" Ucap Diki kesel sambil menatap sinis kearah Renata.
"Ya udah lah Dev, gw cabut dulu. Enggak betah gw lama-lama disini.! Ada orang enggak jelas dan sok tau kayak dia tuh.!" Ucapnya lagi sambil menunjuk ke arah Renata.
"Ih emang gw juga mau apa lama-lama disini bareng loh.! Ogah." Ucap Renata mencoba untuk membalas ucapannya.
"Kalian itu sebenarnya pada kenapa sih.? Dari tadi ribut mulu." Ucap Devano bingung sambil tersenyum karena lucu melihat tingkah laku mereka.
"Tau nih.! Hati-hati loh, nanti jatuh cinta." Ucap Alana sambil tersenyum menggodanya.
"Iiiihhh amit-amit, amit-amit, amit-amit. Jangan sampai deh gw jatuh cinta sama cowok enggak jelas kayak dia.!" Ucap Renata sambil menunjuk kearah Diki.
"Kalau ngomong tuh hati-hati.! Jatuh cinta beneran sama gw baru tau rasa loh.!" Ucap Diki mencoba untuk meningkatkan.
Mendengar ucapan Diki, Renata pun langsung tersenyum.
"Gw, jatuh cinta sama loh.! Iiiih ogah." Ucap Renata dengan percaya dirinya.
"Ya udah lah, terserah loh aja. Gw capek ngurusin cewek enggak jelas kayak loh.!" Ucap Diki mengalah, karena hari ini ia memang benar-benar sudah sangat capek dan lelah.
"Ya udah yah Dev, gw cabut dulu." Ucap Diki.
"Eh Dik.! Emang loh mau pulang sama siapa.? Mobil loh kan ada di bengkel. Udah mendingan loh pulang sama Renata aja.! Rumah kalian searah kok.!" Ucap Devano sambil tersenyum menggodanya, ia sengaja menawarkannya seperti itu agar mereka ribut lagi.
"Gila kali loh Dev.! Masa gw pulang sama,,,,,," Seketika Diki pun terdiam dan langsung menatap kearah Renata.
"Apa.?" Ucap Renata nyolot sambil menatap kearah Diki.
"Ya udah lah Dev, Alana juga. Gw yang pulang duluan. Panas nih muka.! Lihat orang enggak jelas kayak dia." Ucap Renata lagi kesel, sambil berjalan keluar untuk pulang.
__ADS_1
"Woy.! Yang panas muka apa hati woy.! Hati-hati.! Jatuh cinta beneran nanti loh sama gw." Teriak Diki sambil tersenyum.