
*Ibban Nizami
Masih di kelas. Aku baru menutup mata kuliah fiqih muamalah. Handphone berdering. Panggilan masuk dari Mbak Rubia.
"Pak Ibban, njenengan diundang ke rumah sama Papa dan Mamaku. Katanya, mereka mau ngomong sesuatu."
"Ngomong apa?"
"Ehm...ya pokok njenengan disuruh ke sini."
"Ada acara atau gimana ini?"
"Hanya makan malam kok, Pak. Bisa, kan?"
"Gimana, ya? Saya nanti mau ke rumah Bu Mini dulu. Ada keperluan penting. Saya tidak bisa janji bisa apa enggak. Tapi, saya usahakan. Tidak usah ditunggu."
"Begitu, ya?"
"Kalau pengen disampaikan sekarang mending sampaikan sekarang saja."
"Ya sudah, deh. Nggak terlalu penting kok. Monggo njenengan lanjut kalau begitu."
"Mbak?"
"Iya, Pak?"
"Mbak, Pak Iman itu sebetulnya suka denganmu. Kelihatannya begitu."
"Pak, njenengan tidak usah mengada-ngada."
"Coba kamu lebih sama sikapnya. Dia mungkin tidak pernah cerita padamu. Tapi, beberapa kali dia mencoba mengkode saya."
"Saya tunggu nanti malam, Pak Ibban. Assalamu'alaikum."
Jadwal mengajar selesai, saya langsung meluncur ke rumah Bu Mini. Siapa tahu hari ini Fizah sudah mendapatkan jawaban.
Aku ingin Fizah menjadi perempuan yang lebih religius. Aku khawatir dia tidak akan berkembang jika hidup di desa dengan hanya berjualan di pasar setiap hari. Dia masih muda sekali. Hafalan yang dia rencanakan sejak masih umur enam tahun akan lebih terjamin jika dia mengenyam ilmu di pesantren dan mencari sebanyak-banyaknya barakah di sana. Inilah caraku untuk membuktikan kesungguhanku padanya. Memang bukan dengan cara mengajaknya menikah sebab aku tidak pernah ingin merenggut masa mudanya, kesempatan bagi dirinya untuk meraih mimpi.
Aku tidak mampir rumah. Empat puluh menit kemudian. Jarak satu kilo sebelum rumah Bu Mini. Dari kejauhan, aku melihat ada dua orang yang berdiri di tengah jalan. Aku memencet klakson dan mereka pun menyisih dengan segera. Begitu aku mendahului posisi mereka, aku baru menyadari jika mereka adalah Fizah dan Ratna. Aku berhenti. Menoleh sembari membuka kaca helm. Aku memperhatikan mereka yang tengah berusaha berlari. Lalu, aku memastikan dia sedang dikejar oleh siapa. Ada dua lelaki yang kemudian berteriak menyuruh Fizah dan Ratna berhenti. Kontan derap langkah mereka berdua semakin dipercepat. Sedangkan, langkah kaki panjang kedua pria itu justru lebih cepat memburu. Aku melepas helm. Beringsut turun. Mengambil kontak. Lalu, mengejar mereka berempat.
"Berhenti kalian berempat!" perintahku. Aku melemparkan sandal ke arah pria itu. Mengenai punggung pria sebelah kanan.
__ADS_1
Beberapa langkah aku mendekati. "Ada urusan apa kalian berdua?"Aku berdiri membelakangi Fizah dan Ratna yang langsung mencari perlindungan diri dengan terus berlari. Tapi, aku melarangnya karena aku tidak ingin mereka berdua dalam keadaan bahaya.
"Saya akan bicara baik-baik ke kamu. Lebih baik kau menyingkir dari sini. Kami ada keperluan penting dengan mereka. Minggir!"
Pria satunya menyambung, "Mereka akan menjadi buronanku sampai mereka mau kembali."
"Mereka perempuan baik-baik." Aku menegaskan.
Keduanya lantas malah meledakkan tawa yang terdengar sengit.
"Jika kau menganggap dia perempuan baik-baik, tidak mungkin mereka berurusan dengan kami. Mana ada perempuan seperti mereka berurusan dengan preman. Mereka munafik. Kelihatannya lugu. Jangan kaulihat jilbab yang mereka pakai," kata pria yang terakhir bicara.
Sampai pernyataan itu, aku mulai menyambungkan kronologi pertemuanku dengan mereka malam-malam itu. Tetapi, bukan saat yang tepat jika aku malah sibuk memikirkan itu. Aku bisa membicarakannya nanti. Yang jelas aku harus menyelamatkan mereka.
"Minggir kau!" Pria yang bicara di awal maju dua langkah. Membusungkan dada. Berusaha melawan dengan kepalan tangan kanan yang bersiap diayunkan ke wajahku.
Dengan siap aku menangkis tangan itu dengan tangan kananku. Aku memaksa tangan itu supaya diturunkan. Wajah itu kian menggeram. Murka. Sementara, pria di sebelahnya pun maju selangkah. Memaksa tanganku agar aku melepaskannya.
"Kalian mau cari gara-gara di tempat seperti ini?"
Aku memang tidak melihat orang melintas. Tetapi, jika mereka mempedulikan keamanan mereka sendiri, seharusnya gertakanku akan membuat mereka takut. Mereka tidak akan berbuat macam-macam.
"Silakan jika kalian ingin ribut dengan saya di sini. Saya layani." Aku tersenyum. Memandang mereka bergiliran. Mencari kekhawatiran di kedua mata itu.
Aku menoleh. Ratna dan Fizah masih berusaha mengatur ekspresi normal. Tetapi, aku tahu dari wajah itu memang sedang menyembunyikan ketakutan yang tidak aku pahami. Mungkin ada kaitannya dengan pengajaran malam itu.
"Kalian mau ke mana?"
"Kami niatnya ingin ke rumah njenengan." Fizah yang menjawab.
"Memang kalian tahu?"
"Tidak."
"Kenapa nekat?"
Aku berusaha menelisik. Fizah tidak langsung menjawab. Itu artinya benar ada sesuatu yang disembunyikan. Jika dia tidak tahu di mana alamat rumahku, mana mungkin dia akan nekat mencari. Kecuali dalam keadaan terdesak. Apalagi, awalnya mereka juga kelihatan tidak tertarik menerima tawaranku.
"Kami sudah memutuskan untuk menerima tawaran Pak Nizam." Fizah lagi yang menjawab.
"Kenapa dia?" Kupandangi Ratna yang memegangi perutnya. Dia sangat ketakutan.
__ADS_1
"Kamu sakit?"
Dia menggelang cepat.
"Kita ke puskesmas dulu. Wajahmu pucat."
Dia menggeleng lebih cepat. Tetap bungkam.
"Di sana ada warung. Kita makan dulu. Aku antar kalian satu per satu."
Lagi-lagi mereka seperti orang kebingungan. Mereka selalu kelihatan berat sekali langsung mengiyakan tawaranku.
"Kita akan bicarakan di sana. Di mana kalian akan pergi mondok."
Aku mengangkat dua tas yang mereka bawa. Aku kembali motor. Menaruh tas itu di depan.
"Ayo!"
Mereka tidak juga langsung mendekat.
Aku agak menoleh. "Ratna dulu. Naik, gih! Fizah kamu cari tempat yang lebih aman."
Fizah mendorong tubuh Ratna yang tertahan. Karena, Ratna berusaha mengelak ajakanku. Tetapi, Fizah memaksanya dengan berbisik-bisik memohon.
Satu per satu aku membawa mereka ke warung kecil panggil jalan. Aku memesankan mereka dua piring nasi sayur lodeh dan dua gelas jeruk hangat. Sembari menunggu pesanan itu datang, aku duduk menghadap mereka. Aku memperhatikan mereka serius. Menyadari tatapanku yang sudah tidak biasa, pelan-pelan wajah Fizah pun tertunduk.
"Sebetulnya ada apa?"
"Maaf, Pak Nizam."
"Jangan hanya minta maaf. Tapi, bicaralah yang sejujurnya. Aku tidak bisa membantumu jika kamu tidak mau bicara."
Sekonyong-konyong wajah Ratna mendongak.
"Please. Kami butuh bantuan." Ratna membuka mulut.
"Sebelum membawa kalian ke pesantren, aku harus menjamin kalian tidak punya masalah besar. Anggap saja aku pengganti Bu Mini. Apa yang aku katakan tidak masuk akal?"
"Pak Nizam, kami benar-benar minta maaf."
Lagi-lagi mereka sulit berkata jujur. Dan, itu membuatku semakin ingin tahu apa yang sebenarnya mereka sembunyikan.
__ADS_1
Maaf, kemarin tidak bisa up. Saya kemarin kurang sehat. InsyaAllah jika memang saya ada kesempatan untuk menulis, saya akan up. Terima kasih atas pengertiannya.🙏🙏