
"Aw.! Sssssttt, aduuuh.! Sakit bangeeet." Ucap Renata terus meringis kesakitan sambil terus memegangi erat perutnya.
"Hiks,, hiks,, bang Diki bener-bener jahat sama Renata.! Hiks,, hiks,, emang Renata ini salah apa sih bang sama Abang.! Hiks,, hiks,, sampai-sampai Abang tega berbuat kasar kayak gini sama,,,,,," Seketika ucapan Renata itu pun terpotong, karena Siska yang baru pulang kerja pun tiba-tiba datang dan masuk kedalam kamarnya dengan sangat terburu-buru.
"Kak Renata ada apa ini kak.? Kenapa kak Renata bisa berantem sama bang Diki.? Terus itu tadi bang Diki mau kemana kak.?" Ucap Siska tergesa-gesa dan panik, karena tadi ia sempat mendengar mereka berdua bertengkar dan ia pun melihat Diki Abangnya yang keluar dari rumahnya entah kemana dengan raut wajah yang masih penuh dengan emosi.
"Aw, Ssssttttt.! Kakak juga enggak tau Sis." Ucap Renata pelan, sambil terus meringis kesakitan dengan raut wajah yang sedikit pucat, karena rasa sakit diperutnya itu semakin terasa.
"Kak Renata, kak Renata kenapa kak.? Kok kak Renata kayak kesakitan gitu.! Terus muka kak Renata juga pucet.? Kak Renata enggak papa kan kak.? Bang Diki enggak ngapa-ngapain kakak kan.?" Ucap Siska semakin panik melihat keadaannya seperti itu.
"Aw, Sssstttt.! Enggak kok Sis, bang Diki enggak ngapa-ngapain kak,,,,,,," Lagi-lagi ucapan Renata itu terpotong.
"Ya ampun kak.! Kakak pendarahan banyak banget kak.!" Ucap Siska tergesa-gesa karena saking paniknya melihat sprai dan rok yang sedang Renata pakai itu berlumuran darah cukup banyak.
"Aw, ssstttttt.! Ia Sis. Aduh, aduh, aduuuuh.! Tolongin kakak Sis.! Perut kakak ini tambah sakit bangeeet." Ucap Renata lagi semakin kesakitan dengan keadaan yang sudah sangat pucat dan lemas.
"Ya ampun kak, kakak enggak kenapa-napa kan kak.? Ya udah, ya udah.! Kita ke Dokter yah kak sekarang.!" Ucap Siska tergesa-gesa karena saking paniknya.
"Aw.! Ssstttt, enggak usah Sis, kakak bener-bener udah enggak kuat kalau harus ke Dokter sekarang.! Tolong kamu ambilin handphone kakak aja di tas.! Terus kamu telepon Dokter Dita, suruh dia cepat-cepat kesini periksa keadaan kakak, cepetan Sis.! Perut kakak ini sakit banget Sis, cepetaaan.!" Ucap Renata tak sabar, karena keadaannya sekarang ini memang bener-bener sesakit itu dan ia pun benar-benar sudah tidak kuat lagi jika harus pergi ke Dokter sekarang.
"Ya udah, ya udah.! Sekarang juga Siska ambil handphone kakak dan telepon Dokter Dita suruh Doktet Dita cepet-cepet kesini yah kak yah.?" Ucap Siska lagi masih tergesa-gesa sambil buru-buru mengambil ponsel tersebut, kemudian ia pun langsung buru-buru meneleponnya dan menyuruhnya untuk cepat-cepat datang kerumahnya sekarang juga.
DI TEMPAT BERBEDA, DI CAFE.
Waktu menunjukkan pukul 10:00 Malam.
Terlihat Diki yang sedang duduk di dalam Cafe tersebut sambil sibuk merayu Anita pujaan hatinya yang dari tadi sedang ngambek.
"Kamu kenapa siiiiih, dari tadi cemberut mulu.?" Ucap Diki pelan dan penuh perhatian.
__ADS_1
"Ya abisnya Abang sih.! Janji mau nikahin Anita, eh tau-taunya malah nikah sama perempuan lain." Ucap Anita masih ngambek sambil terus cemberut.
"Udah, udaaah.! Kamu enggak usah ngambek terus.! Abang janji sama kamu, kalau Abang ini akan tetap nikahin kamu minggu besok." Ucap Diki serius kalau ia benar-benar akan menikahinya minngu besok.
"A, a, apa tadi Abang bilang.? Abang serius bang.? Abang enggak lagi bercanda kan.? Abang beneran akan tetep nikahin Anita minggu besok.?" Ucap Anita gugup sambil tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.
"Ia Abang serius, Abang enggak lagi bercanda kok Nit.! Seperti rencana kita sebelumnya, jadi minggu besok kita ini akan tetap menikah." Ucap Diki mencoba untuk meyakinkannya lagi, namun entah apa yang sebenarnya ada didalam pikirannya itu, sehingga ia akan tetap menikahinya, sedangkan ia sendiri sudah mempunyai istri.
"Tapi kalau kita beneran jadi menikah, gimana dong dengan istri Abang.? Anita enggak mau yah kalau harus berbagi cinta sama perempuan lain.! Apalagi kalau sampai Abang ini punya istri dua." Ucap Anita langsung menuntutnya seperti itu.
"Udah kamu tenang aja.! Meskipun Abang punya istri dua, tapi kamu juga kan tau sendiri.! Kalau Abang nikahin dia itu karena terpaksa, dan kamu juga tau sendiri kan, kalau dari dulu cinta dan sayang Abang ini cuma buat kamu.!" Ucap Diki mencoba untuk menjawabnya seperti itu, sehingga membuat Anita pun langsung tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.
"Eemmm, akhirnya rencana gw ini berhasil.! Gw tinggal pura-pura ngambek aja sama bang Diki, bang Diki udah langsung ketakutan kayak gitu.! Gimana nanti kalau gw udah jadi istrinya, gw tinggal nyuruh bang Diki ceraiin Renata, pasti bang Diki langsung ceraiin dia.! Enggak papa lah untuk sementara gw dijadiin istri ke dua juga, toh yang penting anak yang ada di dalam perut gw ini nanti ada bapaknya, dan yang terpenting juga enggak akan pernah ada tetangga yang bakalan nggosipin gw." Ucapnya dalam hati sambil terus tersenyum.
"Bang Dikiiii, bang Diki.! Gampang banget sih loh itu gw manfaatin bang, dasar bodoh kamu ini bang.! Kalau kayak gini ceritanya, gw kan jadi enggak usah repot-repot ngejar-ngejar minta pertanggungjawaban dari Marcell si brengsek itu.!" Ucapnya lagi dalam hati, ia menyebut nama Marcell, karena ternyata Marcell lah bapak dari anak yang sedang ia kandung sekarang ini, iya Marcell. Adik kandung dari Renata, yang tak lain adalah anak ke dua dari pak Edo dan Ibu Lia pengusaha yang sangat kaya raya di Indonesia, karena seperti yang kita tau, dari dulu ia hanya mau berkencan dengan cowok-cowok tajir.
KEMBALI LAGI KE RENATA.
Terlihat Renata yang sudah selesai diperiksa oleh Dokter Dita dan sedang berbaring di tempat tidurnya dengan keadaan yang masih sangat lemah.
"Kata Dita tadi, gw ini jangan terlalu kecapekan apalagi terlalu banyak pikiran.! Gimana gw ini enggak banyak pikiran, kalau udah sampai larut malam kayak gini aja, bang Diki belum juga pulang." Ucapnya dalam hati sedih, karena ia tidak pernah menyangka sebelumnya, kalau dihari bahagianya yang seharusnya ia sedang asyik berbulan madu dengan Diki suaminya, malah justru ditinggal olehnya entah kemana.
"Bang Diki, sebenarnya sekarang ini Abang ada dimana sih.? Kenapa udah larut malam kayak gini Abang belum juga pulang.?" Ucapnya lagi dalam hati masih sedih, ia berbicara seperti itu karena ia benar-benar tidak tau kalau sekarang ini Diki suaminya itu ternyata sedang ketemuan dengan Anita pujaan hatinya.
"Emang segitu salahnya yah Renata buat Abang.! Sampai-sampai Abang pergi entah kemana tanpa pamit, bahkan sampai sekarang Abang belum juga pul,,,,,,," Seketika ucapnya itu terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar seseorang yang sedang bertengkar cukup hebat, di dalam ruang tamu rumah tersebut.
"Eh tunggu dulu.! Suara apaan itu.? Kok kayak orang lagi pada ribut, tapi siapa yah.?" Ucapnya lagi penasaran, sambil berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya, kemudian ia pun mencoba untuk membuka pintu kamarnya untuk mencari tau sebenarnya siapa yang sedang bertengkar itu, namun belum sempat ia membuka pintu kamar tersebut, tiba-tiba ia mendengar cukup jelas suara perdebatan tersebut.
"B, b, bang Diki, Siska.!" Ucapnya gugup dan kaget karena suara seseorang yang sedang bertengkar itu, terdengar jelas olehnya adalah suara Diki dan Siska, dan memang benar, ternyata mereka berdua lah yang sekarang ini sedang bertengkar.
__ADS_1
"Anita kan bang.! Abang habis ketemu sama Anita kan.?" Ucap Siska dengan suara tinggi karena marah, karena ia benar-benar tidak terima dan merasa kasihan jika Renata perempuan yang menurutnya sangatlah baik harus diselingkuhi seperti itu oleh Diki Abangnya.
"Ya emang kenapa kalau Abang ini habis ketemu sama Anita.? Toh semua orang juga tau kalau minggu besok Abang ini mau menikah sama dia.!" Ucap Diki dengan suara yang lebih tinggi darinya dengan raut wajah penuh dengan emosi, dengan terang-terangan ia menjawabnya seperti itu, sehingga Renata yang sedang mendengarkan pertengkaran mereka di dalam kamarnya pun kaget dibuatnya.
"A, A, Anita, maksudnya.? J, j jadi bang Diki habis ketemuan sama perempuan itu.! Dan minggu besok bang Diki akan tetap menikah sama dia.?" Ucapnya gugup dengan keadaan tubuh yang sangat gemetaran, karena ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar itu.
"Bang.! Abang ini udah gila kali yah bang.? Abang ini sekarang udah punya istri bang.! Mana mungkin Abang ini mau menikah lagi sama Anita.! Emang Abang ini enggak kasihan apa sama kak Renata.!" Ucap Siska dengan suara yang lebih tinggi lagi darinya, ia mencoba untuk menasehatinya seperti itu.
"Abang enggak lagi gila Sis.! Abang ini masih waras, 100 persen Abang ini masih waras.! Kalau masalah Abang kasihan atau enggak sama kak Renata, itu bukan urusan Abang.! Itu semua urusan kak Renata.! Karena apa.? Karena memang kak Renata sendirilah yang salah, karena kak Renata udah paksa-paksa Abang untuk menikah dengan kak Renata.! Padahal udah jelas-jelas kak Renata juga tau, kalau Abang ini enggak mau menikah sama dia.!" Ucap Diki panjang lebar, dengan pemikirannya yang bodoh itu, ia menjawabnya seperti itu, sehingga Renata yang masih mendengarkan pertengkaran mereka pun semakin kaget dan tak percaya dengan ucapannya itu.
"Gw bener-bener enggak nyangka, jadi menurut bang Diki, selama ini gw yang salah karena gw udah paksa-paksa bang Diki untuk menikah sama gw.! Abang tega banget sih bang sama Renata.! Emang Abang enggak mikir apa.? Kalau anak yang sedang Renata kandung sekarang ini anak siapa.?" Ucap Renata dalam hati sedih mendengar ucapannya itu, akan tetap tidak dengan Siska, mendengar ucapan bodoh dari Abangnya itu, ia pun langsung tersenyum heran, kesel dan bingung dibuatnya.
"Bang.! Abang ini sebenarnya gila, apa saking warasnya jadi gila sih bang.! Kak Renata juga enggak bakalan paksa-paksa Abang untuk menikahi kak Renata, kalau kak Renata enggak lagi ngandung anak Abang.! Darah daging Abang.! Tapi dengan teganya Abang malah ngomong kayak gitu sama kak Renata setelah apa yang telah Abang lakukan sama dia.? Siska bener-bener enggak habis pikir.! Ternyata Abang sejahat ini.! Sebenarnya Abang Siska yang dulu itu mana sih bang.? Abang Siska yang selalu baik sama perempuan, lembut sama perempuan, perhatian sama perempuan.! Mana bang, mana.?" Teriak Siska sambil menggoyang-goyangkan pundaknya dengan sangat kencang, karena saking kecewanya dengan sikap Diki Abangnya itu yang menurutnya sudah berubah.
"Aaahhh, udah, udah, cukup.! Abang udah capek yah dari tadi berdebat mulu masalah kak Renata.! Lagian asal kamu tau yah Sis.! Buat Abang, kak Renata itu adalah kesalahan.! Kesalahan terbesar dalam hidup Abang, yaitu bertemu sama kak Renata.!" Teriak Diki sambil mengempaskan tangan Siska dari pundaknya, dengan teganya ia berbicara seperti itu, sehingga Renata yang dari tadi masih mendengarkan pertengkaran mereka pun seketika langsung meneteskan air matanya dan langsung menangis.
"Hiks,, hiks,, kenapa Abang tega banget sih ngomong kayak gitu sama Renata.!" Ucapnya dalam hati sedih, sambil terus menangis.
"Hiks,, hiks,, Renata bener-bener enggak nyangka ternyata Renata seburuk itu dimata Abang.! Hiks,, hiks,, kalau Renata tau akan jadi seperti ini ketemu sama Abang.! Hiks,, hiks,, Renata juga akan memilih enggak mau ketemu sama Abang.! Hiks,, hiks,, apalagi sampai menikah sama Abang dan menderita seperti ini.! Hiks,, hiks,, karena Renata juga enggak mau kalau harus mendengarkan kata-kata dari mulut Abang yang sangat menyakitkan ini." Ucapnya lagi dalam hati sambil terus menangis.
"Kamu dengar kan kata-kata Abang tadi.!" Ucap Diki lagi, dengan raut wajah yang masih penuh dengan emosi, kemudian ia pun langsung melangkah menuju kamarnya.
"Bang.! Abang mau kemana bang.? Siska belum selesai ngomong bang.!" Teriak Siska mencoba untuk menghentikan langkahnya, namun sayang Diki Abangnya itu tidak menghiraukannya, ia pun terus melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
"B, b, bang Diki mau masuk ke kamar.! Gw harus pura-pura enggak denger pertengkaran mereka." Ucap Renata gugup sambil buru-buru menghapus air matanya, kemudian ia pun langsung melangkah menuju tempat tidurnya dan langsung pura-pura tidur, kerena ia sudah terlalu capek jika harus berdebat lagi dengannya.
"Renata, kamu udah tidur.?" Ucap Diki yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut, sambil menatap kearahnya yang sedang berbaring membelakanginya.
"Hiks,, hiks,,, hiks,," Suara isak tangis Renata yang tak tertahan karena saking sedihnya, sehingga Diki pun menyadari kalau Renata istrinya itu hanyalah pura-pura dan pastinya ia pun sudah mendengar semua perdebatannya dengan Siska barusan.
__ADS_1
"Aaahhhh, Sial.!" Ucapnya sambil menjambak-jambak rambutnya karena pusing dengan keadaan hidupnya yang semakin tidak jelas itu, kemudian ia pun langsung melangkah menuju jendela kamarnya dan langsung menghisap sebatang rokok untuk menenangkan pikirannya yang sedang ruwet itu.
"Hiks,, hiks,, kenapa cobaan ini harus gw yang alami sih Tuhan.? Hiks,, hiks,, gw bener-bener udah sanggup lagi dengan semua ini." Ucap Renata dalam hati sambil terus menangis dan mengusap-usap anak yang ada di dalam perutnya itu.