FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 118 "Pengakuan"


__ADS_3

POV orang ketiga


Tak lama kemudian Bu Nyai Ridhaa menyibak korden. Menyapa mereka berdua dengan sangat semringah.


"Dari mana ini?"


"Bangkalan Madura."


"Alhamdulillah bisa selamat sampai di sini."


Nyonya Syawa manggut-manggut. Lalu, Tuan Kabi memulai mengutarakan apa maksud dan tujuan yang sebenarnya.


"Niat kami ke sini, Pak Kiai, tidak lain adalah meminta doa berkah. Ya ini karena Syawa atau kami belum bisa mendapatkan putra setelah delapan belas tahun menikah. Obat, perawatan, bayi tabung gagal dua kali, operasi, dan pengobatan-pengobatan alternatif lainnya sudah kami coba, tapi hasilnya nol. Sedangkan, kami sangat membutuhkan keturunan untuk meneruskan industri pabrik yang sudah kami bangun sejak lima belas sepuluh tahun lalu."


"Nggeh terus?" Bu Nyai Ridhaa menyimak dengan saksama.


Tuan Kabi menoleh pada Nyonya Syawa. Seolah memberikan isyarat supaya Nyonya Syawa saja yang bicara.


Nyonya Syawa berdehem. "Begini. Saya dan suami memohon maaf kepada Bapak Kiai beserta keluarga pesantren ini."


Raut wajah Bu Nyai Ridhaa tentu menjadi penasaran. Alisnya semakin menyatu.


"Kami pernah hidup susah. Hanya punya modal usaha kecil-kecilan pabrik krupuk. Itu saat kami baru menikah hampir setahun. Kita sangat menginginkan punya anak. Bagi saya dan suami, hidup susah tanpa anak itu rasanya jauh lebih susah. Tibalah seorang pria yang dulu memang tidak kami kenal. Mereka menawarkan seorang bayi perempuan yang kata mereka masih berumur satu bulan. Ternyata pria itu memperdagangkan bayi. Saya nggak tahu bayi-bayi itu mereka dapatkan dari mana. Tapi, pria itu menawarkan dengan harga dua ratus juta. Katanya bayi itu spesial. Untuk mendapatkannya pun sulit. Kami sangat menyukai bayi itu untuk pertama kali. Kami berpikir, ya mungkin emang benar bayi itu istimewa. Kami akhirnya menerima tawaran itu dengan syarat saya akan mencicil uangnya. Kami pikir dalam waktu beberapa bulan, kami bisa melunasi uang itu. Tapi, nyatanya tidak. Justru perjanjian itu merugikan kami. Sebelum kami menjadi buronan pria-pria penjual bayi itu, kami sempat menutup dan memecat semua karyawan pabrik. Kami menjual bangunan itu. Setelah pabrik itu berhasil diuangkan, awalnya kami ingin memberikan uang itu untuk mereka. Tapi, entah kenapa kami dulu berubah pikiran. Kami telah serakah membeli bayi itu sedangkan kami tidak tahu menahu siapa keluarganya. Bagaimana jika itu terjadi pada kami? Kami pun jadi buronan karena sengaja melarikan diri dari perjanjian. Bayi itu kami bawa pergi ke luar daerah. Dan, kami nggak bisa menyerahkan bayi itu. Sekuat tenaga kami menyelamatkan bayi itu dari mereka. Pada saat malam-malam kami menjadi buron, saya meletakkan bayi itu di depan rumah seseorang. Saya tidak tahu rumah siapa. Yang saya pikirkan cuma bayi itu harus selamat dan tidak bisa kembali pada pria-pria itu. Satu bulan setelah malam itu terjadi, setelah kami pindah rumah juga, kami mendatangi rumah yang kami titipi bayi itu. Tapi, pemiliknya sudah pergi. Kata orang sekitar mereka orang rantauan. Berasal dari Tulungagung. Punya anak perempuan."


"Bayi itu sudah menemukan kedua orang tuanya?" Mata Bu Nyai Ridhaa semakin lekat. memandang.


Tuan Kabi yang ganti berbicara, "Kebetulan seminggu lalu saya melihat ada poster pencarian anak berusia tujuh belas tahun dengan tanda lahir hitam di ketiak. Akhirnya saya langsung ke sini. Tujuannya ya untuk menjelaskan kalau bayi yang pernah kami beli waktu itu punya tanda lahir yang sama seperti yang ada di foto. Tanda lahir yang sama persis. Kami minta maaf ke sini dalam keadaan tidak membawa anak itu. Tapi, semoga informasi siapa yang kemungkinan besar merawat anak itu kini berada di Tulungagung. Saya yakin gadis itu sudah dewasa."


"Ya Allah, Ya Allaaaaaaah. Muhammadar rasulullah," gumam Kiai Bahar. Ucapan syukur itu sejurus dirapalkan berkali-kali.


Bu nyai tertegun.

__ADS_1


Nyonya Syawa dan Tuan Kabi saling menatap. Ikut merasa bersalah.


"Saya juga yakin dia masih hidup," kata Bu Nyai Ridhaa kemudian.


"Saya minta maaf ikut andil dalam musibah ini."


"Mboten, Mas. Tidak. Jika Mas Kabi seandainya waktu itu tidak melarikan diri dan meletakkan anak saya di depan rumah seseorang, ceritanya akan lain."


"Bu Nyai, ini masih perkiraan. Semoga memang benar gadis itu telah tumbuh dewasa bersama orang tua yang bertanggung jawab." Tuan Kabi tetap merasa bersalah.


"Bah, Abah, nopo tak panggil mriki? Niku...hmm Iza."


Terjemah: (Bah, Abah apa aku panggil ke sini? Itu...hmm Iza)


"Sek mengko wae." (Sebentar nanti saja)


"Kebetulan kami minggu ini free. Kami bisa membantu mencari anak itu kalau kalian berdua menyepakati."


"Oh, tidak, Bu Nyai. Ini salah satu cara kami menebus rasa bersalah. Seharusnya kami datang sejak dulu. Tapi, kemauan itu baru terpikirkan akhir-akhir ini. Yang menguatkan saya dan istri ketika kami mengetahui postingan di media sosial itu. Kami baru sadar kalau anak itu ternyata selama ini masih menjadi pencarian keluarganya. Sungguh saya pasti ikut berdosa karena menghilangkan bayi yang harusnya ikut membesarkan pesantren ini."


Bu Nyai Ridhaa dan Kiai Bahar berusaha menciptakan senyum.


"Alhamdulillah, alhamdulillaaaaah, alhamdulillaaaaaaah. Hari ini saya bersyukur sekali dipertemukan dengan Mas Kabi dan Mbak Syawa. Saya terima tawaran panjenengan. Kapan kiranya bisa ke Tulungagung, Mas?"


"Hari ini bisa, Pak Kiai. Jika kalian berdua ikut pun tak masalah. Mobil kami cukup. Saya sendiri yang nyopir."


"Piye, Mik?" (Bagaimana, Mik?)


"Tumut, Bah. Nggeh saget lek Fakhar purun budal."


Terjemah: (Terserah, Bah. Ya bisa kalau Fakhar mau berangkat)

__ADS_1


"Sebentar saya panggilkan anak saya dulu." Bu Nyai Ridhaa bangkit. Menyertakan basmalah lirih.


Tuan Kabi mengangsurkan sesuatu ke hadapan Kiai Bahar. Kertas itu diletakkan di atas toples jajan yang masih tertutup.


"Ini cek senilai lima puluh juta. Kami mohon agar diterima. Semoga bisa berkah untuk kami dan bisa membantu kelancaran belajar santri-santri di sini."


Nyonya Syawa segera menambah. Khawatir Kiai Bahar akan mengutarakan kalimat penolakan. "Kiai, suami saya benar. Bagi kami uang ini bukan apa-apa. Sudah saya rencanakan sejak awal. Saya persiapkan uang ini harus sampai pada keluarga Bapak Kiai. Itu niat saya. Tolong jangan ditolak."


"Jazakumullah khairan. Semoga panjenengan berdua segera dianugerahi momongan."


"Aamiin ya rabbal alamin." Dengung amin dari keduanya sangatlah tulus. Getar menjalar seketika. Doa itu terdengar ikhlas. Mereka berdua kembali berharap penuh, masih ada harapan supaya mereka lekas berputra.


"Saya siap menjadi donatur tetap di pesantren ini, Kiai." Tuan Kabi mengeluarkan kartu nama. Lalu melanjutkan kata, "Ini bisa Kiai hubungi kalau butuh biaya apa pun. Barangkali kami nanti sedikit bisa membantu."


Kiai Bahar tersenyum. Melambai-lambai dan menatap santri yang lewat tidak sengaja di depan pintu. Santri itu mundur dua langkah. Kiai Bahar mengangguk. Santri itu pelan-pelan melepas sandal, masuk ndalem. Lalu mengangsurkan dengkulnya ke lantai. Sungkem kepada Kiai Bahar.


"Sampeyan muraqib to?"


"Inggih, Bah."


"Iki enek cek sampeyan pundut. Pisan karo kartu nama. Sampeyan pasrahne teng bendahara pondok. Sampeyan aturne ini infak dari Tuan Kabi dan Nyonya Syawa yang asalnya dari Bangkalan Madura."


Terjemah: (Ini ada cek kamu ambil. Sekalian kartu namanya. Kamu berikan kepada bendahara pondok. Kamu beritahu ini infak dari Tuan Kabi dan Nyonya Syawa yang asalnya dari Bangkalan Madura)


"Inggih, Bah." Santri itu mengambilnya.


"Pisan barang-barang neng kotak-kotak kae mengko bagekno nek santri-santri. Sampeyan cek isine pundi sing rukuh, mengko sampeyan paringne muraqibah."


Terjemah: (Sekalian barang-barang di kotak-kotak itu nanti kamu bagikan ke santri-santri. Kamu cek isinya mana yang rukuh, nanti kamu berikan ke muraqibah)


 

__ADS_1


Selamat membaca. Terima kasih sudah menunggu. Semoga nanti ada waktu, bisa up lagi. ❤️❤️❤️🌹 Sehat dan bahagia selaluuuuuuuuuuuuuuu.


__ADS_2