FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 1 "Kolong Sampah"


__ADS_3

Jangan lupa baca sinopsisnya dulu, ya. Like, comment, and share


Happy reading....😊


⚠️ Perhatian selama Anda membaca novel ini, diharapkan untuk memahami alur, ya.


✅ Dan, jangan sungkan berkomentar yang banyak, ya. Giftnya juga boleh banget. 🙈🙈🤭🙏❤️🤗


Karena saya langsung mengambil konflik, jadi di awal masih menimbulkan banyak tanya.


Winter in February. 


Nyala kran pagi ini membuatku bersemangat. Kuliah di luar negeri bukan untuk bermalas-malasan. Senangnya bisa menjadi mahasiswi beasiswa yang berhasil kuliah di Univercity of Groningen. Sendirian terbang jauh ke Belanda demi sejuta mimpi di kepala. 


Aku mematut diri di depan cermin. Depan belakang, memutar-mutar tubuh. Kuberikan senyum untuk diriku sendiri. Celana jeans dan tunik warna merah jambu telah melekat sempurna. Aku sangat percaya diri. Juga sudah kububuhkan blush on tipis warna peach dan lipstik glossy karena bibirku akhir-akhir ini pecah-pecah akibat kurang minum. Karena musim dingin membuatku menjadi sangat jarang minum. 


Kuangkat tas ranselku, tidak banyak buku materi dan buku catatan yang kubawa. Kuambil sepatu warna putihku di rak depan pintu kamar. Kutenteng ke depan, lalu kututup pintunya. 


Tidak ada bayang-bayang tubuh orang berdiri. Suhunya terasa dingin, tapi aku sengaja tidak memakai jaket terlalu tebal. Beginilah kadang terasa seperti sedang menghirup udara desa di subuh hari. Ini karena aku sudah menahan rindu setelah setengah tahun meninggalkannya. Tapi, aku harus bisa menyelesaikan studi double degree Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, dua tahun di sana dan satu setengah tahun di Belanda—tempat mukimku selama setahun ke depan. Kupikir waktu setahun itu bukanlah waktu yang lama. Fokusku di sini adalah menggapai mimpi bukan sejuta dolar seperti Marry Riana, tapi meraih predikat sebagai mahasiswi terbaik yang nantinya bisa membanggakan Indonesia, khususnya kampusku yang dulu. 


Kupandang suasana sepi sembari menapaki jalan trotoar yang dipaving. Kutoleh samping kiriku, pohon dengan ranting-ranting tanpa dedaunan, tumbuh berderet-deret di atas tanah berumput yang membelah jalan aspal korea. Satu kapal putih sudah berlayar di aliran sungai yang kira-kira lebarnya hanya sepuluh meter, tepat di samping perumahan yang berjejer rapi sepanjang jembatan yang menghubungkan antara jalan menuju perumahan dan jalan raya—ada di sebelah kananku. Aku dan tiga mahasiswi lainnya sudah berada di halte bus. Di sampingku duduk, ada beberapa sepeda yang biasanya digunakan sebagai alat transportasi keseharian warga, termasuk mahasiswi seperti aku yang lebih sering menggunakannya ketika berangkat ke kampus pada musim panas. Pada musim dingin seperti ini, aku pribadi lebih nyaman menaiki bus. Tidak betah berlama-lama di luar ruangan dalam keadaan suhu dingin. 


Selang beberapa menit kemudian, bus merah kelas super eksekutif datang. Kukeluarkan kartu bertuliskan ov-chipkaart supaya aku bisa menaiki bus itu. Sampailah di kampus hanya dalam beberapa menit saja karena jarak tempuhnya juga tidak jauh. 


“See you next again. Bye.” Kulambaikan tangan pada dua mahasiswa yang berangkat bersamaku dari halte bus tadi. 


Kami berpisah sebelum menaiki lift yang berbeda. 


Aku tidak mengucapkan salam kecuali hanya lambaian tangan kepada seluruh mahasiswa yang sudah stand by di kelas. Rata-rata mereka adalah non muslim. 

__ADS_1


Tapi, untuk menyapa teman dekatku dari Thailand, aku mengucapkan, “Assalamu ‘ala manit taba’al huda.” 


Kini dia sudah terbiasa. Tapi, dulu dia selalu mendesakku untuk mengatakan alasan kenapa aku selalu dan pasti seperti itu ketika menyambut senyumannya. 


Di barisan kursi bertingkat nomor empat dari depan, aku duduk menyandingnya. Satu mata kuliah hari ini akan dilakukan di dua kelas. Sekarang aku masih ada di kelas yang seperti hall, yang ruangannya muat untuk sekitar lima ratus mahasiswa dan tugasnya akan mendengarkan dosen menerapkan metode ceramah. Nantinya akan pindah ke kelas kedua yaitu di kelas tutorial yang wajib diikuti mahasiwa yang bersangkutan. 


Dosen muda itu masuk kelas. Langsung menuju mimbar yang di belakangnya sudah terpampang nyala layar monitor berukuran sangat besar. Dosen itu dari indonesia, tapi masih menjadi dosen tidak tetap di Univercity of Groningen, khususnya mengampu di jurusan international marketing. 


Aku mengeluarkan tabletku. 


Aku tersenyum seraya menyangga dagu. 


“Tugasmu di sini bukan melamun.” Dia menyenggol lenganku hingga aku hampir menubruk meja depanku. Mestinya aku masih bisa melanjutkan hayalanku kuliah di luar negeri.


Andai aku ada mendapatkan peluang itu? Namun, sejauh ini aku benar-benar tidak kuasa. Aku tidak berani berulah untuk melawan mereka. Tempatku sekarang jauh dari kata layak bagi seorang pemimpi. Di usiaku yang masih belia, seharusnya aku bisa melanjutkan pendidikan. Meraih bintang di langit. Saat aku sadar di mana aku berada sekarang, aku terpaksa menandaskan mimpi-mimpi itu. Rongga dadaku dipenuhi sesak. Nalarku tidak sampai menjangkau alasan kenapa aku bisa sampai bertakdir dengan tempat yang berbau busuk. Sampah ada di mana-mana.


“Ada orang yang harus kautemani sampai tengah malam. Dia minta waktumu sejam. Paham?” 


Aku membalas dengan tatapan dingin. Bergeming. Aku tidak ingin bernasib sama dengan Ratna yang sangat blayakan (ceroboh) mencoba lari dengan membobol ventilasi kamar mandi belakang. Sekarang dia justru bernasib malang. Lebih mengenaskan daripada posisiku sekarang. Dia disekap untuk sementara waktu di ruang belakang.


Sejurus ada yang berteriak. Mungkin Ratna kesurupan. Pria di hadapanku menyuruhku bersiap-siap. Lalu, melangkah ke belakang. Membawa pecut yang tergantung di dekat pintu. 


Aku justru membuntutinya. Aku curiga sebetulnya Ratna itu hanya pura-pura. Gelagatnya kelihatan tidak natural. Sudah dua kali ini dia bersikap aneh. Tapi, yang tadi pagi seperti orang kesetanan sungguhan. Aku tidak berani memastikannya. Aku tidak ingin berurusan dengannya juga. Aku enggan dengan semuanya.


Rupanya mulut Ratna diplester. Yang membawa pecut mencari jalan pintas karena tidak mampu mendiamkan tingkah Ratna yang menjadi-jadi. 


Para pegawai yang lain mendesis di belakangku. Berbicara dengan cara mencicit. 


“Dia ngamuk lagi?” 

__ADS_1


Sedikit kutoleh dia. “Iya.” 


Pecut itu diangkat tinggi-tinggi. Digunakan untuk menakut-nakuti.


"Diam nggak kamu?"


Ratna berontak. Matanya hampir keluar. Dia menggeram. Suaranya berubah seperti laki-laki. Kadang kejang-kejang. Kakinya menendang-nendang.


“Kita pergi saja,” kataku sembari ngeloyor. 


Satu per satu pegawai itu berlarian. Menyenggolku kasar. Kudengar kemudian, pria itu marah-marah. Karena aku tampak berjalan biasa saja, justru aku yang terkena pelampiasan. 


“Jangan pernah kaubawa kain jelekmu ini ke sana. Jangan mengecewakan pembeli.” Dia menarik jilbab di kepalaku. Tidak sampai melepaskan. 


“Ya Allah, maaf Engkau kugadaikan untuk sementara waktu. Demi menghadapi mereka, aku harus seperti ini. Aku terpaksa. Aku benar-benar terpaksa," batinku.


“Aku sudah tujuh belas tahun. Aku bisa menentukan mana yang menurutku menguntungkanku. Aku ingin tetap memakai pakian tertutup. Minimal aku tidak kamu suruh-suruh berpakaian hampir seperti anak kecil.” Aku menoleh. 


Kutatap perempuan yang melenggang ke pintu. 


“Seperti dia," kataku selanjutnya.


“Aku juga masih terlalu dini untuk mengenal 


mereka. Aku akan mulai menjadi pegawai jika sudah bisa beradaptasi," kataku untuk mengelabui. Nadaku pelan. Hanya supaya waktu terulur lebih panjang sembari aku memikirkan agar bisa terbebas dari kolong sampah ini.


“Ini hari ketujuhmu. Waktumu beradaptasi kurang lima hari lagi. Jangan pernah membantah perintahku. Mengerti kau? Lepaskan jilbabmu!"  


Kemudian dia pergi. Sebelumnya menyulut rokok. Sisanya dikantongi. Dia menoleh padaku. Mengingatkanku agar segera berangkat. Tidak dengan bicara karena mulutnya telah disumpal.

__ADS_1


Siapa yang tidak bingung sampai sini? Hal pertama yang harus Anda lakukan setelah membaca satu bab pertama adalah bingung dan penasaran. 😋


__ADS_2