FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 59 "Tiba-tiba Datang"


__ADS_3

*Rubia El-Hazimah


Dari sekolah, aku mampir ke outlet franchise minuman matcha boba kesukaanku. Aku membeli dua karena biasanya adikku suka meminta. Kebetulan kami punya selera yang sama. Usai antre beberapa menit, aku langsung meluncur pulang. Setiba di rumah, dua anak yang datang les privat sudah menunggu. Mereka adik kakak namanya Kina dan Kauna, anak kembar kelas lima sekolah dasar.


Aku mengucap salam. Dan, ternyata ada seorang laki-laki yang sudah duduk di sana mengajari Kina dan Kauna di meja belajar yang biasanya mereka gunakan.


"Loh, kok Pak Iman ke sini?"


Pak Iman yang tengah menunduk kemudian mengangkat wajahnya.


"Iya. Belum lama kok."


Aku mendekat, meletakkan franchise tadi di dekat Pak Iman. "Monggo, Pak!"


"Apa ini?"


"Matcha. Suka tidak?"


"Teh hijau itu?"


"Iya. Kalau tidak suka biar diminum adikku."


"Tadi adikmu keluar barusan."


"Ya Allah, baru aja pulang sekolah kok langsung dolan."


"Pamitnya ke mana, Pak?"


"Kayaknya ke GOR. Futsal. Tadi dijemput temennya."


"Oh, gitu."


Kina dan Kauna berusaha mengajak Pak Iman bicara. Menyuruhnya membantu mengerjakan soal nomor lima. Pak Iman pun tidak jadi mengatakan sesuatu.


"Kina, Kauna, bentar, ya. Kak Rubi mau ganti baju dulu."


"Njenengan jaga dulu, Pak."


Pak Iman mendongak sebentar, menjawab iya.


Aku mengganti seragam batikku dengan kaus lengan panjang, bawahan rok tutu, dan kerudung instan kain jersey warna hitam ukuran L.


"Njenengan minum itu, Pak. Enak lo. Aku sering beli. Adikku juga suka."


"Iya nanti dululah. Belum haus."

__ADS_1


"Perasaan kok sepi banget," gumamku.


Sembari duduk, aku bertanya, "Papa dan Mama keluar?"


"Kata Bibimu ada pertemuan penting. Undangan sarimbit."


Aku mengangguk.


Kina dan Kauna ditinggalkan oleh ibunya. Dia tidak pernah ditunggui selama jamnya les privat setiap hari Rabu, Kamis, dan Jumat. Karena, ibunya juga sering mondar-mandir mengirim paketan. Punya toko online yang laris sekali, star seller. Alhamdulillah mereka jarang sekali rewel. Tapi, mereka masih sulit menerima penjelasan rumus matematika. Mereka cenderung lebih menyukai bahasa inggris.


Hari ini, mereka les mata pelajaran matematika. Mereka menggunakan modulku yang dua tahun lalu pernah cetak di penerbit indi. Jadi, aku memang mengutamakan modul yang kususun sendiri. Berisi rangkuman rumus-rumus dasar sesuai standart isi kurikulum pendidikan sekolah dasar. Ada enam volume sesuai tingkatan pendidikan. Kemarin, waktu penyusunan itu aku melibatkan tim formartur mata pelajaran sekolah dasar yang kebetulan masih rekan dekatnya papa, sehingga dapat memenuhi syarat kelayakan digunakannya dalam pembelajaran.


Satu jam kugunakan untuk menjelaskan dua rumus dan contoh soal-soalnya. Pak Iman juga banyak membantu menjelaskan jika Kina dan Kauna terlihat tidak mampu memahami kalimat yang kugunakan. Si kembar pulang dijemput ibunya menggunakan mobil mini.


"Daaa, Kina, Kauna." Aku melambaikan tanganku.


Aku dan Pak Iman kembali masuk. Kulihat minumannya masih utuh.


"Sebentar, Pak. Aku ke dapur dulu."


Aku kembali. Membawakan sisa brownis cokelat ubi ungu dari kulkas.


"Daripada bengong. Dimakan, Pak!" kataku sembari duduk.


Aku melebarkan mataku. Sejurus dia mengeluarkan satu kotak kecil dari saku celananya. Aku tidak perlu menerka-nerka apa isinya karena sudah jelas itu berisi cincin.


"Pak Iman kenapa bercanda begini, sih, Pak?"


"Ini aku belinya sudah lama. Ketika kamu ulang tahun kemarin, sebetulnya aku ingin memberikannya padamu malam itu. Aku tahu Mbak Rubia sebetulnya menyukai Mas Nizam. Tapi, kelihatannya Mas Nizam tidak pernah tertarik jika aku membahas Mbak Rubia di depannya." Dia menggeser kotak cincinnya.


Aku merasa aneh setelah mendengarnya. Lalu, jika benar begitu, apakah usahaku ke Banyuwangi dan acara makan malam kemarin hanya akan berakhir sia-sia karena Pak Ibban tidak bisa menerima perasaanku? Cinta segitiga macam apa ini? Aku menyukai Pak Ibban, tetapi Pak Iman malah datang kepadaku menawarkan cintanya? Sementara, Pak Ibban entah sedang menyimpan nama siapa di dalam hatinya.


"Aku tidak memaksamu, Mbak. Kalau kamu mau, kamu bisa mengambil cincin itu. Aku datang ke sini atas restu kedua orang tuaku. Bila iya, mereka siap datang. Soal perasaan Mas Nizam, kamu harus tahu itu."


"Pak, kamu nggak tahu aku sudah mendatangi ibunya demi memperjuangkan perasaanku," batinku.


"Jika kamu ingin mendapatkan Mas Nizam, kamu harus jujur padanya."


"Bagaimana bisa aku jujur, storyku saja dibalas seperti itu kemarin. Apa Pak Ibban hanya menganggapku sebagai kawan akrab?" batinku lagi.


"Mas Nizam baik kepada siapa saja."


"Ya. Aku tahu itu, Pak."


"Cincinnya aku tinggal di sini, ya. Seandainya aku bertemu dengan orang tuamu, aku juga akan langsung to the point." Jika biasanya aku melihat canda tawa di wajahnya, sekarang aku benar-benar melihat keseriusan dan kedewasaanya.

__ADS_1


"Jadi, selama ini dia mencandaiku dengan Pak Ibban hanya karena ingin tahu bagaimana perasaan Pak Ibban yang sebenarnya. Dan, aku baru menyadari itu. Kupikir awalnya dia ingin aku dan Pak Ibban bertambah dekat. Subhanallah," batinku lagi.


"Mbak, intinya begitulah maksud kedatanganku siang ini. Nggak lebih."


"Terima kasih atas kejujuran Pak Iman. Maaf karena saya tidak menyadari itu sebelumnya."


Dia malah menertawakanku. "Ya memang aku nggak pernah memberitahu, bagaimana kamu bisa mengerti, Mbak, Mbak."


Aku pun ikut tersenyum dibuatnya. Jujur sebetulnya aku sedikit terkesan dengan caranya dia mengungkapkan. Tidak ada paksaan. Dia tetap terlihat santai meskipun perempuan yang dilamar itu tengah mencintai orang lain. Ketenangan itu memancar dari wajahnya.


"Pak Iman sudah makan?"


"Belum. Ambilkan, gih!"


Tawaku meledak sambil berceletuk, "Ada, ya tamu model begini."


Dia pun menyandarkan punggungnya.


"Bentar."


Aku melenggang ke dapur. Kubuka tudung di meja makan. Nasi, sayur, dan lauknya masih cukup untuk makan dua orang.


"Bi, minta tolong teman saya di ruang tamu suruh ke sini, ya."


Bibi Maryam yang bekerja paruh waktu di rumah ini. Masih bekerja semingguan. Diterima karena tidak kuat bekerja jadi buruh di pabrik. Akhirnya, mama menerima permintaan Bi Maryam.


"Ini kamu yang masak pasti?"


"Cobain, Pak!"


"Siap."


Aku menaruh piring di depannya. Dia mulai duduk menata posisi.


"Nggak usah pakai sendok." Dia berdiri mencari kran wastafel. Lalu, mencipratkan sisa airnya kr wajahku.


"Ya Allah, Pak Iman. Njenengan ini." Suaraku meninggi. Aku menahan tawa.


"Eh, Bi, Bi. Bi Maryam di sini saja. Makan dengan kita. Kelihatan kaya suami istri nantinya kalau makan berdua. Monggo, Bi."


Walaupun kelihatan sungkan, tapi Bu Maryam tetap menuruti permintaanku.


Aku belum menyuruh Pak Iman mengambil nasi, tapi dia langsung mengambilnya dua entong. Mungkin perjalanan jauh membuatnya sangat kelaparan. Ekspresi dan caranya makan dengan tangan membuatku ingin ikut menyantap ikan gurameh bakar, sambel, dan sayur asem ini tanpa sendok. Aku menyingkirkan sendokku.


"Tidak usah pakai sendok," katanya setelah menelan makanan.

__ADS_1


__ADS_2