DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 18


__ADS_3

DI RUMAH PAK ERIK.


Waktu menunjukkan pukul 10:00 Malam.


Di kamar Dinda, terlihat Dinda yang sedang duduk terdiam dengan raut wajah yang sangat pucat dan terlihat sangat sedih.



Sambil menatap kearah pak Erik yang baru saja selesai mandi, dan sedang membersihkan wajahnya.



"Maaaasss,,,???" Rengek Dinda manja.


Mendengar rengekan dari Dinda, dengan segera pak Erik pun langsung menghampirinya.


"Iya sayaaaang, ada ap,,,,," Seketika ucapan pak Erik terhenti.


"Ya ampun sayang, kamu kenapa.??? Kok muka kamu pucat banget sih, kamu enggak papa kan sayang.???" Kata pak Erik kaget dan panik melihat keadaan Dinda Istrinya seperti itu.


Mendengar kata-kata dari pak Erik, Dinda tidak menjawabnya, ia justru malah terdiam dengan raut wajah yang semakin sedih sehingga membuat pak Erik pun semakin panik.


"Sayaaang, kok kamu malah sedih kayak gini sih,,, kamu kenapaaa.??? Perut kamu masih muaaal.?? Apa kepala kamu masih pusing, hah.???" Kata pak Erik penuh perhatian sambil buru-buru duduk di sampingnya.


Mendengar kata-kata dari pak Erik, lagi-lagi Dinda tidak menjawabnya, ia malah justru menangis dengan tersedu-sedu.


"Hiks,,, hikss,,, hikss,,," Suara Dinda menangis.


Melihat Dinda menangis seperti itu, seketika pak Erik pun langsung memeluknya dengan begitu erat.


"Ssssttttt udah, udah, udaaaah,,, Eeemmmm kasihan nih istri mas, gara-gara sering mas naikin yah, hah.?? Perut istri mas yang cantik ini jadi ada Dede nya.?? Eeemmmm maafin mas yaaahhh,,, perut istri mas yang cantik ini jadi muaaal.?? Ya udah, sekarang mas usap-usap perutnya yah.?? Biar perut istri mas yang cantik ini enggak mual lagi." Kata pak Erik pelan sambil tersenyum, kemudian dengan segera ia pun langsung mengusap-usap perutnya.


"Uuuuuuhhh manja baaaanget sih nih anak papah didalam perut mamah nih.??? Penginya di usap-usap muuuulu nih dari tadi siang nih sama papahnya nih, manja nih anak papah nih, kayak mamahnya nih.???" Kata pak Erik pelan sambil tersenyum dan terus mengusap-usap calon anaknya yang ada didalam perut Dinda dengan penuh kasih sayang.


Melihat pak Erik mengusap-usap perutnya seperti itu, alih-alih senang, Dinda malah justru terus menangis tiada hentinya.


"Hikss,, hikss,, hikss,,," Suara Dinda terus menangis dengan raut wajah yang sangat sedih.


"Loh, loh, loh,,,, udah diusap-usap sama papah kok mamah nya masih nangis muuuulu sih nih.?? Apa jangan-jangan, bukan Dedenya lagi nih yang pengin dimanja-manja nih, tapi malah yang gede nih yang pengin dimanja-manja nih, mamahnya nih, hah.???" Kata pak Erik gemas sambil tersenyum dan mencubit manja hidung Dinda.


"Hiks,, hiks,,, Eeemmm Maaaasss,,???" Kata Dinda sambil merengek dan terus menangis.


"Iya sayaaang,,, kenapaaa.??? Mamahnya pengin diapain sama papahnyaaa, pengin dimanja-manja juga kayak Dede di peruuuut,,, pengin disayang-sayaaang, hah.???" Kata pak Erik pelan sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda.


"Hiks,, hiks,, Enggaaaak,,," Kata Dinda sambil menggelengkan kepalanya dengan sangat manja.


"Eeemmmm enggaaaak,, kalau enggak terus kenapa dong, kok istri mas yang cantik ini nangis siiiih.???" Kata pak Erik penasaran sambil mengusap air mata Dinda.


"Hiks,, hiks,, Dinda, hiks,, hiks,,, Dinda enggak mau dirumah sendiriaaan.??? Hiks,, hiks,,, Dinda takuuuut, hiks,, hiks,,, Dinda takut kayak dulu lagi waktu Dinda hiks,, hiks,, hamil Devanooo.?? Hiks,, hiks,,, waktu mas hiks,, hiks,, pergi ke jepaaang, Hiks,,, hiks,, pokoknya besok mas enggak boleh anter Devano hiks,, hiks,,, ke Koreaaa.???" Kata Dinda dengan suara bergetar karena menangis dan raut wajah yang sangat sedih, karena ternyata dari tadi ia menangis karena ia sangat ketakutan kalau sampai pak Erik meninggalkan dirinya lagi disaat sedang hamil seperti dulu, waktu pak Erik meninggalkan dirinya ke Jepang saat dirinya sedang mengandung Devano, karena sepertinya kejadian tersebut masih terngiang-ngiang di ingatannya, sehingga ia bisa ketakutan seperti sekarang ini.


Mendengar kata-kata dari Dinda, pak Erik pun tersenyum, kemudian ia pun langsung mengeratkan pelukannya.


"Eeemmmmm istri mas yang cantik ini takut kayak dulu lagi yah, hah.??" Kata pak Erik pelan.


"Hiks,,, hiks,, iyaaaa, Dinda takut kayak dulu hiks,, hiks,, lagiiii.??? Dinda takut hiks,, hiks,,, mas kenapa-napaaa.?? Hiks,,, hiks,,, kasihan sama Dede hiks,, hiks,,, diperuuuut..???" Kata Dinda manja sambil mengusap-usap perutnya dengan sangat pelan.


"Uuuuuuhhh kasihan nih istri mas, istri mas yang cantik ini takut mas kenapa-napaaa, hah.??? Kasihan Dedeee, takut Dede enggak punya papaaaah.??" Kata pak Erik pelan sambil mengusap-usap rambut Dinda.


"Hiks,, hiks,,, iyaaa hiks,, hiks,, Dinda takuuut.??" Kata Dinda sambil menganggukkan kepalanya dengan sangat manja.


Melihat tingkah laku istrinya yang sangat manja, pak Erik pun tersenyum.


"Istri mas yang cantik ini,,, sama Dede papah yang ada didalam perut mamaaah, kalian tenang aja yaaahhh.??? Papah enggak akan pernah ninggalin kalian berdua kok.!! Papah akan selalu ada disamping kalian, usap-usap Dede di perut mamaaah,,, jagain Dedeee,,, sayang-sayang Dedeee,,, manja-manjain Dedee,,, dan teruuuus, manja-manjain mamah nya juga nih yang masih suka nangis mulu nih kayak anak kecil niiiih.???" Kata pak Erik sambil tersenyum dan mencubit pipinya.


"Eeemmmm Dinda enggak kayak anak keciiiil.???" Kata Dinda merengek manja.


"Uuuuuuhhh enggak kayak anak kecil yah, hah.???" Kata pak Erik sambil tersenyum dan terus mengusap-usap rambut Dinda.


"Iya, enggaaak." Kata Dinda manja.


"Kalau enggak kayak anak kecil, terus kenapa dong, kok istri mas yang kayak anak kecil ini nangis muuuulu sih.???" Kata pak Erik sambil tersenyum menggodanya.


"Iiiiiiihhhhh maaaas,, enggak kayak anak keciiiil.??" Kata Dinda ngambek.


"Eeemmmm iya, iyaaaa,, istri mas yang cantik ini enggak kayak anak kecil kok.!! Istri mas yang cantik ini udah dewasa, yaaah.???" Kata pak Erik pelan sambil tersenyum, ia berbicara seperti itu karena ia tidak mau melihat Dinda Istrinya ngambek lagi.


"Iya enggaaak,,, kan Dinda nangis karena Dinda takut kalau mas tinggalin Dinda lagi kayak duluuu, Dinda enggak mau maaas, takuuuut.??" Kata Dinda merengek sambil mencoba untuk menjelaskan kepada pak Erik.


"Istri mas yang cantik ini enggak usah takut yaaah.??? Mas enggak jadi kok nganterin Devano, karena besooook,,, Devano berangkat bareng mas Arya, sekalian mas Arya mau ke rumah mamah katanya." Kata pak Erik serius, karena tanpa sepengetahuan dari kita sejak pak Erik tau kalau sekarang ini Dinda Istrinya sedang hamil, ia langsung menelepon Arya untuk menitipkan Devano kepadanya besok, alasannya karena ia tidak tega meninggalkan Dinda yang sedang hamil muda seperti sekarang ini, yang selalu banyak maunya dan yang pastinya sangatlah manja, karena untuk kehamilan Dinda yang ke-dua ini, ia akan berusaha untuk standby disampingnya untuk menjaganya setiap saat, karena ia tidak mau kejadian seperti dulu terulang lagi.


Mendengar kata-kata dari pak Erik, seketika Dinda pun langsung memeluknya dengan begitu erat.


"Eeemmmm mas beneraan.?? Besok mas enggak jadi nganter Devano.???" Kata Dinda sambil tersenyum karena saking senangnya mendengar kata-kata dari pak Erik itu.


"Udaaaah,,, enggak usah ngomogin masalah ini lagi.!!! Lebih baiiiik,,, sekarang kita bobo yuks, udah malam." Kata pak Erik sambil tersenyum.


"Iiiiiiihhhhh mas jawab duluuuuu.!!! Besok mas beneraan kan enggak jadi anter Devan,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.


"Aaahhh istri mas ini berisik banget sih.?? Lama niiiih, mas gendong aja ahhhh.!!!" Kata pak Erik sambil tersenyum dan buru-buru mengangkat tubuh Dinda kemudian ia pun langsung menggendongnya.


"Iiiiiiihhhhh mas turuniiiiin.!!! Mas jawab dulu pertanyaan Dinda tadiiiii.???" Kata Dinda merengek manja digendongan pak Erik.


Mendengar rengekan dari Dinda, pak Erik tidak menjawabnya, ia malah justru terus menggendongnya menuju ranjang dan kemudian membaringkannya tepat diatas ranjang tersebut.


"Eeemmmm maaaasss,,, mas jawab dulu pertanyaan Dindaaaa.!!! Mas beneraan kan besok enggak jadi anterin Devano.??" Kata Dinda merengek manja, lagi-lagi ia bertanya seperti itu kapada pak Erik.


"Iya sayaaaang,,, Eeemmmm bawel banget sih istri mas ini, hah.??? Mas cium nih.!!!" Kata pak Erik gemas sambil mencubit manja bibir seksi Dinda.


"Eeemmmm maaaasss,, bibir Dinda jangan dicubiiiiit,,, tapi dicium aja.!!!" Kata Dinda merengek meminta cium kepada pak Erik suaminya itu.


"Uuuuhhh istri mas yang cantik ini mau mas ciuuuum, hah.???" Kata pak Erik sambil tersenyum


"Iya,,, Dinda mau mas cium cepetaaaan.!!!" Kata Dinda tak sabar sambil buru-buru memejamkan matanya dan melingkarkan tangannya ke leher pak Erik.


Melihat Dinda memejamkan matanya seperti itu, pak Erik pun tersenyum.


"Mas cium yaaahhh.???" Kata pak Erik pelan sambil terus tersenyum dan memandangi bibir seksi Dinda.



"Iya,,," Kata Dinda manja sambil tersenyum dan terus memejamkan matanya.

__ADS_1


Mendengar kata-kata dari Dinda, dengan segera pak Erik pun langsung mendekatkan bibirnya lebih dekat lagi ke bibir seksi Dinda sampai hampir bersentuhan, perlahan pak Erik pun mencoba untuk **********, namun belum sempat ia ******* bibir seksi Dinda, lagi-lagi ada penggangu datang masuk kedalam kamarnya.


"Mamah, papah.!!!! Malam ini Devan,,,,,,,"



Seketika ucapan Devano terhenti, karena lagi-lagi ia dikagetkan oleh kelakuan kedua orangtuanya yang sangat-sangat croboh itu.


"De, De, Devanoooo.!!!" Kata pak Erik dan Dinda secara bersamaan gugup dan panik, sambil menatap karah Devano yang sudah masuk kedalam kamar dan sekarang sedang berdiri dibelakang mereka..


"I, i, iya pah, mah.??" Kata Devano gugup dengan raut wajah merah karena malu.


"Maaaasss,,," Kata Dinda merengek karena panik lagi-lagi ke geb oleh Devano putranya itu.


"Ya ampun Devanooo,,, papah kan kemarin udah ngomong sama kamu.??? Kalau mau masuk ke kamar papah ituuu, ketok pintu dulu.!!! Kamu dengar enggak sih.???" Kata pak Erik kesal melihat kelakuan anaknya seperti itu.


"Ta, ta, tapi pah,,,, i, i, itu kan,,,,,,,,,,,," Belum sempat Devano menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong.


"Tapi itu kan, tapi itu kan apa Dev.??? Kamu itu sebenarnya dengerin papah ngomong enggak sih kemaren.??? Kamu itu punya sopan santun enggak sih, hah.???" Kata pak Erik dengan suara tinggi karena marah.


"Maaaasss,, jangan marahin Devanooo.!!! Kan Devano enggak tau maaaas.???" Kata Dinda mencoba untuk membela anak kesayangannya itu.


"Enggak sayang, anak ini udah kebiasaan.!!! Setiap masuk ke kamar papah itu enggak pernah mau ketok pintu." Kata pak Erik kesal.


"Udah sekarang kamu jawab pertanyaan papah.!!! Kenapa kamu enggak ketok pintu dulu, hah.???" Kata pak Erik dengan suara tinggi.


Mendengar kata-kata dari pak Erik, dengan segera Devano pun langsung menjawabnya dengan jawaban yang mungkin akan membuat pak Erik terdiam karena malu.


"Ta, ta, tapi pah.!!! I, i, itu kan pintunya memang enggak ditutup sama papah.???" Kata Devano gugup sambil menatap kearah pintu kamar pak Erik ayahnya.


"A, a, apa.?!!!" Kata pak Erik gugup dengan suara tinggi sambil menatap kearah pintu kamarnya yang memang masih terbuka lebar, karena tadi saat ia menggendong Dinda, ia lupa untuk menutupnya.


"Ya ampun maaaass,,, kok mas sampai lupa enggak nutup pintunya siiiih.???" Kata Dinda marah-marah kepada pak Erik karena sangat teledor.


"I, i, itu sayaaang,,,, ta, ta, tadi mas,,, i, i, it,,,,,," Seketika ucapan pak Erik terpotong.


"Itu, itu, apa sih mas.?!!! Iiiiihhhhh mas kebiasaan deh.!!!" Kata Dinda kesel.


Mendengar Dinda marah-marah kepada dirinya, kali ini pak Erik tidak bisa menjawabnya dan tidak bisa tegas seperti biasanya, ia hanya bisa terdiam karena ia sadar akan kesalahannya itu.


"Aduuuuhhh.!!! Niat mau marahin Devano, kenapa malah saya yang kena marah kayak gini sih.??? Malu-maluin aja nih saya di depan anak.???" Kata pak Erik dalam hati dengan raut wajah merah karena malu.


"Pa, pa, papaaah,,, papah enggak kenapa-kenap kan.??" Kata Devano bingung melihat pak Erik ayah nya yang dari tadi hanya terdiam itu.


Mendengar kata-kata dari Devano, seketika pak Erik pun langsung terbangun dari bengongnya.


"E, e, ehhh kenapa.??? E, e, enggaaaak,, papah enggak kenapa-kenapa kok.!! Papah enggak maluuu." Kata pak Erik gugup, sepertinya ia keceplosan berbicara seperti itu.


"Maluuu, maksud papaaah.??? Kan tadi Devano emang enggak ngomong kalau papah itu malu.??" Kata Devano semkin bingung melihat tingkah laku aneh Ayahnya itu.


"Tau nih mas, aneh banget sih.??" Kata Dinda yang juga bingung melihat tingkah laku suaminya seperti itu.


"Aduuuuhhh kenapa saya bisa keceplosan kayak gini sih.??? Benar-benar malu-maluin aja nih saya didepan anak sama istri.!!! Bisa-bisa turun nih reputasi saya sebagai papah dan suami yang tegas kalau saya gugup kayak gini didepan mereka.???" Kata pak Erik lagi dalam hati kesal.


"Maaas,, mas kenapa sih kok dari tadi diem aja.??" Kata Dinda semakin bingung melihat tingkah laku suaminya itu.


"E, e, ehhh kenapa sayang.?? Enggaaak enggak papa.!!" Kata pak Erik lagi-lagi gugup.


"E, e, enggak kok mas, mas ngaco deh.!!! Kan tadi kita enggak langsung mau bobo maaas.???" Kata Dinda dengan polosnya.


"Ya ampuuuuun,, punya istri kok polos banget kayak gini sih.?? Enggak tau apa kalau ini suaminya udah enggak tahan kayak gini, mana ini udah mulai bangun lagi.??? Lagian ngapain sih kok tumben banget Devano malam-malam kesini.???" Kata pak Erik dalam hati kesel sambil menatap kearah junior nya yang sudah mulai bangun karena tadi sempat terangsang saat dirinya hendak mencium bibir seksi Dinda.


"Waaahh yang bener mah.?? Berarti mamah sama papah belum pada mau bobo nih.??" Kata Devano sambil tersenyum karena senang.


"Enggak sayaaaang,,, iya kan mas.??" Kata Dinda sambil tersenyum dan meminta pendapat kepada pak Erik.


"O, o, ohhhh iya enggak Dev.!!! Papah sama mamah enggak mau langsung bobo kok.!! Papah tadi lupa.??" Kata pak Erik sambil tersenyum dan gugup karena ia berbohong.


"Tuh kaaaan,,, enggak sayaaaang.??? Emang ada apa nih malam-malam kayak gini anak ganteng mamah kesini.???" Kata Dinda sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Devano.


"Iya Dev, emang ada apa kamu malam-malam kesini.?? Bukannya tidur sanah.!!! Besok kan jadwal pesawat nya pagi Dev, entar kamu kesiangan lagi.???" Kata pak Erik menyuruh Devano untuk cepat-cepat tidur ke kamarnya, karena ia tidak mau kalau sampai besok Devano itu kesiangan naik pesawat, dan sepertinya bukan hanya itu saja, ia menyuruh Devano untuk cepat-cepat tidur di kamarnya, karena ia juga sekarang benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan juniornya yang semakin menegang.


"Oh iya pah, mah, Devano lupa.!!! Besok kan jadwal pesawat nya pagi yah.??? Ya udah yah pah, mah, Devano mau bobo dulu." Kata Devano sambil tersenyum.


"Ya udah, kalau anak ganteng mamah ini mau boboo,,, ya udah bobo.!!! Lagian takut besok kesiangan." Kata Dinda penuh perhatian sambil tersenyum.


"Iya Dev, kalau kamu mau tidur,, ya udah tidur aja.!!! Besok kamu kesiangan lagi.??" Kata pak Erik sambil tersenyum karena senang akhirnya Devano mau tidur juga, yang artinya ia bisa bebas sesuka hatinya bermain-main dengan Dinda diatas ranjang.


"Ya udah kalau gitu Devano bobo dulu yah,,, Pah, mah.???" Kata Devano sambil buru-buru melangkah menuju ranjang pak Erik.


"Loh, loh, loh, Dev kamu mau keman,,,,,," Seketika ucapan pak Erik terhenti.


"Oh iya mas, Dinda lupaaa.!!! Malam ini Devano bobo bareng kita maaas, soalnya malam ini Dinda pengin bobo bareng Devanooo.??? Kan besok Devano udah ada di Korea, kita enggak bisa ketemu lagi,,, enggak papa kan maaas.???" Kata Dinda serius kalau malam ini Devano memang akan tidur di kamarnya bersama dengan dirinya dan juga pak Erik ayahnya dan semua itu adalah rencana dari Dinda.


"Apa.?!!! Malam ini Devano tidur bareng kita.???" Kata pak Erik kaget.


"Iya maaas, enggak papa kan.??? Boleh yah maaaas,, pleaseee.???" Kata Dinda memohon sambil memasang wajah melas.


"Iya pah, enggak papah yah paaah.??? Sekali ini aja paaah,, boleh yaaaah.???" Kata Devano yang juga ikut-ikutan memohon kepada pak Erik.


Melihat Dinda dan Devano memohon-mohon seperti itu, pak Erik pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Ya udah kalau mau tidur disini, tidur aja.!!!" Kata pak Erik sedikit sewot sambil buru-buru berbaring di ranjangnya.


Mendengar kata-kata dari pak Erik, Dinda dan Devano pun tersenyum, kemudian mereka pun langsung buru-buru menghampiri pak Erik dan berbaring disampingnya.


"E, e, ehhh sayang, kamu bobonya disini.!!!" Kata pak Erik sambil menarik tangan Dinda agar Dinda berbaring dan tidur disampingnya, supaya ia bisa dengan mudah memeluk-meluk Dinda istri tersayangnya itu.


"Eehhh enggak bisa, enggak bisa.! Devano yang ditengah." Kata Devano sambil tersenyum dan langsung buru-buru menempati tempat tidur Dinda yang sudah disiapkan oleh pak Erik itu.


"Oh iya bener sayang kamu aja yang di tengah, supaya mamah sama papah gampang kalau mau peluk-peluk kamu, iya kan maaas.???" Kata Dinda dengan polosnya sambil tersenyum dan buru-buru berbaring di pinggir tepatnya di samping Devano.


"I, i, iya,,, udah atur aja sama kamu sayang, enggak papah.!!!" Kata pak Erik gugup dan sedikit kesal.


"Ya udah ayo bobo ahhh.!!! Besok kesiangan loh.!!!" Kata pak Erik lagi, mengajak Istri dan anaknya untuk tidur.


Mendengar perintah dari pak Erik, Devano dan Dinda pun langsung buru-buru untuk tidur.


15 Menit kemudian,,,,,,


Terlihat Dinda dan Devano yang sudah tertidur dengan sangat pulas, akan tetapi tidak dengan pak Erik, ia terlihat masih melek dan sangat gelisah karena dari tadi ia tidak bisa tidur, bagaimana mungkin ia akan bisa tidur, jika juniornya saja masih bangun dan justru malah semakin menegang.

__ADS_1


"Aduuuuhhh gimana nih.??? Kalau kayak gini semalaman bisa pusing nih kepala.???" Kata pak Erik dalam hati kesel, sambil terus memegangi juniornya karena ia memang benar-benar sudah tidak kuat.


"Lagian ini anak ngapain sih tidur disini.?? Gangguin orang tua aja mau seneng-sen,,,,,," Seketika ucapan pak Erik terpotong


"E, e, ehhh tapi tunggu dulu deh.!!! Kayaknya ini anak udah tidur yah.??" Kata pak Erik dalam hati sambil menatap kearah Devano yang memang sudah tertidur pulas di sampingnya.


"Iya beeener, ini anak udah tidur." Kata pak Erik lagi dalam hati sambil tersenyum, kemudian dengan segera ia pun buru-buru pindah posisi tempat tidur disamping Dinda dan kemudian ia pun langsung memeluk Dinda dengan begitu eratnya sambil menciumi telinganya tanpa henti-henti.


"Eeemmmm maaaasss.???" Kata Dinda yang terusik dari tidurnya karena merasakan nikmat dari ciuman pak Erik itu.


"Ssssssttttt,,,,," Bisik pak Erik tepat di telinga Dinda sambil menatap wajahnya dengan tatapan penuh dengan nafsu.


"Ta, ta, tapi maaaas, kan ada Devan,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.


"Ssssssttttt,,, makanya jangan berisik.!!! Nanti Devano nya banguuun.??" Bisik pak Erik lagi tepat di telinga Dinda.


"Iya maaaasss,,," Jawab Dinda pelan sambil menatap dalam wajah pak Erik.


Mendengar kata-kata dari Dinda, pak Erik pun tersenyum, kemudian dengan segera ia pun langsung menciumi kembali telinga Dinda dengan sangat rakusnya.


"Aww maaaas,,, aw, wa, aw.!!! Pelan-pelan maaaas,,,," Kata Dinda sambil mendesah kenikmatan karena merasakan ciuman dari pak Erik itu.


Mendengar Dinda mendesah seperti itu, pak Erik pun tak tahan, dengan segera ia pun langsung menciumi kembali telinga, leher, bibir, pundak dan seluruh wajah Dinda semuanya habis pak Erik ciumi bahkan bukan hanya itu saja, tangan pak Erik pun terlihat meraba-raba bagian-bagian sensitif Dinda, sehingga membuat Dinda pun lagi-lagi mendesah kenikmatan sampai lemas dan tak berdaya karena merasakan sentuhan dari pak Erik itu.


"Awwww maaaass,, wa, wa, aw.!!! Mas Eriiiiik,,, aw, awwww.!!!" Suara Dinda mendesah kenikmatan dengan keadaan lemas dan tak berdaya dipelukan pak Erik.


Mendengar Dinda yang lagi-lagi mendesah seperti itu, nafsu pak Erik pun semakin menggila, dengan segera ia pun langsung mencoba untuk membuka pakaian yang Dinda kenakan.


"Mas buka dulu yah baj,,,,,,,,,," Seketika ucapan pak Erik terpotong.


"Eeuummm,,,,," Suara Devano terusik dari tidurnya sambil mengangkatkan tangannya dan menimpa tubuh pak Erik yang sedang berada di atas tubuh Dinda.


"Maaaasss, Dinda takuuuut,,, Dinda takut Devano banguuuun.?? Udah Dinda enggak mau, Dinda takuuuut." Bisik Dinda panik sambil menatap kearah Devano yang sedang berbaring tepat di sampingnya.


"Sebentar aja sayaaaang, nanggung nih mas enggak ku,,,,,,,," Lagi-lagi ucapan pak Erik terpotong.


"Euummm,,,," Suara Devano yang lagi-lagi terusik dari tidurnya sambil mengangkatkan satu kaki nya dan lagi-lagi menimpakannya diatas tubuh pak Erik.


"Aduuuuhhh ini anak.!!! Gagal nih kalau kayak gini.???" Kata pak Erik dalam hati kesal.


"Tuh kan mas, Devano banguuuun.??? Dinda enggak mau ah mas, Dinda enggak mau.!!! Dinda takuuuut." Bisik Dinda semakin panik dan ketakutan kalau sampai Devano bangun dan menyaksikan apa yang sedang ia dan pak Erik lakukan sekarang ini.


"Ssssssttttt,,, iya, iya, enggaaaak,,, ya udah sekarang kita bobo lagi yaaahh.???" Bisik pak Erik sambil mengusap-usap rambut Dinda, sepertinya pak Erik benar-benar gagal bermain-main dengan Dinda diatas ranjang.


Mendengar kata-kata dari pak Erik, Dinda pun langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat manja.


"Ya udah bobo lagi.!!!" Bisik pak Erik sambil tersenyum, perlahan ia pun mencoba untuk mengangkat kaki dan tangan Devano yang menimpa di atas tubuhnya satu persatu


"Kasihan yah mas Devano, bobonya jadi keganggu.???" Kata Dinda sambil tersenyum menatap wajah Devano yang sedang tertidur dengan sangat pulas disampingnya.



"Iya kasihan nih jagoan papah, bobonya jadi keganggu.??? Gara-gara papah sama mamahnya sih, pengin main-main muluuu.???" Kata pak Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Devano yang masih terdiur dengan sangat pulas itu.


"Terus kalau yang ini nih satu lagi,,, anak baru papah kasihan enggak nih di perut mamah, hah.??? Enggak jadi main tembak-tembakan sama papahnya niiih, anak baru papah niiih.???" Kata pak Erik gemas sambil tersenyum dan mengusap-usap calon anaknya yang ada didalam perut Dinda.


"Iiiihhh maaaas, jangan main tembak-tembakan muluuu,,, kan Dinda maunya anak mas yang ini perempuaaaan.???" Kata Dinda merengek manja sambil mengusap-usap perutnya.


"Eeemmm pengin perempuan yah mamah nya, hah.???" Kata pak Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda.


"Iyaaa, biar cantik kayak mamahnya.??" Kata Dinda sambil tersenyum manja.


"Iyaaa,,," Kata pak Erik sambil tersenyum dan terus mengusap-usap rambut Dinda.


"Ya udah bobo yuks udah malam.???" Kata pak Erik lagi, sambil buru-buru pindah kembali ke posisi tempat tidur awal disamping Devano.


Mendengar kata-kata dari pak Erik, dengan segera Dinda pun langsung tidur, begitupun juga dengan pak Erik.


*************


Waktu menunjukkan pukul 05:00 Pagi.


Terlihat pak Erik, Dinda dan juga Devano yang sudah bangun dari tidurnya dan sedang berdiri didepan garasi mobil.


"Hiks,,, hiks,,, kamu hati-hati yah sayang hiks,, hiks,, disanaaa.??? Hiks,, hiks,, pasti mamah bakalan kangeeeen banget sama hiks,, hiks,, kamu sayang.??" Kata Dinda sambil menangis karena sedih melepas kepergian Devano ke Korea.


"Hiks,,, hiks,,, iya mamah, hiks,, hiks,,, Devano juga pasti pasti bakalan kangeeeen banget hiks,,, hiks,,, sama mamah, hiks,, hiks,, sama papah juga.???" Kata Devano yang juga menangis dan sedih karena akan meninggalkan kedua orangtuanya untuk waktu yang lumayan lama.


Melihat istri dan anaknya menangis seperti itu, dengan segera pak Erik pun langsung memeluk mereka dengan begitu erat.


"Ssssssttttt,,, udah, udah, udaaah enggak usah pada nangiiiiis.!!! Nanti juga kita ketemu lagi kok, yaaahhh.???" Kata pak Erik pelan sambil mengusap-usap pundak Dinda dan juga Devano, ia berusaha untuk menenangkan mereka.


"Hiks,, hiks,, iya pah,,,,, hiks,,, hiks,, maafin Devano selama ini hiks,, hiks,, yah pah.??? Hiks,, hiks,, selama ini Devano udah hiks,,, hiks,,, bandel sama papaaah.??? Hiks,, hiks,, tapi sekarang Devano hiks,, hiks,, janji paaah,,, hiks,, hiks,, Devano akan jadi anak yang hiks,, hiks,, baiiiik,,, Devano akan belajar yang sungguh-sungguh hiks,, hiks,, disanaaa,, supaya Devano hiks,,, hiks,, bisa sukses kayak papaaah.???" Kata Devano dengan suara bergetar karena menangis karena saking sedihnya akan berpisah dengan kedua orangtuanya.


"Iya Dev, papah percaya kok sama kamu, yaaahhh.???" Kata pak Erik pelan dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena sesungguhnya ia pun sangat sedih melepas kepergian Devano ke Korea.


"Hiks,, hiks,, ya udah yah pah, hiks,, hiks,, mah.?? Hiks,, hiks,, itu Om Arya udah nungguin Devano hiks,, hiks,, diluar, hiks,, hiks,, Devano berangkat dulu yah hiks,, hikss mah, pah.???" Kata Devano sambil terus menangis.


"Iya hati-hati yah nak.!!!" Kata Pak Erik sambil mengusap-usap rambut Devano.


"Hiks,, hiks,, maaah,,, hiks,, hiks,, Devano hiks,, hiks,, berangkat dulu yaaahhh.???" Kata Devano sambil memeluk tubuh Dinda dengan begitu eratnya.


Mendengar kata-kata dari Devano, Dinda tidak menjawabnya ia hanya terdiam sambil terus menangis.


"Hiks,,, hiks,,," Suara Dinda menangis dengan raut wajah yang sudah tidak bisa diartikan lagi betapa sedih hatinya saat ini.


"Hiks,, hiks,, udah mamah jangan nangis hiks,, hiks,, teruuus.??? Hiks,, hiks,, Devano pasti hiks,, hiks,, baik-baik aja kok mah, hiks,, hiks,, disana,,, hiks,, hiks,, yaaahhh.???" Kata Devano sambil menatap Dinda mamah nya dengan tatapan yang sangat dalam.


"Hiks,, hiks,, iya sayaaang, hiks,, hiks,, mamah sayang sama hiks,, hiks,, Devano.??" Kata Dinda dengan suara bergetar karena menangis sambil mencium pipi Devano.


"Hiks,,, hiks,, iya mah,,, hiks,, hiks,, Devano juga sayang sama hiks,,, hiks,, mamaaah.??? Hiks,, hiks,, sama Dede Devano juga." Kata Devano sambil menatap kearah perut Dinda.


"Hiks,, hiks,,, kakak berangkat dulu yah hiks,, hiks,, De.??? Hiks,, hiks,, Dede sehat-sehat yah hiks,,, hiks,, diperut mamaaah.??? Hiks,, hiks,, kakak sayang hiks,, hiks,, Dede.???" Kata Devano sambil mengusap-usap calon adiknya yang ada di dalam perut Dinda dan kemudian langsung menciuminya.


"Ya udah Dev, itu Om Arya nya udah nungguin.!!!" Kata Pak Erik sambil tersenyum.


"Iya pah, mah, Devano berangkat dulu yah.???" Kata Devano sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung menghampiri Arya dan langsung berangkat menuju bandara untuk terbang ke Korea.


######


Jangan lupa like, coment, dan vote yah 🙏 Biar author semangat nulisnya 😍😍

__ADS_1


__ADS_2