
DI RUMAH RENATA.
Waktu menunjukkan pukul 08:00 Malam.
Terlihat Renata, Pak Edo dan Ibu Lia yang tak lain adalah kedua orang tua Renata yang sedang makan malam bersama.
"Sayang, tumben banget tadi kamu pulang kerja agak telat.?" Ucap Ibu Lia penasaran.
"Oooh itu mah, tadi itu di rumah sakit Renata lagi banyak banget pasien, Alhamdulillah banget mah, sekarang ini pasien Renata udah tambah banyak." Ucap Renata sambil tersenyum, ia mencoba untuk menjawabnya seperti itu, sehingga pak Edo yang sedang duduk di sampingnya pun tersenyum karena saking bangganya.
"Enggak sia-sia sayang, dulu papah kuliahin kamu jauh-jauh.! Kamu ini bener-bener anak papah yang paling bisa membanggakan papah, belum pernah sedikitpun kamu ini buat papah mu ini kecewa." Ucapnya serius, sambil terus tersenyum dan membangga-banggakannya, sehingga Renata yang sedang minum pun seketika tersedak.
"Uhuk.!" Suara Renata tersedak karena saking kagetnya mendengar pak Edo yang secara tiba-tiba membangga-banggakannya seperti itu, karena kenyataannya sekarang ini ia bukanlah Renata yang dulu, yang masih pantas untuk dibangga-banggakan seperti itu.
"Sayang kamu kenapa.? Pelan-pelan dong minumnya.!" Ucap Ibu Lia panik.
"Oh i, i, iya mah.!" Ucap Renata gugup, kemudian ia pun langsung terdiam.
"Kalau papah tau apa yang udah Renata lakuin sama Bang Diki dibelakang mamah sama papah, apa mungkin papah masih membangga-banggakan Renata kayak gini.?" Ucapnya dalam hati sedih, sambil menatap dalam wajah Pak Edo dan Ibu Lia, karena sekarang ini ia benar-benar merasa sangat-sangat bersalah dan berdosa kepada mereka.
"Maafin Renata yah pah, mah.! Renata bener-bener udah ngelakuin kesalahan yang sangat besar dibelakang papah sama mamah.! Renata janji, Renata enggak akan pernah ngelakuin hubungan kayak gitu lagi sama Bang Diki diluar nikah." Ucapnya lagi dalam hati masih sedih, karena sekarang ini ia benar-benar sangat menyesali perbuatannya itu.
"Dan Renata juga janji sama diri Renata sendiri.! Kalau mulai sekarang, Renata akan ngelupain Bang Diki, meskipun itu berat banget buat Renata, tapi Renata akan tetap berusaha.." Ucapnya lagi dalam hati serius, kalau mulai sekarang ini ia akan melupakan Diki yang tak juga kunjung memberikannya kepastian, karena sepertinya ia sudah lelah dengan semuanya.
"Sayaaang, kamu kenapa.? Kok dari tadi diem aja.?" Ucap Ibu Lia penasaran melihat Renata putrinya yang dari tadi terus terdiam seperti itu.
"Oh e, e, enggak kok mah.! Renata enggak papa.!" Ucap Renata gugup karena ia sedang berbohong.
"Y, y, ya udah yah mah, Renata ke kamar dulu." Ucap Renata lagi masih gugup, sambil buru-buru melangkah menuju kamarnya, namun baru saja ia melangkah, tiba-tiba langkahnya terhenti.
"Aw.!" Ucap Renata sambil memegangi kepalanya karena pusing, sehingga membuat ibu Lia pun lagi-lagi panik.
"Sayang ada apa.? Kamu kenapa.?" Ucap ibu Lia tergesa-gesa.
"Iya sayang, kamu enggak papa kan.?" Ucap pak Edo yang juga panik melihat keadaan Renata putri tersayangnya seperti itu.
"Oh e, e, enggak kok mah, pah.! Renata enggak papa, mungkin Renata cuma kecap,,,,,,," Seketika ucapan Renata pun terpotong, karena tiba-tiba ia pun langsung mual-mual.
"Hoek.! Hoek.!" Suara Renata yang masih terus mual-mual, sehingga ibu Lia dan pak Edo yang melihatnya pun semakin panik.
"Sayang, kamu beneran enggak papa kan.? Kita ke Dokter aja yah sayang yah.?" Ucap ibu Lia tergesa-gesa, ia mengajaknya untuk pergi ke dokter.
"Aw, Sssssttt.! Enggak usah mah, Renata enggak papa, Renata cuma kecapean aja kok." Ucap Renata lagi-lagi menjawabnya seperti itu, sambil terus memegangi kepalanya karena masih pusing.
"Ya udah yah mah, pah.! Renata mau ke kamar dulu, Renata mau Istirahat." Ucapnya lagi sambil buru-buru melangkah masuk menuju kamarnya, sesampainya ia di dalam kamar, ia pun langsung terdiam sambil terbengong.
"Enggak, enggak mungkin.! Gw enggak mungkin lagi hamil kan sekarang?" Ucapnya dalam hati panik, karena sebagai seorang Dokter kandungan, ia sangat-sangat tau ciri-ciri orang hamil itu seperti apa, dan ciri-ciri seperti itu lah yang sekarang ini sedang ia rasakan, kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru mengambil testpack untuk mengetesnya, dan ternyata hasilnya.
"A, a, apa.! E, e, enggak, enggak mungkin.! Gw enggak mungkin hamil, gw enggak mungkin hamil.!" Ucap Renata gugup karena saking kaget dan tak percayanya melihat hasil testpack tersebut bergaris dua, kemudian ia pun langsung menangis karena saking panik dan takutnya.
"Ya Tuhaaan, apa yang harus gw lakukan sekarang.? Bagaimana kalau nanti sampai papah sama mamah tau.! Gw harus ngomong apa sama mereka.? Dan gw juga sangat yakin, kalau papah sama mamah sampai tau tentang ini, mereka pasti bakalan marah dan kecewa banget sama gw, bisa-bisa gw diusir dari rumah imi sama papah. Marcell aja yang cuma bikin kesalahan kecil, langsung papah usir. Apalagi gw yang udah ngelakuin kesalahan fatal kayak gini.!" Ucap Renata bingung, sambil terus menangis.
"Lagian kenapa sih Tuhan, disaat gw mau mencoba untuk ngelupain Bang Diki, tapi Tuhan malah justru kasih gw cobaan kayak gini.! Gw bener-bener udah enggak ngerti lagi, sebenarnya apa sih yang sedang Tuhan rencanakan buat gw.? Gw bener-bener udah enggak kuat Tuhan, gw bener-bener udah enggak kuat Bang Diki mainin terus." Ucap Renata lagi masih terus menangis, kemudian ia pun langsung terdiam.
"Tapi gw enggak boleh kayak gini ! Mau Bang Diki mainin gw apa enggak, pokonya Bang Diki harus tanggung jawab.! Karena anak yang ada didalam kandungan gw ini adalah anak Bang Diki.! Pokoknya sekarang juga gw harus telepon Bang Diki, gw harus kasih tau Bang Diki kalau sekarang ini gw lagi hamil anak Bang Diki.! Supaya Bang Diki mau tanggung jawab dan cepet-cepet nikahin gw sebelum perut gw ini membesar, sebelum papah sama mamah tau tentang ini." Ucapnya lagi dalam hati.
DI TEMPAT BERBEDA, DI CAFE.
Terlihat Diki dan Anita yang dari tadi sedang duduk di cafe tersebut, sambil ngobrol serius secara hati ke hati.
"Jadi serius Nit, sekarang kamu ajak Abang ketemuan, karena kamu mau ngobrolin tentang ini.! Karena sekarang ini kamu udah siap untuk Abang lamar.?" Ucap Diki sambil tersenyum dengan sangat bahagianya, karena akhirnya orang yang sangat ia sayangi yang ia tunggu-tungu dari waktu ia masih sekolah sudah siap untuk diamarnya.
"Iya Bang, Anita serius. Anita ajak Abang ketemuan, karena Anita mau ngomong tentang ini.! Karena Anita mau ngomong kalau sekarang ini Anita udah siap untuk Abang lamar, dan Anita mau secepatnya kita ini menikah Bang." Ucap Anita serius ingin cepat-cepat menikah dengannya, namun entah apa yang membuatnya ingin cepat-cepat menikah dengan Diki, karena biasanya jika Diki mengajaknya untuk serius ia selalu menolak.
"B, b, beneran Nit.! Kamu mau cepat-cepat nikah sama Abang.? Kamu enggak lagi bercanda kan.? Kamu enggak lagi bohongin Abang kan.?" Ucap Diki dengan suara tinggi dan gugup karena saking kaget dan senengnya mendengar ucapan dari Anita, sampai-sampai ia lupa apa yang sudah ia lakukan kepada Renata akhir-akhir ini.
"Ia Bang, Anita serius.! Anita enggak lagi bercanda, dan Anita juga enggak lagi bohongin Abang.! Dan kalau bisa minggu-minggu ini yah Bang kita menikah.?" Ucap Anita mencoba untuk meyakinkannya lagi kalau ucapannya itu memang benar dan serius.
"I, i, iya Nit, siap.! Secepatnya Abang akan urus-urus apa saja keperluan yang kita butuhkan untuk menikah, dan minggu besok Abang akan nikahin kamu.!" Ucap Diki gugup dan penuh semangat, karena dari dulu ia memang sudah siap untuk menikah, hanya saja calon yang cocok untuknya belum ada, dan Anita pun selalu menolak jika ia ajak untuk menikah.
"Iya Bang, makasih yah Bang.?" Ucap Anita sambil tersenyum.
"Anita sayaaaang banget sama Abang.!" Ucapnya lagi sambil memeluk lengan Diki yang sedang duduk di sampingnya, kemudian ia pun langsung terdiam sambil tersenyum licik.
"Hemmm.! Bener kan kata gw, kalau Bang Diki itu pasti mau nikahin gw secepatnya.! Secara, Bang Diki itu kan udah tergila-gila banget sama gw dari dulu." Ucapnya lagi dalam hati sambil terus tersenyum.
"Pokoknya pernikahan gw sama Bang Diki ini jangan sampai gagal.! Karena gw enggak mau, kalau anak yang ada di dalam kandungan gw ini sampai enggak ada bapaknya." Ucapnya lagi dalam hati serius, ternyata itulah alasannya mengapa tiba-tiba ia mau menikah dengan Diki, karena ia sedang hamil oleh laki-laki lain yang tidak mau bertanggung jawab kepadanya.
__ADS_1
"Abang juga sayaaaang banget sama kamu Nit.!" Ucap Diki sambil tersenyum dan mengusap-usap rambutnya.
"Iya Bang." Ucap Anita sambil tersenyum.
"Anita enggak nyangka banget tau Bang.! Kalau minggu besok kita ini akan menik,,,,,,,,," Seketika ucapan Anita terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar ponsel Diki berdering karena ada yang menelepon dan yang menelponnya itu ternyata adalah Renata.
"Aduuuh.! Ngapain sih ini perempuan teleponin gw." Ucap Diki kesel, sambil buru-buru menolak telepon tersebut.
"Telepon dari siapa Bang.? Kok Abang matiin.?" Ucap Anita penasaran.
"Oh b, b, bukan.! Bukan telepon dari siapa-siapa, lagian enggak penting juga kok." Ucap Diki gugup, dengan teganya ia menjawabnya seperti itu
"Ooooh, kirain siapa." Ucap Anita sambil tersenyum.
"Iya bukan siapa-siapa kok.!" Ucap Diki lagi sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung terdiam.
"Ini enggak bisa dibiarin.! Gw harus cepet-cepet temui Renata, gw harus kasih tau dia.! Kalau minggu besok gw ini mau menikah sama Anita, supaya dia enggak gangguin gw terus kayak gini.!" Ucapnya dalam hati dengan egoisnya.
Kembali lagi ke Renata,,,,,,,
Waktu menunjukkan pukul 11:00 Malam.
Terlihat Renata yang dari tadi sedang mondar-mandir di dalam kamarnya, dengan raut wajah yang sangat-sangat panik.
"Bang Diki itu sebenarnya kemana sih.? Dari tadi gw teleponin kok enggak mau angkat-angkat. Kebiasaan banget sih Bang Diki itu.! Enggak tau apa kalau sekarang ini gw lagi pusing banget." Ucapnya dalam hati kesel, sambil terus mondar-mandir.
"Pokoknya gw harus telepon Bang Diki lagi.! Sampai Bang Diki mau angkat telepon dari gw. Karena bisa enggak bisa, besok gw harus ketemuan sama Bang Diki.! Gw harus ceritain semuanya sama Bang Diki, kalau sekarang ini gw lagi hamil anak Bang Diki." Ucapnya lagi sambil buru-buru mengambil ponselnya dan mencoba untuk meneleponnya kembali, namun belum sempat ia menelpon, tiba-tiba Diki yang justru menelponnya terlebih dahulu.
"B, b, bang Diki.?" Ucap Renata gugup sambil tersenyum membaca tulisan yang tertera di layar ponselnya itu.
"Ternyata Bang Diki masih inget juga sama gw." Ucapnya lagi sambil terus tersenyum dengan sangat bahagianya, kemudian ia pun langsung buru-buru mengangkat telepon tersebut.
"Ia Bang Diki ada apa.? Tumben banget Bang Diki telepon Renata duluan." Ucap Renata sambil terus tersenyum.
"Oh enggak, enggak ada apa-apa.! Bang Diki cuma mau besok kita ketemuan, soalnya ada sesuatu yang sangat penting yang mau Bang Diki omongin sama kamu.! Kamu bisa kan.?" Ucap Diki tanpa basa-basi, ia mencoba untuk memberi tahu apa tujuannya sekarang ini meneleponnya.
"Oh gitu Bang, kalau gitu berarti sama dong.! Renata juga mau besok kita ketemuan, soalnya ada sesuatu yang sangat-sangat penting yang mau Renata omongin juga sana Bang Diki." Ucap Renata penuh semangat.
"Oh ya udah, kalau gitu besok kita ketemuan jam 8 pagi di cafe tempat biasa kita ketemu." Ucap Diki dengan suara datar.
"Ternyata Bang Diki masih inget juga yah sama gw.! Kalau kayak gini ceritanya, gw yakin Bang Diki pasti mau tanggung jawab dengan kehamilan gw ini.! Dan sekarang gw enggak usah khawatir lagi, karena secepatnya gw dan Bang Diki pasti akan menikah, dan Bang Diki juga bakalan jadi suami gw." Ucapnya lagi dalam hati sambil terus tersenyum dengan raut wajah yang sangat-sangat bahagia, karena ia tidak tau apa tujuan Diki besok menemuinya.
Pagi pun tiba,,,,,,,
DI CAFE.
Waktu menunjukkan pukul 09:30 Pagi.
Terlihat Diki yang dari tadi sudah duduk di cafe tersebut dengan raut wajah yang sangat BT.
"Aduuuuuh.! Renata kemana sih.? Kok dari tadi enggak datang-datang, mana udah siang lagi."
Ucap Diki kesel karena ia sudah menunggu Renata cukup lama.
"Mana satu jam lagi gw harus fitting baju pengantin lagi sama Anita, kalau lama kayak gini bisa-bisa ngambek nih Anit,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.
"Ya ampun Bang, maaf banget yah.? Renata telat, Abang udah nungguin Renata lama yah.?" Ucap Renata yang baru saja datang dan masuk ke dalam Cafe tersebut.
"Kamu ini dari mana aja sih ? Lama banget tau enggak." Ucap Diki kesel.
"Ya maaf Baaang, Abang jangan marah.! Soalnya tadi itu di jalan macet bang,,,,,,," Seketika ucapan Renata terpotong.
"Ya udah lah terserah kamu aja.! Abang enggak mau basa-basi, langsung aja.!" Ucap Diki.
"Nih buat kamu.!" Ucapnya lagi sambil memberikan satu buah kertas undangan pernikahan kepadanya.
"Undangan pernikahan.?" Ucap Renata bingung sambil menatap undangan tersebut.
"Undangan pernikahan dari siapa ini Bang.?"
Ucapnya lagi penasaran.
"Itu undangan pernikahan dari Abang." Ucap Diki secara tiba-tiba menjawabnya seperti itu, sehingga membuat Renata yang baru datang pun langsung tersenyum karena lucu mendengarnya.
__ADS_1
"A, a, apa tadi Bang Diki bilang.? Undangan pernikahan Bang Diki.?" Ucapnya gugup sambil terus tersenyum, karena ia mengira kalau ucapannya itu hanyalah bercanda.
"Hemmm.! Abang enggak usah bercanda deh sama Renata.!" Ucapnya lagi sambil terus tersenyum.
"Abang enggak bercanda Ren, Abang ini serius.! Itu emang undangan pernikahan Abang, undangan pernikahan Abang sama Anita.! Minggu besok itu Abang sama Anita mau menikah." Ucap Diki dengan sangat serius, ia mencoba untuk meyakinkannya lagi kalau undangan tersebut adalah undangan pernikahannya dengan Anita.
"A, a, apa tadi Abang bilang.? Minggu besok Abang mau nikah sama Anita.? A, a, Abang ini bohong kan.? Abang cuma lagi bercandain Renata doang kan Bang.?" Ucap Renata gugup dan sedikit panik, karena melihat Diki seserius itu.
"Ren, tadi kan Abang udah ngomong sama kamu.! Abang ini serius, Abang enggak lagi bercanda. Ini itu beneran undangan pernikahan Abang sama Anita.! Dan Minggu besok Abang sama Anita itu mau menikah." Ucap Diki lebih serius lagi, ia mencoba untuk meyakinkannya seyakin-yakinnya kalau ucapannya itu memang serius, sehingga Renata yang dari tadi tak percaya pun seketika langsung menangis.
"Enggak, enggak mungkin.! Ini semua enggak mungkin.! Abang bohong kan Bang.? Abang bohong kan.? Enggak mungkin kan minggu besok Abang mau menikah sama Anita.?" Ucap Renata dengan suara tinggi sambil terus menangis karena saking kaget dan syok nya mendengar ucapan darinya itu.
"Enggak Ren, itu semua bener.! Dan itu tujuan Abang ajak kamu ketemuan disini.! Karena Abang mau menyampaikan hal itu.! Dan Abang juga mohon banget sama kamu.! Mulai dari sekarang, pelase Stop.! Stop ganggu-ganggu Abang lagi.!" Ucap Diki dengan egoisnya berbicara seperti itu, sehingga Renata yang sedang menangis pun langsung tersenyum kesal seperti orang gila karena lucu mendengar ucapannya yang sangat-sangat tidak masuk akal itu.
"A, a, apa tadi Abang bilang.? Abang suruh mulai dari sekarang Renata stop ganggu-ganggu Abang lagi.?" Ucap Renata.
"Hallloooo.? Bang, Abang itu mikir enggak sih.? Yang memulai permainan ini duluan itu siapa.? Itu Abang kan Bang.? Jadi lucu enggak sih kalau tiba-tiba Abang ngomong kayak gini sama Renata.!" Ucapnya lagi marah, ia mencoba untuk mengingatkannya siapa yang memulai dulu permainannya itu.
"Ya iya Abang tau, itu memang Abang.! Tapi mau gimana lagi, minggu besok itu Abang mau nikah sama Anita." Ucap Diki mencoba untuk menjelaskannya.
"Ya terserah Abang, itu masalah Abang.! Lagian kalau emang dari awal Abang udah tau mau menikah sama perempuan lain, dan hanya niat cuma mau main-main sama Renata.! Harusnya Abang itu mikir.! Jangan sampai Abang itu berbuat hal-hal bodoh seperti apa yang udah Abang lakuin sama Renata." Ucap Renta masih marah, ia mencoba untuk mengingatkannya.
"Iya Abang tau Abang ini salah, dan itu juga alasannya kenapa Abang ajak kamu ketemuan disini.! Karena Abang enggak mau berlarut-larut dalam kesalahan ini.! Jadi Abang mohon banget sama kamu.! Lebih baik kita akhiri aja hubungan kita ini.!" Ucap Diki dengan mudahnya berbicara seperti itu, sehingga membuat Renata pun lagi-lagi tersenyum kesal.
"Kita akhiri aja hubungan kita ini.?" Ucapnya sambil terus tersenyum kesel, karena ia sudah tidak tau lagi sebenarnya apa sih jalan pikirannya itu.
"Enggak, enggak bisa.! Sampai kapan pun Renata enggak akan pernah mau akhiri hubungan kita ini.!" Ucap Renata menolak keputusan sepihak darinya, sehingga membuat Diki pun emosi.
"Ya tapi buat apa.? Toh dari awal kamu juga udah tau kan, kalau hubungan kita ini udah enggak jelas." Ucap Diki dengan suara tinggi.
"Bang, Abang itu mikir enggak sih.? Kita ini udah terlanjur jauh melangkah Bang.! Dan sampai kapan pun kita ini udah enggak akan pernah bisa mengakhiri hubungan kita ini.!" Ucap Renata dengan suara lebih tinggi dari Diki.
"Karena apa Bang.? Nih.!" Ucapnya lagi masih marah, sambil melempar hasil testpack tepat di hadapannya, sehingga membuat Diki pun kaget dan syok melihatnya.
"A, a, apa.? Enggak, enggak mungkin.! Kamu enggak mungkin hamil kan Ren.? Ini semua cuma bohong kan Ren.? Kamu Bercanda kan.?" Ucap Diki gugup dengan suara tinggi sambil menggoyang-goyangkan pundaknya karena ia benar-benar tidak percaya dengan semuanya.
"Enggak Bang, Renata enggak bohong.! Itu semua serius, sekarang Renata emang lagi hamil, hamil anak Abang.!" Ucap Renata dengan jelas, kemudian ia pun langsung menangis.
"Aaahhh Sila.!" Ucap Diki sambil menjambak dan menghempaskan rambutnya karena pusing.
"Hiks,, hiks,, abang udah percaya kan.? Kalau sekarang ini Renata lagi hamil hiks,, hiks,, anak Abang.!" Ucap Renata sambil terus menangis.
Mendengar ucapan Renata sambil menangis seperti itu, Diki pun terdiam sejenak, kemudian ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar m
"Iya Abang percaya, tapi maaf Ren.! Abang enggak bisa nikahin kamu.! Abang bener-bener enggak bisa nikahin kamu.!" Ucapnya lagi serius, sehingga membuat Renata pun kaget.
"A, a, apa tadi Abang bilang.? Abang enggak bisa nikahin Renata.?" Ucap Renata gugup.
"Iya Ren, Abang enggak bisa nikahin kamu.! Abang bener-bener enggak bisa nikahin kamu.!" Ucap Diki lagi.
"Ya tapi kenapa Bang ? Kenapa Abang enggak bisa nikahin Renta.?" Ucap Renata dengan suara tinggi karena marah dan kesal mendengar ucapannya itu.
"Ya karena Abang mau nikah sama Anita." Ucap Diki dengan suara lebih tinggi dari Renata, ia mencoba untuk memberi tahu apa alasannya itu.
"Tapi sekarang ini Renata lagi hamil Bang.! Hamil anak Abang.! Abang ngerti enggak sih maksud Renata.?" Ucap Renata dengan suara yang lebih tinggi lagi dari Diki, sehingga membuat Diki pun lagi-lagi pusing di buatnya.
"Ahhhhh sial, sial, sial.!" Ucap Diki sambil terus menjambak-jambak rambutnya, kemudian ia pun terdiam sejenak untuk menenangkan pikirannya itu.
"Atau gini aja Ren, Abang janji deh sama kamu.! Abang akan tanggung jawab semua biaya kehamilan dan persalinan kamu.! Bahkan Abang juga akan tanggung jawab semua kebutuhan dan keperluan anak kita ini nanti kalau udah lahir, dari biaya sekolah sampai biaya kuliah, bahkan sampai nanti kalau anak kita ini udah dewasa dan udah menikah, Abang janji Abang yang akan menanggung semuanya. Tapi untuk nikahin kamu.! Abang minta maaf Ren, Abang bener-bener enggak bisa." Ucap Diki dengan egoisnya berbicara seperti itu, namun entah apa yang sebenarnya ada didalam pikirannya itu sehingga membuat pola pikirnya itu menjadi lemot, mungkin karena saking cintanya kepada Anita, sampai-sampai ia lupa kalau sekarang ini ada dua orang manusia yang sedang ia sakiti yaitu Renata dan calon buah hatinya.
"Bang, maksud Abang itu apa sih ngomong kayak gitu.? Abang pikir Renata ini bodoh apa.? Kalau cuma buat biayayain satu orang anak.! Jangan kan Abang, Renta juga sanggup Bang.! Tapi yang jadi masalahnya sekarang ini, gimana dengan nasib Renata Bang.? Renata enggak mau kalau hamil tanpa suami Bang.! Renata enggak mau.!" Ucap Renata marah, ia mencoba untuk menolak saran gila dari Diki itu.
"Pokoknya Bisa enggak bisa Abang harus tanggung jawab.! Abang harus nikahin Renata.!" Ucapnya lagi memaksa sambil menggenggam tangan Diki.
"Enggak Ren, enggak bisa.! Abang bener-bener enggak bisa." Ucap Diki sambil mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Renata dari tangannya.
"Tapi Renata bener-bener mohon bang, sama Abang.! Abang harus mau nikahin Renata.! Renata mohon Bang.!" Ucap Renata memohon dan mengemis-ngemis sambil menangis dan menarik-narik lengan Diki.
"Enggak Ren, Abang bener-bener enggak bisa nikahin kamu.! Abang minta maaf." Ucap Diki sambil melepaskan tangan Renata yang masih terus menarik-narik lengannya itu, kemudian ia pun langsung melangkah keluar dari Cafe tersebut.
"Bang, Abang mau kemana Bang.? Pokoknya Abang harus nikahin Renata Bang.! Abang harus nikahin Renat,,,,,," Seketika teriakkan Renata itu terpotong.
"Aw.! Sssssttt aduh, aduh, aduuuuuh.!" Ucap Renata kesakitan, sambil memegangi perutnya dengan sangat erat.
########
Jangan lupa like, coment dan vote.!
__ADS_1