FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 141 "Titipan dari Kang Toyo"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Gus Fakhar memintaku membawa tas kresek yang dipegangnya. Aku menolak, tapi tatapannya memaksa. Aku disuruh mengatakan dengan jujur jika dialah yang membelikan. Sepertinya aku akan jadi topik pembicaraan para santri pekan ini. Belum juga kelar huru-hara tadi pagi. Setelah aku keluar dari pondok cukup lama dengan Gus Fakhar, pulang-pulang aku membawa barang belanjaan. Aku menghela napas sembari menyisih dari sisinya. Senyum lebar itu hanya kubalas senyum tipis. Ya sudahlah. Hadapi saja.


Kupikir aku bisa menyelinap dengan aman sesaat setelah kembali. Ternyata jegiatan malam ini free. Para santri bersimbah di aula seperti barang tak berguna. Mereka melakukan sembarang hal, mulai dari yang paling berfaedah sampai unfaedah. Berderet-deret membuat barisan sambil pijat-pijatan. Deretan lainnya ada delapan orang saling menyibak rambut kawan depannya, nyari kutu. Beberapa juga ada yang berteriak mengatakan mie instan sudah siap. Gara-gara mulut yang ingin disumpal dengan makanan, tapi semua yang dimasak oleh santri piket sudah habis. Mie dalam baskom besar itu diletakkan di lantai. Seketika disambut dengan gembira.


"Aku pok o yo pengen kilo." Dia mendesak kerumunan.


Terjemah: (Aku dong juga mau lo)


Yang lainnya ada yang menawarkan biskuit kelapa yang bungkusannya warna merah. Juga biskuit abon. Sebagian yang baru icip mie instan langsung menyerobot satu bungkus biskuit abon. Membuka bungkusnya sambil menunjukkak ekspresi kepedesan.


"Joooh iki lomboke sak bakul dikabehne opo piye? Pedese koyo demet."


Terjemah: (Joooh ini cabenya setoko dimasukkan semua apa gimana? Pedasnya kaya setan)


Aku dihadang. Mbak Furi dan yang lainnya seperti satpam. Aku dilarang masuk kamar sebelum aku menjelaskan dari mana. Mereka pasti tidak tahu kalau aku sudah diizinkan. Mereka tahunya aku bolos atau semacam kencan. Tak heran kalau aku dibicarakan. Mana ada santri keluar sampai malam. Kembali membawa baju seperti habis berenang-senang.


"Mbak, aku ngantuk."


Aku memaksa menyingkirkan lengan kanan Mbak Furi yang dibentangkan, menghadang pintu.


"Ogah. Apaan itu yang kamu bawa?" tanya Mbak Furi.

__ADS_1


"Emang tadi ke mana?"


"Santri-santri pada ngomongin kamu heee."


Aku berusaha cuek. Kuperlihatkan wajah lunglaiku.


"Ini." Kuberikan saja tas kresek bercap nama toko baju tadi.


Mbak Furi cengengesan. Merasa puas aku lebih memilih mengalah. Aku menyerobot masuk. Ingin rasanya langsung menggelar selimut, lalu tidur. Tapi, aku ingat belum salat isya. Kudengar kasak-kusuk santri yang menyebut namaku. Telingaku risih sekaligus juga memaklumi. Aku sendiri merasa aneh karena bersikap seperti tadi pagi. Begitu pasrah saat Gus Fakhar menarik tanganku. Bahkan, ada yang berceletuk, "Cie yang baru kencan." Aku menatapnya saat dia langsung membungkam mulutnya. Dia mengejekku.


Kuteruskan langkah. Kuabaikan mereka. Duh, aku ingin putar balik saja. Hatiku berceletuk. Aku berpapasan dengan wajah masam Ning Ulya. Lirikannya sinis. Langkah kakiku menjadi gamang. Lebih baik menyapa atau tidak. Aku sedikit menundukkan wajah, tapi aku tahu dia tetap memandang wajahku seperti berharap aku berhenti dan menjelaskan sesuatu padanya. Tapi, aku akan gagap jika bicara sekarang. Aku akan kelihatan mencurigakan. Dan, tidak mungkin dia yang menyapaku lebih dulu. Perempuan pasti akan gengsi melakukannya karena sudah jelas aku yang terlihat salah.


Di kamar mandi tidak ada yang mengajakku bicara. Mereka seperti manusia bisu. Melirikku tak biasa. Antara abai dan penasaran. Mereka tetap diam, tapi caranya menatapku bergantian itu menerjemahkan sebuah permintaan. Aku merasa sedang dikucilkan. Tidak mungkin Ning Ulya turut membicarakanku dengan santri-santri lainnya. Atau, mereka langsung menuduhku mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Lagi-lagi aku berperasangka.


Justru karena kegiatan free, santri-santri malah masih bersenda gurau. Sudah setengah sebelas malam. Tawa mereka urung mengheningkan suasana. Aku ingin berpikir dengan jernih. Jika hasil tes DNA itu menunjukkan yang sebenarnya, aku harus bersikap bagaimana. Dan, apa yang ingin aku sampaikan kepada Kiai Bahar dan Bu Nyai Ridhaa? Juga apa yang akan kuminta pada mereka? Haruskah aku memaksa ibuku tinggal di pesantren ini tanpa harus membiarkan ibuku susah payah setiap hari? Karena, di sini ibuku juga tidak akan capek.


Aku urung melelapkan mata. Kukatakan dengan jujur apa yang diminta Gus Fakhar tadi meskipun tidak seluruhnya. Tapi, aku meminta pada teman sekamarku agar tidak membeberkannya pada yang lain. Sekali pun itu pada pengurus. Apalagi, pada santri kamar lain. Aku tidak dapat menjamin mereka akan mempercayaiku dan tetap menjaga rahasia ini.


Pagi-pagi sekali setelah subuh, aku mendapatkan utusan ke ndalem. Tadi Mbak Ufi yang menyuruh. Kukira aku diminta pijat atau apa. Ternyata ada yang sedang menungguku di saung depan, kata Gus Fakhar yang menyuruhku agar jangan sendirian menemuinya. Aneh sekali tamu datang pagi-pagi begini.


Aku tiba di depan. Semantara, Mbak Ufi mengawasiku dari depan teras. Aku kenal siapa laki-laki itu. Tentu aku kaget. Hatiku gusar mendugakan sesuatu yang buruk telah terjadi.


"Kang, kok tumben?"

__ADS_1


Kang Toyo bermimik serius. Dia mengeluarkan selembar kertas dari saku kemejanya.


"Apa ini, Kang?"


"Titipan dari Gus."


"Dia sudah sadar, Kang?"


"Belum, Mbak. Mohon doanya."


Kang Toyo bangkit. Kutunda pertanyaanku. Dia kelihatan ingin segera berpamitan.


"Pulang dulu, Mbak."


Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Kumasukkan kertas itu ke saku blusku. Tak jadi. Aku kembali ke saung. Di sana lebih aman. Mbak Ufi yang hendak kulambai, memilih tidak penasaran. Dia menghilang sebelum aku melambai.


Kubuka isinya. Deg!


Zah, ini yang nulis Toyo. Aku masih susah payah mau gerakin jari. Semalam aku bermimpi. Aku melihat dua perempuan berdiri di arahku. Salah satunya aku tidak melihatnya dengan jelas. Aku pergi ke arahmu, Zah. Setelah itu aku yakin, aku sudah seharusnya mengambil keputusan. Aku siap menunggumu. Jika aku sudah sembuh, aku akan membantumu mencaritahu siapa kamu sebenarnya. Aku serius. Aku nggak pernah main-main dengan perkataanku. Siapkan jawabannya, Zah!


Hasil tes DNA akan keluar nanti. Aku gusar. Tapi, aku gembira membayangkan antusiasnya ingin membuatku bahagia. Seakan-akan dia memahami apa yang belum kuutarakan. Bayangan masa depanku terasa lekat pada wajahnya. Ada keyakinan kecil yang sudah tertanam, mungkin dia jodohku. Walau dia duda, aku seolah-olah ingin mengabaikan status itu. Tapi, sebentar. Aku menghalau pikirku agar tidak membayangkan terlalu jauh. Tidak ada yang pasti di depan. Aku harus memantapkan hati dan pikiranku.


Ngapunten 1 eps dulu, nggeh. šŸ™šŸ™ Selamat membaca. Hasil tes DNA sebentar lagi. šŸ˜˜šŸ™šŸ˜Š Terimakasih semuanya.

__ADS_1


__ADS_2