DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 49


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan dari Dokter Irvan, Erik yang baru saja sampai di Bandung pun langsung balik lagi ke Jakarta malam itu juga, dengan keadaan yang masih tidak karuan karena seperti yang kita tau wajahnya babak belur karena habis ribut dengan Dokter Irvan.


Ia langsung balik ke Jakarta malam itu juga, karena ia ingin cepat-cepat bertemu dengan Dinda, karena sekarang ini ia benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaannya, bahkan saking khawatirnya, ia sampai-sampai tidak merasakan luka di wajahnya yang babak belur itu, dalam pikirannya sekarang ini hanya ada satu, Dinda, Dinda, dan Dinda istri tersayang nya yang sekarang ini sedang sakit di rumahnya hanya sendiri tanpa ada kehadiran dirinya menemani disampingnya.


DI JAKARTA, DI RUMAH PAK IRSYAD.


Waktu menunjukkan pukul 01:00 malam.


Terlihat Dinda yang sudah terlelap tidur di dalam kamarnya, namun disaat ia sedang terlelap tidur, tiba-tiba ia terbangun karena mendengar suara orang mengetuk pintu kamarnya, tok,,,, tok,,,, tok.!


"Eummm siapa yah di luar.? Mas Arya.? Bi Iroh.?" Kata Dinda sedikit takut, karena tidak biasanya ada orang mengeruk pintu kamarnya diwaktu selarut ini.


"Saya non, bi Iroh.! Maaf non bukain dulu pintunya.!" Kata Bi Iroh dari balik pintu kamar Dinda.


"Ohhh bi Iroh.? Bentar yah bi.! Ini Dinda mau bukain pintunya." Kata Dinda sambil melangkah menuju pintu kamar tersebut, kemudian ia pun langsung membukakan pintu kamarnya itu yang terkunci.


"Bi Iroh emang mau ngapain malam-malam kayak gini ke kamar Din,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong, karena ia tidak melihat adanya bi Iroh, ia justru melihat seseorang yang tidak pernah ia duga yaitu Erik, dengan keadaan yg babak belur seperti habis dihajar orang se RT.


"Ya ampun mas Eriiiik, mas Erik Kenapa Bisa kaya giniiiii.? Mas Erik habis berantem sama siapa.?" Kata Dinda tergesa-gesa dan panik melihat keadaan Erik seperti itu, bahkan saking paniknya ia sampai lupa kalau sekarang ini ia sedang marah kepadanya.


"Kamu masih perduli sama mas.?" Kata Erik pelan, dengan mata yang berkaca-kaca.


"E, e, enggak, mas Erik jangan salah paham.! Dinda cuma kaget aja ngelihat keadaan mas Erik kayak gini.?" Kata Dinda gugup, karena ia sedang berbohong, kemudian ia pun langsung terdiam.


Melihat Dinda terdiam seperti itu, dengan segera Erik pun langsung memeluknya.


"Kenapa kamu lakukan semua ini sama mas.? Mas ini suami kamu Dinda, enggak seharusnya kamu merahasiakan penyakit kamu ini dari mas.! Mas minta maaf, mas minta maaf karena selama ini mas kurang perhatian sama kamu.! Sampai-sampai kamu sakit seperti ini.? Mas enggk tau, maafkan mas Dinda, maafkan mas.?" Kata Erik dengan raut wajah yang sangat sedih dan mata yang masih berkaca-kaca, karena ia sangat kasihan kepada Dinda istrinya, yang merasakan penyakitnya itu hanya sendiri karena ia tidak menyadarinya selama ini.


"M, m, mas Erik tau dari mana kalau sekarang ini Dinda lagi sakit.?" Kata Dinda gugup sambil melepaskan pelukan Erik dari tubuhnya, ia bingung sebenarnya dari siapa Erik bisa tau tentang penyakit yang dideritanya itu.


"Enggak penting mas tau dari mana tentang penyakit kamu ini.? Yang sekarang mas tanya sama kamu, kenapa kamu ngelakuin ini semua sama mas.? Kenapa kamu enggak jujur tentang penyakit kamu ini sama mas.? Kenapa kamu malah justru merahasiakannya rapat-rapat dari mas, bahkan karena penyakit kamu ini.? Kamu malah ingin cerai dari mas.? kenapa Dinda.? Kenapa.? Mas ini suami kamu Dinda.!" Kata Erik dengan suara sedikit tinggi, sambil menatap wajah Dinda dengan tatapan yang sangat dalam, ia tidak habis pikir kenapa Dinda bisa melakukan hal sebodoh itu, yang rela meninggalkan orang yang sangat ia sayangi, demi ingin melihat orang tersebut yang tak lain adalah dirinya bahagia dan tidak terbebani oleh penyakitnya.

__ADS_1


"T, t, tapi mas, Dinda ngelakuin semua ini karena Dinda enggak mau mas Erik terbebani oleh penyakit Dinda ini.? Dinda pengin lihat mas Erik bahagia, Dinda enggak mau mas Erik hidup bersama Dinda, perempuan yang enggak akan pernah bisa membahagiakan mas Erik, karena Dinda ini enggak akan pernah bisa kasih mas Erik keturu,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong, karena tiba-tiba Erik langsung memeluknya dengan begitu erat.


"Ssssssttttt.! Kamu ini ngomong apa sih.? Kamu ini masih ada kemungkinan untuk bisa hamil, dan asal kamu tau.! Mau kamu bisa hamil atau enggak, mas ini akan tetap setia bersama kamu.! Karena kamu ini kebahagiaan mas Dinda.! Kamu ini kebahagiaan mas.! Jadi jangan pernah kamu ngelakuin hal-hal bodoh seperti ini lagi ke mas yah.? Mas enggak mau, mas enggak mau kalau sampai mas kehilangan kamu." Kata Erik pelan dan penuh perhatian, sambil menciumi rambut Dinda dengan penuh kasih sayang, ia mencoba untuk meyakinkannya, kalau Dinda adalah kebahagiaannya, meskipun ia tidak bisa hamil sekalipun dan ia pun meminta kepadanya agar tidak melakukan hal-hal bodoh seperti ini lagi kepada dirinya.


Mendengar kata-kata dari Erik, lagi-lagi Dinda pun langsung melepaskan pelukannya itu.


"Tapi mas Eriiiik, Dinda pengin lihat mas Erik bahagia.? Dinda pengin lihat mas Erik punya anak, Dinda pengin lihat mas Erik bisa ngebahagian orang tua mas Erik, dan Dinda juga pengin mas Erik mempunyai istri yang sempurna yang tidak seperti Dinda." Kata Dinda serius dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu ini ngomong apa siiiiih, hah.? Kebahagiaan mas itu cuma kamu.! Dan kalaupun mas harus punya anak, mas cuma mau punya anak dari kamu, kamu ngerti kan.?" Kata Erik serius, sambil menatap dalam wajah Dinda.


Mendengar kata-kata dari Erik, Dinda pun langsung memeluknya dengan begitu erat.


"Eeeemmmm mas Erik, Dinda sayang banget sama mas Eriik.? Dinda minta maaf.! Dinda minta maaf karena Dinda udah enggak jujur sama mas Erik tentang penyakit Dinda ini.?" Kata Dinda sambil terus memeluknya dengan begitu erat


Melihat Dinda memeluknya seperti itu, Erik pun tersenyum, kemudian ia pun langsung membalas pelukannya itu dengan erat.


"Eeeemmmm, mas juga sayaaaang banget sama kamu.! Kamu janji yah.? Kamu enggak boleh ngomong cerai-cerai lagi.!" Kata Erik mencoba untuk menasehati Dinda.


Mendengar rengekan manja dari Dinda, Erik pun tersenyum.


"Iyaaa, mas maafin.!" Kata Erik pelan, sambil mengusap-usap rambutnya.


"Ya udah, sekarang kamu bobo lagi yah.? Soalnya udah malam banget nih.! Kan kamu lagi sakit.?" Kata Erik sambil tersenyum dan penuh perhatian.


"Dinda mau bobo, tapi mas Erik jangan pulaaaaang.? Mas Erik bobo Disini temenin Dindaaa.! Dinda kangen pengin bobo bareng mas lagiiiii.?" Kata Dinda merengek manja seperti anak kecil, sepertinya sekarang ini ia sudah mulai ingin dimanja-manja lagi oleh Erik.


"Eeeemmm kasihan istri mas ini, udah lama yah enggak bobo bareng mas.? Kamu kangen yah hah.?" Kata Erik sambil tersenyum dan mencubit manja hidung Dinda.


"Iya Dinda kangeeeeen.?" Kata Dinda sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh Erik.


"Ya udaaah.! Kalau kamu kangeeen, sekarang kita bobo bareng yaaah.?" Kata Erik pelan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tapi Dinda mau digendong sama mas sampai ke kasuuuur.?" Kata Dinda lagi-lagi merengek manja seperti anak kecil, sambil mengulurkan kedua tangannya kepada Erik.


"Eeeemmm manja banget sih istri mas ini.? Udah lama enggak ketemu sama mas tambah manja aja nih.!" Kata Erik sambil tersenyum, karena lucu melihat tingkah laku Dinda istrinya itu


"Eeemmm gendooong.?" Kata Dinda lagi sambil terus mengulurkan kedua tangannya.


"Ya udah, sekarang kamu mas gendong yaaaah.?" Kata Erik sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung mengangkat tubuh Dinda dan menggendongnya menuju ranjang, setelah sampai di ranjang, ia pun langsung membaringkannya di atas ranjang tersebut, kemudian ia pun ikut berbaring disampingnya.


"Ya udah, sekarang kita bobo yah.? Katanya kamu udah kangen banget pengin bobo bareng mas.?" Kata Erik pelan sambil tersenyum, ia sengaja langsung mengajaknya untuk tidur dan tidak mengajaknya untuk main-main dengannya diatas ranjang, meskipun sebenarnya ia sudah tidak tahan ingin cepat-cepat bermain main dengannya, ia melakukan semua itu karena kasihan kepada Dinda istrinya itu yang sedang sakit.


"Mas Eriiiiik, Dinda enggak mau langsung Bobooo, Dinda mau main-main dulu sama mas Eriiiik.? Dinda kangen pengin dimainin sama mas.! Enggak mau langsung bobo mas Eriiik, enggak mauuuu.!" Kata Dinda merengkek manja seperti anak kecil, karena ia memang benar-benar ingin dimanin seluruh bagian tubuhnya oleh Erik suaminya itu.


"Kasihan banget sih kamu.? Kamu udah enggak tahan yah pengin mas mainin.? Sabar yaaah.! Perut kamu kan sekarang lagi sakit, entar kalau perut kamu ini udah sembuuuuh, kita main-main lagi." Kata Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda.


"Tapi Dinda penginya sekarang maaaas.? Mas maininnya pelan-pelan aja.!" Kata Dinda merengek-rengek, karena sekarang ini ia benar-benar sudah tidak tahan ingin Erik mainin.


Melihat Dinda merengek-rengek tak ada hentinya, Erik pun tersenyum.


"Ya udah, sekarang kita main-main yah.? Tapi nanti kalau perut kamu sakiiit, kamu kasih tau mas.! Biar mas pelan-pelan mainnya." Kata Erik pelan dan penuh perhatian sambil tersenyum.


"Iya, nanti Dinda kasih tau mas kalau sakit." Kata Dinda sambil tersenyum senang, karena akhirnya Erik mau menuruti kemauannya.


Melihat Dinda tersenyum seperti itu, Erik pun ikut tersenyum, kemudian dengan segera ia pun langsung memulai permainannya bersama Dinda.


"Eeemmm pelan-pelan maaas.! Sakiiiit.?"



Kata Dinda sambil tersenyum dan merengek manja dipelukan Erik.


"Eemmmm kasihaaan, sakit yah.? Mas pelanin lagi yaaah masukinnya.?" Kata Erik dengan sabarnya sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung melanjutkan permainannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2