FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 48 "Pengembalian"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Apa konsekuensinya orang ketika dia sedang jatuh? Harus berani sakit. Aku bukan lagi gadis yang polos seperti dua tahun lalu. Senyawa kimia bernama feromon yang dihasilkan secara alami oleh tubuhku, mendorong respons sosialku menjadi lebih kuat. Senyawa yang seketika menguap ketika aku menghirup aroma parfum yang dipakai Pak Nizam. Dimana itu tidak pernah terjadi sebelumnya saat aku bersama pria-pria di kolong sampah itu. Mungkin karena aku baru sadar, terkejut bahwa ternyata yang mengirimiku surat adalah pria yang menolongku dan Ratna malam itu. Aku heran sebab bagiku ini mencengangkan. Namun, saat aku tersadar oleh sesuatu yang lain, perasaanku pun berubah cepat setelah melihatnya datang bersama perempuan bernama Mbak Rubia. Perempuan yang penampilannya jauh berbeda denganku. Yang kemudian malah memujiku dengan mengatakan aku gadis yang cantik. Ini aneh.


Aku tidak begitu percaya mendengar Mbak Rubia mengatakan dirinya dan Pak Nizam hanyalah sebatas teman. Sedikit atau banyak, perasaan salah satu di antara mereka tentu sudah membibit dari masa ke masa. Semakin banyak feromon yang menguap, mereka bisa saja jatuh cinta. Entah hanya Mbak Rubia atau Pak Nizam. Atau, mereka malah diam-diam jatuh cinta tanpa sepengetahuan. Sehingga pengakuan yang muncul hanyalah sebatas hubungan teman.


Lantas bagaimana bisa Pak Nizam mengirimiku surat pada bulan September yang lalu, saat dalam keadaan telah jatuh cinta? Dimana surat itu memperlihatkan keindahan bagi yang membacanya. Setelah melihat gelagat beliau beberapa kali pada pertemuan yang lalu dan hari ini, tidak sedikit kemungkinannya pria seperti beliau berdusta soal cinta. Cara beliau menghormati perempuan seperti ibuku, itu menunjukkan tata krama yang santun dan penuh cinta. Dan, perempuan mana saja mungkin saja akan diperlakukan sama. Termasuk perasaan beliau padaku dalam surat itu. Ibuku juga berkata kemungkinannya beliau memang menyukaiku.


Sekali lagi aku bertanya pada Mbak Rubia, "Apakah Pak Nizam menyukai Mbak Rubia?" Terlepas begitu saja karena aku ingin tahu kepastiannya.


Mbak Rubia tergelak. "Aku ya tidak paham, Fizah. Kenapa memangnya? Hmm?" Matanya yang bening menyala.


Di sinilah aku tidak bisa menjawabnya. Tak mungkin soal surat itu kuberitahukan juga padanya. Tidak seharusnya juga aku bertanya begitu tadi. Aku jadi malu sendiri.


Pak Nizam dan mbak kembali. Mbak memberikan uangnya pada ibuku. Seketika terucap hamdalah dari mulut ibuku. Sedangkan, Pak Nizam meletakkan tumbu yang isinya tinggal separuh. Ibuku kelihatan gembira sekali. Sekali aku memperhatikan mata itu dari dekat ketika kepala beliau menunduk, beliau menggeser kursi tepat di depanku. Dan, kenapa jantungku berdenyut tak biasa?


Sang bayu menerbangkan sisa aroma parfum Pak Nizam. Aku menghirupnya pelan-pelan. Tetapi, aku tidak tahu jenis aroma apa itu. Menurutku, bukan parfum yang dijual mahal seperti yang dipakai oleh pria berjas di kolong sampah. Apakah benar Pak Nizam menyukaiku? Atau, ternyata rasa suka itu hanya terjadi beberapa saat, lalu kini hati beliau telah menemukan dermaga yang lain? Mungkin aku memang harus menanyakannya.


*Ibban Nizami


Aku, Fizah, dan Mbak Rubia pulang terlebih dahulu. Bu Mini menyuruh kami agat tidak menunggu dan lebih baik kami istirahat di rumah barang sebentar. Sepada Fizah ditinggal di pasar. Nanti bisa dibawa pulang adiknya atau Bu Mini sendiri. Sekarang, dia tengah dibonceng Mbak Rubia menuju rumahnya. Mereka melaju mendahuluiku.


Tidak terlalu lama. Dua puluh menit kemudian tiba di halaman rumahnya.


Fizah turun terlebih dahulu. Dia membukakan pintu yang tidak dikunci, lalu mempersilakan aku dan Mbak Rubia masuk.


"Rumahnya rindang banget, ya, di sini," gumam Mbak Rubia.


"Saya sudah ke sini berkali-kali."


"Pantes. Makanya Bu Mini sudah menganggap njenengan seperti anak sendiri."


Kami duduk.


"Ratna?" panggil Fizah dari depan pintu kamar yang sedang ditutup.

__ADS_1


Dia masuk. Sejurus kemudian dia keluar bersama perempuan yang dulu mengaku bernama Rinai. Sejujurnya aku masih perlu menggali jawaban yang lebih jelas kenapa mereka berdua harus merahasiakan nama asli.


Fizah dan Ratna mendekat.


"Dia sakit?" tanya Mbak Rubia.


"Dia lemas."


"Kalau lemas kenapa nggak suruh istirahat saja? Nggak perlulah diminta keluar karena ada kami," ucapnya lagi.


Mereka berdua duduk.


"Kamu siapa?" tanya Ratna pada Mbak Rubia.


"Saya Rubia."


"Pacarnya Pak Nizam?"


"Ehmm...bukan."


Aku tidak tahu kenapa Ratna tiba-tiba mempermasalahkan itu.


Mendadak ada panggilan masuk. Mbak Rubia mengambil telepon selulernya. Dia meminta permisi untuk mengangkat.


"Kenapa kalian tidak memakai nama asli waktu itu?"


Mereka berdua berubah tegang.


"Karena kalian orang asing," jawab Fizah mewakili.


"Tapi, saya sudah sudah mengenalmu, Fizah. Waktu itu saya sempat ragu dengan nama kamu. Saya sudah sering mendengar cerita soal kamu dari Ibumu. Bagaimana pribadimu dan fisikmu."


"Njenengan sudah tahu kalau itu saya?"


"Pak Ibban, aku minta maaf banget. Aku harus pulang duluan, ya. Papa dan Mama ada acara. Aku harus ikut. Tidak apa-apa, kan?"

__ADS_1


"Oke. Saya nanti pulang sendiri. Hati-hati, Mbak."


"Oke." Dia pun pergi tanpa salam.


Aku kembali menatap Fizah. Benar sekali. Dia perempuan yang membuatku harus mengakui bahwa Allah memang Maha Membolak-balikkan hati. Sehingga dulu aku harus mengirimkan surat itu tiga kali padanya tanpa ada sekali pun balasan.


"Kembali ke pertanyaan kamu. Saya hanya curiga kamu orang yang pernah aku kenal. Tapi, ketika kamu tetap mengaku bernama Zahra, ya sudah. Tapi, saya baru saja sadar. Sebelum pertemuan malam-malam itu, saya sepertinya juga sudah pernah bertemu denganmu. Baju yang kamu pakai itu."


Dua melirik ke bawah.


"Kamu memakai baju itu."


Dia kelihatan bingung. Lalu, mimik wajah Ratna menjadi ketakutan. Dia bangkit meninggalkan aku dan Fizah hanya berdua di ruang tamu.


"Tidak. Njenengan sepertinya salah orang." Dia menjawab pelan.


"Saya kaget ternyata kamulah yang bernama Fizah."


"Kaget karena?"


"Kamu bersama Bu Mini. Padahal, saya sudah seringkali ke sini. Saya menantikan pertemuan ini. Ada masalah apa kamu? Malam-malam itu kamu dari mana? Kamu muncul dari arah yang dilarang dilewati oleh perempuan di desa saya. Kamu bekerja di mana? Lalu, kenapa surat yang saya kirimkan tidak kamu balas?" Aku terpaksa memberondong pertanyaan.


Aku gembira akhirnya bisa dipertemukan dengan perempuan yang dua bulan terakhir ini kurindukan. Namun, aku sedikit marasa ada yang janggal. Seperti yang aku tanyakan padanya, nama yang dirahasiakan, kemunculannya malam-malam itu, lalu pertemuan yang belum kuingat di mana itu.


"Saya minta maaf jika terlalu banyak bertanya. Tapi, bisa, kan, kamu menjelaskannya?"


Fizah menjadi lebih bingung. Tetapi, dia menahan raut wajahnya dengan tetap berani menatap mataku dalam-dalam.


Dia merogoh sesuatu dari roknya.


"Ini saya kembalikan suratnya, Pak. Njenengan salah orang memberikan surat ini pada saya. Salah besar jika njenengan menganggap saya gadis luar biasa seperti isi surat itu.


"Kenapa dikembalikan?"


"Njenengan salah orang. Njenengan tidak perlu lagi menantikan pertemuan apa pun dengan saya. Maaf sebelumnya. Lebih baik njenengan tidak perlu lagi ke sini. Terima kasih untuk tawaran kepada dua saudara saya."

__ADS_1


__ADS_2