
*Ibban Nizami
"Terima kasih, Mas Nizam. Tidak salah saya pilih panjenengan jadi narsum harlah ngaji kopi warung sastra dan Alquran ini." Pak Din menepuk punggung kiriku. Lalu menambah, "Pokoknya saya demen, Mas. Walaupun lokasinya agak jauh, panjenengan jangan banyak acara kalau sini pas butuh narsum. Anak-anak muda di sini butuh mentor seperti panjenengan."
Aku memberinya tawa ringan.
Pak Din menunjuk kursi dekat pintu. Ada wanita bertubuh besar duduk mengobrol dengan siapa. Entah. Lalu, Pak Din berbicara lagi, "Emak-emak yang duduk di sana, tadi juga bilang ke saya. Sekaligus nanya. Kalau misalnya yo, Mas, ada undangan nyanyi di pernikahan apa ya mau?"
"Monggo kalau saya tidak ada acara. Alhamdulillah dua minggu terakhir ini saya baru saja gabung grup gambus. Kontak personnya bisa ke saya."
"Pantesan to, Mas. Panjenengan cocok jadi penyanyi."
"Paket lengkap, Mas. Terus kaya panjenengan ini sudah punya calon istri apa belum?"
"Emak-emak yang di belakang itu ngantri, Mas." Pak Din berseloroh.
Aku tertawa. Pak Din mengajak bangkit.
"Yang ngantri Emak-emak?"
Pak Din pun menertawakan perkataannya sendiri. "Maksud saya ngantri jadi mertua, Mas."
"Nggeh, nggeh. Kalau begitu saya pamit, Pak. Matur sembah nuwun (terima kasih)."
"Langsung pulang atau ke mana?"
"Akhir pekan kalau tidak ada acara, saya pulkam, Pak."
"Banyuwangi nggeh?"
"Nggeh, Pak."
"Sabtubtidak ada jadwal mengajar?"
"Ini liburan semester, Pak."
"Woh iya, Mas. Anak saya itu di UIN masih semester dua ini, Mas. Yang paling besar, laki-laki, baru wisuda pertengahan tahun ini."
"Alhamdulillah." Aku memberi senyum.
Pak Din menoleh. Mengangsurkan oleh-oleh dari salah satu panitia yang baru mendekat padanya. "Ini, Mas. Mugi-mugi barakah."
__ADS_1
"Aamiin aamiin. Kalau orang tua Mas Nizam belum dapat calon menantu, semoga segera dipermudah semuanya, Mas. Aamiin."
"Aamiin Ya Mujibassailin."
Kami berjabat tangan. Aku merogoh kunci mobil dari jasku.
Pukul 21.47 WIB.
Rumah sudah jelas sepi. Sejak Mas Bayu dan mbak memutuskan kembali menikah karena telah habis masa iddah, ibuku tinggal sendirian. Paling-paling mbak dan Nurin seminggu sekali, menginap dua hari satu malam, menunggu hari libur kerja mbak. Mas Bayu sekarang bekerja di luar negeri, menjadi TKW di Arab. Terikat kontrak selama empat tahun.
Pintu depan terbuka.
"Loh, Mbak kok sudah ke sini."
Dia menguap. Dua kali dengan mulut menganga lebih lebar.
"Iya, Dek. Hari ini Mbak izin pulang cepet. Nurin badannya panas."
"Sejak kapan? Besok nggak kerja?"
"Nggak tahu juga. Panasnya belum turun. Kayaknya dia kangen Mas Bayu. Nyuruh Mas Bayu pulang." Dua menguap lagi. "Yok, masuk! Sini tasmu Mbak bawakne."
"Nggak usah. Nurin sudah tidur?"
"Tapi, Ibuk belum tidur itu, Dek. Mikirin kamu katanya."
"Mikirin gimana maksudnya?"
Seketika itu aku mendadak cemas. Aku meletakkan tasku di kursi ruang tamu. Aku menemui ibuk di ruang salat. Aku tidak akan mengganggunya. Aku akan membiarkan ibuk membersamai doa di tengadah tangannya. Diam-diam aku turut serta mengaminkan. Entah doa itu diperuntukkan untuk siapa. Tak biasa memang. Ibuk lebih sering bersiap tidur usai pukul delapan. Raga ibuku tidak kuat bercengkrama dengan udara malam. Kadang ibuku masuk angin jika suhu udara turun dari biasanya. Bait-bait pengharapan itu terlantun lirih. Kedua tangan itu lama menengadah. Kuat menggantung demi makbulnya sebuah doa. Ibuku, tumpuan cinta dan citaku. Sejurus ibuk mengusapkan kedua telapak tangannya. Melanjutkannya dengan hela napas panjang.
"Le, Le, Ibuk kangen. Kok ndak muleh to."
"Buk?"
Ibuk seketika menoleh ke belakang. "Le, kok sudah datang? Kapan? Ibuk ndak krungu ( tidak dengar) suara mobilmu." Ibuk merentangkan kedua tangannya. Aku menjatuhkan dengkul. Menyambut tubuh ibuk. Mencium pipinya.
"Saking khusyuknya Ibuk doa. Wajar kalau tidak dengar."
"Halah Ibuk biasanya yo dengar. Ibuk pas tidur saja denger kok, Le. Sehat? Sehat lahir batin to?"
"Alhamdulillah. Pangestune, Buk. Ibuk juga sehat?"
__ADS_1
"Sehat, Le. Seperti biasa paling yo masuk angin. Kerokan, terus nanti ya pasti sembuh." Tangan kiri ibuk mengelus kasar lengan kananku. Mencipta senyum terus menerus.
"Le?"
"Buk?" Aku paham. Pandangan yang kini ibuk berikan tiada lain adalah bermaksud membahas siapa pendamping hidupku. Harapan ibuk, aku pulang membawa kabar gembira. Aku bisa memberitahu ibuk siapa nama yang telah kupilih dan bersedia menerimaku.
"Hmmm? Gimana, Le Zam?"
"Ibuk sabar, kan?"
Ibuk tersenyum tipis. "Insyaallah sabar. Selagi umur Ibuk masih panjang. Anak Ibuk ini padahal ganteng, resik (bersih), manut, ngajine penak, mapan, gemati dengan orang tua, tapi kok ya masih jomblo, to, Ya Allah. Kurang apa yo anake Ibuk lanang iki. Kurang bejo (beruntung) apa perempuan yang kamu peristri nanti. Doane Ibuk tidak putus untukmu, Le."
"Buk, Fizah menolakku kemarin itu karena dia masih ingin melanjutkan hafalan dan kuliah, Buk. Aku menemui Ibunya di Sendang."
Terkait kejanggalan-kejanggalan yang kudengar itu, aku tidak menceritakannya kepada ibuk. Ibuk tidak tahu apa-apa. Bahkan, aku juga sebetulnya tidak tahu persis.
"Terus kamu dikasih nasihat opo (apa)?"
"Sebetulnya Ibu Mini mendukungku. Tapi, justru Fizah yang berat hati."
"Berat, Le. Dia masih muda to ya. Berapa? Tujuh belas?"
"Enggeh, Buk."
"Anak jaman sekarang itu kalau nikah usia segitu dikata pernikahan dini. Tapi, kalau jaman Ibuk dulu biasa banget, Le, Le. Ibuk maklum kalau alasannya karena cita-cita. Soalnya perempuan itu kalau sudah menikah tanggungannya banyak. Kalau impiannya saja belum rampung, tugasnya makin banyak, Le. Kecuali kalau suaminya seperti kamu. Le, Ibuk percaya seandainya Fizah itu mau, kamu pasti mendukung cita-citanya, kan? Tapi, masalahnya Fizah sendiri yo keberatan. Ya ndak jadi. Orang menjalani pernikahan itu kalian berdua. Apa kamu itu sebetulnya benar-benar menyukai Fizah to? Dia tidak jadi pelampiasan, kan?"
"Sama sekali tidak untuk pelampiasan, Buk. Aku, kan, sudah pernah cerita di telepon dua minggu lalu. Aku menyukai Fizah, Buk. Hanya saja karena suatu hal, perasaan itu tidak sebesar dulu."
"Lha ketika kamu melamar itu, gimana perasaanmu?"
"Buk, Buk, kaya jadi anak perempuan kalau Ibuk menanyakan terus soal perasaan." Aku tertawa ringan.
Ibuk senada. Tangan kanan ibuk memijit pahaku. Kadang menepuknya.
"Ya Allaaaaah, Le. Bagi Ibuk kamu itu masih remaja."
"Kok disuruh cepat menikah?"
"Maksudnya Ibuk itu perlakuan Ibuk ke kamu dari dulu sampai sekarang itu ndak ada bedanya. Zam, Ibuk dukung kamu jika kamu ingin memperjuangkan Fizah. Tapi, kamu kudu ngempet kalau Fizah inginnya begitu."
"Nggeh, Buk. Aku minta petunjuk dulu sama Allah biar semuanya lancar. Fizah sekarang juga sedang dilamar pria namanya Yazeed. Doakan saja, ya, Buk. Jodoh tidak akan lari ke siapa pun kok, Buk."
__ADS_1
Perasaanku ke Fizah memang sudah tidak sebesar dulu. Aku jujur pada diriku sendiri.
"Dimantapkan. Siapa pun yang kamu pilih, Ibuk manut, Zam. Kalau hatimu yakin bener, Fizah adalah perempuan yang tepat menjadi pendampingmu, larilah! Sabar adalah kuncimu agar bisa meluluhkan perasaannya. Jadi, kalau pengennya dia meraih cita-citanya dulu, ditunggu. Tujuh belas tahun? Yo tiga empat tahun to, Le. Sabar opo ndak?"