FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 182 "Tertangkap"


__ADS_3

*Tsaniya Tabriz


Angin berisik dan berbisik. Menimbulkan gidik ngeri. Tak ada pijar lampu di luar. Masih kurasai debar-debar ini. Aku memutari bangunan. Tetap saja aku tidak menemukan Pak Nizam. Sebetulnya janggal jika dia bisa melarikan diri dalam keadaan lemah dan tubuh terikat rantai. Kuteruskan langkah. Aku tidak menemukannya tergeletak di sekitaran gedung. Lantas terdengar suara orang terengah-engah seperti zombie dari arah belakangku. Aku menoleh. Bagaimana aku tidak terkejut. Pak Su memburuku sembari menodongkan kerisnya. Sepintas terlihat mirip anjing, lalu sepintas lagi dia tak ubahnya seekor harimau. Malam membuatnya tampak sangat mengerikan. Aku berjingkat-jingkat menghindari. Sandalku putus. Aku berlari tanpa memperhatikan medan. Dua kali aku menginjak tanaman berduri, batu-batu lancip. Meski sakit, aku terus berlari. Aku tidak akan menyerahkan diri pada orang tidak berperikemanusiaan sepertinya.


Sesekali aku menunduk. Barangkali ada pecahan kaca atau batu yang lebih tajam lagi. Jarakku dan Pak Su semakin dekat. Aku kehabisan napas. Aku mencoba berteriak-teriak. Memanggil abang dua kali. Tak ada jawaban karena abang pasti tidak bisa mendengar suaraku yang tak terlalu lantang ini. Rasa takutku menyadap semua sisa kekuatanku.


"Abaaaaaaaaang?" teriakku lebih lantang. Aku sangat ketakutan.


Tangisku mengguyur wajah. Ternyata aku selemah ini. Aku tidak bisa apa-apa. Langkahku memelan dengan sendirinya. Terasa semakin berat diangkat. Dadaku sesak dan kembang kempis. Peluh di kepalaku meluruh dan jatuh berkali-kali. Aku dehidrasi. Aku tidak bisa sekadar menelan saliva. Bibirku kering. Lama semakin lama langkahku menggontai. Aku menahan diri. Jangan sampai aku pingsan di saat membahayakan seperti ini. Kuraba dadaku yang berdetak amat keras. Akhirnya tubuhku pun melembing dan seperti jatuh di tangan seseorang. Aku membuka mataku lebih lebar. Wajahnya samar-samar. Cahaya malam semakin mengaburkan pandanganku. Suaranya yang lirih tak dapat kudengar lagi. Tapi, aku masih dapat merasakan tubuhku di bawah ke tempat lain. Lalu, aku benar-benar tak sadarkan diri.


*Fakharuddin Akhyar Al-Ameen


Kugunakan sisa tenagaku untuk melawan. Entah dia siapa. Dia menolongku dari arah yang tidak kuduga. Dia pun mengerahkan kemampuannya sampai akhir. Kuanggap ini pertolongan yang Allah kirimkan saat salat hajat tadi. Berkat kedatangannya, enam orang itu terkapar. Mereka yang sebenarnya tidak terlalu pandai berkelahi, akhirnya tak melawan lagi.


Kudengar ada yang memanggilku. Kedengarannya Niya. Aku meninggalkan dua orang yang sudah kupastikan tidak bangkit lagi. Lalu, aku melihat Niya berlarian tanpa mengenakan sandal. Dia kelelahan. Aku segera berlari. Namun, sebelum aku berhasil menyongsong tubuhnya yang lembing, Kang Nizam menyenggolku tanpa sengaja. Dia berlari mendahuluiku, lalu menangkap Niya yang pingsan.


"Awassss." Aku memperingatkan.


Aku maju lima langkah ingin segera mendorong mereka berdua agar lembing ke samping kanan. Tapi, pria yang membantu tadi menghadang pria yang tengah membawa keris. Langkahku terhenti. Pria muda itu menangkis tangan pria di hadapannya. Menghalangi agar keris itu tidak sampai melukai Kang Nizam yang seketika pun menyisih susah payah.


Aku mendekati mereka berdua. Kubantu Pak Nizam yang kekusahan. Aku mengambil alih tubuh Niya. Kubawa dia ke mobil.


"Ayo, Kang! Urusan kita selesai."


"Tidak. Jangan pergi dulu." Dia masih berdiri di posisi yang sama. Menatap dua orang yang tak kukenali.


"Kenal dengan mereka?"


Dia mengangguk saja. Dia menyisih, tapi masih enggan pergi. Aku membawa Niya ke mobil lebih dulu. Kuperhatikan dari dekat mobil. Dua orang itu masih berseteru dalam pandangan. Keduanya urung bicara. Pria yang menolong tadi bersikeras menahan supaya keris itu tidak semakin mendekat ke arahnya. Melihatnya berupaya keras sendirian seperti itu, aku tidak sampai hati. Kubiarkan Niya sendiri di mobil. Kuperhatikan sebentar enam orang tadi sudah tidak bergerak, entah pingsan atau bagaimana. Kudekati Kang Nizam.


"Mau bantu dia?"


"Kita harus membantunya."


"Kamu benar kenal dengan mereka?"


Dia menatapku. "Nanti biar Fizah yang menjelaskan semuanya."


"Hadapi kita berdua." Aku dan Kang Nizam berkata serempak. Meski sisa tenaga dan semua luka ini sudah terasa sangat membebani, tapi harapanku semoga masih cukup untuk membalas budi.


Keduanya tidak menghiraukan kami. Sepintas pria itu datang tidak sekadar ingin menolongku dan Niya. Tapi, dia punya maksud tersendiri dalam kasus ini. Atau, dia memang memiliki tujuan tertentu dengan orang itu. Kemurkaan di wajahnya tampak jelas, dari pandangan matanya yang meruncing tajam dan dengusan napas yang tertahan. Lalu, akhirnya pria muda itu berhasil mematahkan tangan pria tua. Membalikkan badan pria tua dalam sekejap. Mengerat leher dengan keris. Mereka bergulat sendiri.


Aku dan Kang Nizam tidak mendapatkan celah untuk membantu. Mereka bersikeras ingin saling melukai. Tak ada yang mau mengalah. Pria tua mengerahkan tenaganya untuk memberontak dari dekapan. Berhasil dan membuat pria muda hampir terhuyung ke bakakang andaikata keseimbangan tubuhnya tidak cepat terjaga. Tapi, keris di tangannya telanjur terlempar ke atas, lalu jatuh tepat di kakiku, aku mengambilnya. Lantas, pria tua memburuku dengan kaki pincangnya. Langkah itu kembali dihadang si pria muda.


"Cukup. Cukup." Dia mengentakkan suaranya.


"Biarkan keris itu berada di tangan orang lain," katanya lagi.

__ADS_1


Kulemparkan keris itu pada Kang Nizam yang memintanya.


"Aku tidak akan membiarkanmu menggunakan keris ini untuk melukai Fizah. Aku akan membawanya."


"Bawa keris itu jauh-jauh dari sini," suruh si pria muda.


Si pria tua maju tiga langkah. Mengarahkan tinjunya ke pipi kanan si pria muda. Pria muda meludah saat itu juga. Dengan pemulaan gerakan santai, dia pun membalas sama dengan bogeman lebih parah. Si pria muda meraih krah jaket pria tua itu.


"Sudah saatnya kamu mendekam di penjara. Ini sudah waktunya."


Si pria muda mendengus dan menertawakan lirih.


"Tempat kita sama. Aku ingin merebut kembali keris itu."


Kang Nizam menyahut, "Tidak akan kuberikan padamu."


"Brengsek." Tangannya merangsek tubuh si pria muda.


Tapi, si pria muda lekas menarik tangan pria tua itu. Mendorongnya ke tanah dengan kaki. Dia mendekati. Menaiki tubuh si pria tua yang telah telentang setengah tidak berdaya. Lalu, meninjunya tiga kali. Tapi, dia menahan tinju yang keempatnya. Tangannya terangkat beberapa menit. Lalu, menghempas ke dada si pria tua itu. Dia berkata, "Kenapa kau dulu meninggalkan Ibuku? Kenapa?"


Aku tidak mengerti. Pria muda itu justru tergugu.


"Dasar kau pria edan. Brengsek." Dia terpaksa meninju lagi. Sikapnya begitu membenci.


Terdengar suara sirine mobil polisi. Nyala lampunya mengenai kami. Aku mengerutkan alis. Silau. Beberapa polisi turun dari mobil, bertanya kepada kami. Lainnya mengangkat pistol seperti sedang menyergap tersangka.


"Mereka, Pak."


"Tadi ada tiga orang yang menghubungi kami." Begitu jelas polisi padaku.


"Aku menghubunginya," kata Kang Nizam.


Pria muda itu berdiri setelah tangannya diborgol. Dia mendongak. Menatapku dan Kang Nizam bergiliran. "Aku yang menghubungi mereka sore tadi."


Dia sangat pasrah ketika digiring ke mobil. Tapi, tidak dengan pria tua itu. Dia bahkan sempat memberontak meski tubuhnya sudah terlihat lunglai.


"Terima kasih atas kerja samanya, Pak. Kami permisi. Selamat malam."


Kami mengangguk. "Malam, Pak," kataku mewakili.


Kutatap mereka berdua.


Kang Nizam mengajak pergi.


"Kita ke rumah sakit dulu gimana?" tawarku.


"Iya. Fizah masih pingsan."

__ADS_1


"Aku nggak kuat nyetir kalau gini rasanya."


"Sekarang kuat apa nggak? Biar aku saja yang nyetir. Malah nggak enak kalau aku yang duduk di belakang."


"Beneran kuat, Kang?"


"Yawislah dipaksa. Cuman cari klinik paling nggak lama dari sini."


Kami sama-sama babak belur.


Perjalanan menuju klinik.


"Jika memang masih ada yang buka kita ke klinik."


Dia menyetir sangat pelan.


Niya kubiarkan tidur di pundakku. Kasihan dia.


"Apa yang membuat semua ini bisa terjadi, Dek? Apa yang Abang nggak ketahui?" Aku menatapnya. Wajahnya pucat. Bibirnya semburat putih.


"Bawa keris ini." Kang Nizam memegang keris itu dengan tangan kirinya. Diberikan padaku.


"Letakkan di sisi Fizah."


Kuletakkan di dekat Fizah. Di sela-sela paha kami.


"Apa kamu paham masalahnya?"


"Ya aku tahu, tapi aku nggak berhak cerita, Gus. Fizah yang punya wewenang. Itu semua berkaitan dengan masa lalunya. Tapi, aku minta Gus Fakhar tidak memaksanya. Dia buruh ruang dan kesiapan. Aku tidak tahu segalanya. Tapi, aku hanya tahu garis besarnya."


"Oke oke."


Sekitar setengah jam dari lokasi tadi, barulah kami menemukan klinik yang masih buka. Lagipula belum ada pukul setengah sembilan malam.


Kang Nizam memarkir mobil di pinggir jalan. Tak ada halaman yang luas untuk menampung tiga mobil. Kliniknya cukup ramai. Dia turun lebih dulu membukakan pintu.


Aku menggendong Niya.


Kang Nizam masih memperhatikan kursi belakang.


"Ayo, Kang!"


"Keris tadi mana, Gus?"


"Di kursi."


"Nggak ada. Coba kamu lihat!"

__ADS_1


Aku memastikannya. Dan, ternyata memang benar katanya. Keris yang semula ada di dekat Fizah kini entah raib ke mana.


Selamat membaca... Sudah lega? šŸ¤­šŸ¤­šŸ˜‚ Spesial untuk hari ini uploadnya gak malem2. Takut yang baca lagi penasaran banget.. šŸ’‹šŸŒ¹šŸŒ¹šŸŒ¹šŸ™ Terima kasih semuanya.


__ADS_2