
*Ibban Nizami
“Sudah umur dua puluh tujuh tahun, tapi masih diperlakukan seperti anak mami,” batinku seraya membaca pesan.
^^^“Maaf, Ibuku Sayang. Martabaknya baru jadi. Tadi antre buanget. Serius kok.” Centang dua biru, tapi tidak dibalas.^^^
Aku mengeluhkan pesan ibu yang memintaku segera pulang. Katanya, aku tidak boleh kelayapan malam-malam. Takut digondol wewe yang sering berkeliaran di seberang jalan bakul martabak ini. Jarak antara tempat mangkal dan bangunan sepi itu sekitar lima ratus meteran.
Mungkin yang dimaksud wewe adalah perempuan-perempuan malam yang seringkali keluar masuk bangunan tertutup di sebelah kanan jalan itu. Sebenarnya aku lumayan sering melewati jalan ini. Penampakannya tidak semengerikan yang diceritakan ibu. Namun, apalah hati seorang ibu yang hatinya selalu cemas pada anak bungsunya ini. Atau, sebetulnya ibu itu sudah kemakan omongan orang-orang yang juga tidak jarang mewanti-wanti anak-anak mereka untuk tidak dekat-dekat dengan bangunan tua itu. Selain ada wewe dalam wujud yang nyata, merek juga dibohongi dengan menakut-nakuti ada makhluk tak kasat mata. Tetapi, aku pria dewasa. Aku tidak mungkin akan percaya begitu saja. Bahkan, pernah suatu kali aku berniat untuk mencoba masuk untuk memastikan kebenarannya. Tapi, sekali lagi aku menahan niat itu dengan alasan jika ibu tahu, ibu akan marah.
Malam ini aku sengaja membeli martabak dengan bersepeda. Selain karena masih ba’da magrib, perjalanannya bisa sampai setengah jam. Meski jauh, tapi martabak ini sudah kadung menjadi favorit. Aku penasaran. Aku ingin melihat tempat itu lebih dekat. Aku tidak peduli walau sudah diingatkan bakul martabak tadi agar tidak lewat di depan tempat itu. Dan, ketika aku masih hendak mengayuh pedal, dari bangunan itu ada yang berteriak melarang pergi. Seorang perempuan dengan tinggi sedang berlari terbirit-birit. Tidak sadar menyisingkan roknya terlalu tinggi. Sesekali menoleh ke belakang memastikan orang yang berteriak itu tidak mengejar. Tapi, anehnya aku sempat melihat dia memakai jilbab dari kresek yang dibawanya. Kemudian, dia melangkah gesit. Melompat ke ladang di depannya tanpa menoleh lagi. Dia menyelinap di antara tumbuhan tebu yang sudah tumbuh tinggi. Sedangkan, pria di belakangnya malah berlari sempoyongan hingga tidak sadar tergeletak di tangga.
Aku menyisih di balik pohon. Tak lama setelah itu, dua orang menyusul ke ladang tebu. Berteriak-teriak jangan sampai lepas.
“Sudahlah.” Aku menyudahi. Ibu sudah menunggu.
Sesampainya di rumah. Ibu membukakan pintu. Aku memarkir sepeda di dalam. Aku yang kemudian menutup pintunya.
“Lama sekali, Le. Mana martabaknya?” Ibu menengadahkan tangan.
Aku meletakkannya di meja tanpa berkeinginan merespons kata ibu.
“Aku ke kamar, Bu.”
Sembari duduk, ibu melontarkan kalimat, “Le, umurmu sudah dua puluh tujuh. Cepetan carikan Ibuk menantu. Yang salihah, ya, Le.”
Keponakanku Nurin berlari ke pangkuan ibu.
“Iya, Bu.”
Seringkali aku hanya mengiyakan. Mau bagaimana lagi. Aku belum ingin menikah sejak ayah meninggal memberikan wasiat supaya aku mengutamakan menuntut ilmu. Jika aku berilmu, insyaallah kelak rumah tangga yang kubina ke depannya dapat berjalan dengan baik.
Apalagi, aku tahu persis bagaimana cara saudara laki-laki aku memperlakukan istrinya kurang baik sehingga rumah tangga mereka masih kerap ada cekcok. Dulu, Mas Bayu tidak mau diminta sekolah sampai lulus strata satu. Padahal, itu keinginan mendiang ayah. Dia memilih putus di tengah jalan. Bekerja mengumpulkan uang, lalu menikahi perempuan idaman hatinya. Karena pada saat itu, mereka sudah terlalu lama menjalin hubungan sejak sekolah menengah atas. Kira-kira tiga tahunan.
Semester empat, Mas Bayu out dari kampus. Fokus pada pekerjaan, lalu menikahlah dia di tahun 2011. Perjalanan cinta mereka yang aku rasakan selama sepuluh tahun ini, mereka kurang bisa memahami satu sama lain. Sebab itulah, Nurin sering diajak ibu ke rumah. Kasihan jika sampai Nurin terganggu psikologisnya.
__ADS_1
Aku tidak ingin mengikuti jejak Mas Bayu yang menikah muda walaupun usia aku sudah tidak muda lagi. Bukan karena aku takut tidak akan mampu, aku hanya ingin menjalankan amanah mendiang ayah. Aku juga tidak menyalahkan keputusan Mas Bayu menikah muda, tapi aku menyayangkan kenapa dia tidak terus berusaha belajar dan mendewasakan diri sebagai kepala keluarga. Lagipula, aku juga tidak memiliki teman perempuan yang cenderung lebih dekat. Hubungan aku dengan mereka sama rata. Tidak lebih dari hubungan teman relasi.
“Pak Iban, kemarin ada titipan tugas praktikum dari mahasiswa njenengan. Saya taruh di meja Pak Iban. Besok dicek segera, ya, Pak,” kata Mbak Rubi di chat.
Ya mungkin dialah perempuan yang kadang terlihat lebih perhatian kepadaku. Di kampus, aku terbiasa memanggilnya Bu Bia. Di luar, aku diizinkan memanggil sesuka hati. Seringnya memanggil Mbak Rubi begitu saja. Dia dosen yang lebih muda dari aku, dosen yang baru lulus mendapatkan gelar magister pendidikan itu langsung ditarik Bapak Dekan supaya menjadi dosen.
“Terima kasih, Mbak Rubi.”
Dibalas dengan emoticon senyuman.
Pesan masuk dari Mas Bayu.
“Ban, kapan kamu pindah rumah?”
^^^“Kenapa, Mas?”^^^
“Aku akan tinggal dengan Ibu.”
^^^“Rumahmu?”^^^
Akhirnya, aku menelepon Mas Bayu.
^^^“Kenapa keputusannya bisa sejauh ini? Dulu kamu susah payah mempertahankan hubungan sampai kamu rela mutus kuliah. Tidak ingat itu, Mas?”^^^
“Sudahlah. Ini sudah kuputuskan. Secepatnya kamu urus perpindahanmu.”
^^^“Kalau tes CPNS diterima. Itu pun aku tidak akan pindah alamat, Mas. Kasihan Ibu kalau aku pindah ke Tulungagung sampai seterusnya.”^^^
“Aku bisa merawat Ibu.”
^^^“Yakin?”^^^
“Kamu meragukan Masmu?”
^^^“Kenyataannya sekarang?”^^^
__ADS_1
“Sudahlah, Ibban. Kalau aku bercera, aku akan fokus merawat Ibu dan Nurin.”
^^^“Apa keputusan itu sudah bulat?”^^^
“Kita sudah rundingan.”
^^^“Jujur aku kecewa.”^^^
Selama ini aku tidak pernah sekali pun ikut mencampuri urusan rumah tangganya meskipun aku juga tahu sedikit atau banyak kemelut itu. Dan, masih sekali ini pula aku terang-terangan menyatakan kekecewaan atas keputusan Mas Bayu, yang menurutku itu tidak dewasa.
“Terserah apa tanggapanmu. Menikahlah biar kamu bisa merasakan prahara rumah tangga.”
^^^“Aku masih belum sepenuhnya memenuhi wasiat Ayah.” Kupegang bingkai foto ayah di meja kerja.^^^
“Sampai kapan kamu mau terus-terusan mencari ilmu?”
“Aku dengar Ibu sering ditawari perempuan yang sudah siap menikah.”
^^^“Biarkan saja.”^^^
“Kalau katanya kamu lebih peduli dengan Ibu, harusnya kamu menikah, Ban.”
^^^“Mas, aku masih berharap kamu memikirkan ulang. Kasihan Nurin. Karena tidak kerasan tinggal denganmu, dia lebih suka tinggal dengan Ibuk. Assalamu’alaikum.”^^^
Keesokan harinya. Saat sarapan bersama.
Enam kursi, tiga di antaranya kosong. Bagiku, kekosongan kursi itu hanyalah pemandangan biasa. Namun, pandangan nanar ibuk seakan-akan membawa pesan tersendiri. Sesekali gerak mengunyah ibuk berubah pelan karena menatap kursi-kursi itu. Lalu, ibuk menatapku.
“Kalau anggotanya genap, kursi itu penuh, Zam. Ada Ayahmu, Masmu dan Mbakmu Nisfi, Ibuk, kamu dan istrimu.”
Aku tahu ke mana arah maksud pembicaraan ibuk.
“Oh, iya, Buk. Pengumuman CPNS bulan depan. Mohon doa restunya, nggih.”
Kisah di pesantrennya belum nongol, ya.. 🤗
__ADS_1