FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 137 "Dendam Masa Lalu"


__ADS_3

POV Orang Ketiga


Ki Dalang urung merespons. Masalahnya tidak mudah memberikan pusaka kepada seseorang. Apalagi, Ki Dalang tahu bagaimana watak Sumarjo, yang biasa Asu oleh beberapa orang. Sumarjo terlihat grusa-grusu. Penuh ambisi. Pusaka dengan kekuatan tinggi justru dapat membahayakan. Tidak semua pusaka akan langsung cocok dengan pemiliknya. Jika itu terjadi, maka pusaka itu bisa menjadi bumerang Sumarjo sendiri.


Kedua mata mereka masih bertemu pandang. Semangat Sumarjo terlalu berapi-api. Ki Dalang agaknya sedikit ragu memberikan keris Brojomukti itu. Dia mendapatkan banyak firasat saat pertapaannya selama empat puluh hari di lereng gunung. Untuk mendapatkan keris itu juga tidak mudah. Tapi, di sisi lain dia juga merasa harus memberikan keris itu kepada Sumarjo dengan konsekuensi yang buruk di masa depan.


"Rawat keris ini dengan baik. Dan, kau..."


Ki Dalang melontarkan nada lebih serius. "Jangan terlalu berambisi. Turunkan!" sambungnya kemudian.


Sumarjo tidak terlalu paham. Tapi, dia tetap mengiyakan. Mengangguki pesan Ki Dalang dengan sangat mantap. Yang ada di pikirannya sekarang adalah dia nantinya akan tetap bisa menjalankan misinya.


Sampai tiba di kemudian hari datanglah seorang perempuan yang dibawa oleh anak semata wayannya, namanya Hakim. Sesungguhnya Hakim hanyalah menjadi alat baginya untuk menjalankan misi. Berkat bujukannya, Hakim akhirnya berangkat menerima tawarannya bekerja dengan iming-iming gaji puluhan juta. Hakim dan keluarganya yang terdesak ekonomi tidak bisa mengelak kehausannya terhadap keinginan mengubah hidup menjadi lebih baik. Hakim juga diminta untuk mengajak salah seorang teman perempuannya. Maka, Hakim dan perempuan itu pun tiba di tempat yang digadang-gadang akan memberi mereka uang berlimpah.


Tapi, apa yang terjadi kemudian? Hakim murka. Malam itu, dia membuat perhitungan dengan Sumarjo. Yang ketika itu dia belum mengetahui siapa Sumarjo yang sesungguhnya. Tapi bagi Sumarjo, Hakim hanyalah bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa. Hakim yang saat itu berusaha menghabisi Sumarjo, justru harus terikat perjanjian dengan Sumarjo. Sumarjo mengatakan bahwa sebetulnya dia adalah bapak kandung Hakim. Hakim tentu semakin kecewa. Antara percaya dan tidak. Karena yang dia tahu, bapak kandungnya telah lama tiada. Saat itu, Hakim berpikir apakah itu hanya siasat? Tapi, dia akhirnya menghubungi ibunya, lalu dia mendengar semuanya masa lalu ibunya dengan tangis berderai-derai. Lantas Hakim tidak ada pilihan lain selain memenuhi perjanjian itu. Dimana dia harus tetap mematuhi apa yang Sumarjo kehendaki daripada ibu dan keluarganya justru akan mendapatkan masalah besar. Kaitannya dengan nyawa. Hakim membangsat-bangsatkan bapaknya sendiri. Untuk itulah kepada tatkala dia dituduh menipu oleh teman perempuannya itu, dia tidak terima karena sebetulnya dia juga telah tertipu. Itulah kenapa juga dalam beberapa kesempatan dia juga pernah membela perempuan itu di depan Sumarjo. Dia juga pernah cemburu saat pada awal bulan September yang lalu, dia mendapati ada titipan surat untuk perempuan itu. Juga pernah merobeknya, lalu membuangnya ke tempat sampah. Yang sebenarnya terjadi ialah demikian. Dia tidak bisa memperjuangkan perasaannya untuk perempuan itu.

__ADS_1


Naasnya, di kemudian hari perempuan itu kabur bersama Ratna. Dan dalam perjalanan pencarian, Sumarjo menceritakan sesuatu. Lalu, saat mereka sudah kembali ke kolong sampah, Sumarjo menunjukkan sebilah keris yang telah dia rawat dan berkomunikasi dengan baik. Tentu Hakim tak bisa mengerti kenapa tiba-tiba Sumarjo menunjukkan itu kepadanya.


"Bukannya ini sesuatu yang sangat rahasia bagimu?"


"Kau anakku. Harusnya kau yang menjadi pewarisku."


"Pewaris? Harta apa yang kumiliki?"


"Ini bukan sembarang pusaka. Hanya aku, kau, dan Ki Dalang yang tahu masalah ini. Ini Keris Brojomukti. Tapi, aku merasa ada yang telah terjadi. Ki Dalang mengatakan bahwa suatu saat akan datang kepadaku perempuan yang bisa menjadi bumerang. Dia bisa mengalahkan kekuatan keris ini."


Tidak ada tanda-tanda keterkejutan di wajah Hakim yang tengah menyimak dengan serius.


"Bagaimana aku bisa?"


"Perempuan itu memiliki tanda lahir hitam di ketiaknya."

__ADS_1


Lantas, Hakim ingat sesuatu. Dia berusaha mengingat lebih jelas bahwa dia pernah melihat tanda lahir itu di tubuh seorang gadis cilik. Tatkala gadis itu mandi di sungai, Hakim pernah mengintip seperti Jaka Tarub yang akan mencuri selendang bidadari Nawang Wulan. Gadis itu tengah bersorak ria bersama kawan-kawan perempuan. Gadis-gadis kecil itu hanya mengenakan kaos tanpa lengan dan katok pendek separuh paha. Hakim ingat gadis itu memiliki tanda lahir cokelat kehitaman di ketiak sebelah kanan.


"Aku pernah melihat perempuan itu."


Sumarjo terkejut. Dia sangat keberanan. Ada api yang menyala seketika di matanya.


"Siapa dia? Di mana?"


"Yang sedang kaucari."


"Fizah atau Ratna maksudmu?"


"Fizah."


"Brengsek." Menggebrak meja. Matanya memerah. Berulang kali dia menyumpah akan menemukan dua gadis itu. Dia tidak akan melepaskan Fizah sampai dia bisa membuat perhitungan. Karena sesungguhnya dia juga sangat penasaran kenapa perempuan lemah itu bisa menjadi aling-aling terbesarnya.

__ADS_1


Dan, sampai sejauh ini pun Sumarjo belum mengetahui bahwa perempuan itu bukan putri kandung Bu Mini. Begitu juga Hakim. Sumarjo hanya tahu persis di mana tempat tinggal perempuan itu sekarang. Sumarjo juga tahu, tempat itu telah menjadi kawasan paling aman bagi perempuan itu untuk bersembunyi. Yang justru membuatnya sulit untuk menemui meskipun targetnya benar-benar sudah ada di depan mata. Apalagi, dia dan Hakim sekarang telah terdaftar sebagai buronan.


Namun, ada satu hal yang belum Sumarjo ketahui. Selama ini dia hanya tahu Hakim begitu patuh kepadanya karena dia sudah menerima dan merelakan diri membantu menyelesaikan urusannya. Tapi, sebetulnya dugaan itu tidak sepenuhnya benar. Memang benar, hampir tiga bulan ini Hakim selalu membersamai Sumarjo untuk menemukan perempuan itu. Tapi, tujuan Hakim yang sesungguhnya justru bukan untuk mencelakai. Dia ingin menceritakan yang sesungguhnya fakta yang dia ketahui. Dia tidak ingin perempuan itu terus membencinya walaupun dia juga merasa pantas untuk menerima amarah dan kebencian itu. Setidaknya dia bisa membalas semua yang pernah dia lakukan kepada perempuan itu. Dan, dia juga telah merencanakan satu hal yang saat ini sedang disembunyikannya dari Sumarjo. Bila dirinya telah bertemu dengan perempuan itu dan menceritakan semuanya, dia ingin menjebak Sumarjo agar bersedia menyerahkan diri ke polisi.


__ADS_2