FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 93 "Hasil Lomba"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Yang tercenung tidak hanya aku. Sepertinya semua orang di ruangan ini memang menyadari. Pak Nizam dan Yazeed yang tengah duduk bersila, bersisihan, dengan style kemeja dan sarung yang sama, menjadikan mereka tampak mirip sekali. Kontrasnya hanya ada di warna kulit. Aku mengerlingi pandangan semua orang begitu mereka duduk tadi.


Dan, akhirnya Bu Nyai Ridhaa yang memulai tanya, "Mas Nizam dan Mas Yazeed kok wajahe mirip banget to yo."


Gus Fakhar menambah, "Sudah kenal dengan Kang Nizam ini, Mas Yaz?"


"Baru aja tadi salaman di depan. Namanya juga baru dengar kaubilang barusan."


"Benar. Kami tidak saling kenal," ujar Pak Nizam


Ibuk masuk mengucap salam. Dijawab semua orang. Ibuk melipir di belakang Pak Nizam. Lalu, duduk di dekat Pak Nizam mendengar Pak Nizam mengajaknya bicara. Lalu, ibuk mengangguk.


Mbak Nuansa dan Ning Ulya datang membawakan hasil masakan kami tadi.


"Biyuh iki ketarane kok enak sing eneng kerupuke." Bu nyai menggeser piringnya.


Terjemah: (Waduh, ini kelihatannya kok enak yang ada kerupuknya)


"Masing-masing dapat tiga piring. Porsinya sedikit. Aman," kata Gus Fakhar.


Dia berbisik padaku, "Iz, punyaku pasti enak. Kalau aku sampek yang menang, kamu mau ngasih aku apa?"


"Memberi apa, Gus?" Aku melirihkan suara.


Lalu, aku menyadari Pak Nizam menatapku. Dia segera memalingkan pandangan ketika aku berusaha membalas tatapannya.


"Apa hadiahnya?" Gus Fakhar masih saja mengajakku bicara. Padahal, aku berusaha supaya tidak terlihat dekat dengan beliau. Aku sebetulnya ingin melarang, tapi sungkan.


"Nguras kamar mandi tiga kali saja, Gus."


"Hih, pasti kamu modus. Iya kan?" Tatapannya justru mengajakku bercanda.


Bu nyai menyenggol Gus Fakhar. Gus Fakhar langsung berkata, "Silakan dicicipi. Nanti juri bisa berkomentar satu per satu. Nilainya akan direkap Mbak Nuansa."


Saat semua orang sibuk makan. Gus Fakhar mengajakku bicara lagi. "Kamu bilang begitu cuma modus, kan, Iz?"

__ADS_1


Alis Gus Fakhar yang bergerak-gerak membuatku tak bisa menahan senyum.


"Saya tidak modus sama sekali, Gus."


"Jangan nguras, deh. Nyetrikain kemejaku selama seminggu. Wajib kamu yang nyetrika. Biasanya aku sendiri. Kadang aku minta ke Mbak Ufi. Seminggu full itu tugas kamu kalau aku menang."


Gus Fakhar menatap orang-orang yang mencicipi makanannya terlebih dahulu.


"Lihat itu! Yang makan punyaku langsung manggut-manggut." Matanya berkeliling lagi. Lanjut bicara, "Tapi, Mbak Ufi dan Mas Yazeed diam saja pas icip nasgormu, Iz. Siap kalah kamu."


"Ah, njenengan kok percaya diri sekali, Gus."


"Harus. Bukan aku kalau nggak pede."


Mbak Nuansa mencolek punggungku. Aku menolehnya yang sedang menyuruhku menyisih.


"Sebentar, Gus." Aku berjalan jongkok dengan gerakan mundur.


"Ada apa, Mbak Nu?"


"Kamu lihat itu Mbak Ulya. Dia nangis di dapur."


"Nggak nangis, sih. Tapi, dia mukanya sedih banget lihat apa yang lakuin barusan, Mbak Iz."


Aku hening sejenak. Barulah aku memahaminya.


Aku buru-buru mencari Ning Ulya. Dia kudapati baru keluar dari kamar mandi. Mungkin habis wudu karena muka dan jilbabnya basah.


"Mbak, sss...s..sa-ya minta maaf."


"Buat apa, ya?"


Aku tak enak hati ingin menjelaskan. Harusnya Ning Ulya tidak bertanya karena sudah pasti dia tahu jawabannya.


"Soal Gus Fakhar."


"Perjodohanku dengan dia akan tetap berlanjut kok, Za. Apa yang perlu kusedihkan? Semuanya berhak akrab dengan Gus Fakhar."

__ADS_1


Kalimat itu hanya terdengar seperti pembenteng diri agar tetap wibawa di depanku.


Nuansa memanggil. Aku dan Ning Ulya disuruh menikmati suasana ruang tamu. Sembari menunggu orang-orang selesai makan. Kami duduk berdampingan. Lagi-lagi saat aku ingin memandang Yazeed, mata Pak Nizamlah yang kulihat menatapku lebih dulu. Dia masih asik menghabiskan nasi goreng buatan Ning Ulya. Yazeed tak lama kemudian usai. Bersendawa lirih, lalu mengambil minum. Juri perempuan masih berusaha menghabiskan. Yang paling lambat makan ialah Ratna.


Yazeed tampak membisikkan sesuatu yang membuat Ratna akhirnya makan beberapa suap. Lalu, piring itu berpindah ke tangan Yazeed. Yazeedlah yang akhirnya menghabiskan semua nasi goreng untuk Ratna.


Sepuluh menit kemudian. Semua piring telah bersih.


"Dipersilakan Ummik berkomentar dulu." Gus Fakhar mempersilakan.


"Enak kabeh. Tapi, nasi goreng urange kurang asin. Tingkat kematangan isek pas-pisan. Nasi goreng kerupuk iki sing paling Ummik demen."


Terjemah: (Enak semua. Tapi, nasi goreng udangnya mudeng asin. Tingkat kematangan pas. Nasi goreng kerupuke ini yang paling Ummik suka)


Lantas Mbak Ufi dan ibuk punya penilaian yang berbeda. Nasi goreng Gus Fakhar malah pas menurut ibuk. Meskipun ibuk cukup sering memujiku karena aku memasak enak, tapi kali ini ibuk terpesona dengan buatan Ning Ulya. Ning Ulya unggul dua komentar. Lalu, Mbak Ufi pribadi lebih suka milikku. Tidak bikin enek dan lebih gurih. Itu mungkin karena punyaku tidak terlalu banyak berminyak.


Giliran Pak Nizam yang berkomentar, "Yang ada daun bawangnya ini punya siapa?"


Aku menatapnya. Sedikit mengangguk.


Aku tidak paham apa maksudnya.


"Seasoningnya pas. Ketika dimakan rasanya dimulut nggak heavy. Beda kalau yang ada kerupuknya tadi. Enek banget dan sedikit terlalu manis. Karena tidak diimbangi dengan pedas, jadi dia terasa berat. Belum lagi ini ada krupuknya juga. Empat sendok saja sudah kenyang. Tapi, saya suka platingnya. Nasgor berudang ini, saya rasa ini condiment yang paling lengkap. Tapi, sayangnya dia kurang asin sedikit dan kurang pedas. Secara keseluruhan saya lebih suka yang berdaun bawang walaupun sebetulnya itu nggak perlu ada, ya. Harusnya dia dipotong saja. Justru akan menambah cantik platingnya. Itu saja."


Aku cukup mengapresiasi caranya memberikan komentar. Sepertinya Pak Nizam juga jago memasak. Mana mungkin dia bisa berkomentar begitu panjang jika tak terbiasa memasak.


Selanjutnya komentar dari Yazeed. Yang kutunggu.


"No comment. Kurang lebih aku sama dengan Kang Nizam. Lidahku lebih cocok yang rasanya tidak neko-neko. Mengenyangkan, tapi membuat aku ketagihan. Cukup."


Entahlah siapa yang akan memenangkannya. Tapi, kalah pun tak akan jadi masalah. Aku mau berlomba masak hanya demi menyenangkan hati Gus Fakhar saja. Jika aku kalah dan Gus Fakhar yang menang, beliau juga pasti sangat senang. Aku harus bersiap menyetrika bajunya seminggu.


Gus Fakhar menanyai masing-masing juri untuk menyebutkan berapa nilai yang diberikan. Mbak Nuansa sudah memegang pensil untuk merekap. Dia langsung menjumlahkan hasilnya setelah semua juri menyebutkan.


Gus Fakhar mengambil kertas catatan itu. Lalu, membacakannya. Seketika dia melirikku.


"Ya jadi berdasarkan nilai semua juri, di sini yang mendapatkan jumlah poin terbanyak yaitu Iza."

__ADS_1


Dia berbisik, "Kamu minta hadiah apa dariku?"


Selamat membaca.. 💗💗 Semoga kita selalu dalam lindungan Allah 🌹


__ADS_2