DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 24


__ADS_3

"Maksudnya.?" Kata Dinda bingung mendengar ucapan Erik.


"Ooohhh, pak Erik ngira Dinda jatuh cinta sama pak Erik gitu.?" Kata Dinda lagi sambil tersenyum kesel, meskipun sesungguhnya akhir-akhir ini ia pun masih bingung dengan perasaannya kepada Erik, terkadang ia sangat benci kepadanya, apalagi dengan sikap jahatnya di kampus yang suka marah-marah dan menghukum dirinya, itu semua membuat ia semakin benci kepadanya, sampai-sampai ia mengira Erik itu adalah sumber dari kesialannya, akan tetapi di sisi lain ia juga bingung, karena saat berada disampingnya ia merasa sangat nyaman, apalagi dengan sentuhan dan kasih sayang Erik kepada dirinya, itu semua membuat ia kehilangan akal, sampai-sampai ia berani meminta peluk kepadanya.


"Iya, kamu jatuh cinta kan sama saya.?" Kata Erik dengan santainya sambil tersenyum, karena ia sangat yakin kalau Dinda sudah mulai jatuh cinta kepada dirinya, dan semua itu pun terlihat jelas olehnya, dari cara Dinda mengkhawatirkan dirinya, dari sikap Dinda yang terkadang manja kepadanya, apalagi mengingat semalam waktu Dinda meminta dirinya untuk memeluknya, semua itu sudah cukup menyakinkan hatinya, kalau Dinda memang sudah mulai jatuh cinta kepada dirinya, hanya saja ia gengsi untuk mengakui perasaannya itu.


Mendengar jawaban dari Erik, Dinda pun langsung tersenyum sinis.


"Pak Erik, Dinda kasih tau yah sama pak Erik.! Kita ini menikah karena dijodohkan, bukan karena atas dasar cinta, jadi sampai kapan pun Dinda enggak akan pernah jatuh cinta sama pak Erik, Ngerti.?" Kata Dinda mencoba untuk menjelaskan sejelas-jelasnya kepada Erik.


Mendengar jawaban dari Dinda, Erik hanya terdiam sambil tersenyum tipis.


"Kita menikah karena dijodohkan, dan sampai kapan pun, kamu enggak akan pernah jatuh cinta sama saya.? Oke, Oke.! Saya mengerti." Kata Erik sambil terus tersenyum, kemudian ia pun langsung menyalakan mobilnya untuk melanjutkan perjalanannya kembali menuju kampus dengan kecepatan tinggi karena takut telat.


30 menit berlalu,,,,,


Akhirnya Erik dan Dinda pun sudah sampai di kampus, sesampainya mereka di kampus mereka langsung memasuki ruangannya masing-masing.


"Aduuuuh gimana nih.? Udah telat lagi, gw masuk apa enggak yah.?" Kata Dinda dalam hati panik dan bingung.


"Aahhhh udah lah.! Gw masuk aja pelan-pelan." Kata Dinda lagi dalam hati, sambil buru-buru masuk kedalaman ruang kelasnya dengan sangat pelan dan hati-hati, karena ia tidak mau kalau sampai ketahuan pak Adi dosennya yang sedang mengajar.


"Dinda.?" Kata Ria dan Tika pelan, sambil menatap kearah Dinda.


"Ssssssttttt.!" Kata Dinda sambil terus berjalan masuk kedalam ruang kelasnya, hingga akhirnya ia pun berhasil masuk kedalam ruang kelas tersebut dan duduk di bangku tanpa sepengetahuan pak Adi.


"Gila loh Dinda, loh dari mana aja.? Kok jam segini baru datang sih.? Emang loh enggak berangkat bareng pak Erik.?" Bisik Ria heran melihat Dinda datang terlambat, karena sejak berangkat bersama Erik biasanya ia tidak pernah telat.


"Tau nih, kamu dari mana aja.?" Bisik Tika yang juga heran melihat Dinda datang terlambat.


"Entar gw jelasin yah.? Tapi jangan sekarang, tuh pak Adi lagi lihatin kita.! Gw enggak mau yah terus-terusan dihukum." Bisik Dinda ketakutan, sambil menatap kearah pak Adi yang sedang memperhatikan dirinya, Tika dan juga Ria.

__ADS_1


DI HALAMAN KAMPUS.


Waktu menunjukkan pukul 01:00 Siang.


Terlihat Ria dan Tika yang sedang asyik ngobrol sambil berjalan keluar dari kampus untuk pulang, begitu juga dengan Dinda.



"Dinda, loh jelasin ke gw deh.! Itu pak Erik kenapa.? Kok mukanya jadi buru-buru kaya gitu.?" Kata Ria penasaran karena waktu mengajar tadi wajah Erik biru-biru seperti habis digebukin orang se RT, karena tanpa sepengetahuan dari kita, tadi di jam kedua adalah mata kuliah dari Erik.


"Iya Din, pak Erik itu kenapa sih? Kasihan banget sih itu pak Erik, lihat pak Erik kaya gituuu, rasanya gw jadi pengin ngerawat pak Erik deh.! Eeeeeemmm kasihaaaaann.?" Kata Tika sambil tersenyum membayangkan Erik.


"Itu sih mau loh.! Kalau ngerawat dosen seganteng itu sih, gw juga ma,,,,,,,," Belum sempat Ria menyelesaikan ucapannya, namun sudah terpotong.


"Eehhhh tunggu dulu deh.! Lihat tuh, itu pak Erik sama siapa.?" Kata Tika penasaran, sambil menunjuk kearah Erik yang sedang asyik ngobrol dengan seorang perempuan, ia heran karena tidak biasanya Erik membawa perempuan ke kampus.


"Waaaah cantik bangeeeet.? Kayaknya itu pacar pak Erik deh.!" Kata Ria sambil tersenyum menatap kearah perempuan cantik tersebut.


Mendengar kata-kata dari Tika, Seketika Dinda pun langsung menatap ke arah dimana Erik dan perempuan tersebut berada.



"Dindaaa, loh kenapa.? Kok loh dari tadi diem aja.?" Kata Ria bingung melihat Dinda terdiam seperti itu.


"Tau nih Dinda, loh kenapa sih.?" Sambung Tika yang juga bingung melihat Dinda terdiam.


"Eh ia kenapa.? K, k, kalian lagi ngomongin apa sih.?" Kata Dinda gugup dan kaget.


"Yah ini anak, lagian ngapain sih loh dari tadi diem aja.? Kata gw juga, itu pak Erik sama siapa.? Loh kenal enggak.?" Kata Tika sedikit kesal.


"E, e, enggak, gw enggak ken,,,,,," Belum sempat Dinda menyelsaikan ucapannya namun sudah terpotong.

__ADS_1


"Kalau menurut gw yah.? Gw yakin itu pacar pak Erik, lihat aja penampilan itu perempuan.! Udah sopan, pakaiannya tertutup, berhijab, mana cantik lagi, secara kalian juga kan tau kalau pak Erik itu enggak suka cewe seksi.? Pak Erik itu sukanya sama perempuan yang pakainya tertutup, ya kaya itu perempuan, iya enggak ?" Kata Ria panjang lebar, ia sangat yakin kalau perempuan tersebut adalah pacar Erik.


"Enggak, enggak mungkin.! Itu bukan pacar pak Erik, lagian mana mungkin sih pak Erik suka sama perempuan kaya gitu.? Cantik juga enggak." Kata Dinda panik, kalau sampai semua ucapan Ria itu benar, namun ia mencoba untuk meyakinkan dirinya kalau perempuan tersebut bukan pacar Erik.


"Dinda loh buta kali yah.? Itu perempuan tuh cantik.! Ya emang sih, sama loh masih cantikan loh, tapi gw sangat yakin itu pasti pacar pak Erik." Kata Ria sangat yakin kalau perempuan tersebut adalah pacar Erik.


"Tau Dinda, orang cantik kayak gitu juga.? Kalau gw sih sependapat sama loh Ri, gw yakin itu pacar pak Erik." Sambung Tika dengan raut wajah yang sangat meyakinkan.


"Terserah kalian.! Tapi kalau menurut gw, dia bukan pacar pak Erik." Kata Dinda kesal dan bersikeras kalau perempuan tersebut bukan pacar Erik, meskipun sesungguhnya ia pun tidak yakin dengan ucapannya itu.


"Loh kok lo jadi sewot si,,,,,,,," Belum sempat Ria menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong.


"Ehhhh Dinda, Ria, lihat deh.! Itu pak Erik mau kesini.? Waahhhh pak Erik ganteng banget siiiih.?" Kata Tika heboh sambil tersenyum menatap wajah ganteng Erik yang sedang berjalan menghampirinya.



"Ehhh beneran loh pak Erik mau kesini." Sambung Ria sambil tersenyum menatap kearah Erik yang sekarang sudah sampai dan berdiri tepat di hadapannya, Tika dan juga Dinda.


"Eehhh pak Eriiiiik, ada perlu apa yah pak Erik kesini.?" Kata Tika sambil tersenyum kecentilan.


Mendengar pertanyaan dari Tika, Erik hanya tersenyum, ia tidak menjawab pertanyaan darinya, tatapannya justru tertuju kearah Dinda yang dari tadi sedang berdiri di samping Tika sambil cemberut.


"Dinda, bisa ngomong sebentar enggak.?" Kata Erik pelan dan sopan.


"Kalau mau ngomong, ngomong aja disini.! Emang mau ngomong apa.?" Kata Dinda ketus sambil terus cemberut, karena sepertinya sekarang ini ia cemburu melihat Erik yang berduaan dengan perempuan lain.


Mendengar percakapan Erik dan Dinda yang seperti tidak mau diganggu, akhirnya Tika dan Ria pun memilih pergi meninggalkan mereka berdua.


"Udah mau ngomong apa.? Cepetan.!" Kata Dinda masih ketus dan cemberut.


"Sekarang kamu pulang naik taksi yah.? Saya udah pesenin taksi buat kamu, dan sebentar lagi juga taksinya datang." Kata Erik dengan santainya, karena ia tidak tau kalau sekarang ini Dinda sedang marah kepadanya.

__ADS_1


"Oh iya, jangan lupa.! Kamu pulang ke rumah baru kita yah.?" Kata Erik lagi sambil tersenyum.


Mendengar kata-kata Erik, Dinda pun semakin kesal, karena tidak biasanya Erik seperti itu, pikirannya pun sudah kemana-mana, ia sangat yakin kalau Erik tidak bisa mengantarkannya pulang karena ia mau jalan dengan perempuan tersebut.


__ADS_2