
*Ibban Nizami
Sesaat setelah Fizah dibawa ke ruangan klinik, dia siuman. Dia meringik-ringik seperti orang mengigau. Lalu saat dia tersadar, dia bertanya pada dirinya sendiri apakah aku dan Gus Fakhar baik-baik saja.
Gus Fakhar meletakkan Fizah. Menyahut, "Aku baik-baik saja."
"Aku juga," kataku. Aku terduduk lemas. Sebetulnya badanku terasa sangat bobrok. Linu di wajahku. Kuperhatikan wajahku dari cermin di depanku, bawah mata sebelah kanan atas tulang pipi berwarna ungu sedikit kebiruan. Lebam ini tidak hanya di wajahku. Termasuk pundak dan lengan. Paling terasa parah terdapat di bagian perut atas. Beberapa kali terkena tinjauan Sumarjo dan anak buahnya. Dan, juga sedikit sesak. Padahal, lusa aku harus tampil memenuhi undangan haflah dan gambus. Entah aku akan sanggup menghadirinya atau tidak kalau begini keadaannya.
Aku dan Gus Fakhar duduk di kursi yang berdekatan dengan dinding.
"Kenapa Pak Nizam bisa di sini? Ke mana tadi?" Suaranya merengsa. Agak serak.
"Ya tadi berkat bantuan Hakim, aku bisa lepas dari rantai itu. Setelah aku sadar, tahu-tahu aku melihatmu akan pingsan. Sudah enakan?"
"He.em sudah. Alhamdulillah kalau selamat semua." Pandangannya berseger ke samping kananku. "Abang gimana rasanya?"
"Remuk, Dek. Kita nggak mungkin pulang besok. Paling enggak ya lusa. Kita nggak kuat nyetir. Nggak apa-apa?"
"Ya udah aku manut. Maafkan aku, ya, Bang. Bikin Abang susah. Bikin Abang harus terlibat." Sudut bibirnya turun.
"Iya sudah dibahas besok aja itu. Mendingan kita istirahat."
Justru aku masih kepikiran keris yang mendadak hilang. Keris yang raib tanpa jejak setelah didekatkan pada Fizah. Jika kejadian itu ada kaitannya dengan hal-hal gaib di luar nalar manusia, apakah sebetulnya Fizah bukan gadis biasa saja? Mengingat dia punya kakek yang cukup masyhur pada masa itu. Kiai Soleh yang cukup sakti.
Kini aku menjadi lebih sering memperhatikannya. Malam sudah sangat larut. Gus Fakhar sudah terlelap lebih dulu di kamar klinik. Kami diperbolehkan menginap barang semalam setelah aku menjelaskan bahwa kami dalam perjalanan pulang ke Magetan. Fizah masih terjaga, sama sepertiku. Dia tetap berbaring di tempat tidur, sedangkan aku di bawah dengan Gus Fakhar. Kulihat dia masih membuka matanya lebar-lebar seraya melalar hafalannya lirih sekali. Aku tidak menemukan tanda-tanda apa pun.
Fizah terlihat seperti gadis pada umumnya. Justru kadang air mukanya terlihat tak mengerti. Dia tak memiliki tatapan khusus, orang yang bisa menerawang misalnya. Lebih ke arah gadis yang sebetulnya masih polos, tapi dia pandai memahami gerak-gerik seseorang melalui matanya. Tapi, sekali lagi ke mana keris itu pergi?
Aku tak bisa tidur sampai berlalu satu jam kemudian. Sudah tengah malam. Hanya ada keheningan. Tirai pembatas sudah dibentangkan. Fizah pun telah tidur setengah jam yang lalu. Aku terjaga sendiri sembari mendekap sepi. Menemani malam yang kedinginan. Aku bangkit. Kuambil air wudu dari kran depan.
Airnya sangat dingin. Kadang aku merasa ada yang tengah berbisik. Suara yang mendesis amat lirih. Itu hanya perasaanku saja. Nyatanya setelah aku menoleh ke seliling, tak ada siapa pun.
Aku salat tiga rakaat witir. Mungkin setengah jam setelah itu, mataku mulai terasa sepet. Berat digerakkan. Aku merebah, lalu tertidur dengan sendirinya sampai subuh telat lima belas menit. Katanya, aku susah dibangunakan. Begitu juga Gus Fakhar yang justru belum melek. Fizah yang bangun lebih dulu dan dia sudah melalar setengah juz hafalannya di juz tiga. Aku masih enggan bangun. Kusenggoli badan Gus Fakhar yang belum bergerak sama sekali.
"Gus bangun!"
"Ya Allaaah." Aku menggeliat. Badanku makin terasa pegal-pegal semua. Mulai dari pinggang, tangan, dan kaki. Aku pun duduk.
Fizah menoleh.
"Agih, solat dulu."
"Bang?" Fizah menyentuh kaki abangnya. Hanya lirih.
__ADS_1
"Bangunkan, Pak!"
"Mungkin dia sangat capek."
"Ya, Pak. Salat dulu nanti tidur lagi nggak apa-apa. Agih."
Saat bersikap seperti itu, dia terlihat sudah dewasa. Sikapnya memang tak menentu. Dia bisa menjadi perempuan yang sangat pendiam, abai dengan sekitarnya, sedikit bicara, tapi kadang dia polos dan manja. Matanya tak menatap sendu, tapi ada rahasia besar dan kekhawatiran yang jelas tersimpan di sana.
"Aku berharap kamu tabah menghadapinya," batinku.
Gus Fakhar menggeliat. Mengucek matanya. Bertanya jam berapa. Setelah aku menjawabnya dia beranjak dengan tergesa-gesa. Sama sepertiku, dia mengeluh seluruh tubuhnya remuk. Akhirnya dia pun bergerak santai.
Pukul 04.50 WIB.
Gus Fakhar kembali tidur, Fizah merem melek menahan kantuknya sembari melalar hafalan yang bisa dilalar tanpa memegang Alquran. Tapi, kadang hafalannya meleset ke juz lain. Aku menyimaknya diam-diam. Tapi, aku tidak menyalahkannya saat dia keliru. Kubiarkan dia tetap menahan kantuk. Lagipula dia juga tidak menyuruhku menyimak. Punggungnya hampir melengkung meski bibirnya tetap mendengungkan ayat. Ketika sadar dia sudah hampir menempelkan kening ke lantai, punggungnya menegak. Ganti kepalanya miring ke kiri, bersandar di dinding.
"Aku pinjam kunci mobil."
Dia mengangguk tanpa menoleh.
Kuambil dari bawah bantal Gus Fakhar.
Kucari sekali lagi di mana keris itu. Aku masih penasaran. Kupikir jatuh atau terselip di celah kursi. Tidak ada. Aku ingin menceritakannya pada abah jika sudah pulang. Abah mungkin bisa memberikan penjelasan mengenai hal-hal di luar nalar seperti ini.. Namun, setidaknya kini Fizah telah aman. Tidak akan ada yang mengancam kesehatan lahir dan batinnya.
"Kamu sudah bisa tenang?"
"Kalau emang bisa diceritakan, ceritakan saja. Kalau tidak, kamu pendam asalkan kamu kuat memendam itu. Jika dengan bercerita padaku kamu malu, oke. Tapi, jika Abah dan Ummikmu nanya, berusahalah jujur. Mereka tidak akan mungkin marah atau merasa malu. Aku yakin."
"Apa Pak Nizam sudah baca pesanku waktu itu?"
Aku menganggukinya.
"Oh.."
"Sebentar lagi kita menikah. Ibadahnya diperbanyak. Semoga lancar seperti keinginan."
Dia hanya mengangguk.
"Yakin kamu tidak minta mahar khusus?"
Dia menggeleng.
"Kamu lebih suka gelang apa kalung?"
__ADS_1
"Nggak tahu."
"Kok nggak tahu?"
"Terserah Pak Nizam."
"Mau salah satu apa dua-duanya?"
"Terserah."
"Yakin?"
"Iya yakin."
"Tapi, di belakang nggak ngedumel, kan?"
Dia menggeleng.
"Oke ya udah."
Kami diam sejenak.
"Tapi, ada satu hal yang kamu harus tahu."
"Hmmm?"
"Kemarin aku membawa keris milik Sumarjo. Tapi, tiba-tiba keris itu hilang."
"Hilang? Hilang di mana?"
"Di mobil. Keris itu hilang di dekatmu. Barusan aku cek tetap tidak ada. Misterius."
"Kok bisa?"
"Aku juga kurang tahu."
"Tapi, Pak Nizam ngomong beneran itu tadi?"
"Ya. Abangmu juga tahu. Nggak ingin menanyakan ini ke Abah?"
"Abah?"
"Siapa tahu dapat penjelasan."
__ADS_1
Dia bergeming.
Ya aku tahu. Dia belum siap membahas apa pun yang sekiranya itu akan menjerumus pada cerita masa lalunya. Aku sendiri sudah tidak ingin mengurusi itu lebih jauh. Aku sadar itu bagian dari sejarah kehidupannya yang telah dia anggap sebagai aib. Dia pun sadar kisah itu perlu dipendam dari siapa pun.