FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 45 "Perisai"


__ADS_3

*Fakharuddin Akhyar Al-Ameen


Ngaji kitab Fathul Mu'in di pontri di aula serbaguna. Membahas bab salat tahajud. Baru lima belas menit aku membacakan syarahnya. Semua santri menuliskan maknan pegonnya dengan bolpoin sabak (alat tulis menulis khat arab yang caranya dengan mencelupkannya ke dalam tinta sebelum digunakan untuk menulis). Di sini, setiap kali ngaos, abah mewajibkan semua santrinya tetap memegang adat lama yaitu menggunakan bolpoin sabak itu tadi. Selain ketika ngaos diperbolehkan.


^^^ويسن التهجد إجماعا، وهو التنفل ليلا بعد النوم".^^^


Artinya, tahajud atas dasar ijmak. Salat tahajud adalah salat sunnah setelah bangun dari tidur. Pertanyaannya kalau kalian setelah magriban, jam enam misalnya, lalu tertidur, apa boleh kalian tahajud setelah salat isya? Yang bisa jawab angkat tangan."


Ada salah satu santri barisan depan yang sengaja malah menundukkan wajah ketika aku mengerlingkan pandangan ke sana. Lantas aku menunjuknya untuk menjawab.


"Tidak boleh," jawabnya ragu. Kontan lengannya disenggol oleh santri di sampingnya.


"Gimana, Mbak? Coba jelaskan!"


Santri itu tersenyum. "Kalau saya boleh, Gus."


"Lha, kan, sebelum salat magrib tidurnya?"


"Oh, iya, ya." Dia pun sama. Ragu.


"Kenapa? Ragu?" Aku menertawakannya lirih.


"Jawabannya sudah bener. Boleh. Syaratnya asal sudah tidur dulu di malam hari. Ba'da salat isya langsung mengakhiri tahajud pun boleh. Tapi, santri yang mondok tidak boleh seperti itu, ya. Tahajudnya harus ikut jamaah dengan Ummi."


Mereka mengangguk-ngangguk.


"Lalu, gini, ya, salat malam itu apa saja selain tahajud? Yaitu ada juga salat witir. Kapan seseorang sunnahkan mendirikan witir? Sebelum atau sesudah tahajud?"


Beberapa dari mereka saling berbisik. Santri yang pernah dipanggil ke ndalem supaya kupilih menjadi calon istri kemarin pun ikut menunduk. Aku menyuruhnya menjawab.


"Menawi kalau dia sudah terbiasa tahajud atau seperti kami yang selalu diwajibkan ikut tahajud, witirnya sunnah diakhirkan, Gus. Jika khawatir tidak bisa bangun, nggeh, witirnya duluan. Maksudnya witiran sebelum tidur."


"Perlu witir lagi tidak?"


"Ehm.. mungkin saget (bisa), Gus."


"Jawabanmu sudah bener. Tapi, nggak usah witir lagi. Itu sunnahnya. Bahkan, jika kamu tahu mendirikan witir dua kali dalam semalam itu tidak perlu, hukumnya haram."


Ngaji berlanjut sampai satu jam kemudian. Aku menghabiskan dulu kopi yang dibuatkan santri. Sisa dua tegukan, aku menyisakannya. Tinggal ampas kopi. Aku mendengar kemudian suara santri sedang berebut gelas sembari meneriakkan barakah, barakah.


Aku tidak langsung kembali ke ndalem. Aku masih di luar aula memandangi hilir mudik santri putri yang keluar dari pintu lain, lalu mereka berhamburan, berlarian ke kamarnya. Begitu banyak santri putri di sini. Tapi, mataku seakan tak jeli. Tak dapat memilih mana yang paling cantik atau yang paling santun budi pekertinya. Bagiku mereka sama. Pintu hatiku belum terbuka untuk memberikan kepastian pada ummi.

__ADS_1


"Tsan, kamu di mana? Apa kamu masih hidup? Temani Mas yang galau ini, Dek," batinku.


Ada salah satu mbak ndalem mendekat. Megap-megap.


Aku menatapnya sampai dia bisa mengatur bicara. "Ada apa?"


"Ummik pingsan, Gus."


Aku melenggang pergi. Aku masuk ndalem tanpa bertanya di mana ibu sekarang.


"Ummik di kamar mandi, Gus."


"Kenapa kamu biarkan sendirian?"


"Ngapunten, Gus."


Aku berjalan ke arah sana. Aku mendapati ummi sudah tergeletak. Separuh badannya menyandar di tembok. Aku segera mengangkat, membawanya ke kamar pribadi ummi. Suara abah ngaos (ngaji kitab) masih kedengaran dari sini.


Ummi sudah sakit dua hari. Nafsu makan ummi menjadi berkurang. Sudah diperiksakan. Ummi tidak perlu rawat inap. Cukup minum obat dan istirahat cukup, serta yang paling penting jaga pikiran supaya tidak berpikir terlalu berat.


Aku tahu ummi masih memikirkan Tsaniya. Tiada hari tanpa doa ummi yang berkelaluan untuknya. Sekali pun aku ataupun abah, tidak mampu menahan ummi supaya cukup bersabar menunggu Allah mengirimkan jawaban yang selama ini ummi yakini. Bahkan, ummi meyakini keterlambatan jawaban itu dikarenakan ummi kurang bersungguh-sungguh dalam berdoa dan tirakat. Sebelum sakit, ummi sudah sempat memulai dengan puasa daud sebagai tambahan tirakatannya selama ini. Dan, justru yang terjadi setelah itu malah kondisi ummi drop.


Aku menidurkan pelan-pelan.


"Mbak, tolong diganti agemane (bajunya) Ummi."


Mbak ndalem mengangguk.


Aku menutup pintunya. Membiarkannya membersihkan badan ummi dulu.


"Ya Allah, jika memang Tsaniya masih hidup, datanglah dia untuk Ummi," batinku. Setelah belasan tahun lamanya, terlalu sulit bagi keluarga untuk mencarinya. Sedangkan, paras Tsaniya sudah jelas tidak akan dapat kami kenali.


Mbak ndalem membuka pintunya. "Ummik sampun wungu, Gus."


Terjemah: (Ummik sudah bangun, Gus)


"Ummi?"


"Le, Ummi kangen banget karo Adimu."


Aku bersimpuh di bawahnya. "Fakhar tahu. Semua orang tahu Ummi sangat ingin Tsaniya kembali. Bagaimana Ummi akan menjalankan tirakat jika Ummi malah sakit. Dhahar, nggeh (makan, ya)?

__ADS_1


Aku gembira ketika ummi langsung mengiyakan. Aku memberikan isyarat supaya mbak ndalem pergi ke dapur untuk mengambilkan nasi sedikit saja.


"Ingat. Ummi dulu pernah kambuh karena tipes. Rawat inap sampai satu minggu. Yang butuh Ummi tidak hanya satu orang. Semua yang ada di sini butuh Ummi. Oke?"


"Iyo, Le. Ummi paham."


"Monggo, Gus!"


Aku menyongsong sepiring nasi liwet yang sudah ditaburi abon ayam buatan santri. Aku menyendoknya.


"Aaaakkk." Aku ikut mangap.


Ummi melahapnya pelan-pelan. Mengunyahnya pun demikian. Kelihatan tidak bertenaga sama sekali.


Aku menguapi ummi sampai nasi di piring habis. Tinggal satu sendok, aku membujuk.


"Abahmu sek ngaos, Le?"


Terjemah: (Abahmu masih ngaji, Le?)


Kuberikan gelas yang sudah diberi sedotan itu pada ummi. Aku menjawab, "Masih."


"Le, kapan-kapan Ummi mbok diajak refreshing."


"Ummi pengennya ke mana?"


"Neng nggunung yo kenek, Le. Seger, adem."


Terjemah: (Di daerah pegunungan juga bisa, Le. Segar, dingin)


"Nggeh. Insyaalah kalau Ummi sudah sembuh, kita dolan."


"Le, tapi ojo neng Magetan ae. Ummi pengen dolan neng luar kota. Karo awakmu wae, yo?"


Terjemah: (Le, tapi jangan di Magetan saja. Ummi ingin dolan ke luar kota. Dengan kamu saja, ya?)


"Insyaallah. Fakhar usahakan pokoknya."


Aku memberikan piring kotornya. Mbak ndalem menyisih membawa piring itu pergi.


Insyaallah nanti up lagi, ya. 😊🙏

__ADS_1


__ADS_2