FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 134 "Menyongsong Matahari"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Bising mobil Tuan Kabi yang hendak memasuki halaman pesantren menghentikan gerakan tanganku yang masih mencuci ageman bu nyai. Aku yang semula ingin meredam bising kekhawatiranku dengan melakukan pekerjaan ndalem pun kembali tak tenang. Harap-harap cemas. Aku masih tetap berharap semoga kabar yang mereka bawa seperti yang aku inginkan.


"Mbak, Mbak?" Mbak Ufi mengetuk pintu kamar mandi dapur.


"Iya?" Aku berteriak.


"Sampun rawuh (sudah datang)."


"Iya tahu. Aku nggak pengen keluar."


"Mereka sama Ibumu lo, Mbak."


Kuangkat kepalaku. Kubuka pintunya. "Serius?"


"Iya. Makanya cepetan kamu keluar. Cuci muka dulu. Wajahmu masih sembap itu."


"Aku pinjem rokmu, ya, Mbak. Punyaku basah."


"Pakek aja yang sudah aku gantung di cantolan. Baru aku pakek sekali."


Mbak Ufi melenggang sembari menjawab nggeh karena dipanggil Gus Fakhar.


Aku berwudu sebentar. Lalu, ke kamar Mbak Ufi mengganti rok yang lain. Giliran aku yang dipanggil Gus Fakhar. Beliau mengetuk pintunya dua kali.


"Sebentar, Gus." Aku cepat-cepat sampai kesrimpet rok. Aku berdecak.


Kubuka pintunya. Aku melihatnya mematung. Menatapku tidak berkedip. Kupikir apa ada yang salah dengan wajahku.


"Kerudungmu miring."


"Oh." Aku sedikit memalingkan wajah. Kubenahi sebentar.


"Sudah," katanya setelah melihat jilbabku lebih rapi. Gus Fakhar tersenyum.


Pandangannya meredup. Bola mata itu menyimpan belas kasih yang berbeda dengan sebelumnya. Matanya berbicara, meski mulutnya enggan. Tapi, kenapa Gus Fakhar menatapku tak biasa? Pikiranku mulai bergerilya. Harapanku gugur sedikit demi sedikit. Terjadilah kemungkinan ibuku telah menceritakan banyak hal yang tidak kuketahui. Tanpa meminta izin, kedua tangan itu menarik punggungku. Membebatku dengan eratan yang sangat kuat. Degup jantung kami bersahut-sahutan. Debar-debar itu kudengar keras dari dadanya. Karena wajahku kini benar-benar menempel di tempat di mana suara itu berasal. Aku masih mematung tak mengerti. Apakah boleh seorang gus memeluk abdi ndalemnya sebegini erat? Apakah ini tidak akan menimbulkan prasangka-prasangka yang buruk? Kenapa Gus Fakhar tidak bisa menahannya? Pelukan apa ini? Bergerak sedikit pun aku tidak bisa.

__ADS_1


Tangan Gus Fakhar mengelusi kepalaku. Aku malu karena bau badanku terlalu kecut untuk dihirup. Aku masih berkeringat. Sembari mengucapkan maaf, dia melepaskannya. Tersenyum lagi. Senyum yang sangat manis dan penuh kasih.


"Za, Abah mengajak Ibumu ke sini. Temui dia!"


Aku menatapnya. Betapa berkejutnya aku, kedua tangan itu menyentuh pipiku. Lalu, bibirnya mendarat sekejap di ubun-ubunku. Tapi, anehnya aku tidak merasakan getaran-getaran sebagaimana getar itu muncul jika dua orang yang bukan mahram saling bersentuhan. Yang kurasakan hanya debar penantian kabar apa yang akan kudengar.


Aku melenggang pergi. Kubuka pelan-pelan korden penghubung ruangan tengah dan ruang tamu. Ibuku menyambutku dengan wajah yang sembap. Kenapa ibuku menangis? Aku menjatuhkan dengkul. Aku memeluknya. Pundak ibuku kotor terkena ingus. Pelukan ibuku kontan mendorong air mata yang sebetulnya tidak ingin keluar. Tapi, hatiku yang masygul tak tahan berada di suasana seperti ini, pada pertemuan yang sangat mendebarkan. Kupikir dengan aku menangis menderu-deru, suasana hatiku akan berubah lebih baik. Tapi, keadaannya malah semakin tegang. Aku mengedarkan pandangan.


Tatapan Bu Nyai Ridhaa juga berubah sebagaimana tatapan Gus Fakhar padaku. Dari air muka itu, aku paham bu nyai seolah-olah ingin juga memelukku. Tapi, bu nyai hanya berdiam dan tersenyum padaku.


"Nak, Fizah anak Ibuk, manut dengan Bu Nyai, ya, Nduk. Bu Nyai dan Pak Kiai nyuwun sampeyan tes DNA. Sampeyan mau, to?"


"Tapi, kenapa, Buk?" Aku terisak. Bibirku melengkung ke bawah. Air mataku masih menggenang di kelopak.


"Sudahlah. Manut saja." Suara ibuk menjadi getar. Jatuhnya air mataku menyusul jatuhnya air mata ibuk.


"Apa yang tidak Ibuk ceritakan ke aku, Buk?" Kupegang paha ibuk.


Ibuk menoleh ke bu nyai. Bu nyai mengangguk.


"Buat apa Ibuk minta maaf? Emang salah apa Ibuk? Aku nggak ngerti." Air mataku menganak sungai. Bermuara ke pangkuanku.


"Sampeyan tahu kenapa sikapmu dan Sulung juga Bungsu itu berbeda? Sampeyan lembut dan mereka kasar?"


Aku menggemingkan ibuk. Kuredam debar di dadaku sebisa mungkin. Tapi, cara ibuku menyampaikan kalimatnya malah semakin mengusik.


"Sampeyan ngerti kenapa wajahmu jauh lebih ayu ketimbang Sulung?"


Aku tetap diam. Mencerna pertanyaan itu dalam-dalam.


"Sampeyan ngerti kenapa Ibuk sangat menyayangimu?"


Ibuk menyahut cepat punggungku.


"Fizah anakku, Duh Gusti. Piye iki (bagaimana ini)?"


Aku membisu. Tapi, hatiku menanyakan banyak hal. Masih banyak sekali. Dan, aku tidak sanggup menanyakannya. Mengingat aku yang juga belum sepenuhnya jujur pada ibuku soal apa yang pernah terjadi di bulan-bulan yang lalu. Kurasakan pipiku hangat. Wajahku hampir basah keseluruhan. Ingusku yang hampir melongok dari lubang. Kuseka dengan jariku.

__ADS_1


Ibuk masih sesenggukan. Tak pernah kudengar tangis ibuk sangat parah seperti hari ini. Sesedih-sedihnya ibuk saat jengkel dengan mbak atau bungsu, ibuk tidak pernah berlinangan air mata begini.


Ibuk melepaskan. Ibuk mengusap air matanya.


"Itu karena Ibuk mendambakan anak yang sepertimu, Nak."


Deg! Pecah. Pupus sudah harapanku.


"Ibuk sayang banget karo sampeyan. Sampeyan permata hatine Ibuk."


Aku tidak perlu memperjelas. Dengan pertanyaanku, ibuk pasti akan lebih sakit mendengarnya. Tapi, aku bisa menangkap maksud semua itu. Untuk itulah ibuk memohon agar aku bersedia menuruti permintaan bu nyai dan kiai. Tanda-tandanya semakin jelas. Aku semakin sulit untuk mengingkari. Kuhalau ketakutan yang lekas mendesir di dadaku. Aku mengangguk. Kuiyakan permohonan ibuk. Akan kuikuti alur ini sebisaku. Seperti yang dikatakan Mbak Ufi tadi.


"Zazlyn, Mama juga menyayangimu, Sayang. Peluk Mama dong."


Nyonya Syawa merentangkan kedua tangannya. Aku bergerak mendekatinya. Kuangkat dengkulku.


Sinar mata wanita ini juga kurang lebih sama. Pendar kasih sayangnya memancarkan saat kupandang. Hangat kurasakan.


"Saya masih bau, Nyonya. Saya baru nyuci baju."


"No. Jangan panggil aku nyonya. Panggil saja Mama. Karena Mamalah yang pernah menyelamatkanmu dari para sindikat perdagangan itu. Okey? Call me mom."


Aku mengangguk. Kutatap ibuku. Ibuk tersenyum, tapi wajahnya menjadi nelangsa. Siapa yang ingin berpisah dengannya? Tidak ada. Tapi, ratapan hati seorang ibuk tentu lebih pedih.


"Zaz, nanti kita setelah tes DNA shopping dulu ya, Sayang. Nggak boleh nolak. Yaa?"


Kuangguki saja permintaan itu. Yang kupikirkan saat ini adalah ibuk. Rahasia besar yang ibuk simpan rapat-rapat selama belasan tahun telah terbongkar. Seharusnya aku juga mengatakannya bahwa aku juga pernah jatuh ke kolong sampah itu. Tapi, bagaimana dan kapan aku harus mengatakannya?


Kami bersiap berangkat ke rumah sakit setelah aku mengganti baju. Mbak Ufi masih menahanku di dapur ketika aku menyuruhku mengambil alih cucian yang belum aku selesaikan tadi.


"Aku kudu nangis. Dramatis banget suasananya. Duh."


"Dramatis apanya?"


"Semoga tesnya lancar, ya. Pokoknya nggak ada hambatan apa pun." Mbak Ufi mengaminkannya sendiri.


Hari ini satu eps saja, ya. Hehe. Terima kasih buuuuuanyaaaaaak sudah membaca. Nantikan eps selanjutnya.. 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2