FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 115 "Dua Perempuan yang Berbeda"


__ADS_3

*Yazeed Akiki Mubarak


"Sudah begini saja yo, Mas. Pertama, intinya Ibuk masih eman Fizah nikah muda. Kedua, Fizah aslinya bukanlah anak Ibuk. Terkait lamaran ini, Mas Yazeed malah lebih paham, orang tua aslinya harus tahu. Lalu, yang ketiga apa Fizah benar-benar siap membina rumah tangga. Yang terakhir itu, Mas Yazeed sebaiknya nyuwun pirso (cari tahu). Kalau Fizah kok ternyata sudah mantap tenan (beneran), maka selanjutnya adalah menunggu terungkapnya siapa orang tua Fizah. Ibuk akan secepatnya memberitahu Fizah. Ibuk perlu waktu juga. Njenengan pasti yo paham."


"Ya ya. Inggih (iya). Pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan tanpa restu orang tua Fizah yang sebenarnya."


"Njenengan wajib menanyai kesiapan Fizah. Lahir batin Fizah kudu siap menerima pernikahan ini. Pernikahan memang baik, tapi kesiapan dan pengalaman dadi wong sing luweh (jadi orang yang lebih) dewasa itu juga sangat mendukung. Setelah itu tinggal mencari siapa orang tuanya."


"Apakah Bu Mini selama ini tidak mencoba mencari?"


"Mas, Ibuk ini punya dua anak. Tapi, hati Ibuk ndak bisa bohong. Ibuk jauh lebih bisa mengandalkan Fizah. Yoooh, ngapuntene lo, Mas, saya banyak cerita. Sampek belum disuguh apa-apa. Ini tadi Sulung yo di mana ini. Sebentar, nggeh." Bu Mini melenggang. Beberapa detik kemudian aku mendengar berisik tanya jawab.


Aku menunggu cukup lama sampai Bu Mini kembali dengan dua gelas teh hangat.


"Ngapuntene, Mas, lama. Sulung bandel. Tapi, alhamdulillah Sulung dan Bungsu sekarang lumayan manut. Ndak kaya dulu, Mas, Mas. Sayange Sulung menolak ditawari kuliah sama Pak Dosen. Yang itu lo, Mas, pas njenengan bertemu Pak Dosen di pesantren. Yang namanya Pak Nizam."


"Dia pasti curiga aku mengaku sebagai suami Ratna," batinku.


"Njenengan cukup dekat dengan Nizam?"


"Dekat sekali, Mas. Alhamdulillah. Dia baik seperti Mas Yazeed."


"Otomatis banyak yang sudah mereka bicarakan," batinku.


"Saya lupa matur (bilang) matur sembah nuwun sudah mengantarkan Fizah sampai ke pesantren."


"Inggih, Bu. Fizah yang cerita?"


"Mas Nizam yang cerita. Silakan Mas Kartoyo, minumannya diunjuk (diminum)"


Aku dan Kang Kartoyo menggerakkan tangan bersama-sama. Mengawali dengan sesruput teh yang manisnya pas sekali.


"Jadi Nizam yang cerita. Ya ya ya. Emmmm...apakah Fizah juga dekat dengan Nizam, Bu?"


"Fizahnya ndak, Mas. Tapi, Mas Nizam itu dulu sering ke sini, lalu saya ceritakan bagaimana Fizah sejak kecil sampai dia tumbuh besar."


"Berarti mungkin Fizah bercerita kepada Nizam kalau saya yang sudah mengantarkannya ke pesantren."

__ADS_1


"Nah, itu mungkin saja, Mas."


Hening.


"Sebentar, ya."


"Gus, njenengan artinya sudah yakin Fizah bisa menjadi pendamping?"


"Insyaallah. Shallu 'alan nabiyy."


Kang Toyo menjawabnya lirih.


"Kalangan seperti Fizah yang mungkin saja bisa menerimaku. Tidak semua perempuan mampu menghadapi permasalahan yang biasa kutemui. Fizah perempuan baik. Dia berbeda. Dia tidak akan kaget diliputi hal-hal di luar kebiasaan yang orang lain geluti."


"Njenengan benar. Tapi, apa tidak sebaiknya ini disowankan ke Abah dan Umik, Gus? Khawatir akan terjadi masalah lagi."


"Kautenang saja. Aku sudah mengaturnya."


"Umik lebih ketat menyeleksi calon mantunya, Gus."


Bu Mini keluar. Dia mengangsurkan secarik kertas tanpa amplop ke atas meja.


"Ibuk nunut pesan ke Fizah, nggeh. Selonggarnya saja kapan saja Mas Yazeed ada kesempatan ke pesantren Fizah."


"Insyaallah. Inggih insyaallah."


"Ya Allah, saya lupa lagi mau menanyakan sesuatu." Bu Mini mendesis kesal pada dirinya sendiri. Dia menepuk jidat.


Aku menunggunya dengan tatapan.


"Mas Nizam pernah matur (bilang) ke saya kalau Mas Yazeed iki pernah mengaku suaminya Ratna. Apa benar itu?"


"Bener, Bu."


"Kok begitu, Mas? Apa alasannya?"


"Tidak, Bu. Saya hanya asal bicara saja. Tidak mungkin saya suaminya Ratna kalau ternyata saya melamar Fizah."

__ADS_1


"Ya sudah ya, Mas, ya. Lawong sudah jelas begitu. Nitip salam untuk Nduk Ratna. Salam dan surat ini, Mas."


*Ranaa Hafizah


Mbak Ufi mengetuk pintu kamarku. Aku bangkit meletakkan Alquranku di meja kecil di samping kananku.


"Kok sudah? Ndak setoran pagi?"


"Setoran. Aku antre depan."


"Ada titipan. Tadi aku bersih-bersih depan rumah, ada Gus Yazeed datang nyamperin. Ini surat dari Ibumu. Gusnya bilang sebetulnya ingin bicara langsung sama kamu. Tapi, ada halangan mendadak. Insyaallah besok ke sini."


Mbak Ufi melangkah pergi.


Assalamu’alaikum, Fizah.


Ini Ibuk, Nak. Alhamdulillah Ibuk baru membicarakan sesuatu dengan Gus Yazeed. Piyantune (orangnya) baik. Ibuk sudah memberikan pengertian supaya kamu tetap bisa fokus hafalan. Jemput cita-citamu, Nduk. Mungkin nanti Guse bakalan takon (tanya) kesiapan sampeyan. Kelihatannya Guse memang serius sama kamu. Ibuk sudah bilang kamu masih belia, Nak. Guse kekeh. Akhirnya Ibuk suruh nanya apa sampeyan bener-bener siap. Nak, kalao memange belum siap, kamu bilang jujur. Ibuk sudah manut sampeyan. Putuskan dengan baik, Nak.


Aku mengambil polpen segera. Aku akan mengirimkan suratnya. Titip ke Yazeed besok supaya diantarkan ke kantor pos.


Wa'alaikumussalam warahmatullah. Semoga Ibuku dalam keadaan sehat dan lindungan Allah. Nggeh tidak apa-apa. Seperti yang Ibuk harapkan, aku memilih menawarkan supaya dia menungu. Itu pun jika dia bersedia, Buk. Aku memikirkan kata-kata Ibuk, mungkin aku kurang pengalaman jika harus bersanding dengannya di pelaminan. Doakan yang terbaik, ya, Buk. Terus aku sekalian mau cerita. Begini, Buk. Keluarga pesantren Al-Furqan sedang mencari putri kedua Bu Nyai Ridhaa. Namanya Tsaniya Tabriz. Dulu pernah hilang saat masih bayi. Anaknya berusia seperti aku, Buk. Juga punya tanda lahir sepertiku. Mirip. Lalu, Gus Fakhar memintaku suoaya bersedia tes DNA, apa Ibuk mengizinkanku? Buk, bukannya percuma aku di tes sebanyak apa pun aku tetaplah anak Ibuk. Aku akan mempertimbangkan jika Ibuk mengizinkan. Bu Nyai dan Kiai ikut menyarankan meskipun belum bicara langsung padaku. Gus Fakhar yang bilang. Balas suratnya, ya, Buk. Semoga sehat lahir dan batin. Assalamualaikum.


Aku mencari amplop. Kulihat rapi tidak sama seperti tadi.


"Mbak, tadi dicari Ning Ulya, tapi kamunya nggak ada," ucap Mbak Ummu.


"Kapan?"


"Habis subuhan."


"Ya kan aku lagi uzur. Tadi aku habis subuh nyuci kerudung di kamar mandi. Mau ngomongin apa?"


"Gus Fakhar paling. Hehehe."


Aku terkesiap.


Yang kemarin menanyakan alasan Yazeed memilih Fizah. Hayo ini kira2 siapa yang nantinya bisa memantapkan hati Fizah untuk mau dites DNA. Dan, kira2 jadi sampai lamaran tidak ya Fizah dan Yazeed? 🙈✌️✌️✌️ Met baca. Upnya terlalu malam.🤭

__ADS_1


__ADS_2