
*Tsaniya Tabriz
Ummik tanpa bertanya kembali ke dalam. Obat merah, kasah, dan alkohol di tangannya dilempar.
Darahku terus mengalir. Lengan bajuku merah semua. Sebagian darahnya sampai bertetesan ke lantai. Aku tak berani melihat darah segar mengucur sebanyak itu. Kau terus memalingkan muka sembari terus mendekap lengan. Kutekan hingga sakit sekali.
"Ini ini kainnya." Ummik memberikannya pada Pak Nizam.
"Maaf, ya. Sory aku pegang lengan kamu. Atau, Ummik saja?" Dia menatap ummik sejenak.
"Wis sampeyan ae. Ummik ndak ngerti malahan."
Terjemah: (Sudah kamu aja. Ummik tidak paham malahan)
Pak Nizam menatapku sebentar. Dia canggung. Matanya bertanya apakah aku boleh menyentuhnya.
"Aku bisa, Pak."
Aku ingin mencobanya terlebih dahulu. Pak Nizam pun tak memaksa harus dia yang memberi perban lenganku. Dia hanya membantuku sedikit. Terpasanglah kain itu. Karena luka itu terlalu ditekan, rasanya benar-benar sakit.
"Ayo! Pakai mobilku saja."
Kami pulang dari rumah sakit jam setengah sebelas siang. Ternyata lukanya harus dijahit. Benar kata Pak Nizam, ada pembuluh darah yang terkenan sayatan pisau itu. Lebar tiga senti dengan luka sedalam satu senti.
Kata ummik, sekarang wajahku pucat. Aku sendiri merasa lemas. Tenagaku seperti sudah terkuras habis. Tanganku kaku. Aku tidak berani banyak menggerakkannya.
"Monggo diminum dulu!" kata Mbak Ufi. Dia tidak segera beranjak.
"Berbaring neng kene opo jeng njero, Nduk?"
Terjemah: (Berbaring di sini apa di dalam, Nduk?)
"Di dalam saja, Mik," jawabku lirih. Sekarang pun aku menjadi agak pusing.
"Mas Nizam, sepurane wis ngrepotne. Suwun wis gelem ngeterne Niya."
Terjemah: (Mas Nizam maaf sudah merepotkan. Terima kasih sudah mau mengantarkan Niya)
Dia mengangguk. "Mik, ngapunten bisa bicara sebentar?"
Aku beranjak. Ummik memerintahkan Mbak Ufi agar membantuku ke kamar. Sebetulnya aku bisa sendiri, tapi Mbak Ufi memaksa membantu.
Mbak Ufi membuka pintu kamarku. Menyuruhku duduk di kasur. Tapi, aku memilih langsung berbaring. Aku bergerak pelan-pelan.
"Gimana lo ceritanya kok bisa gini?"
Aku menghela napas. Kubuang lama. Kutatap plavon kamarku. Aku menggeleng kemudian. "Aku juga nggak tahu. Tiba-tiba saja ada yang mepet. Untungnya bukan ummik yang dipepet." Tapi, kemungkinan besarnya memang hanya aku yang dijadikan sasaran. Kebetulan aku di sebelah kanan, makanya pria itu lebih mudah melukaiku.
__ADS_1
"Sengaja atau nggak sengaja itu? Lukanya parah, kan?"
"Lumayan parah."
"Aku jadi khawatir. Mendingan kamu ndak usah keluar pondok dululah, Ning. Kalau cuman berdua dan cewek semua, terus kalau ada yang mau melukai lagi gitu, ya percuma. Cewek ndak bisa melawan."
"Udahlah Mbak Ufi nggak perlu ikutan mikir. Mbak, tadi Ummik bingung nyari pengganti kalau kamu habis ini cepat-cepetan mau nikah dengan Yazeed. Tau, mendingan kamu aja, ya, yang nyari ganti. Kasihan Ummik kalau yang nyari."
"Mmmm...santri putri insyaallah banyak yang mau kok."
"Tapi, yang Ummik persoalkan tadi kayaknya bukan itunya. Tapi, kecocokan Ummik sama kamu."
"Ooooh...emmm...aku ndak tahu kapan yo nikahku. Hafalanku juga masih kurang kok. Cita-citaku juga mau tabarukan di sini habis rampung setoran."
"Mbak, tolong soal tadi santri-santri jangan sampai tahu, ya."
"Iya. Aku ndak akan crito apa-apa."
"Makasih, ya, Mbak. Kamu selalu jadi orang yang mau nutupin keadaanku."
"Sekarang istirahat wae."
Aku mengangguk. Mbak Ufi pergi. Dia menutup pintu kamarku.
"Mbak Uf, Abang, Kak Ulya, Ummik, Abah, entah sampai kapan aku akan menyembunyikan masa laluku pada kalian. Mungkin sekarang aku sudah bisa berdamai, aku menerima bahwa semua itu juga sudah menjadi bagian takdir Tuhan. Tapi, masalah ini belum selesai jika Pak Su dan orang-orangnya masih menghantuiku. La haula wa la quwwata illa billah. Kuserahkan semuanya pada-Mu, Ya Allah. Dari-Mulah masalah itu ada, maka Dari-Mulah jalan itu akan terbuka. Dan, jika aku memang masih Engkau perkenankan menjaga nama baik orang tua dan diriku sendiri."
*Ibban Nizami
Setelah Fizah dan Mbak Ufi menjauh dari posisiku, aku memulai percakapanku dengan menanyakan apa yang telah terjadi.
"Ummik yo bingung, Mas. Ujug-ujug maeng iku Niya ngringik-ngringik kelaran. Cuman sakdurunge memang enek wong lanang sing liwat. Ndisiki mlakune Ummik karo Niya. Yo mek wong lanang kui sing liwat."
Terjemah: (Ummik juga bingung, Mas. Tiba-tiba tadi itu Niya meringik kesakitan. Tapi sebelumnya tadi memang ada laki-laki yang lewat. Mendahului jalannya Ummik dan Niya. Ya hanya laki-laki itu yang lewat)
Tanpa memikirkannya lebih jauh lagi, tebakanku langsung menuju pada Sumarjo dan Hakim.
"Ciri-ciri orangnya pripun?"
"Ummik ndak ngerti. Wonge rodok dhuwur. Gawe jaket."
Terjemah: (Ummik tidak mengerti. Dia agak tinggi. Memakai jaket)
"Mik?" Kutatap bu nyai.
Bu nyai membalas pandangku.
"Apa njenengan sudah benar-benar percaya pada saya?"
__ADS_1
"Iya. Ummik percoyo. Pandangan pertama Ummik mengatakan sampeyan iku sae (itu baik)."
"Mik, izinkan saya menikahi Fizah. Saya pun sudah menyukai Fizah sejak lama. Saya akan melindunginya semampu saya." Tatapanku memohon. Aku telah mengumpulkan niat untuk mengatakan ini.
"Saya berjanji akan menjaganya. Insyaallah."
Pandangan ummik mengendur. Alisnya turun. Sudut bibirnya tertarik lebih lebar.
"Wingi Niya wis matur pengen nglakoni telung perkoro sekaligus."
Terjemah: (Kemarin Niya sudah bilang ingin melakukan tiga hal sekaligus)
"Apa, nggeh?"
"Sampeyan kudu siap ndampingi Niya apalan, kuliah, karo ngramut sampek dadi wadon sing salihah. Niya sanggup apalan disambi kuliah karo ngurusi rumah tangga."
Terjemah: (Kamu harus siap mendampingi Miya hafalan, kuliah, dan mendidiknya sampai menjadi perempuan yang salihah. Niya sanggup hafalan sambil kuliah dan mengurusi rumah tangga)
"Allahumma salli 'ala Muhammad," gumamku.
Aku bahagia mendengar itu. Pintunya sudah terbuka lebar untukku. Bahkan, dia justru ingin melakukan tiga hal yang awalnya hanya menjadi pilihan. Lalu, dia bersedia mengarunginya sekaligus. Aisyah. Ya dia Aisyah dalam wujud yang lain. Dia perempuan pemberani. Aku tidak salah. Aku tidak mungkin salah, Ya Allah.
Jangan Rubah Takdirku;
Di setiap doaku, di setiap air mataku
Selalu ada kamu
Di setiap kataku ku sampaikan cinta ini
Cinta kita
Ku tak akan mundur, ku tak akan goyah
Meyakinkan kamu mencintaiku
Tuhan ku cinta dia, ku ingin bersamanya
Ku ingin habiskan nafas ini berdua dengannya
Jangan rubah takdirku, satukanlah hatiku dengan hatinya
Bersama sampai akhir
Sumber: jogja.tribunnews.com
Selamat membaca. ❤️❤️❤️ Selamat hari guru buat semua guru yang membaca cerita ini. Berkah dan bermanfaatlah ilmumu. 🙏🌹
__ADS_1