
"Aw, sssttttt.! Cukup Dev, cukup.!" Teriak Diki sambil meringis kesakitan.
"Gw tau loh marah kayak gini ke gw karena apa.! Biar gw jelasin semuanya sama loh Dev.! Biar gw jelas,,,,,,,,," Seketika teriakan Diki terpotong.
"Aaahhh.! Gw enggak butuh penjelasan dari penghianat kayak loh.!" Teriak Devano marah, kemudian ia pun langsung memukulinya lagi.
"Awww.!" Teriak Diki kesakitan dengan keadaan yang sudah tidak karuan karena wajahnya babak belur dihajar olehnya, namun ia tidak membalas pukulannya sama sekali, karena ia sadar ialah yang salah karena tidak jujur dari awal kepadanya.
"B*ngs*t loh dasar, A*j*ng.!" Teriak Devano sambil terus memukulinya dengan kuat.
"Awww.! Udah Dev.! Cukup Dev, ***,,,,," Seketika teriakan Diki terpotong, karena Devano tidak menghiraukannya, ia justru terus memukulinya dengan kencang, sehingga Renata, Siska dan Dimas yang dari tadi sedang berada di tempat tersebut pun tak tega.
"Devano cukup.! Loh itu apa-apaan sih Dev.?" Teriak Renata marah, sambil buru-buru menarik tangan Devano, agar ia berhenti memukulinya.
"Ia kak Devano, cukup kak.!" Teriak Siska yang juga ikut menarik-narik tangan Devano, karena ia benar-benar tidak tega melihat Diki Abangnya, Devano hajar sampai babak belur seperti itu.
"Kalau memang bang Diki ada salah sama kak Devano, kita bisa omongin baik-baik kak.! Kita bisa omongin baik-baik." Teriaknya lagi, ia mencoba untuk menasehati Devano secara baik-baik.
"Ia kak Devano, kita bisa omongin baik-baik kak.! Kita bisa omongin baik-baik.! Biar Dimas yang jelasin semuanya, karena semua ini bukan salah bang Diki.! Tapi semua ini salah Dimas kak." Teriak Dimas sambil memisahkan Devano dari Diki Abangnya, agar ia berhenti memukulinya. Hingga akhirnya ia pun berhasil memisahkannya dari Diki dan Devano pun akhirnya berhenti memukulinya.
"Tadi gw udah ngomong kan, enggak ada yang perlu dijelasin lagi, semuanya udah cukup jelas.! Diki Abang loh.! Dan juga loh Dimas.! Udah berani hianati gw, dan sampai kapanpun gw enggak akan pernah maafin penghianat kayak loh.! Dan juga loh Diki.!" Teriak Devano penuh emosi sambil menunjuk ke arah Diki.
"Camkan itu.!" Teriaknya lagi, kemudian ia pun langsung melangkah pergi keluar dari rumah tersebut, meninggalkan Renata, Siska, Dimas dan juga Diki yang babak belur dihajar olehnya.
"Aaaaaaah.! SIAL.!" Teriak Diki kesal sambil menggebrak meja yang ada di hadapannya, kemudian ia pun langsung melangkah masuk menuju kamarnya JEBRET.! Suara Diki menutup pintu kamar tersebut dengan kencang, sehingga Renata yang memang tidak tau apa-apa pun bingung.
"Siska, Dimas.! Sebenarnya ini tuh ada apa sih.? Kenapa coba tiba-tiba Devano datang kesini dan langsung mukulin bang Diki.?" Ucap Renata penasaran.
"Kak Renata, nanti aja yah Siska jelasinnya.? Soalnya sekarang Siska mau obati luka bang Diki dulu." Ucap Siska tergesa-gesa dan panik, sambil buru-buru melangkah menuju kamar Diki.
"Eeehh, tunggu dulu.!" Ucap Renata mencoba untuk menghentikan langkahnya.
"Biar kak Renata aja yang obat luka bang Diki, kak Renata ini kan Dokter." Ucapnya lagi, ia mencoba untuk menawarkan diri.
"Oh y, y, ya udah kalau gitu cepetan kak.! Kasihan bang Diki." Ucap Siska tergesa-gesa dan panik.
"Ya udah, ya udah.! Kalian tunggu disini dulu yah.? Kakak ambil peralatan kakak dulu di mobil." Ucap Renata sambil buru-buru mengambil peralatan medis yang biasa ia bawa di dalam mobilnya.
"Eh tunggu dulu kak.! Di luar kan hujan, nanti kakak kehujanan lagi, biar Dimas aja kak yang ambilin." Ucap Siska serius kalau keadaan di luar sekarang ini sedang hujan deras.
"Udah enggak papa, biar kak Renata aja." Ucap Renata, kemudian ia pun langsung buru-buru melanjutkan langkahnya untuk mengambil peralatan medis tersebut di dalam mobilnya.
10 Menit berlalu,,,,,
Renata pun sudah kembali lagi masuk ke rumah Diki sambil membawa peralatan medis tersebut, dengan keadaan baju yang basah kuyup terkena air hujan.
"Ya ampun kaaak, kata Siska juga apa.? Dimas aja yang ambil peralatan kakak.! Tuh kan, baju kakak jadi basah kayak gini.!" Ucap Siska merasa bersalah.
"Enggak kok.! Kakak enggak papa." Ucap Renata sambil tersenyum.
"Enggak papa gimana.? Orang baju kakak basah kayak gini.!" Sambung Dimas.
"Ya udah, ya udah.! Sekarang kakak pinjem baju Siska aja.! Ayo.!" Ucap Siska sambil menggandeng tangan Renata dan mengajaknya masuk ke dalam kamarnya, kemudian ia pun langsung menyuruhnya untuk memilih baju mana yang ia sukai dan muat di badannya.
"Ya udah.! Kalau kak Renata mau ganti baju, ganti baju aja disini.! Siska tinggal dulu yah kak.! Soalnya Siska mau lihat keadaan Bang Diki dulu." Ucap Siska sambil buru-buru melangkah keluar dari kamarnya menghampiri Dimas dan mengajaknya masuk kedalam kamar Diki abangnya.
DI KAMAR DIKI.
Terlihat Siska dan Dimas yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut.
"Ya ampun baaaaang, kenapa jadi kayak gini sih.?" Ucap Siska tak tega melihat keadaan Diki Abangnya yang babak belur seperti sekarang ini.
"Aw.! Sssttttt.! Udaaah, Abang enggak kenapa-napa kok.!" Ucap Diki mereunyi kesakitan, ia mencoba untuk menenangkannya.
"Bang Diki, Dimas minta maaf yah Bang.? Semua ini gara-gara Dimas, coba aja kalau waktu itu Dimas enggak tergiur sama uang, pasti semua ini enggak akan pernah terjadi sama Abang." Ucap Dimas merasa bersalah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Udah lah Dim.! Enggak usah nyalahin diri sendiri terus kayak gitu, semuanya kan udah terjadi, lagian Abang juga enggak papa kok.! Yang penting inget.! Jangan pernah kamu ngulangin perbuatan kayak gitu lagi.!" Ucap Diki sambil mengusap-usap pundaknya, ia mencoba untuk menasehatinya.
"Oh ia.! Ngomong-ngomong, emang kak Renata udah pulang.?" Ucap Diki penasaran, sambil tengak-tengok keluar kamarnya karena kebetulan pintu kamarnya itu terbuka.
"Belum Bang, kak Renata lagi ganti baju dulu di kamar Siska. Soalnya tadi itu kak Renata kehujanan bang, terus bajunya basah." Ucap Siska mencoba untuk memberi tahu kepadanya.
"Kehujanan.? Emang kak Renata dari mana.?" Ucap Diki bingung.
Mendengar pertanyaan Diki, Siska pun langsung buru-buru memberitahu kepadanya mengapa Renata bisa kehujanan seperti itu.
"Yang bener Sis.? Kak Renata rela hujan-hujanan demi mau ambil peralatan buat ngobatin luka Abang.?" Ucap Diki tak percaya dengan ucapan Siska.
"Iya Bang, Siska serius." Ucap Siska mencoba untuk meyakinkannya lagi.
"Eeemmmm, so sweet juga yah Dokter cinta Abang itu.!" Ucap Dimas sambil tersenyum menggodanya.
"Apaan sih Dim, kamu dari kemaren goda-godain Abang kayak gitu mulu.! Abang ini enggak ada perasaan apa-apa yah sama kak Renata." Ucap Diki serius, kalau sampai sekarang pun ia tidak mempunyai perasaan apa-apa kepadanya.
"Eh Bang.! Tapi serius loh, kayaknya kak Renata itu suka loh sama Abang." Ucap Siska mencoba untuk memberi tahu kepada Diki Abangnya.
"Soalnya dari tadi Siska perhatiin, kak Renata itu kayak,,,,,,,,," Seketika ucapan Siska terpotong.
__ADS_1
"Maaf, aku boleh masuk kan.?" Ucap Renata yang sedang berdiri tepat di depan pintu kamar tersebut, sambil membawa peralatan medis yang tadi sempat ia ambil di dalam mobilnya.
Melihat Renata datang ke kamarnya, Diki pun langsung tertawa.
"Bang.! Abang kenapa sih ketawa-ketawa kayak gitu.?" Ucap Siska bingung dan sedikit kesel.
"Oh enggaaak, Abang ketawa lucu aja ngeliat kak Renata pakai baju tidur loh.! Soalnya enggak pantes." Ucap Diki sambil terus tertawa, ia mencoba menjelaskan mengapa ia bisa tertawa seperti sekarang ini.
"Iiiihhh apaan sih bang Diki, orang udah cantik-cantik juga pakai baju ini.! Malah diketawain." Ucap Renata dalam hati kesel.
"Oh ia kak Renata, ya udah ayo masuk.!" Ucap Siska sambil tersenyum.
"Oh, i, i, iya." Ucap Renata gugup sambil buru-buru masuk ke dalam kamar tersebut.
"Ya udah Bang.! Dokter cintanya udah datang tuh.! kita tinggal dulu yaaah.?" Ucap Dimas lagi-lagi ia menggoda Diki Abangnya, sambil buru-buru menggandeng tangan Siska dan mengajaknya keluar dari kamar tersebut.
"Eh.! Kok kalian tinggalin kak Renata sama bang Diki di dalam kamar berduaan doang sih.?" Ucap Renata panik, karena memang ia belum pernah berduan di dalam kamar dengan laki-laki mana pun kecuali keluarganya.
"Udaaah.! Gw enggak bakalan apa-apain loh kok.! Enggak usah takut." Ucap Diki yang dari tadi sedang duduk di sofa kamarnya.
"Ya udah cepetan.! Katanya loh mau obatin gw." Ucapnya lagi.
"I, i, iya." Ucap Renata gugup, sambil berjalan menghampirinya dan duduk tepat disampingnya, kemudian ia pun langsung terdiam sambil melihat-lihat kamar tersebut, sehingga membuat Diki pun tersenyum.
"Ngapain loh lihat-liha kamar gw kayak gitu.? Enggak suka loh disini.! Kamar gw kecil.? Enggak segede dan semewah kamar loh.?" Ucap Diki sok tau.
"Oh e, e, enggak kok.! Gw enggak bermaksud kayak gitu, beneran.?" Ucap Renata lagi-lagi gugup, karena ia merasa tidak enak kepadanya.
"Y, y ya udah.! Kalau gitu, mendingan langsung Renata obatin aja yah Bang lukanya.?" Ucap Renata mencoba mengalihkan pembicaraannya, sekarang ini ia sengaja tidak berbicara menggunakan bahasa loh, gw, loh, gw lagi saat bersama Diki karena ia ingin berhubungan baik dengannya, sehingga membuat Diki pun langsung terdiam sambil tersenyum.
"Ini serius, Renata panggil gw Bang.? Dan sekarang dia udah enggak pake bahasa loh, gw, loh, gw lagi pas lagi ngomong sama gw.?" Ucap Diki dalam hati tak percaya.
"Eeemm kayaknya bener deh kata Dimas dan Siska, kalau ini cewek udah muali suka sama gw." Ucapnya lagi dalam hati dengan percaya dirinya sambil tersenyum, sehingga membuat Renata pun bingung.
"Bang Diki, bang.? Abang kenapa.? Kok dari tadi senyum-senyum sendiri.?" Ucapnya.
"Oh e, e, enggaaak, enggak papa.!" Ucap Diki gugup karena ia sedang berbohong.
"Y, y, ya udah ayo cepetan, obatin luka gw.! Awww, sssssttt.! Sakit banget nih.!" Ucap Diki kesakitan sambil memegang pelan wajahnya yang babak belur itu.
"Oh i, i, iya." Ucap Renata sambil buru-buru mengeluarkan peralatan medisnya dari dalam tas, kemudian ia pun mencoba untuk membersihkan lukanya, namun belum sempat ia membersihkan lukanya, lagi-lagi Diki sok tau
"Oh ia.! Ngomong-ngomong ngapain loh ke rumah gw.? Kangen loh sama gw.?" Ucap Diki sambil tersenyum menggodanya, sehingga membuat Renata pun kesel.
"Udah deh.! Kalau Bang Diki mau ngomong-ngomong kayak gitu, lebih baik Renata pulang aja.!" Ucap Renata kesal, sambil buru-buru membereskan lagi peralatan medis yang tadi sempat ia keluarkan dari dalam tasnya.
"Udah yah, loh enggak usah marah.! Gw cuma bercanda." Ucapnya lagi dengan tegas.
"Tapi Renata enggak mau yah.? Bang Diki bercanda-canda kayak gitu lagi." Ucap Renata masih kesal, karena ia tidak suka dengan bercandaan Diki yang seolah-olah menggambarkan ia adalah perempuan murahan.
"Iya enggaaaak, gw minta maaf." Ucap Diki serius.
"Ya udah, cepetan obati luka gw.! Awww, ssssttt.! Sakit banget tau.!" Ucapnya lagi sambil terus mereunyi kesakitan, sehingga Renata pun tak tega dan langsung buru-buru membersihkan dan mengobati luka tersebut.
"Tahan yah Bang.! Soalnya agak-agak perih." Ucap Renata mencoba untuk mengingatkannya dengan baik-baik, kemudian ia pun langsung membersihkan luka tersebut.
"Aw.! Sssttttt.! Pelan-pelan Renata.! Perih banget tau.!" Teriak Diki dengan kencangnya karena saking perihnya.
"Iya Baaang, tahan dulu.! Bentar lagi juga selesai." Ucap Renata dengan sabarnya, sambil terus membersihkan luka tersebut.
"Gimana gw mau tahan, orang perih banget kayak gini." Ucap Diki kesal.
"Ya makanya tahan dulu.! Renata juga tau perih, lagian ini juga udah mau selesai kok.!" Ucap Renata yang sudah mulai mengobati lukanya.
"Aw.! Sssttttt.! Tapi beneran kan udah mau selesai.?" Ucap Diki masih kesakitan.
"Iya baaang, udah mau selesai." Ucap Renata.
"Naaaah ini udah sel,,,,,,,,,," Seketika ucapan Renata terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar suara petir beserta kilat yang menyambar-nyambar dengan begitu kencangnya sehingga ia pun ketakutan, kemudian ia pun langsung memeluk Diki dengan begitu eratnya.
"Aw.! Ssstttttt, sakit Ren.! Gilaaaa, pelan-pelan pelukannya.! Loh kenapa.?" Ucap Diki bingung sekaligus kesakitan karena Renata memeluknya mengenai tubuhnya yang babak belur.
"Renata takut baaaang, Renata takuuuut.?" Ucap Renata tergesa-gesa dalam keadaan yang sangat ketakutan.
"Iya loh takut, tapi loh takut apa.?" Ucap Diki kebingungan.
"Renata takut petir Bang, Renata takuuuut." Ucap Renata lagi masih ketakutan, sambil terus memeluk Diki dengan eratnya, sehingga Diki pun langsung tersenyum dan lagi-lagi sok tau.
"Loh takut, apa sengaja pengin meluk gw.? Gilaaaa kenceng banget ini meluknya." Ucap Diki sambil tersenyum menggodanya, sehingga Renata yang sedang ketakutan pun marah dan langsung melepaskan pelukannya itu.
"Maskud Abang itu apa sih ngomong kayak gitu.? Udah yah bang.! Udah cukup.! Udah cukup dari tadi Abang ngeredahin Renata terus. Dan satu lagi.! Renata tadi meluk Abang, itu karena Renata beneran takut, bukan karena Renata lagi cari-cari kesempatan untuk bisa meluk Abang.!" Ucap Renata marah, sambil buru-buru membereskan lagi semua peralatan medisnya, kemudian ia pun mencoba untuk melangkah keluar dari kamar tersebut, namun belum sempat ia melangkah, langkahnya sudah terhenti.
"Renta tunggu.!" Ucap Diki sambil menarik tangannya dengan kuat, sehingga Renata pun terjatuh tepat dipangkuannya.
"Awas ah.! Lepasin.!" Ucap Renata masih marah, sambil berusaha untuk beranjak dari pangkuannya.
"Ren, loh itu kenapa sih Ren.? Tadi itu gw cuma bercanda." Ucap Diki serius, sambil memegang tangannya lebih kuat lagi, agar ia tidak bisa beranjak dari pangkuannya.
__ADS_1
"Tapi tadi Bang Diki udah tau kan.? Renata itu enggak suka dibercandain kayak gitu.! Tapi kenapa coba, Bang Diki masih aja bercanda kaya git,,,,,,," Seketika ucapan Renata terpotong, karena tiba-tiba Diki langsung mencium bibirnya, sehingga membuat Renata pun kaget dan syok.
"Ini beneran, Bang Diki lagi cium gw.? Gw enggak lagi mimpi kan.?" Ucap Renata dalam hati tak percaya dengan apa yang sedang Diki lakukan sekarang ini kepada dirinya, namun karena ia menaruh perasaan kepadanya, perlahan ia pun memejamkan matanya, sambil menikmati disetiap sentuhan-sentuhan dan permainan dari bibir dan lidah Diki yang sangat lihai memainkan lidah dan bibirnya, sehingga Diki yang melihatnya pun tersenyum, kemudian ia pun menyudahi ciumannya itu.
"Gw minta maaf yah.? Kalau tadi kata-kata gw udah buat loh marah." Ucap Diki serius, sambil menatap dalam wajah cantiknya.
"B, B, Bang Diki.?" Ucap Renata gugup sambil memegangi bibirnya, karena ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi antara ia dan Diki.
"Iya kenapaaa.?" Ucap Diki pelan, sambil mengusap-usap rambutnya.
"T, t, tadi, Bang Diki cium Renata.?" Ucapnya lagi sambil menatap dalam wajahnya.
"Iya, emang kenapa.? Kamu pengin cium lagi.?" Ucap Diki serius sambil tersenyum dan mengusap-usap bibir seksi Renata yang basah karenanya. Ia berbicara seperti itu, karena ia sangat yakin kalau Renata pasti sangat bersedia dicium olehnya lagi, apalagi mengingat betapa menikmatinya Renata saat ia cium tadi, dan sepertinya sekarang ini Diki sedang kesepian, sehingga ia mau mencium Renata perempuan yang tidak ia cintai.
"T, t, tapi Bang,,,,," Ucap Renata lagi-lagi gugup.
"Tapi, tapi apa.? Kamu mau kan.?" Ucapnya lagi serius, sambil terus menatap dalam wajah cantiknya.
"I, i, iya, Renata mau." Ucap Renata malu-malu kucing, sehingga membuat Diki pun lagi-lagi tersenyum.
"Apa.? Tadi kamu ngomong apa.?" Ucap Diki pura-pura tidak mendengarnya.
"I, i, iya Renata mau.!" Ucap Renata dengan nada yang lebih tinggi, ia mencoba untuk mengulangi ucapnya lagi.
"Hah.! Apa-apa.? Abang enggak denger, coba ulangi lagi.!" Ucap Diki sambil tersenyum menggodanya, lagi-lagi ia pura-pura tidak mendengarnya, sehingga membuat Renata pun kesel.
"Iiiihhh Abang.! Tau ah.!" Ucap Renata sambil cemberut, sehingga membuat Diki pun lagi dan lagi tersenyum.
"Eeemmmm jangan cemberut dooooong.! Musuh Abang.!" Ucap Diki sambil tersenyum dan mencubit gemas kedua pipinya.
"Nih.! Abang cium lagi yaaaaah." Ucapnya lagi sambil mengusap-usap rambutnya, kemudian ia pun langsung mencium bibirnya lagi, dan Renata pun hanya bisa pasrah. Bahkan bukan hanya bibir yang Diki cium, ia terlihat mencium dan menjilati telinga Renata dengan rakusnya.
"Aw.! Baaaaang." Ucap Renata kenikmatan sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh Diki, sehingga nafsu Diki pun semakin menggila dan tiba-tiba juniornya pun langsung bangun dan mengeras.
"Awww.! Bang Diki, ini apaaaan.?" Rengek Renata dengan manjanya sambil menggesek-gesekkan bokongnya ke junior Diki yang mengeras itu.
"Aaaahhhh.! Sssttttt Aaaahhhh.!" Suara Diki mendesah kenikmatan, kemudian ia pun langsung menciumi lagi bibirnya dengan rakusnya, bahkan sekilas terlihat tangan nakal Diki yang masuk dan menyelusup ke dalam baju dan celana renata, kemudian jari-jarinya pun langsung memainkan bagian-bagian sensitifnya.
"Aw baaang, awww.! Awww, enggak mau baaang.!" Suara Renata mendesah cukup keras karena saking nikmatnya permainan dari Diki itu, apa lagi ini adalah kali pertama ia merasakan hal seperti itu.
"Sssttttt.! Jangan keras-keras.! Nanti Dimas sama Siska denger." Bisik Diki tepat ditelinga nya, sambil terus memainkan bagian-bagian sensitifnya.
"Aw baaang, tapi Renata enggak bisa, Awww.! pelaaan." Rengek Renata dengan manjanya sambil mendesah kenikmatan, sehingga nafsu Diki pun semakin memuncak dibuatnya, kemudian ia pun langsung menciumi kembali bibirnya, sambil membuka satu persatu kancing baju yang sedang ia kenakan
Karena sepertinya ia ingin menikmati habis seluruh tubuh Renata malam ini juga.
"B, b, bang Diki mau ngapain.? J, j, jangan bang.!" Ucap Renata ketakutan sambil buru-buru menutupi bagian dadanya yang sempat Diki buka.
"Pleaseee.! Sekali ini aja yah.? Abang udah enggak kuat nih.!" Ucap Diki ngos-ngosan dengan raut wajah penuh dengan nafsu.
"T, t, tapi kita kan belum nikah bang.? Renata enggak mau.! Renata takuuuut, Renata takut kalau sampai nanti Renata hamil." Ucap Renata masih ketakutan sambil terus menutupi bagian dadanya.
"Kalau ngelakuinnya cuma satu kali, kamu enggak bakalan hamil." Ucap Diki berbohong, yang sebenarnya Renata pun sangat tau kalau ia berbohong, karena sebagai Dokter kandungan ia sangat-sangat tau hal seperti itu.
"T, t, tapi Bang.!" Ucap Renata gugup karena ia masih sangat ketakutan.
"Udah kamu nurut aja sama Abang yah.? Abang jamin kamu enggak bakalan hamil." Ucap Diki mencoba untuk meyakinkannya, meskipun sesungguhnya ia pun tidak yakin dengan ucapan itu, kemudian ia pun langsung membaringkan tubuh Renata di atas sofa yang sedang ia duduki.
"B, B, Bang Diki, Renata takuuuut." Rengek Renata masih ketakutan.
"Ssstttttt.! Kamu enggak usah takut.! Percaya sama Abang, yaaah.?" Ucap Diki mencoba untuk menenangkannya, kemudian ia pun langsung membuka semua pakaian yang sedang Renata kenakan dan langsung memulai permainannya.
"Aw.! Sakit baaaaang." Rengek Renata kesakitan karena Diki sedang mencoba menerobos benteng pertahanan yang ia miliki.
"Iya tahan yaaah.?" Ucap Diki dengan suara ngos-ngosan sambil mengusap-usap rambutnya.
"Tapi sakit baaaaang, awwww.! Sakiiiiit." Ucap Renata lagi-lagi kesakitan, karena Diki masih terus mencoba menerobos benteng pertahanannya itu.
"Ahhhhh.! Sssttttt Aaaahhhh.!" Teriak Diki kenikmatan, sambil terus mencoba untuk menerobos benteng pertahanan milik Renata dengan sekuat tenaga.
"Aw, ssstttt sakit baaang.! Aww, Baaang.! Aw, sakit bang.! Awwwwwwww.!"
Teriak Renata dengan begitu kencangnya, karena Diki berhasil menerobos benteng pertahanannya dan akhirnya keperawanannya pun berhasil ia renggut.
########
Haduuuh.! Kalau udah kayak gini ceritanya, kira-kira Renata mau dijadiin apa yah sama Diki.?
-Pacar.
-Istri. atau
-Temen tidur disaat ia sedang kesepian.
__ADS_1
Ayo dong.! Jangan lupa, like, coment dan vote.