FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 87 "Menantu Kriteria Ibuk"


__ADS_3

*Ibban Nizami


Sepulang dari ndalem Kiai Bahar, aku berziarah di makam Kiai Haji Abdurrahman pendiri Masjid Kuno Tegalrejo tahun 1835 M di Tegalrejo, Semen. Lima belas menit di sana, lalu mampir ke warung makan.


"Zam, Ibuk masih bingung. Siapa nama mereka berdua?"


"Maksud Ibuk Fizah dan Ratna?" Aku sembari mengunyah.


"Iya, Le. Kenapa mereka mengaku Zahra dan itu...yang satunya Rinai apa siapa itu."


"Karena mereka belum kenal kita. Mereka terpaksa memakai nama samaran. Wajar, Buk. Kita orang asing." Kira-kira begitulah maksud Ratna dan Fizah. Tapi, aku tidak akan menjelaskan alasan dibalik itu.


"Ya iya, Le. Tapi..." Ibuk berdecak. "Ya uwislah (ya sudahlah). Memangnya kamu kenal?"


"Ya sekedar aja, Buk. Ibunya bernama Bu Mini. Rumahnya Sendang. Tidak jauh dari kontrakan. Aku kasih tahu fotonya." Kubuka galeri ponselku. Aku pernah diam-diam mengambil gambar Bu Mini, Fizah, dan Si Sulung.


"Ini, Buk."


Ibuk meraih ponselku.


"Lha ini kok, ya, putih sendiri Fizahnya? Kelihatan paling ayu, Zam. Ayu lo, Zam." Ibuk menatapku antusias. Lalu, seketika cekungan senyum ibuk mencembung.


"Kenapa, Buk?"


"Ibuk kangen Mbak Rubia, Zam." Ibuk meletakkan sendoknya.


Tak kunyana bahwa yang akan kutemui di pesantren itu nyatanya malah Fizah. Aku pun menjadi enggan. Selain karena aku masih ingat apa yang kulakukan sore itu, aku sadar tidak bisa mengharapkannya. Maaf saja bisa jadi sulit kuterima, apalagi meminta cintanya. Dari tatapannya saja aku sudah mengerti. Dari nadanya yang tegas saat didengar membuktikan dia marah padaku. Namun, sejujurnya jika bukan karena Kiai Bahar yang menjadi perantaranya, aku tidak sepenuhnya yakin dia akan menjadi pasangan yang baik untukku. Sebagai murid, keyakinan seorang murabbi menjadi penguat langkah gamangku. Ketika pasrah kuserah, Fizah datang sebagai satu-satunya pilihan setelah tiadanya Mbak Rubia. Perempuan tujuh belas tahun yang tak nampak seperti usinya.


"Insyaallah Mbak Rubia sudah tenang."


Bibir ibuk komat-kamit sambil memejamkan mata. Kelihatannya sedang memberikan hadiah fatihah untuk Mbak Rubia. Aku mengikuti.


Saat terbukanya mata itu, ibuk langsung mengucapkan sesuatu, "Zam, kalau cari jodoh yang seperti Mbak Rubia yo, Le. Baik, cantik, santun. Nggak neko-neko. Yang paling penting punya latar belakang bagus, Zam. Jadi, kamu harus paham sedikit kehidupannya. Pokoknya, Le, pilih yang ndak neko-neko."


"Kalau Fizah?"


"Ibuk kok belum cocok banget, Le. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Tapi, paling itu karena Ibuk belum kenal. Kalau sama Mbak Rubia ibuk sudah paham sedikit-sedikit."


"Menurut Ibuk dia gimana? Sekilas saja, Buk."


"Ibuk ndak paham. Ibuk tidak berani menilai, Le. Gimana misale besok kamu ajak ke rumahnya Fizah itu?"


"Ibuk pasti akan menyukainya jika mendengar kisah yang diceritakan ibunya. Dalam kisahnya, dia luar biasa, Buk," batinku.

__ADS_1


"Tapi, ngomong-ngomong, Zam, kalau Ibuk lihat dia masih muda. Lebih muda dari Mbak Rubia, kan?"


"Masih tujuh belas, Buk."


Mata ibuk setengah melotot. "Lha ya selisih sebelas tahun dengan kamu?"


"Enggeh, Buk."


"Ya ndak opo-opo sebenernya. Dia juga ndak kelihatan muda banget. Dewasa maksud Ibuk, Zam."


"Pembawaan, Buk."


"Kamu sendiri sudah yakin to?"


"Aku pasrah, Buk. Lagipula perantaranya juga Kiai."


"Zam, Zam, kamu itu pinter. Tapi, sekolahmu saja sing (yang) pinter. Jodo wae digolekne (jodoh saja dicarikan). Kalau kamu belum benar-benar mantep, lebih baik kamu cari sendiri, Zam. Kamu sudah dewasa. Jodoh ndak harus dicarikan. Ibuk sekarang wis (sudah) terserah. Ibuk tidak akan ikut campur. Pesan Ibuk, ya, yang tadi kamu pegang. Jangan sampek kamu dapat perempuan yang nggak bener."


Dan, ibuk tidak tahu siapa Fizah yang sebetulnya. Terbayang kekecewaan di wajah beliau apabila aku menceritakannya. Saat ini keputusanku hanya pasrah. Aku akan mengikuti alur yang ada. Aku tidak akan memaksakan diri dan memaksa siapa pun. Satu hal penting yang perlu kujaga ialah aib Fizah di tempat itu. Biarlah selama-selamanya itu menjadi rahasia di antara orang-orang yang sudah mengetahui, baik pada akhirnya aku akan berjodoh dengannya atau tidak.


Keesokan harinya sepulang aku mengajar. Tiba di rumah Bu Mini saat tabuh bedug waktu magrib dimulai. Lantas kami ditawari salat di rumah beliau. Daripada menunda, ibuk mengiyakan tawaran itu. Hanya sepuluh menit, lalu kami dipersilakan duduk di kursi ruang tamu.


"Mas Nizam, bagaimana kabar Fizah, Mas? Ibuk kuangen buanget ini. Sebulan lo."


"Duh Gusti, alhamdulillah to, Ya Allah. Ibuk seneng banget dengarnya. Mondok di mana, Mas?"


"Magetan, Bu."


"Masyaallah biyuh biyuh. Kok uadoh (jauh) sekali?"


"Dekat kok, Bu. Kemarin itu sebetulnya saya baru sambang dia. Dia pesan sesuatu. Monggo jika njenengan mau sambang ke sana. Minggu ini saya antarkan."


"Ibuk sebenere yo puengen banget, Mas. Tapi, Ibuk belum ada uang saku untuk Fizah."


"Di sana Fizah sudah terjamin, Bu. Dia dekat dengan Kiai."


"Alhamdulillah. Ratna bagaimana?"


Baru terlintas di kepalaku. "Maksud Fizah yang kemarin di rumah temannya yang mana, ya?" batinku.


"Ngapunten. Kirangan, Bu." (Maaf. Kurang tahu,Bu)


"Sampeyan mboten ketemu?" (Kamu tidak ketemu?)

__ADS_1


"Belum."


Bu Mini memandangi ibuk. "Bu, kula matur sembah nuwun sanget. Putranya njenengan sudah membantu anak saya ke pondok."


Terjemah: (Bu, saya berterima kasih sekali. Anak Ibu sudah membantu anak saya ke pondok)


Wajah ibuk setengah bingung. Tapi, ibuk mengangguki kalimat Bu Mini. "Sami-sami, Jeng. Ya begitulah Nizam. Semoga saja mondoknya lancar."


Bu Mini cepat-cepat mengaminkan.


"Tapi, ada hal yang..."


Aku segera berdehem-dehem. Berpura-pura tenggorokan seret. Dan, kebetulan di meja juga belum disuguhi air minum.


"Loh, eh, ini mejanya masih kosong. Sepurane (maaf), Mas Nizam."


"Ibuk mau cerita tawaran Kiai Bahar?"


"Iya, Zam."


"Jangan dulu, Buk. Kapan-kapan saja. Biar aku yang bicara sendiri."


"Ibuk yo pengen paham Fizah itu perempuan seperti apa."


Dan, Bu Mini justru repot-repot mengeluarkan wakul (tempat nasi) yang berisi nasi jagung.


"Kebetulan nasinya masih. Monggo sambil diminum dulu. Adanya jeruk anget, Mas."


"Tidak usah repot-repot, Bu," kataku.


"Halah mboten (tidak). Sebentar, Mas." Beliau kembali ke dapur.


"Zam, kalau dilihat dari rumah dan Ibunya, mungkin dia perempuan sederhana, Le."


"Ibuk benar. Dia juga punya banyak prestasi kok."


"Prestasi apa, Mas Nizam?" Bu Mini menyahut.


"Tidak apa-apa, Bu." Aku melihat ada lodeh kemarin, ikan asing, lalapan sayur dan sambel bawang. "Sudah. Ini cukup, Bu."


"Sulung dan Bungsu ke mana, Bu?"


"Itu tadi ke anu...itu ke rumahnya Bara."

__ADS_1


Insyaallah ahad diusahakan up lagi, nggeh. Semoga njenengan semuanya sehat selalu.. Happy reading. đź’—đź’—


__ADS_2