FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 65 "Amanat Hati"


__ADS_3

*Ibban Nizami


Makan dulu sebelum berangkat, biskuit di piring. Juga masih dengan kopi kental tanpa gadis sebagai baristanya. Masih dengan jari-jariku yang sudah terlalu sering meraciknya sendiri dengan dua sendok kopi dan satu sendok gula. Fisik membutuhkan amunisi.


Aku stay di ruang tamu. Menghadap layar laptop mengerjakan lanjutan ketika jurnal. Pintu kubiarkan terbuka bila tiba-tiba ada yang datang bertamu. Biasanya anak tetangga, tapi sepertinya dia tidak akan datang hari ini. Hanya sesuka hatinya.


Panggilan masuk.


📞"Pak, saya baru perjalanan pulang ini. Setengah jaman lagi sampai. Mau ke rumah jam berapa?"


📞"Setelah isya sekalian."


📞"Gitu. Tapi, njenengan tidak perlu makan dulu, ya. Nanti di rumah makan dengan keluarga. Kebetulan ini saya sudah beli banyak. Sengaja karena Pak Ibban tiba-tiba mau datang. Jangan makan di rumah, ya, Pak Ib?"


📞"Iya."


📞"Oke."


Dia menutup panggilannya langsung.


Mendadak kepikiran Fizah dan Ratna. Kira-kira di mana mereka sekarang?


Aku bangkit. Laptop sudah tershut down. Kopi kuminum secepatnya. Aku mengunci pintu. Motorku masih di luar. Aku langsung tancap gas tanpa memakai jaket. Aku akan mencari mereka sebisaku. Waktu itu Ratna sakit, maka barangkali tempat yang pertama kali mereka tuju adalah tempat praktik bidan atau dokter.


Aku langsung mendatangi bidan terdekat dengan lokasi warung tempat kami kemarin. Masih ada pasien, jadi aku harus menunggu sampai dua pasien itu selesai diperiksa..


Lima belas menit kemudian. Dua pasutri itu pun keluar. Aku masuk dengan salam.


"Iya silakan masuk."


"Saya permisi duduk." Duduk.


"Oh, iya, silakan." Mengayunkan tangan.


"Saya hanya ingin tanya sesuatu. Sebentar saja."


Bidan itu menyimak dengan serius. Kedua tangannya di atas meja. Bolpoin di jari.


"Beberapa hari yang lalu, apakah ada dua perempuan periksa ke sini? Berjilbab semua. Dia membawa dua tas jinjing besar seperti orang mau bepergian. Mereka masih muda, tujuh belas tahun. Jika mereka periksa, mereka hanya akan datang berdua tanpa pria. Mereka berkulit putih dan cantik. Salah satunya berperawakan seperti model."


"Hmm...sebentar." Bidan itu beberapa detik berpikir sampai akhirnya dia berkata lagi, tetapi sedikit ragu. "Apakah di antara mereka ada yang sudah menikah?"


"Tidak. Masih single."


"Ehmm...ada, Pak. Hanya saja salah satunya periksa ke sini dan ternyata hamil. Atau, mungkin beda orang?"


"Ciri-ciri mereka seperti yang saya sebutkan tadi, Bu Bidan?"


"Benar, Pak. Insyaallah saya tidak salah ingat kok. Yang paling saya ingat mereka datang membawa dua tas besar. Saya tanya, mereka katanya mau ke terminal. Suami dan orang tua perempuan yang hamil itu sudah meninggal."


"Lalu mereka pergi ke?"


"Apa ke rumah mertuanya, ya? Seingat saya itu. Untuk lokasi, maaf, mereka tidak menyebut."


"Kemungkinannya mereka sudah ke luar kota," batinku.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Bu."


"Iya ya. Sama-sama, Pak."


Aku tidak meneruskan pencarian. Sudah pasti mereka tidak di Tulungagung. Sayangnya, mereka tidak membawa alat komunikasi. Aku pulang.


Senja telah pudar. Hari berubah pekat. Aku memikul sajadah. Berjalan sendirian menuju kontrakan. Begitu sampai, aku segera mengganti sarung dengan celana panjang.


"Di mana keris tadi?" Aku hampir lupa tidak membawanya.


Aku mengambilnya dari saku kemejaku tadi. Masih ada di gantungan. Lalu, kumasukkan ke keranjang baju kotor.


Meluncur...


Di meja ruang tamu. Aku masuk dipersilakan duduk, semua makanan telah tersaji di sana. Empat franchise kopi, kentang goreng, kebab, mie setan, salad buah, dan dimsum. Aku menatap semua makanan itu.


"Maaf, ini banyak sekali," kata Mbak Rubia.


"Orang tuamu mana?"


"Masih jamaah di kamar itu dengan Adik. Kalau saya masih uzur, Pak. Icip dulu tidak apa-apa. Hari ini saya memang pengen ngemil, Pak Ibban. Njenengan jangan kaget, ya, kalau mejanya penuh jajan. Saya gampang doyan soalnya. Monggo!" Dia mengangkat satu buah kebab ke arahku.


Aku pun melahapnya sembari menunggu. Mbak Rubia sendiri masih menikmati dimsumnya.


"Tadi saya sengaja beli empat porsi semua. Jadi, ini harus njenengan makan dulu, nggeh." Dia tertawa.


"Kalau tidak habis?"


"Njenengan bawa pulang. Ada kulkas tidak?"


"Njenengan makan sampai kenyang kalau gitu."


Aku dan Mbak Rubia akhirnya tidak bisa berhenti membicarakan tema bahasan yang receh sekali. Harga murah dan enaknya makanan, dia beli di mana, alasan dia menyukai semua makanan itu, dan intinya ujung-ujungnya kami seperti sedang mereview satu per satu makanan itu.


"Papa tinggal ke belakang sama Mamahmu," ujar ayah Mbak Rubia.


"Enggeh," jawabnya.


Perbincangan tetap berlanjut. Tawa pecah. Baru pertama kalinya aku merasa tidak berjarak dengannya. Terkhusus pada apa yang baru saja kami bicarakan. Dan, sekaligus menjadi awal mula aku bisa melihat tawa sepanjang dan sebebas itu. Ledakan rasa bahagia yang menjadi kembang api di kedua bola matanya. Mungkin memang dia perempuan yang paling mencintaiku setelah ibuku. Bukan dia yang mungkin sudah membenciku.


"Bisa kamu panggil orang tuamu, Mbak?"


"Sebentar, ya." Dia langsung beringsut.


Dia kembali. Orang tuanya mengekor di belakang.


"Ada apa, Mas Nizam?" tanya ayahnya.


"Saya niatkan malam ini untuk melamar Mbak Rubia."


Mbak Rubia menurunkan lengkung bibir. Dia terkesiap. Senyum itu berganti di kedua bibir orang tuanya.


"Kamu laki-laki yang baik dan sudah mapan. Jadi, tidak ada masalah bagi kami." Lalu, menoleh pada Mbak Rubia. "Bagaimana, Kak?"


"Boleh saya minta waktu dua hari?"

__ADS_1


"Tentu boleh."


"Saya sangat berterima kasih, Pak Ibban."


"Saya pun terima kasih atas keberanian Mbak Rubia menemui Ibuk."


Dia tersenyum lebar.


"Pak Ibban sudah tahu?"


"Ya. Ibuk cerita."


Walaupun bukan Nafisah yang dia jadikan perantara, tapi melalui ibuk aku cukup mengakui keberanian itu. Tidak semua perempuan mau melakukannya. Tidak semua orang bisa mengungkapkan perasaan dengan cara yang sudah dibenarkan. Tali keridaan telah menjadi jembatan yang terbentang luas bagi kami jika ingin melangkah menuju peribadatan terindah.


Mamanya berbicara, "Kalau boleh tahu, apa yang menjadi pertimbangan Mas Nizam sehingga Mas Nizam akhirnya mantap memilih Rubi?"


Aku meliriknya sekali. Lalu, kembali pada mata yang bertanya.


"Restu orang tua. Semua jalan akan terbuka dari segala sisi jika restu sudah menjadi dasarannya."


"Mas Nizam, kami selaku orang tuanya alhamdulillah pun sudah mempertimbangkan pilihan Rubi sejak lama. Ya sampai akhirnya ketika Rubi ulang tahun, kami mengundang Mas Nizam ke sini. Ternyata Papanya Rubi suka suaranya Mas Nizam. Bagus lo, ya. Iya, kan, Pah?" Mamahnya menatap ke samping.


Aku pamit. Menyertakan alasan sudah larut malam dan ada pekerjaan yang belum aku selesaikan. Mbak Rubia mengantarkanku sampai ke depan.


"Apakah aku harus memberikan keris itu padanya?" Aku ragu karena aku belum sepenuhnya mencintai Mbak Rubia.


"Mbak?" Aku merogoh keris itu dari celanaku. Aku kembali mendekatinya.


"Ya?"


Aku memperlihatkan.


"Buat apa, Pak?"


"Simpan ini."


"Kenapa bukan Pak Ibban saja yang menyimpannya?"


"Patrem itu milik perempuan."


"Kenapa bukan Ibu njenengan?"


"Kamu adalah alasan."


Dia diam sejenak.


"Karena Pak Ibban sudah yakin memilih saya?"


Aku hanya memberinya senyum tipis. Dia membalas senyum lebih. Lalu, dia mengambil patrem itu dari telapak tanganku.


"Syukran, Pak."


Aku mengangguk.


Aku pergi.

__ADS_1


__ADS_2