DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 11


__ADS_3

Mendengar kata-kata dari Devano dengan raut wajahnya yang seperti itu, Tania sudah bisa menebak betapa kecewa dan marahnya Devano saat ini, dengan segera ia pun langsung menghampirinya lebih dekat lagi.


"Sayaaang,, aku bisa jelasin semua ini sama kamu sayang, semua ini enggak seperti apa yang kamu pikirkan.??? Kamu percaya sayang sama aku, kamu percaya.!!! Biar aku jelasin dulu semua ini sama kamu, aku mohon sayang, aku mohon.!!!" Kata Tania panik dan ketakutan sambil memohon-mohon kepada Devano berharap ia akan mendengarkan kata-katanya.


"Enggak,, sampai kapan pun gw enggak akan pernah mau dengerin penjelasan dari kamu, semuanya sudah cukup jelas Tania, semuanya sudah cukup jelas.!!! Kalau kamu baru saja tidur bersama dengan lelaki kurang ajar itu, iya kan.?!!!!" Kata Devano dengan suara yang sangat tinggi karena marah, sambil menunjuk ke arah pria tersebut yang tak lain adalah Rasya, iya,,, Rasya sahabatnya sendiri yang selama ini selalu ia bangga-banggkan karena kesetiaannya, kemudian dengan segera Devano pun langsung melangkah keluar dari rumah Tania.


"Sayang.!!! Kamu mau kemana.??? Jangan pergi dulu sayang.!!! Aku bisa jelasin semua ini sama kamu sayang, aku bisa jelasin semua ini sama kamu.!!!" Teriak Tania sambil menangis karena ketakutan akan kehilangan Devano, kemudian Tania pun langsung menarik-narik tangan Rasya.


"Rasya kenapa kamu diem aja sih.?!!! Kamu bantu aku dong, biar Devano itu percaya sama aku.!!!" Teriak Tania lagi dengan raut wajah yang sangat marah.


Melihat raut wajah Tania semarah itu, alih-alih takut kepadanya, Rasya justru malah tersenyum.


"Hemm apa loh bilang.??? Loh suruh gw bantuin loh ngomong sama Devano, biar Devano percaya sama loh.???" Kata Rasya sambil terus tersenyum.


"Tania,,, Tania,,,, Devano itu udah dewasa.!!! Tanpa gw jelasin apapun sama dia, dia itu udah pasti tau jawabannya.!!! Kalau kita ini, baru saja tidur bersama." Kata Rasya dengan suara tinggi, ia terang-terangan mengakui hal tersebut di depan Diki.


"Apa,,,, jadi semua ini bener.??? Loh, sama Tania baru aja,,,,,,,," Kata Diki tak percaya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gw enggak nyangka sama loh Ras.??? Kenapa loh tega sih ngelakuin semua ini dibelakang Devano, hah.?!!! Kita ini sahabat Ras, kita ini sahab,,,,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.


"Cukup Dik, cukup.!!!! Loh enggak usah bentak-bentak gw.!!! Gw kasih tau yah sama loh Dik, arti sahabat itu hanya berlaku untuk kalian berdua, dan semua itu tidak berlaku untuk gw, karena apa.??? Karena sampai kapan pun gw enggak akan pernah sudi mempunyai sahabat seperti Devano, ngerti kamu.???" Kata Rasya dengan suara yang sangat tinggi karena marah, entah apa alasannya mengapa ia tak sudi mempunyai sahabat seperti Devano.


"Gila yah loh ras, gw bener-bener enggak ngerti lagi dengan jalan pikiran loh.??? Gw rasa loh itu udah enggak waras tau enggak.?!!! Loh itu bener-bener udah enggak waras.!!!" Kata Diki dengan suara tinggi karena marah, kemudian ia pulang langsung melangkah keluar dari rumah Tania menghampiri Devano.


"Ahhhhhh.!!! Sial, sial, sial.!!! Kenapa sih gw bodoh banget selama ini.???" Kata Devano dengan suara tinggi karena marah sambil menendang pintu gerbang rumah Tania dengan sangat kuat BRUGGGG.!!! Karena ternyata dari tadi Devano masih di depan rumah Tania sedang menunggu Diki.


Melihat keadaan Devano seperti itu, Diki pun langsung melangkah menghampirinya lebih dekat lagi.


"Udah lah brooo, loh yang sabar aja.!!! Mungkin semua ini memang yang terbaik buat loh." Kata Diki pelan, sambil mengusap-usap pundak Devano, ia mencoba untuk menenangkannya.


"Gw cuma enggak ngerti aja Dik, kenapa sih selama ini gw bisa bodoh banget.??? Kenapa coba, gw enggak curiga sama sekali sama mereka berdua." Kata Devano menyayangkan dirinya mengapa selama ini tak menyadari penghianatan dari Tania dan Rasya.

__ADS_1


"Iya Dev, gw tauuuu banget sekarang perasaan loh itu kaya gimana, tapi loh harus tetap sabar.!!! Lebih baiiiik,,, sekarang kita pulang yah.???" Kata Diki pelan, lagi-lagi ia mencoba untuk menenangkannya.


Mendengar kata-kata dari Diki, Devano hanya menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang sangat frustasi, kemudian ia pun langsung melangkah menuju motor Diki dan diikuti oleh Diki dari belakang, namun belum juga mereka berdua sampai di mana motor Diki berada, tiba-tiba langkahnya sudah terhenti.


"Tunggu dulu.!!!" Teriak Rasya dari belakang, sambil melangkah menghampiri mereka berdua.


"Mau apa lagi loh nyamperin kita.??? Belum puas juga loh nyakitin Dev,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.


"Udah Dik, biar gw aja yang ngomong." Kata Devano pelan.


"Udah Cepetan, loh mau ngomong apa lagi sama gw.???" Kata Devano kesal, ia meminta Rasya cepat-cepat berbicara dengan dirinya, karena ia sudah tidak mau lagi melihat seorang penghianat berada dihadapannya.


Melihat Devano kesal seperti itu, Rasya justru tersenyum seperti tak punya salah.


"Wooohhh Satai bro enggak usah marah-marah.!!! Gw sekarang nyamperin loh, Karena gw mau nyampein kabar baik buat loh.?? Dan gw sangat yakin, loh pasti seneng mendengar kabar baik ini dari gw." Kata Rasya dengan santainya, ia mencoba untuk memancing-mancing emosi Devano.


"Udah enggak usah pakai basa-basi.!!! Sekarang loh mau ngomong apa.???" Kata Devano semakin kesal.


Melihat Devano yang semakin kesal, lagi-lagi Rasya pun tersenyum.


"Kurang ajar.!!!! Kalau emang loh enggak cinta sama Tania, kenapa loh berani ngelakuin itu sama Dia, hah.!!!" Kata Devano dengan suara tinggi karena marah sambil mengangkat baju dibagian leher Rasya.


"Dev, udah Dev.!!! Jangan sampai emosi loh terpancing oleh penghianat kaya dia Dev, udah Dev.!!! Turunkan tangan loh Dev.!!!" Kata Diki sambil menarik-narik tangan Devano dari baju Rasya.


"Enggak, laki-laki kurang ajar ini harus gw kasih pelajaran.!!! Sekarang juga kasih tau gw, kalau loh enggak cinta sama Tania, kenapa loh berani ngelakuin ini sama dia.!!! Sekarang juga jawab pertanyaan gw.!!! Jawab.!!!" Kata Devano dengan suara yang lebih tinggi lagi karena saking emosinya, sambil terus mengangkat baju dibagian leher Rasya dengan kuat.


"Awas, lepasin enggak baju gw.!!!" Kata Rasya dengan suara tinggi karena marah.


"Enggak.!!! Gw enggak akan pernah lepasin baju loh, sebelum loh jawab pertanyaan dari gw, kenapa loh berani ngelakuin ini sama Tania kalau loh enggak cinta sama Dia.?!!! Kenapa, hah.?!!!" Kata Devano.


"Ok,,, kalau loh memang bener-bener ingin tau jawabannya, sekarang juga gw akan jawab pertanyaan dari loh.!!! Gw nidurin cewek murahan loh itu, karena gw pengin loh hancur seperti sekarang ini Dev, karena apa.??? karena selama ini gw itu iri sama loh.!!! Gw itu iri sama loh Dev.!!! Gw juga ingin bisa kayak loh, disayangi semua temen-temen, dikejar-kejar banyak cewek, dan disegani oleh guru-guru meskipun mereka semua tau kalau loh itu berandal.!!! Dan satu lagi, gw juga enggak setuju loh itu jadi ketua diGenk kita, karena yang seharusnya jadi ketua diGenk kita Itu gw..??? Bukan loh Dev, bukan loh.!!!!" Kata Rasya dengan suara tinggi, ia berbicara seperti itu, karena selama ini ia memang sangat-sangat iri kepada Devano, yang selalu diperlakukan seperti anak emas, selalu disegani oleh guru-guru dan teman-temannya, meskipun sesungguhnya mereka semua tau kalau Devano itu adalah anak yang badung, apalagi dengan banyaknya perempuan yang mengejar-ngejarnya semua itu membuat Rasya semakin iri kepada Devano, belum lagi dengan kedudukan Devano yang menjadi ketua diGenk tawurannya, karena tanpa sepengetahuan dari kita ternyata Devano adalah ketua dari Genk tersebut, mungkin alasan mereka semua memperlakukan Devano seperti itu, karena Devano itu adalah anak pak Erik pendonor dana terbesar disekolahannya.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Rasya, Diki hanya bisa terdiam karena kaget, ia tak percaya Rasya tega mengkhianati Devano hanya karena rasa iri dihatinya, begitupun juga dengan Devano.


"Apa.???" Kata Devano kaget dan tak percaya.


"Iya,,, itu alasannya, loh udah tau kan jawabannya, kalau loh udah tau jawabannya, sekarang juga lepasin baju gw.?!!!!" Kata Rasya dengan suara tinggi sambil mencoba untuk melepaskan tangan Devano.


"Gw enggak nyangka, gw bener-bener enggak nyangka, jadi karena ini loh tega ngelakuin semua itu sama Tania.??? Karena loh iri sama gw, hah.??? Loh tenang aja.!!! Kalau memang loh mau, loh ambil semuanya buat loh.!!!! Gw udah enggak butuh.!!! Dan gw ingatkan satu lagi sama loh, sampai kapan pun gw enggak akan pernah balikan lagi sama Tania, ngerti kamu.???" Kata Devano sambil melepaskan baju Rasya kemudian mendorongnya dengan kuat.


"Gila yah loh Ras, gw enggak nyangka loh itu sepicik ini.?? Hanya karena loh iri sama Devano, loh tega mengkhianati persahabatan kit,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.


"Udah ayo ah cabut Dik.!!! Enggak ada gunanya loh ngomong sama dia." Kata Devano kesal, sambil melangkah menuju motor Diki dan diikuti oleh Diki dari belakang, kemudian mereka pun langsung jalan pulang menuju rumah Diki.


DI RUMAH DIKI.


Waktu menunjukkan pukul 07:00 pagi


Terlihat Diki yang masih tertidur pulas di tempat tidurnya, akan tetapi tidak dengan Devano, ia terlihat sedang duduk disamping Diki sambil memainkan gitar dengan raut wajah yang masih sangat frustasi, karena memikirkan penghianatan dari Rasya dan Tania semalam.



"Kenapa gw ini bodoh banget sih.??? Bodoh, bodoh, bodoh, kenapa juga coba gw ini bisa enggak sadar kalau Tania itu selingkuh dibelakang gw.??? Apalagi selingkuhannya dengan Rasya lagi sahabat gw sendiri, gw bener-bener enggak nyangka mereka selingkuh sampai melakukan hubungan terlarang seperti itu." Kata Devano dalam hati tak percaya, kalau Rasya berani melakukan hubungan **** diluar nikah bersama dengan Tania, karena sebadung-badungnya Devano ia tidak pernah melakukan hal seperti itu.


"Oh iya, kalau dipikir-pikir ada benernya juga yah ucapan dari gadis kecil itu semalam.??? Dan sepertinya, sekarang ini sedikit-sedikit gw udah mulai memahaminya deh, KALAU DI DUNIA INI, ENGGAK ADA YANG SETIA MELEBIHI KEDUA ORANG TUA KITA, BAIK SAHABAT, BAHKAN PACAR SEKALI PUN, Iya bener banget,,, semua ini sedang gw rasakan saat ini." Kata Devano, entah mengapa tiba-tiba ia mengingat ucapan dari gadis kecil tersebut, dan sepertinya sekarang ini sedikit-sedikit ia sudah mulai sejalan dan sepemikiran dengan gadis kecil tersebut.


"Eehhh tapi tunggu dulu deh.!!! Kenapa tiba-tiba gw jadi ingat sama gadis kecil itu yah.???" Kata Devano bingung.


"Eemmm,, tapi pantes aja sih kalau gw inget sama gadis kecil itu juga.??? Secara dia kan cantik, lucu, baik, pemikirannya dewasa, pinter lagi, Eemmmm kalau di inget-inget rasanya gw jadi kangen deh pengin ketemu sama gadis kecil itu lagi.??? Tapi dimana yah kira-kira gw bisa nemuin dia.???" Kata Devano dalam hati sambil tersenyum karena mengingat-ingat betapa cantik dan lucunya gadis kecil tersebut.


"Oh iya gw lupa, kan kalung liontin gadis kecil itu ada di gw.??? Kalau gw kangen sama gadis kecil itu, gw tinggal lihat foto dia aja didalam kalung itu.??? Iya, iya, bener banget,,, lebih baik sekarang gw ambil kalungnya." Kata Devano sambil tersenyum senang karena akhirnya ia mempunyai cara untuk mengurangi rasa kangen dihatinya kepada gadis kecil tersebut, kemudian dengan segera Devano pun langsung mengambil kalung liontin tersebut di saku jaketnya.


"Hemm lucu banget sih kamu.??? Terimakasih yaaah,,, hari ini kamu sudah bisa membuat gw tersenyum,,,, Eeehhhhh.!!! Kakak maksudnya, kata kamu kan, enggak boleh nyebut GW ke anak yang lebih kecil ENGGAK SOPAN." Kata Devano sambil tersenyum menatap foto gadis kecil tersebut didalam liontin, dan ia pun mencoba mengingat-ingat apa saja kata-kata dari gadis kecil tersebut.

__ADS_1


Devano masih terus tersenyum sambil berbicara dengan liontin tersebut, sehingga Diki yang baru bangun tidur pun terdiam melihat tingkah laku sahabatnya itu.


"Devano,,, loh kenapa.??? Loh enggak gila kan gara-gara putus dari Tania.???" Kata Diki pelan sambil tersenyum heran menatap kearah Devano yang masih terus tersenyum sambil berbicara sendiri seperti orang gila.


__ADS_2