FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 25 “Pudarnya Pesona”


__ADS_3

*Ibban Nizami


“Assalamu’alaikum?” Gadis itu mengucap salam.


Kami di ruang tamu menoleh bersamaan. Dia menatapku dan Mas Bayu lebih dulu, lalu mendekati Mbak Rubia. Dia meletakkan sesuatu di meja, kemudian duduk di samping kanannya Mbak Rubia. Pertama kalinya aku menemukan mata cokelat terang dibalut lentiknya bulu mata. Gadis berjilbab panjang itu melemparkan senyum sekali. Kupikir dengan hobinya traveling itu, dia adalah gadis yang stylish dan penuh gaya. Background anak orang kaya dan pendidikannya di pesantren masih terlihat kuat dari perilaku dan apa yang kulihat sekarang. Sayangnya, sekali lagi aku masih merasa lucu bertemu Mbak Rubia di sini. Lebih karena sungkan.


Mbak Rubia berusaha memperbaiki raut wajah. Dia bangkit membawa sesuatu yang diletakkan di meja tadi.


Gawaiku bergetar. Aku meminta izin membukanya sebentar karena kami bertiga belum memulai percakapan.


“Pak Ibban serius ingin melamar Nasmah?”


Kudiamkan sebentar. Bagaimana aku akan menjelaskannya?


“Pak Ibban terus terang saja. Saya tidak masalah jika Pak Ibban memang sudah meluruskan niat.” Ini hanya keterangan. Bukan perasaan yang sebenarnya. Jika perhatian yang sudah-sudah itu bagian dari pembuktian cinta yang telah dia pendam, maka aku sudah salah memutuskan menemui Nasmah di sini.


^^^“Kita lihat saja nanti. Keluarlah, Mbak! Kita bicarakan di luar.” Send.^^^


“Sebentar.”


Dia keluar membawakan kue di dua piring.


“Kalian belum membicarakan apa-apa?” katanya usai itu.


Dia menunjukkan ekspresi yang lebih netral. Kukira dia akan tetap seperti tadi.


“Atau, saya saja yang bicara?” Beringsut duduk.


“Kamu beneran ingin cepetan nikah, Mbak Nas?”


“Iya, Dek Bi,” jawabnya tegas dengan irama yang mengalun lembut.


“Tapi, aku belum bicara dengan Ayah lagi.”


“Pakde acc?”


“Belum ada jawaban. Tapi, aku udah minta tolong ke Mazaya.”


“Mazaya bilang itu padaku.” Mas Bayu menyahut.


“Maaf, njenengan-njenengan ini ada keperluan apa, ya?”


“Menindaklanjuti permintaan Mbak Nasmah tadi,” tambah Mas Bayu.


“Njenengan?”


Mbak Rubia terlihat menyibukkan diri dengan ponselnya.

__ADS_1


“Ibban Nizami. Adikku.”


Dia menawarkan segaris senyum.


“Tapi, nama ini kok kedengaran familiar?” gumamnya.


“Di mana aku pernah mendengarnya?” gumamnya lagi.


Lalu, Nasmah menatap perempuan di sampingnya.


“Temanmu, kan, Dek Bi?”


“Tahu dari mana kamu?”


“Dari Mamamu. Pernah cerita sekali kalau kamu sedang dekat dengan dosen namanya Ibban Nizami. Bener gitu, kan?”


Sekarang aku ingin tertawa. Mbak Rubia memberikan isyarat mata agar tidak bicara lebih lanjut.


“Pak Nizam, njenengan itu sebetulnya diharapkan Mamanya Dek Bia ke rumah. Tidak jauh dari sini, Pak.”


Aku tidak bisa berlama-lama di sana. Ungkapan Nasmah yang mengatakan belum sepenuhnya mendapatkan izin dari ayahnya, itu sama saja dengan berkah yang menyelamatkanku. Aku juga tidak muluk-muluk ketika menyampaikan kalimat pamitan. Cukup dengan permintaan maafku dan Mas Bayu kepada Nasmah. Bersamaan dengan itu tadi, Mbak Rubia memperlihatkan kelegaan hatinya. Dia ikut mengantarkan kami pulang sampai berpisah di pertigaan jalan. Aku memberikan ucapan maaf karena tidak dapat memenuhi ajakannya mampir ke rumah meskipun katanya hanya tinggal sepuluh menit perjalanan. Kukatakan aku ada acara sore ini.


***


Usai salat asar di masjid. Mustika mengajakku langsung ke rumah. Beberapa sudah menunggu sebelum dia berangkat tadi.


“Aku belum sempat bilang, Mas. Maaf. Bapak akhir-akhir lebih bersemangat membahas itu...” Dia menahan kata-kata selanjutnya.


“Lamaran?”


“Iya, Mas Nizam.”


“Memenuhi permintaan orang tua itu wajib. Tidak ada yang lebih berharga selain mereka.”


Langkahnya terhenti. “Apakah tidak boleh sekali saja aku menolak?” Dia memandangku serius.


“Asal dengan kata-kata yang tidak menyakitkan.”


“Mas, aku ingin mengucapkan sesuatu padamu.”


“Jangan sekarang.”


“Mas Nizam tahu maksudku?”


“Memangnya apa?”


“Sepertinya memang bukan waktu yang tepat,” gumamnya.

__ADS_1


“Tidak perlu tergesa-gesa, Tik. Juga jangan terlalu yakin bahwa dengan menolak lamaran pria yang menyukaimu, kamu akan bahagia setelah itu. Paham maksudku?”


Dia mengangguk.


Sampai langkah kami berhenti di depan rumahnya, kami hanya diam. Aku memandangnya sekali. Dia banyak menunduk, seperti memikirkan sesuatu.


Rembukan kali ini tidak begitu banyak dihadiri oleh anggota. Mereka izin kegiatan yang lainnya. Yang lainnya pun ada yang mengatakan sudah kewalahan dengan argumen Pak Jatmiko. Harapannya, sudah cukup sampai rembukan sore ini perdebatan itu bisa diambil keputusan terakhir. Abid di sampingku berbisik, katanya Pak Jatmiko sengaja mengulur waktu sampai hampir mendekati acara. Jika sudah begitu, orang organisasi tidak akan punya kesempatan untuk berbuat banyak. Tidak mungkin mengundang para yai jika waktunya saja sudah kurang beberapa hari. Dia mengambil kesimpulan itu usai rapat lusa yang tidak dapat kuhadiri.


Pak Jatmiko menyuarakan diri.


“Acaranya kita adakan wayang saja. Saya sudah meminta pendapat banyak orang, warga sini. Mereka lebih setuju pertunjukan wayang.”


“Tapi, kami tidak akan berpartisipasi dalam acara itu,” kataku.


Abid berbisik lagi, “Acara ini kita yang mengusulkan. Tapi, malah dia yang mengambil alih. Tidak bisa begitu, Pak.”


“Kali ini biarlah.”


“Monggo,” jawab Pak Jatmiko.


“Kalau ada apa-apa, kita tidak akan ikut bertanggung jawab.” Adimas bersuara.


“Hanya satu yang kami minta. Lain kali berikan kami kesempatan. Atau, jika Pak Jatmiko lain kali bisa diajak bekerja sama, kami akan menyambut dengan senang hati,” kataku.


“Maaf Pak Jatmiko. Kita berusaha toleran, Pak.”


“Saya hanya ingin menyenangkan warga sini, Mas. Mas-Mas ini, kan, masih muda. Jadi, wajarlah kalian belum tahu betul apa yang mereka inginkan. Saya sudah memutuskan. Tidak terlalu paham budaya.”


Pak Jatmiko hanya salah mengartikan usulan kami sejak awal. Tanpa menjelaskan terlalu banyak, dia tetap saja tidak mau mengubah gagasan yang dianggapnya paten.


“Malam ini saya juga akan mengumumkan sesuatu. Dua minggu lagi Mustika Rahayu, penari di desa kita ini, akan segera melangsungkan lamaran dengan pria bernama Darya Setyo Aji Gumelar.”


“Bapak?” Mustika berteriak di tengah bingkai pintu.


Mustika tetap di sana. Memandang lurus tatapan bapaknya yang akan selalu menjadi penentu masa depannya. Dia urung memasuki ruangan yang dipenuhi banyak lelaki.


“Tolong Bapak ralat yang tadi.”


“Kamu hanya akan menikah dengannya, Mustika. Kenapa kamu bersikeras menolak dari kemarin? Apa kamu bisa menunjukkan siapa lelaki yang lebih baik daripada Darya?”


“Ada,” jawabnya pelan. Lama kelamaan kepalanya memutar ke arahku.


“Mas Nizam, Pak. Bapak bisa memandang pria di depan itu.”


Mustika menahan rasa takut. Sudah berapa lama dia bepikir sehingga dia sebegitu berani menentang bapaknya di depan banyak orang. Orang-orang mengenalnya sebagai perempuan yang lemah lembut. Tampilannya berbakti dan mensakralkan orang tuanya sendiri. Tetapi, malam ini dia mengubah persepsi orang lain dalam sekejap. Aku menyayangkan sikapnya itu. Aku tidak perlu disanjung, dibandingkan, dan dianggap lebih baik dari pria yang dimaksud. Harusnya dia mengindahkan kata-kataku tadi sebelum dia terlibat masalah dengan bapaknya sendiri.


Pak Jatmiko bangkit. Dia mengambil sikap cepat dengan menyingkirkan Mustika dari pintu. Sementara, tatapan Mustika padaku mengiringi langkahnya pergi. Anak matanya bergenang.

__ADS_1


__ADS_2