
MASIH DI MOBIL DIKI.
Terlihat Renata dan Diki yang baru saja selesai bercumbu dan sudah memakai pakaiannya kembali, akan tetapi tiba-tiba Renata terdiam sambil terus terbengong, sehingga Diki yang sedang duduk disampingnya pun bingung melihatnya.
"Kamu kenapa.? Kok dari tadi diem aja.?" Ucap Diki penasaran.
"Enggaaak, Renata enggak papa.!"
Ucap Renata berbohong sambil terus terbengong dengan raut wajah yang sangat sedih.
"Kamu enggak usah bohong deh sama Abang.! Kamu kenapa.? Ngomong sama Abang.!" Ucap Diki sedikit kesel, karena ia tau betul kalau sekarang ini Renata itu sedang berbohong kepadanya.
"Percuma Bang, Renata ngomong sama Abang juga.! Abang pasti enggak akan pernah mau nurutin apa kemauan Renata.! Dan lagian kalau Renata ngomong sama Abang, Abang itu udah pasti marah sama Renata." Ucap Renata sedikit kesel, karena ia sangat yakin kalau ia berbicara apa yang membuatnya terdiam dan terbengong seperti sekarang ini kepada Diki, pasti ia akan marah kepadanya, namun entah apa yang sebenarnya membuatnya terdiam dan terbengong seperti sekarang ini.
"Enggak, kata siapa.? Abang enggak bakalan marah." Ucap Diki.
"Jadi lebih baik sekarang kamu ngomong sama Abang.! Kamu kenapa.?" Ucap Diki mencoba untuk menanyakannya lagi.
"Bang, sebenarnya dari tadi itu Renata bingung tau Bang sama hubungan kita.! Kita udah berkali-kali loh Bang ngelakuin hubungan kayak gini.! Abang cium-cium Renata, Abang peluk-peluk Renata.! Bahkan kita ngelakuin hubungan suami istri berkali-kali, dan seharusnya sekarang ini kita pancaran kan Bang.?" Ucap Renata mencoba untuk meluapkan semua kekesalannya yang ada didalam hatinya selama ini kepada Diki.
Mendengar Renata yang lagi-lagi meributkan hal seperti itu, Diki pun terdiam sejenak, kemudian ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Jadi lagi-lagi masalah enggak penting ini yang udah buat kamu dari tadi diemin Abang.?" Ucap Diki marah, karena menurutnya hal yang sedang Renata ributkan sekarang ini tidaklah penting.
"Apa tadi Bang Diki bilang.? Masalah ini enggak penting.?"
Ucap Renata marah, karena ia bingung dengan pola pikir Diki itu sebenarnya seperti apa, sehingga hal sepenting itu menurutnya tidak lah penting.
"Ya iya, masalah ini enggak penting kan.?" Ucap Diki lagi-lagi berbicara seperti itu.
"Lagian yah sayang, kemarin kan Abang udah ngomong sama kamu.! Kita ini udah dewasa, jadi kita ini udah enggak perlu lah ngeributin hal-hal enggak penting kayak gitu.!" Ucap Diki mencoba untuk mengingatkan lagi ucapnya yang kemarin kepada Renata.
"Ya tapi apa susahnya sih Bang, Abang tinggal ngomong sama Renata.! Renata, Abang sayang sama kamu.! Kamu mau kan jadi pacar Abang.?" Ucap Renata kesel, sambil mencoba untuk mempraktekkan Diki bagaimana cara untuk menembaknya.
"Dan nanti juga pasti Renata jawab.! Iya Bang Renata mau." Ucapnya lagi.
"Enggak bakalan Renata tolak kok Bang." Ucapnya lagi masih kesel.
"Ya tapi buat apa sayang.? Tanpa Abang ngomong kayak gitu juga, toh kamu udah tau kalau Abang in,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.
"Aaaah udah lah terserah Abang aja.! Mau di bawa kemana hubungan kita ini.! Renata udah capek dari tadi ngomong sama Abang.! Abang enggak pernah ngertiin apa yang Renata mau." Ucap Renata yang sudah semakin berani, karena sepertinya ia sudah terlalu kesal menunggu Diki yang tak juga kunjung menembaknya dan meresmikan hubungannya itu, kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru keluar dari mobilnya dan meninggalkannya hanya sendiri di dalam mobil tersebut.
"Aaaahhhh.!" Teriak Diki marah, sambil memukul setir mobil yang ada dihadapannya, kemudian ia pun langsung terdiam sambil termenung.
"Ya Tuhaaaan, sebenarnya apa sih yang sedang terjadi sama gw.! Udah jelas-jelas gw enggak suka sama itu perempuan.! Tapi kenapa sih disaat gw lagi banyak masalah, di saat gw lagi kesepian, gw itu penginnya ketemu dia mulu.? Padahal udah jelas-jelas gw itu enggak suka sama dia.! Gw itu sukanya sama Anita, Tapi kenapa coba Anita enggak pernah terlintas sama sekali dipikirkan gw.?" Ucap Diki bingung sebenarnya apa yang sedang terjadi kepada dirinya sekarang ini, kemudian ia pun langsung mengambil ponsel yang ada didalam sakunya untuk menelepon seseorang.
"Hallo Anita.?" Ucap Diki via telepon, ia menyebutkan nama Anita, karena sekarang ini ia memang sedang meneleponnya.
"Sorry banget yah, kemarin sore Abang enggak bisa nemuin kamu.! Tapi nanti sore kita jadi kan ketemuan.?" Ucap Diki, ia berbicara seperti itu, karena seperti yang kita tau kalau kemarin sore itu Anita mengajaknya untuk ketemuan karena ada sesuatu yang mau ia omongkan kepadanya, namun entah apa yang sebenarnya mau Anita omongkan itu.
"Oooh, ya udah kalau gitu nanti sore kita ketemu di Cafe biasa deket rumah." Ucap Diki lagi, kemudian ia pun langsung memutuskan sambungan telepon tersebut.
__ADS_1
DI DALAM RUMAH SAKIT.
Terlihat Devano yang dari tadi sudah keluar dari toilet dan sedang menunggu Alana istri tersayangnya yang sampai sekarang belum juga datang menemuinya di dalam rumah sakit tersebut.
"Alana kemana yah.? Kok ngambil handphone nya lama banget sih.?" Ucap Devano dalam hati bingung.
"Apa jangan-jangan.! Alana kenapa-napa lagi.? Tadi itu kan kepala Alana lagi pusing." Ucapnya lagi dalam hati panik, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah menuju parkiran mobil untuk menghampirinya, namun baru saja ia melangkah, tiba-tiba langkahnya sudah terhenti.
"Alana.?"
Ucap Devano sambil menatap kearah Alana istri tersayangnya, yang sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit tersebut, dengan raut wajah yang masih sangat merah karena masih mengingat apa yang baru saja Diki dan Renata itu lakukan didalam mobil.
"Ya Tuhaaaan, tadi itu aku cuma mimpi kan.? Enggak mungkin kan Bang Diki sama Renata ngelakuin hubungan kayak gitu di luar nik,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.
"Sayaaang, kamu ngapain disini.? Terus kamu kenapa, kok mukan kamu merah banget.? Kamu enggak papa kan sayang.?" Ucap Devano yang sedang berdiri tepat dihadapannya.
"M, m, mas Devano.?
Ucap Alana gugup dan kaget sambil menatap kearahnya, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan erat.
"Eeeemmmm mas Devanooo." Rengek Alana sambil terus memeluknya dengan erat, sehingga membuat Devano pun kebingungan.
"Sayang, kamu kenapa.? Ada apa.? Kamu enggak papa kan.?" Ucap Devano sambil mencoba untuk melepaskan pelukannya itu dari tubuhnya.
"Eeemmm enggak mauuu, Alana enggak mau ngomong sama maaaas." Rengek Alana lagi, sambil mengeratkan pelukannya itu ke tubuh Devano, sepertinya ia sangat geli dan malu sendiri jika mengingat-ingat kejadian yang baru saja ia lihat itu.
"Maaaas,,," Rengek Alana lagi sambil menatap wajah ganteng Devano suaminya itu.
"Iya ada apaaa, hah.?" Ucap Devano pelan dan penuh perhatian sambil mengusap-usap rambutnya.
"T, t, tadi itu.! A, A, Alana,,,," Ucap Alana gugup.
"Ia sayang, tadi itu kamu kenapa.?" Ucap Devano penasaran.
"T, t, tadi itu Alana lihat,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.
"Renataaa.?" Ucap Devano sambil menatap kearah Renata yang sedang berjalan menghampirinya dan juga Alana.
"Kamu dari mana aja.? Bukannya sekarang ini harusnya kamu ada di dalam yah.?" Ucap Devano bingung, sambil menatap kearah Renata yang sekarang ini sudah berdiri tepat dihadapannya.
"Oh i, i, iya.! Kalian udah nungguin gw lama yah.? Tadi itu gw keluar sebentar, soalnya tadi itu gw lagi ada sedikit urusan." Ucap Renata gugup karena ia sedang berbohong, sehingga membuat Alana pun langsung terdiam.
"Sayang banget sih kak Renata ini.! Udah cantik, seorang Dokter lagi. Tapi kok mau-maunya sih ngelakuin hubungan kayak gitu di luar nikah. Emang kak Renata enggak takut apa kalau nanti sampai hamil, terus hancur semua reputasinya sebagai Dokter.?" Ucap Alana dalam hati menyayangkan perbuatannya, sambil terus terdiam, sehingga Devano yang melihatnya pun heran.
"Sayaaang, kamu kenapa.? Kok dari tadi diem aja.?" Ucap Devano bingung.
"Oh e, e, enggak kok mas.! Alana enggak papa." Ucap Alana gugup karena ia pun sedang berbohong.
"Ya udah, kalau gitu kita masuk yuk.! Biar gw periksa Alana aja duluan." Ucap Renata sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung melangkah masuk menuju ruangannya, diikuti oleh Devano dan Alana dari belakang, sesampainya mereka di dalam ruangan tersebut, Renata pun langsung buru- buru membawa Alana masuk kedalam ruangan periksa yang ada di dalam ruangannya itu untuk memeriksa keadaannya.
15 menit berlalu,,,,,,,,,
__ADS_1
Renata pun akhirnya sudah selesai memeriksa keadaan Alana dan langsung buru-buru keluar dari ruang periksa tersebut.
"Renata, Alana enggak papa kan.? Enggak ada sesuatu yang membahayakan keadaan Alana kan.?" Ucap Devano yang dari tadi sedang menunggu Alana istri tersayangnya itu dengan suara tergesa-gesa dan panik, sehingga Alana dan Renata yang melihatnya pun malah justru tersenyum.
"Kok kalian malah pada senyum sih.? Alana enggak papa kan Ren.?" Ucap Devano sedikit kesel, karena mereka tidak buru-buru menjawab pertanyaannya tapi malah justru tersenyum seperti itu.
"Enggak ada sesuatu atau apa yang membahayakan keadaan Alan,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Maaaas." Ucap Alana sambil terus tersenyum dengan raut wajah yang sangat-sangat bahagia.
"Ia sayang, kamu kenapa.? Enggak ada sesuatu yang membahayakan keadaan kamu kan sayang, hah.? Ngomong sama mas.! Jangan buat mas mu ini panik." Ucap Devano dengan raut wajah yang sangat panik, karena sepertinya sekarang ini Alana istri tersayangnya itu adalah segalanya dalam hidupnya.
"Enggak mas, enggak ada. Alana enggak papa kok.!" Ucap Alana serius.
"Beneran sayang, kamu enggak papa.?" Ucap Devano mencoba untuk menanyakannya lagi dengan jelas.
"Iya mas Alana enggak papa.! Tapi Alana sekarang cuma,,,," Seketika Alana langsung terdiam, sehingga membuat Devano pun semakin panik.
"Tapi Alana sekarang cuma, cuma apa sayang.?" Ucap Devano ketakutan, sehingga membuat Alana dan Renata pun lagi-lagi tersenyum dibuatnya.
"Tapi Alana sekarang cuma lagi hamil mas.!" Ucap Alana serius, sambil terus tersenyum dengan raut wajah yang sangat-sangat bahagia.
"A, a, apa sayang.? Kamu sekarang lagi hamil sayang.? K, k, kamu enggak lagi bohongin mas kan sayang.?" Ucap Devano gugup karena saking seneng dan tak percayanya mendengar kabar tersebut.
"Iya mas, beneran.! Sekarang ini Alana lagi hamil, hamil anak mas.! Iya kan kak Renata.?" Ucap Alana sambil terus tersenyum, ia mencoba untuk menyakinkannya lagi kalau semua Ucapnya itu memang benar.
"Iya Dev, sekarang ini Alana lagi hamil. Dan usai kandungannya sekarang ini baru sekitar satu mingguan." Ucap Renata mencoba untuk meyakinkannya lagi dengan seyakin-yakinnya, sehingga Devano yang mendengarnya pun percaya dan langsung tersenyum karena saking bahagianya.
"Jadi sekarang kamu beneran hamil sayang.?" Ucap Devano sambil terus tersenyum dengan raut wajah yang sangat-sangat bahagia.
"Iya mas, sekarang Alana lagi hamil.! Alana seneng banget maaas.? Sekarang di perut Alana udah ada Dede nya mas lagiiii." Ucap Alana sambil terus tersenyum penuh dengan semangat, karena saking bahagianya akhirnya apa yang sedang ia dan Devano suaminya itu nanti-nantikan terwujud juga.
"Eeemmm, kalau gitu mana coba.? Papah pengin usap-usap Dedenya mas." Ucap Devano yang sangat memanjakan Alana.
"Ini maaaas." Rengek Alana sambil menunjukan perutnya itu kepada Devano, kemudian Devano pun langsung mengusap-usap perutnya itu.
"Eeemmm anak kesayangan papah ini.! Anak kesayangannya papah sekarang lagi ngapain.? Baik-baik yaaaah didalam perut mamaaaah.?" Ucap Devano gemas sambil tersenyum dan terus mengusap-usap perut Alana itu dengan penuh kasih sayang, sehingga Renata yang dari tadi masih berdiri di antara mereka pun hanya bisa terdiam sambil terbengong melihatnya.
"Kira-kira kalau nanti sampai gw hamil, perlakuan Bang Diki bakal kayak gitu enggak yah sama gw.! Sayang-sayang gw, manja-manjain gw, usap-usapin perut gw."
Ucap Renata dalam hati dengan raut wajah yang sangat sedih, sambil terus menatap kearah Devano yang masih terus asyik mengusap-usap perut Alana istri tersayangnya itu.
"Apa malah justru sebaliknya, Bang Diki malah pengin gw gugurin kandungan gw, kalau nanti gw sampai hamil.? Soalnya sekarang aja Bang Diki kayak gitu sama gw, Bang Diki enggak pernah mau ngakuin gw sebagai pacar Bang Diki." Ucapnya lagi dalam hati dengan raut wajah yang masih sangat sedih.
##########
Haduuuh, sepertinya Diki semakin lama semakin meresahkan yah guys.!
Tapi inget yah.! Disini itu Renata enggak bodoh loh, ia hanya terlalu mencintai seseorang, seseorang yang Bajingan. 😁✌️
Tapi buat para readers tenang aja.! Ada saatnya dimana orang yang tersakiti itu akan bangkit.
Jangan lupa like coment dan vote.!
__ADS_1