FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 195 "Hadiah Pernikahan"


__ADS_3

*Ibban Nizami


Masjid seketika menjadi hening. Suara santri yang merdu itu membahana hingga menenggelamkan bisik-bisik santri lainnya. Aku mendengarkannya dengan khitmad agar jantungku berdetak lebih pelan. Ternyata di saat beginilah aku bisa menjadi sangat gugup. Aku berusaha sedemikian hormat dengan menundukkan kepala kian dalam. Kuusapkan tangan ketika qori menyudahinya dengan tasdiq.


Kemudian, khutbah nikah dibacakan oleh al-mukarrom Habib Ahmad Fadil dalam waktu sepuluh menit saja. Lanjut pada acara inti yaidu aqdun nikah. Kuhirup napas dalam-dalam. Kurapikan jas putih dan kopiahku sebentar.


Abah Bahar telah mewakilkan perwaliannya kepada Habib Salim. Lantas Habib Salim berdiam dengan penuh khidmat. Memegang mikrofon dengan tangan kiri. Flash kamera pun beberapa kali menyala. Beliau berdehem sekali.


“Bismillahirrahmanirrahim. ...... abdul ladzi lilhanaa lil islaami wal imaan. Wa man ‘alaina bittibaa’ina linnabiyyinal haqqi wal bayan. Wa arsyadana lisyara’ihi wattiba’i hukmihi watilawatil qur’aan. Wa asyhadu anla ilaha illallah, wahdahu laa syarikalah. Al kholiqur razaqul karimul mannan. Wasyhadu anna sayyidana wa maulaana muhammadan ‘abduhu wa rasulullah. Al mustafa min adnan. Shallallahu ‘alaihi sallam wa ‘alihi wa ashhabihi wattabi’i wattabi’in ‘ala marridhtuhuri wal isman. Aamannaa bisysyarii’ah.....ila akhirihi."


Habib Salim meraih tanganku. “Ya Ibban Nizami, hadzaa zawwajtuka wa ankahtuka mahtubataka Tsaniya Tabriz binta al-mukarrom Kiai Haji Baharuddin Ma'ruf, al adzilli muwakkili bitazwiji minka waliyyuha syar’an bi mahri tis'ati jaramaatin minadzdzahabi wal fadhdhoti wa milyunaani wa tsamaani miatan wa itsnaani wa tsamaanuna alfan wa miataan rubiah Indonesia, halan."


Aku tarik napas. Lalu kulepas kan kalimat itu dengan pelan dan jelas, “Qabiltu nikahaha watazwijaha bil mahril madzkuur.” Lega. Rasanya memang sangat tidak dapat diukur dengan apa pun. Pada intinya aku sangat bersyukur. Akhirnya aku bisa menghalalkan putri Abah Bahar pada sore hari ini dengan lancar tanpa halangan sedikit pun.


Para saksi dan semua orang yang ada di masjid serempak mengatakan sah tanpa ragu. Mereka metakqidkan kata itu dengan teriakan lantang.


Flash kamera menyala bergantian.


Mikrofon diberikan kepada Habib Mustofa yang akan melangitkan doa. Hanya lima menit. Mikrofon berpindah kepada Kiai Dzul Ghofur, Kai Bastomi, Kiai Kariim, Kiai Nashir secara berurutan. Dua puluh menit kemudian doa selesai dipanjatkan.


Aku diminta abah supaya beranjak untuk menjemput mempelai putri yang tengah bersiap di ruang tamu ndalem. Dua kameramen langsung berlari mendahului jalanku, mengarahkan kameranya ke arahku. Aku memegang krah jas dengan maksud agar kelihatan seperti tengah membenahi.


Aku berhenti sejenak saat hendak memijaki teras ndalem. Aku berdoa barang semenit. Kameramen begitu serius mengambil setiap gerakanku yang sekiranya nanti terlihat apik dalam video. Aku memasuki ndalem pelan-pelan. Ummik dan Bu Mini menyambut di depanku. Mengarahkanku agar berjalan terus. Lalu, menyuruhku berhenti di depan kamar yang tidak terlalu luas. Saat pintu itu dibuka perlahan-lahan, terlihat sepintas ranjang di kamar itu telah dihias dengan sangat indah. Tapi, keindahan itu tak akan melebihi kecantikan perempuan yang berdiri di depanku dengan ekspresi yang sulit kuterjemahkan. Dia hanya tersenyum begitu tipis, tapi sangat memesona.


Gaun putih itu berpadu serasi dengan lengkungan senyumannya yang elegan. Juga karakter wajahnya yang sepintas tampak dingin, tapi begitu diperhatikan dia akan sangat menawan dan menawarkan kedahagaan. Selain karena riasan telah mengubahnya menjadi dua tingkat lebih cantik, sorot kedua matanya selalu menawarkan rahasia alam yang belum pernah terjamah oleh manusia sembarangan.


*Tsaniya Tabriz

__ADS_1


Kini aku menatapnya dengan pasti setelah menahan gejolak luar biasa saat detik-detik ijab qabul itu akan terlaksana. Aku berani menatapnya sebagaimana pandangan seorang istri kepada suaminya. Kami telah dilegalkan untuk saling bertatapan. Aku tak berharap dia akan mengerti kenapa aku menatapnya seperti ini. Tapi, aku hanya ingin mencoba menawarkan cinta dan perasaan. Aku ingin belajar untuk melakukannya sejak saat ini meski aku belum mampu melakukannya dengan sempurna. Tapi, sekali lagi aku ingin memulainya. Maka, saat dia menyentuh kedua tanganku, aku memejamkan mata.


Kurasakan sentuhan tangan itu hingga mampu menyalurkan getar ke dalam hatiku. Dia menarikku agar keluar dari bingkai pintu kamarku. Menyambut kameramen yang siap membidik gerak-gerik kami. Dia akhirnya meletakkan tangan kirinya di atas kepalaku. Merapalkan doa-doa kesunahan. Kutengadahkan kedua tanganku, berharap supaya keberkahan meliputi diriku. Dan, menyirami hati yang telah bersiap menerima cinta yang baru.


Selanjutnya, dia mendekatkan bibir ke keningku hingga aku dapat menghirup aroma parfumnya sangat menurutku membuatnya terkesan lebih berwibawa. Dia. engecupnya sangat lembut. Sampai flash kamera berkelap-kelip empat kali, dia barulah menjauhkan wajahnya. Ya, aku akan mulai memahami perlakuannya perlahan-lahan. Meski debar cinta belum muncul sepenuhnya, tapi setidaknya aku bisa memberikan senyum tanpa reka. Dia membalasnya lebih lebar. Dia memang terlihat sangat semringah.


Dia menarik tanganku lagi. Menuntunku keluar dari ndalem. Kak Ulya berlari memberikan sandal kepada suamiku. Lantas, suamiku berjongkok. Menyibakkan gaunku. Mencari kakiku yang terjebak di antara kain gaun yang berlapis-lapis.


Aku mengangkat gaunku sedikit. Kuperlihatkan kakiku yang berhenna kepadanya. Dia memakaikan sepatu itu sampai keduanya terpasang nyaman di kakiku. Dengan sigap kameramen pun membidiknya.


Aku tetap berjalan di belakangnya. Menahan langkah kaki agar tidak bergerak cepat. Aku khawatir keseleo karena high-heels sepatunya hampir sepuluh senti. Kak Ulya dan ummik berada di belakang kami. Begitu masuk beranda masjid, ummik mendorong kami.


Aku diminta duduk berdampingan dengannya. Aku menahan diri dengan sikap diam dan tenang walau sejujurnya aku canggung dan malu. Lalu ummik, Kak Ulya, dan ibuk berada di samping kiriku. Kami menghadap semua orang yang ada di masjid. Tapi, aku memilih menundukkan pandanganku.


Suamiku dipersilakan para habib agar memakaikanku perhiasan. Dia tersenyum melihatku memperhatikannya memasangkan. Tapi, dia sengaja memperlama itu. Dia malah terkesan sedang menggodaku karena tidak langsung memakaikan. Jadi tidak jadi. Melirikku sambil tersenyum sangat jail. Aku mendelik. Akhirnya dipasangkanlah cincin itu. Cincin yang menurutku sangat indah begitu dia melingkar di jari manisku.


Begitu juga aku yang kemudian diminta memasangkan ke jari manisnya. Dia menyodorkan tangannya, lalu aku mencium punggung tangan itu. Aku merasainya lagi. Tangan yang halus. Terasa hangat bila saat menggenggam.



Dia berbisik kepada abah, naib, dan pembawa acara, lalu memegang mikrofon. Ramai telisik para santri raib dalam sejekap. Dia mengetuk mikrofon dua kali.


"Atas izin Allah, maka izinkan pula saya untuk memberikan hadiah surat ar-rahman sebagai bukti ikrar di antara kita telah terjalin sempurna." Dia menatapku sebentar. Aku membalas tatapan itu. Flash mengkilat.


Para santri yang membawa Alquran saku, mereka bersegera menyimak apa yang akan dibaca suamiku. Kenapa dia sampai berpikir ingin menghadiahiku hafalan surat yang sangat spesial itu?


Dia berbisik lirih, "Asma'ku, ini lagu jiharka dan bayyati. Dengarkan dan hayati!"

__ADS_1


Lihatlah bagaimana caranya sekarang dia memanggilku. Dia benar-benar menyerupakanku dengan Sayyidah Asma' binti Yazeed. Tapi, mungkin itu lebih karena agar aku bisa napak tilas salah satu wanita teladan pada zaman Rasulullah saw.


Dalam seketika suaranya melantang sempurna. Merdu, halus, dan sama sekali tidak sumbang. Transisi antara lagu satu ke berikutnya selalu dimulai dengan penuh perasaan. Sesekali dia memejamkan mata saat dia menaikkan suaranya. Bila dirasakan lebih dalam, dia memakai variasi lagu yang sedikit bercampur dengan perasaan sendu. Atau, itu bagian dari caranya mengekspresikan kegembiraannya saat ini.


Aku menikmati. Sampai pada variasi yang menurutku benar-benar dalam, tak terasa mataku berkaca-kaca. Kudengar suaranya setengah goyah walau tak begitu kentara. Kuletakkan tissue di bawah mataku. Sementara, di pertengahan surat dia langsung berbelok pada lagu bayyati dengan transisi yang bagus. Di situlah, aku semakin terbawa emosi. Suara goyahnya terus menghadirkan decak kagum di dadaku. Suara emas itu tak diragukan lagi. Semuanya begitu khusyuk sembari terisak. Aku, ummik, dan ibu mertuaku. Menuju akhir surat, perlahan-lahan suara goyah itu kembali tegar. Selembut itukah perasaannya? Lelaki menangis karena membacakan surat ar-rahman untuk wanita yang baru dihalalkannya. Dan, jika aku memang harus jatuh cinta pada setiap patah suara yang keluar dari mulutnya.


Dia membaca tasdiq. Lalu, meletakkan mikrofon dan menoleh pada ibunya sambil tersenyum. Dia berbisik padaku, "Aku nggak nangis. Jangan geer kamu, ya."


Kupikir, apaan sih ni orang? Sudah bikin drama seperti ini masih juga bercanda. Aku membalas senyumannya.


Selanjutnya penyerahan mahar secara formalitas. Semua undangan berdiri.


"Allahumma shalli ala Muhammad," teriak Gus Rayyan di mikrofon.


"Allahumma shalli 'alaih." Dijawab serempak oleh semua orang. Penuh gairah dan semangat menggebu-gebu.


"Ya nabi salam 'alaika. Ya rasul salam 'alaika. Ya Habib salam 'alaika salawatullah 'alaika....." Lantas dilantunkanlah bait-bait salawat nabi tanpa iringan musik. Tapi, kedengarannya sangat menambahkan khidmat.


Dia menyerahkan mahar uang. Dua bidikan. Lalu, perhiasan emas dan gelang. Tiga bidikan. Santri kameramen meminta kami berfoto dengan buku nikah kami. Dengan senyum tipis, aku berpose sembari memegang buku nikah itu dengan dua tanganku. Sementara, dia meraih pinggangku tak terduga dengan tangan kirinya. Kontan aku menolehnya sembari mendelik. Flash kamera berkelip. Mungkin hasilnya akan lucu dan lebih natural. Lalu, dia menolehku. Menawarkan senyum jail, merenges. Flash kamera berkedip lagi. Dia juga menjitak kepalaku sampai aku benar-benar kesakitan. Aku mengerucutkan bibir. Flash kamera berkelip.


"Jangan cemberut. Nanti di kamera jadi lucu." Suaranya hampir tenggelam dalam lantunan salawat. Tapi, aku masih bisa mendengarkanya.


Kami pun memperbaiki gaya dan ekspresi.


Selanjutnya kami berfoto dengan para habib, kuyaha, dan gawagis. Dengan semua orang kecuali para santri.


__ADS_1


Maharnya 9 gram emas dan uang senilai 2.882.200 rupiah.


Alhamdulillah. Maaf aslinya 2 eps langsung, tapi tiba-tiba ketiduran pas nunggu loading ke-up. Sinyal sulit banget tadi malam. Maaf jdi gak seru karena kepotong pakek udah dikasih judul akad nikah pulak. 😅😅Akad nikahnya dulu, ya. Nanti insyaallah jika tisak ada halangan cus ke walimahan. Jangan lupa datang dan pakai dress code yang kompak. Wwkwkwkwk.. 😁😁🤭😅😊🙏 Makasih semuanya..


__ADS_2